Jadi Pemijat karena “Ramalan” Kiainya



 
Salah satu kegiatan Muhammad Suud




Muhammad Su’ud tak menyangka, pijat akan menjadi jalan hidupnya saat ini. Motivasi sekaligus “ramalan” dari guru ngajinya di waktu remaja, membuat Su’ud keterusan memijat. Keuletan serta niatnya yang kuat mengantarkan Su’ud mendalami berbagai ketrampilan pijat. 

Kini dia bahkan sudah menjadi trainer. Tidak jarang peserta yang berlatih di tempatnya datang hingga dari negeri seberang. Bahkan beberapa sudah ada yang membuka panti pijat di negara asal.   

Muhammad Su’ud, pemuda kelahiran Desa Karangsari, Cluwak, Pati, Februari 1994 ini sejak remaja sudah tertarik dengan dunia pijat. Itu berawal dari motivasi Guru mengajinya, Kiai Muntahar. Oleh Pak Kiai, remaja beralis tebal ini disebut punya keahlian di bidang penyembuhan, bahkan oleh Pak Kiai, dia dijanjikan akan diberi ilmu Sangkal Putung.

Motivasi dari Guru mengajinya itu membuat Su’ud lebih termotivasi untuk banyak belajar dan menolong sesama. Walau Ilmu Sangkal Putung itu belum dimatangkan, saat ada teman bermain atau teman sekolah yang terkilir saat olah raga, dia lalu beraksi memberi pertolongan. Memijat temannya.

Saat itu dia belum tahu teorinya, namun dalam hati sudah ada motivasi yang kuat untuk menolong siapapun. Dan itu bukan hanya anak-anak saja. Kalangan dewasa pun ada yang minta bantuannya.

Setelah menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Madrasah Aliyah Darul Falah Sirahan, Cluwak, Pati. Su’ud mulai menekuni dunia pijat. Melalui internet, Su’ud mendapat informasi adanya tempat pendidikan pijat di Tangerang, Banten.

Muhammad Suud

Karena ingin belajar yang lebih formal, dia lalu mendatangi tempat itu. Sayangnya, untuk kursus di tempat itu syaratnya harus membayar Rp 6 Juta. Karena minatnya yang kuat, Su’ud lalu menawarkan untuk mengabdi dan sekaligus belajar di tempat kursus itu selama dua tahun dengan jaminan ijazahnya.

Dan selama dua tahun, dia belajar sambil praktik dan sekaligus bekerja. Bahkan dia masih dapat gaji bulanan Rp 1,4 juta dan komisi setiap memijat pasien antara Rp 11 ribu hingga Rp 15 ribu.

Hasil dari belajar dan praktik selama dua tahun itu Su’ud mendapatkan banyak ilmu. Diantaranya  pijat urut tradisional, refleksi, gurah hidung, bekam, pijat ala Thailand, dan masih banyak lainnya.

Setelah dua tahun menyerap ilmu, Su’ud melengkapi keilmuannya di bidang akupuntur (Red, tusuk jarum) karena keilmuan yang ini tidak didapatkan di tempat pertama dia belajar. Dia lalu mencari informasi dimana dia meneruskan belajarnya. Hingga akhirnya dia memilih kota Solo, tepatnya di YAPEPTRI (Yayasan Pendidikan Pengobatan Tradisional Indonesia).

Saat mendaftar di Solo, karena diketahui dia telah belajar berbagai ilmu penyembuhan, oleh pihak Yayasan, Su’ud ditawari untuk bergabung sebagai trainer. Dari situlah keilmuannya semakin berkembang karena dia banyak berinteraksi dengan terapis, juga peserta pelatihan yang berasal dari berbagai bidang keilmuan.

Termasuk diantaranya kalangan medis, bidan, perawat, dan profesi lain dari berbagai kota di Jawa, luar Jawa bahkan ada warga negara asing yang belajar di Solo kemudian di negaranya membuka panti pijat kesehatan.

Selain aktif mengajar dan praktik di Solo, saat dia pulang ke kampung halamannya di Karangsari, Cluwak, Pati, dia juga melayani pasien. Dan belakangan ini sudah mulai banyak penawaran untuk memberikan pelatihan seputar ilmu pijat. [has/arf]

Melihat Muria yang Gagah di Rimong Indah




Sore hari menjadi saat yang tepat untuk menikmati alam Pegunungan Muria di kawasan wisata Rimong Indah
Senja di Rimong Indah, Medani-Pati

Badan tiba-tiba rileks begitu saja. Sesampainya di kawasan Wisata Alam Rimong Indah, di Desa Medani. Udara yang sejuk dengan tebing-tebing yang dihiasi lebatnya pepohonan membuat mata segar. 


Wilayah pegunungan di Kabupaten Pati memiliki daya tarik wisata yang luar biasa. Salah satunya adalah Wisata Rimong Indah. Tempat wisata ini, berada di Desa Medani, Kecamatan Cluwak.
 Untuk sampai ke tempat ini, kita harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Dengan berkendara sepeda motor, dari pusat kota Pati. Jaraknya dengan pusat kota 45 kilometer.

Wisata Rimong Indah, patut dijadikan sebagai alternatif wisata alam pegunungan. Di tempat ini pengunjung akan dimanjakan hijaunya tebing-tebing lereng Pegunungan Muria. Puncak Saptorenggo yang berbentuk lancip segitiga terlihat sangat jelas.  

Pengunjung yang datang juga bakal disambut gemericik air sungai Kali Gelis yang menenangkan. Airnya masih jernih. Udara di sekitar kawasan wisata itu masih sangat sejuk menyehatkan. Lebih menarik lagi, pengunjung bisa datang sambil berkemah. Datang siang hari, lalu pulang esok hari. Berkemah menjadi paket komplet untuk menikmati matahari tenggelam dan merasakan pagi yang menyenangkan di lereng pegunungan.

Potensi wisata alam di Pegunungan Muria sangat indah
Hijaunya lereng Pegunungan Muria dari Rimong Indah 

Di kanan kiri banyak tumbuh pohon-pohon rindang, juga kebun kopi yang menjadi salah satu sumber perekonomian warga Desa Medani. Lahan kopi di desa tersebut mencapai 150-an hektare. Termasuk di lahan perhutani.

Kawasan wisata ini sudah cukup komplet, dari segi fasilitas yang ditawarkan pengelola. Tempat parkir nyaman. Toilet ada. Meskipun tidak begitu nyaman. Disediakan pula mushola. Penjual makanan dan minuman juga ada.

Jadi tidak usah kelaparan saat berwisata. Untuk menarik pengunjung, pengelola menyediakan beberapa spot foto, namun spot foto yang disediakan masih terlalu norak. Pengelola hanya “latah” meniru spot-spot foto di tempat wisata lain. Namun sudah lumayan untuk sekadar melepas penat. Karena pengunjung bisa berwisata murah. Pengunjung hanya dikenakan uang parkir saja. Rp 2 ribu, lebih mahal segelas es dawet ayu, namun pengunjung sudah disuguhi alam yang mewah. (arf)

Kelapa Kopyor Pati Permata Hijau di Pekarangan Rumah




dukuhseti menjadi daerah penghasil kelapa kopyor terbesar di pati
Sebuah kebun kelapa kopyor di Dukuhseti Pati
Mampir ke Pati tak lengkap jika belum mencicipi kelapa kopyor. Apalagi diminum langsung di bawah pohonnya. Kesegaran kelapa kopyor bisa naik dua kali lipat. Coba saja. 

Semua orang sudah pasti mengenal buah kelapa. Kalau kelapa kopyor, tahukah anda. Kelapa kopyor merupakan buah kelapa yang memiliki kelainan genetic. Ciri kelainan ini adalah daging buahnya yang empuk, dan terlepas dari tempurungnya, jumlah airnya pun sedikit.
Tanaman kelapa kopyor tumbuh subur di wilayah pesisir utara Kabupaten Pati. Mulai dari Kecamatan Margoyoso, Tayu, hingga Dukuhseti. Sepanjang jalan di desa-desa tersebut, kita akan disuguhi pemandangan pohon kelapa yang tumbuh di pekarangan rumah.

Kabupaten Pati menjadi surganya kelapa kopyor. Tiap bulan ribuan biji kelapa kopyor dikirim untuk memenuhi kebutuhan pasar luar kota, seperti Jakarta, Bandung, hingga ke Denpasar Bali.

Kopyor dari Kabupaten Pati dinilai cukup istimewa. Karena itu permintaannya selalu tinggi, konsumen mengaku lebih senang produk kopyor dari Pati.

potensi kelapa kopyor dari dukuhseti kabupaten pati sangat besar
Kopyor dari Pati sangat digemari

Di Kabupaten Pati ada sekitar belasan pedagang kelapa kopyor, yang menjual ke pasar luar kota. Mereka rata-rata mendapatkan kopyor dari para tukang totok alias pemanjat kelapa,tukang totok berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, untuk mencari buah kelapa kopyor.

Kelapa kopyor bagi sebagian masyarakat Pati, telah menjadi sumber penghasilan yang lumayan, selain bertani di sawah.

Harga satu butirnya, berkisar antara 30 hingga 50 ribu. Kelapa kopyor sendiri tidak mengenal musim, hampir setiap hari ada saja buahnya. Pohonnya sendiri bisa produktif hingga puluhan tahun, sebuah sumber penghidupan yang menjanjikan. (hus)

Batik Tulis Bakaran yang Menawan



Seorang model mengenakan busana batik tulis bakaran


Kabupaten Pati juga memiliki batik tulis yang khas, pesonanya tak kalah dengan batik-batik dari daerah lain di Indonesia. Namanya batik tulis bakaran. Nama batik ini merujuk satu daerah yang menjadi pusat pengrajin batik ini.

Kurang lengkap kalau bergaya belum mengenakan batik tulis bakaran. Pusat pengrajin batik ini berada di Desa Bakaran Kulon dan Bakaran Wetan, di Kecamatan Juwana. Kurang lebih ada ratusan pengrajin batik di dua desa tersebut. Dari pengrajin kecil hingga pengrajin besar.

Batik tulis bakaran memiliki ratusan motif, dari yang klasik sampai yang kontemporer. Gambarnya bermacam-macam, dan terus berkembang.

Ciri khas batik bakaran dilihat dari motif pecahan atau remekan. Terinspirasi dari wilayah Bakaran, yang merupakan daerah tambak, dimana tanahnya pecah-pecah, sebelum ditaburi benih ikan.

Pasar batik tulis bakaran tak pernah sepi, tiap bulannya, satu pengrajin bisa menyelesaikan 300 hingga 1.000 potong kain pesanan.



Batik tulis bakaran tidak hanya digemari warga lokal Pati, batik ini juga digemari warga luar kota. Tidak jarang pesanan juga datang dari instansi-instansi luar kota tersebut.

Perkembangan batik tulis bakaran begitu pesat, sejumlah kegiatan pameran, baik di tingkat lokal, maupun nasional, sedikit banyak telah mendongkrak pemasaran batik ini.

Busana batik telah memberi warna tersendiri, bagi khazanah mode di tanah air, batik,  termasuk batik tulis bakaran telah mampu memenuhi gaya busana manusia modern sekarang ini. (arf)





Ketika Pak RT Bagi-Bagi Beras ke Warga Miskin Terdampak Corona

Warga menerima bantuan beras dari Pak RT



PATI – Dingin udara pagi itu (Rabu, 6/5/2020) masih terasa. Seorang lelaki bertubuh kekar mengangkati bungkusan kantong plastik bening. Isinya beras. Lelaki yang mengenakan kaos merah itu tidak lain Trianto.

Trianto adalah Ketua RT 8/1 Desa Muktiharjo Kecamatan Margorejo. Di tengah mewabahnya Covid-19, sejumlah kalangan tergerak turun membantu meringankan beban masyarakat. Trianto sebagai ketua RT tak ingin ketinggalan bergerak membantu warganya. Melalui kegiatan bakti sosial.

Bakti sosial itu mengusung tema, "Covid Bukan Aib, Bantu dan Jangan Kucilkan Mereka" Hal ini dilakukan untuk membantu warga yang menjalankan karantina mandiri dan  meringankan masyarakat kecil yang ekonominya terdampak akibat pandemi Covid-19.

Terlebih sejak adanya imbauan untuk tetap di rumah saja, membuat sejumlah pekerja harian mengalami penurunan pendapatan.

“Kegiatan ini sudah yang ke tiga kalinya, ini merupakan wujud kepedulian warga kami,  untuk meringankan masyarakat dari dampak sosial Covid-19, " ungkapnya usai membagikan bantuan sembako kepada dua orang warganya yang sedang menjalankan karantina mandiri.

"'Dengan sembako tersebut, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk tetap bisa mengonsumsi makanan dengan baik di tengah pandemi ini,"  tambahnya.

Tidak hanya bantuan sembako, Trianto juga memberikan kebijakan kepada warganya yaitu tidak perlu membayar tagihan air selama tiga bulan.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini kami dan warga sepakat untuk tidak memungut tagihan air,. Saya lakukan hal ini karena uang kas yang kami kelola masih cukup untuk hal itu," imbuhnya.

Disamping memberikan bantuan sembako, Trianto dan pengurus RT juga memberikan sosialisasi untuk mentaati anjuran pemerintah. Terkait penggunaan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak pada saat beraktivitas kepada masyarakat.

 “Mudah-mudahan Covid-19 cepat berakhir, kita bersama-sama harus menaati aturan pemerintah, dan ikut menyosialisasikan kepada masyarakat agar penyebaran tidak meluas,” pungkasnya. (arf)

The Power of Rekanita IPPNU, Masker Gratis untuk Semua



Aksi sosial yang dilakukan PAC IPNU IPPNU keling, Jepara 


Pemerintah pusat telah mengimbau masyarakat menggunakan masker. Atas rekomendasi dari badan kesehatan dunia WHO. Semua masyarakat diharapkan memakai masker, terutama saat ke luar rumah.

Masker menjadi salah satu bentuk pencegahan persebaran wabah virus corona sekarang ini. Disamping gerakan cuci tangan, budaya hidup sehat, serta menaati imbauan-imbauan resmi pemerintah lainnya. Seperti social distancing. Karena perkembangan virus corona ini sudah sedemikian rupa.Mengutip pernyataan juru bicara Indonesia untuk penangan virus corona Achmad Yurianto, di luar banyak ditemukan orang tanpa bergejala yang bisa saja membawa virus itu.

Pemerintah menganjurkan masyarakat memakai masker kain. Sebab jenis masker bedah dan masker N95 peruntukannya hanya bagi tenaga kesehatan.

PAC IPNU dan IPPNU Keling sebagai organisasi yang bersifat keterpelajaran, pengkaderan, kemasyarakatan, kebangsan, dan keagamaan, sudah sepantasnya ikut mengambil peran dalam masa tanggap darurat ini.

Membantu pemerintah untuk ikut menanggulangi persebaran virus corona yang sudah merebak hingga ke daerah-daerah. Sebab, ikut andil dalam penanggulangan wabah ini merupakan bagaian dari perjuangan kemanusiaan dalam melindungi sesama.

”Kami membentuk gerakan seribu masker. Kami bentuk relawan untuk produksi masker hingga mendistribusikan ke warga,” kata Ketua PAC IPNU Keling Rian Prasetyo.

Gerakan mengetuk kemanusiaan akan dilakukan secara gotong-royong. Pihaknya mengajak kerjasama sejumlah pihak di wilayah Kecamatan Keling, baik swasta, pemerintahan desa, hingga lembaga dan organisasi lain, untuk memastikan setiap warga mendapat akses masker secara layak dan gratis. Tidak diperas oleh oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan di tengah musibah global ini.

”Kami siap bekerjasama, untuk memproduksi masker dengan harga sangat terjangkau. Dengan tujuan semua warga bisa mendapat masker secara gratis, sebagai ikhtiar dalam pencegahan persebaran wabah ini,” jelasnya. (ars)


Penyemprotan Disinfektan Tidak Efektif

Penyemprotan disinfektan yang dilakukan Polres Pati belum lama ini 



Penyemprotan disinfektan tidak lagi disarankan. Karena dinilai tidak efektif dan malah membahayakan. Apalagi yang disemprot-semprotkan ke tubuh manusia. Bukan hanya virusnya saja yang mati. Bisa-bisa orangnya mati karena penyemprotan itu.

Ketua Satgas Penanggulangan Penyebaran COVID-19 Kabupaten Jepara, Edy Sujatmiko tidak merekomendasikan penggunaan cairan disinfektan. Di samping mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan, harganya cukup mahal, juga tidak efektif untuk jangka waktu lama.

Pria yang juga Sekda Jepara ini menilai, disinfektan memang cukup ampuh menangkal virus corona. Namun, hal itu saat masih berupa cairan, yang hanya bertahan kurang dari tiga jam. “Karena dia membunuh ketika masih berwujud cairan. Disemproti, kalau sudah kering sudah tidak bisa membunuh,” terang Edy dalam rapat evaluasi langkah pencegahan persebaran COVID-19 atau virus corona, di ruang kerja Bupati Jepara awal April ini.

Pihaknya khawatir, warga akan terlena karena merasa sudah aman setelah disemprot disinfektan. Edy lebih menganjurkan warga memanfaatkan detergen atau sabun dan air. “Pencegahan lebih baik memakai detergen, cuci tangan pakai sabun, mengisolasi diri dan menggunakan masker bilamana dia merasa sakit,” jelas Edy.

Meskipun begitu, pihaknya tidak melarang cara pencegahan dengan penyemprotan disinfektan. Kepada satgas tingkat bawah, diimbau lebih memaksimalkan pendataan bagi warga yang baru datang dari perantauan. Selain juga terus melakukan sosialisasi, dan mengupayakan alat pelindung diri (APD). (arf)


Pakai Dana Desa Atasi Darurat Virus Korona

jepara.go.id



Pemerintah desa dapat mengalokasikan sebagian dana desanya untuk mendukung langkah pencegahan persebaran virus corona. Realokasi anggaran itu sudah ada petunjuk teknisnya. Hal itu disampaikan langsung Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi belum lama ini.

”Dana desa dapat direalokasi untuk itu. Pemerintah desa dapat mengalokasikan sebagian dana desanya. Termasuk pemberian sembako bagi warga miskin terdampak. Sudah ada petunjuknya, jadi bisa dilakukan pergeseran di DD dan ADD-nya,” jelas pria yang akrab disapa Andi ini.

Seperti diketahui, imbauan pemerintah pusat untuk tidak mudik ke kampung halaman nyatanya tidak banyak yang diindahkan. Ribuan orang sudah tercatat melakukan perjalanan ke tempat masing-masing. Mereka pulang dari daerah-daerah zona merah. Seperti Jabodetabek. Praktis para perantau yang nekat pulang itu langsung saja berstatus orang dalam pemantauan (ODP). Di sini daerah-daerah pelosok tentu akan menjadi sangat rawan.

Pemerintah daerah pun ketiban tugas berat untuk melakukan penanganan ODP itu. Belum nanti masalah kesehatannya. Apalagi kesiapan fasilitas kesehatan di daerah-daerah juga masih tanda Tanya.

 Mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga tingkat desa. Mereka harus bekerja keras mencegah persebaran virus corona. Ini tentu bukan pekerjaan mudah. Perlu anggaran serta kecerdasan menentukan bagi para pemerintah yang ada di bawah itu.

Lebih lanjut pihaknya ingin satgas-satgas pencegahan persebaran virus korna di tingkat desa bisa lebih gencar lagi melakukan sosialisasi kepada warganya. Media-media komunikasi yang ada di desa dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk melakukan edukasi.

”Semua media komunikasi harus diefektifkan. Termasuk menggunakan pengeras suara yang ada di tempat peribadatan bisa digunakan,” terang Andi. (ars)  

Cegah Corona, Pemdes Pelemgede Periksa Warga Perantauan yang Pulang

Spanduk sosialisasi cegah corona 





Satu per satu warga berdatangan ke kantor desa. Ruang tamu di kantor itu disulap menjadi posko yang sederhana. Hanya ada satu bidan desa yang dibantu beberapa perangkat desa, mereka melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warganya yang baru saja pulang merantau.

PATI – Posko penanggulangan virus corona (Covid-19) dibuat di Desa Pelemgede. Hal itu untuk mendeteksi kondisi kesehatan warga desanya yang baru saja pulang dari perantauan.

Namun, kegiatan itu dirasa penuh risiko. Pihak pemerintah desa sendiri cukup khawatir, mengingat saat melakukan pemeriksaan terhadap warga perantauan yang pulang, alat pelindung diri yang dikenakan hanya berupa masker dan sarung tangan saja.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan, mengingat daerah-daerah asal perantauan yang merupakan zona merah, dimana sudah terjadi kasus pasien positif corona yang meninggal dunia. Disamping itu, langkah pemerintah desa setempat juga perlu diapresiasi, mengingat langkah pencegahan yang pro aktif ini akan membantu pemerintah dalam upaya mencegah persebaran virus tersebut.

Kepala Desa Pelemgede Hadi Mustamar mengungkapkan, pihaknya memang berkomitmen untuk melakukan pencegahan agar warga desanya tidak terkena wabah corona. ”Ini bagian dari upaya pencegahan kami. Diantaranya melakukan sosialisasi dengan selebaran yang ditempel-tempel di tempat umum, penyemprotan disinfektan, hingga membuat posko penanggulan virus corona dengan sasaran para perantau yang pulang agar memeriksakan diri,” terang Hadi Mustamar.
Suasana pengecekan warga perantauan 

Saat ini (26/3/2020) sudah ada 23 warga desanya yang pulang merantau. Mulai dari luar kota seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, dan juga Batam. Dari luar negeri kebanyakan warga desanya perantauan dari Malaysia. Total ada sekitar 200-an warga desanya yang merantau, namun belum dipastikan dalam waktu dekat apakah akan pulang atau tidak.

”Sebenarnya kami arahkan untuk langsung periksa ke puskesmas atau ke rumah sakit. Namun banyak warga yang enggan. Karena itu kami berinisiatif dengan membuat posko ini,” jelasnya.

Setiap perantau yang dating, lanjut kepala desa, mereka dilakukan cek kesehatan berupa pengukuran suhu tubuh, tensi darah, dan pemberian multivitamin. Setelah itu mereka dianjurkan beristirahat selama dua pekan.

”Yang kami periksa semua sehat. Tidak ada keluhan seperti batuk maupun flu. Semoga sehat semua,” imbuhnya.

Untuk melakukan antisipasi ini, kepala desa mengandalkan bidan desa, serta kader-kader kesehatan desa. Di Desa Pelemgede ada 30 kader kesehatan. Termasuk untuk mengingatkan warga agar tidak berkerumun, dan menjaga diri, menjaga kebersihan dan kesehatan masing-masing. (ars)


Masa Depan Gemilang Kiper Lokal Jepara


Suasana latihan kiper Persijap 


JEPARA – Berbeda dengan musim 2018 lalu ketika masih ada nama Amirul Kurniawan, musim ini memang tidak ada nama kiper lokal di skuad Persijap Jepara. Tiga pemain dengan posisi kiper sudah diisi nama-nama kiper dari luar daerah. Mereka adalah Galih Sudaryono, Harlan Suardi dan Wais Alqorni.


Ketiga kiper itu kemampuannya tidak bisa diragukan. Galih dan Harlan keduanya bahkan pernah mencicipi karis di timnas kelompok umur. Galih Sudaryono sudah pernah menjejakkan kakinya di timnas U 19 dan U 23. Sedangkan Harlan Suardi pernah menghuni timnas U 18. Hanya Wais Alqorni yang belum pernah.

Namun, baru-baru ini pelatih kiper Laskar Kalinyamat, Iman Suherman mengungkapkan kekagumannya pada kemampuan dua kiper lokal Jepara. Mereka adalah Fuad asal Welahan dan Arifin Setiadi asal Keling. Penampilan dua kiper itu memikat hati Iman Suherman.

”Arifin ini saya minta untuk magang dulu di Persijap, dia masih muda teknik bermainnya bagus, ini yang saya suka. Dia potensial untuk menjadi kiper yang bagus, saya suka untuk memolesnya. Soal postur bagi saya tidak masalah asal teknik, perilaku bagus,” kata Iman.

Ada lagi, kiper asal Welahan  yang sudah masuk kriteria Iman, namanya Fuad. ”Sebenarnya sudah mau saya tawari kontrak tanpa seleksi, dia masih muda, namun karena dia lebih memilih Pra-PON, ya saya menghormatinya,” imbuh pelatih kiper lisensi C AFC ini. (hus)