Menjadi Guru Idola

Ilustrasi ayobandung.com



Guru idola? Guru yang diidolakan siswa tidak harus guru yang cantik, atau ganteng. Bukan guru yang paling kaya atau paling pintar. Banyak kriteria untuk menjadi seorang guru idola. Jika kedatangan sang guru sangat dinantikan oleh siswa, ini merupakan langkah awal untuk menjadi guru idola. 

Di era sekarang, banyak hal yang diinginkan oleh pelajar untuk mengidolakan guru sebagai panutannya. Guru dituntut untuk bekerja profesional. Tidak mudah untuk menjadi guru profesional.

Banyak hal yang harus terpenuhi kriteria-kriterianya. Jika hanya sekedar disukai siswa, mudah didapat. Asalkan guru itu ramah, supel, dan peduli dengan siswa, otomatis akan menjadi idola siswa. Apalagi jika ketika pembelajaran ada variasi dan tidak membosankan. Yang diminta, guru jangan pernah marah terhadap siswa. Jelas guru tersebut ada di hati para siswa.

Paham karakter
Satu hal yang harus dimiliki guru idola adalah guru yang memahami karakter siswa satu-persatu. Ketika pembelajaran sedang berlangsung, jika guru mendapatkan siswanya ada yang berhasil mengerjakan tugas dan benar, maka tak segan guru memberikan pujian, hadiah, atau sanjungan.

Hadiah yang diberikan guru tidak harus berupa barang atau benda. Hadiah bisa berupa ucapan yang mampu membuat anak menjadi bangga.  Anak akan merasa senang dan puas akan hasil kerjanya.

Dengan adanya hadiah, pujian yang diberikan kepada siswa, dalam kesempatan lain anak tersebut akan berbuat hal yang sama. Ingin mendapatkan sanjungan atau pujian. Dengan adanya sanjungan, pujian atau hadiah, anak akan merasakan ada satu pembelajaran yang lebih.

Guru yang ramah. Guru yang tak pernah marah-marah kepada siswa. Guru yang selalu tersenyum jika bertemu dengan siswanya. Guru yang peduli akan siswanya. Yang diharapkan siswa adalah guru yang peduli terhadap anak. Kadang guru perlu mengajak siswanya untuk saling bertukar pikiran.

Kadang anak juga ingin diajak untuk bercanda bersama.  Ada suasana keakraban yang tercipta ketika anak dan guru saling bersendau gurau ( kadang guru sering menggojlok siswanya, agar tidak ada kesan guru begitu angkuh dan tiada peduli kepada siswa).

Thomas Gordon seorang penyelenggara berbagai kursus keterampilan yang tersohor di Amerika Serikat telah memberikan beberapa definisi guru yang baik. Begini kutipan ciri guru yang baik menurut Thomas Gordon:

1. Tenang dan tidak menunjukkan emosi yang menyala,
2. Tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada peserta didiknya,
3. Dapat menyembunyikan perasaannya dari peserta didik,
4. Memandang semua peserta didik sama,
5. Mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat,
6. Konsisten, tidak berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan,
7.Pandai, bijaksana dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa,
8. Sanggup memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didik.

Jika diperhatikan poin demi poin ke delapan ciri tersebut, ternyata  guru yang baik harus lebih dalam segala hal dari orang-orang pada umumnya. Harus lebih mengerti, lebih memiliki ilmu pengetahuan, lebih sempurna dari orang-orang lain. Guru harus mampu mengatasi kelemahan manusia lain!

Tidak akan ada manusia biasa yang mampu menjadi guru sesuai ciri-ciri tersebut. Kalau ada, itu hanya mitos atau cerita hayalan belaka. Akan tetapi dari delapan ciri tersebut, beberapa poin di antaranya mungkin dimiliki oleh guru. Jika ada profil guru yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, adalah guru yang benar-benar guru, guru  yang hanya berpikir dan bekerja, untuk anak didiknya saja.

Realitanya, guru adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Punya kekurangan dan kelemahan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Itu sebabnya, di samping mengajar, seorang guru juga sedang belajar. Guru juga bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab dan beban moral tersendiri.

Jadi seorang guru juga harus mampu menutupi segala permasalahan dari rumahtangganya atau dari lingkungan dimana ia berada. Guru harus bisa menutup luka hatinya, meski dalam situasi membara. Jangan sampai emosi dan kesedihan di bawa dalam kondisi pembelajaran. [] 

Sarwiyani, Guru SMP Negeri 1 Pucakwangi, menjadi guru sejak 1983

Di Pantai Bondo, 24 Jam Tempat Asyik Ngapain Aja (1)


pantai bondo menjadi salah satu spot menarik wisata di jepara
Seru-seruan 
Lautnya tenang. Warnanya kebiruan. Cerah. Pasirnya putih bersih. Enak dipandang. Siang-siang apalagi pagi dan sore hari. Pantai Bondo berada di Desa Bondo Kecamatan Bangsri. Dari pusat Kota Jepara jaraknya sekitar 13 kilometer.

Aksesnya mudah. Bangjo pertigaan sebelum Pasar Mlonggo masuk. Jalannya mulus beraspal. Ikuti saja. Pantai ini belum terlalu ramai. Hanya di waktu-waktu tertentu. Hari Minggu dan waktu liburan saja. Sore hari pun juga tak ramai-ramai amat. Berbeda dengan pantai Jepara lainnya yang telah tersohor. Pantai Bandengan misalnya.

Pantai Bondo sekarang mulai berbenah. Dipoles sana-sini. Kata seorang teman, pantai ini dulu (Red, sebelum dikembangkan dengan adanya kafe-kafe) lebih identik sebagai tempat begituan. Masih banyak semak-semaknya. Sekarang lihat sendiri.

kita bisa menggelar kegiatan apa saja di sini bersama teman kita
Santuy bersama
Pantai ini dikelola oleh Pokdarwis desa setempat. Pantai ini termasuk unik. Karena pantai ini menjadi halaman belakang rumah warga setempat.

Berwisata di sini cukup murah. Hari-hari biasa tak dikenai karcis masuk lokasi wisata. Karcis berlaku hanya untuk hari libur saja. Rp 2500 hingga Rp 5 ribu. Tentu sangat murah dibanding obyek wisata pantai lainnya yang sampai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

Di tempat ini, pengunjung tentu saja bisa menikmati pemandangan lautan dengan hamparan pasir putihnya. Pemandangan tambahan juga ada. Lalu lalang perahu nelayan mencari ikan. Juga kapal-kapal tongkang yang memuat batu bara menuju ke PLTU Tanjung Jati B. Letaknya di utara pantai ini.

***
Bermain pasir. Berenang di laut yang tenang dan dangkal. Asik sekali. Lautnya memang benar-benar tenang. Karena itu, pantai ini juga disebut Pantai Ombak Mati.

Pantai ini agak ramai saat sore hari. Kebanyakan wisatawan lokal. Ada yang berolahraga volley pantai. Mencari kerang di pasir, momong anak dan keponakannya. Hingga para pemburu senja yang ingin mengabadikan dalam bentuk gambar dan video.

Pantai Bondo buka hingga 24 jam. Pantai sepanjang dua kilometer ini menjadi salah satu tempat terbaik untuk kegiatan semacam camping. Hampir tiap akhir pekan, tempat ini menjadi pilihan menghabiskan waktu menikmati alam di pantai ini dengan berkemah.

Di pantai ini juga pengunjung bisa menikmati serunya bermain dayung kano. Salah satu kafe menyediakan fasilitas ini. Seperti di Omah Laut. Satu jam Rp 25 ribu. Kalau dua jam Rp 30 ribu. Lumayan jadi alternatif hiburan. Terutama bagi para newbie yang tak pernah mendayung.

kafe ini menawarkan spot menarik menikmati pantai bondo
Spot menarik 

Sekali lagi, meminjam istilah orang-orang Betawi, di pantai ini pengunjung bisa asyik ngapain aja. Camping, maen laying-layang, olahraga, ngopi, nyenja, berenang, main dayung kano, api unggun, bakar-bakar ikan. Bulan madu pun bisa. Di pantai ini sudah banyak tersedia homestay. Tinggil pilih. Homestay ala rumahan. Atau cottage. (arf)


Ponpes Alma’ruf Kudus Tampil di Liga Santri Tingkat Nasional



Para santri Ponpes Almaruf berdoa sebelum berangkat ke Cibinong, Bogor, untuk melakoni laga di Liga Santri Nusantara seri nasional.


KUDUS – Tim sepakbola Ponpes Alma’ruf Kudus tampil di Liga Santri Nasional. Tiket itu direbut setelah berhasil menjadi juara Liga Santri Nusantara (LSN) tingkat Jawa Tengah. Kesebelasan Alma’ruf tergabung dalam grup C.

Mewakili Jawa Tengah regional I anak asuh coach Jamin ini akan bersaing dengan Kalimantan II, Sumatera II dan VIII. Coach Jamin yang didampingi, legenda hidup Persiku, Cucun Sulistyo bakal waspada terhadap calon lawannya itu.

Menurutnya, satu sama lain belum mengetahui betul kekuatan masing-masing. ”Kami belum pernah bertemu. Jadi kami harus tetap waspada sepanjang pertandingan,” tutur coach Jamin.

Dia menaretkan untuk harus mencapai semi final. Syukur-syukur bisa final. Artinya itu harus menjuarai grup C.

Meski demikian, dia juga tak mau sesumbar memastikan untuk lolos fase grup. Karena menurutnya ini terlalu dini. ”Selama ini tim sudah dalam kondisi siap tanding. Baik kebugaran maupun segi teknis. Persiapan terakhir kami matangkan terus finishing touch para penyerang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua KONI Kudus Antoni Alfin mengatakan, pihaknya memantau terus Liga Santri yang berlangsung di Kudus. Ini merupakan bagian dari pembinaan pemain usia dini.

”Kami berterimakasih RMI Kudus turut membuat kompetisi sepakbola. Dengan adanya kompetisi akan muncul bibit muda berpotensi,” kata Antoni.

Dia melihat  penyelenggaraannya cukup bagus, dan mendorongnya agar digelar tiap tahun. Terpenting lagi, pihaknya akan berupaya mewadahi potensi pemain muda untuk disalurkan ke Persiku Junior. (arf)

Cerita Rakyat, Keteladanan dan Identitas Daerah



DISKUSI: Penulis buku dan narasumber lain sedang membahas cerita-cerita rakyat di Kampung English Desa Temulus, Kecamatan Mejobo.
Bedah buku DISKUSI: Penulis buku dan narasumber lain sedang membahas cerita-cerita rakyat di Kampung English Desa Temulus, Mejobo, Kudus


KUDUS – Cerita rakyat bisa jadi sumber belajar yang menarik. Ada nilai-nilai luhur yang bisa digali dari jalan cerita yang berkembang di masyarakat. Meskipun hanya dari tutur lisan. Lazim diketahui, cerita rakyat ini umumnya “miskin” data-data sejarah yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

Namun, bagi saya yang penting nilai-nilai cerita itu bisa sampai kepada generasi milineal. Meskipun hanya sebatas dongeng-dongeng saja,” kata Kanzunnudin penulis buku ”Cerita Rakyat Pesisir Timur Jawa Tengah.

Kanzunnudin menulis 32 judul cerita dalam bukunya. Bersumber dari delapan cerita rakyat yang berkembang di sekitaran Jepara, Kudus, Demak, hingga Pati.

Menurutnya, banyak cerita rakyat yang terdapat di daerah Pantura Timur itu. Cerita yang lahir dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat ini menjadi sebuah keteladanan bagi masyarakat setempat. Selain itu, cerita-cerita ini juga menjadi identitas bagi daerah tersebut.

Menggali Cerita
Dalam penulisannya, Kanzunnudin tidak menampik kesulitan cerita rakyat untuk menembus pikiran generasi milineal. Karena generasi ini umumnya selalu percaya dengan data. Sedangkan, cerita rakyat lebih banyak tidak diperkuat dengan data-data sejarah yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

Ahdi Riyono, dosen Universitas Muria Kudus (UMK) yang membedah buku cerita rakyat itu menyebut, jika buku tersebut bisa menjadi salah satu tempat untuk mempelajari nilai-nilai luhur yang telah berlangsung lama di masyarakat.

”Seluruh cerita yang ada dalam buku ini menjadi penting untuk diteladani. Sebab, di dalamnya terdapat nilai-nilai keluhuran yang menjadi identitas cerita tersebut hidup,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Muslimin, founder Komunitas Kampung English. Menurutnya, buku itu bisa menjadi semacam oase baru untuk khazanah literasi di wilayah pesisir timur Jawa Tengah. Dia sangat senang dengan adany bedah buku tentang cerita rakyat tersebut.

Kampung English ini tidak hanya menjadi tempat belajar bahasa Inggris. Melainkan menjadi tempat diskusi tentang apa saja. Terutama terkait hal-hal yang berlatar belakang literasi,” terangnya (fmh)

Puisi Tidak Hanya Sebaris Kata-kata Indah



Mukti Sutarman Espe saat hadir di FASBuK


Bagaimana menulis puisi. Bagaimana menulis puisi yang indah. Bagaimana menulis puisi yang bernyawa. Bagaimana menulis puisi yang membawa pesan moral. Bagaimana menulis puisi sebagai kritik sosial. Bagaimana…

Pertanyaan demi pertanyaan, membuat riuh sesi diskusi Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuk), Selasa (29/10/2019) di auditorium Universitas Muria Kudus. Pada edisi Oktober 2019 ini, panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus menampilkan pertunjukan dari tiga kampus di kota Kudus.

Mereka mewakili masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang literasi maupun seni pertunjukan seperti LPM Paradigma IAIN Kudus, LPM Pena Kampus Universitas Muria Kudus dan Teater Bledug Universitas Muhammadiyah Kudus.

Ketiga komunitas tersebut diwakili lima sastrawan muda. Seperti Muhammad Achyarie Amrullah, Achmad Shokhibul Imam, Umi Yukhanid, Ifa Rizki Purnama Wati, dan Nuryanti. 

Mereka menyuguhkan pertunjukan berdasarkan puisi dari buku “Menjadi Dongeng “ karya Mukti Sutarman Espe salah satu sastrawan senior Kudus yang karyanya sudah banyak termuat di berbagai media nasional.

Edisi kali ini merupakan ruang untuk mengenal, mempelajari serta mendalami proses kepenyairan Mukti Sutarman Espe. Selain dikenal karena produktivitas karyanya, Mukti sendiri adalah salah satu pendiri FASBuK. Bersama sejumlah sastrawan Kudus lainnya. Seperti almarhum Yudhi MS.

Menulis
Mukti mulai jatuh cinta menulis sejak lama. Jauh saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia juga banyak belajar dari tulisan-tulisan surat cinta kakaknya. Mukti sering mencuri baca. Malam itu, Mukti mengeluarkan semua kisah dan pengalaman kepenyairannya.  

”Yang perlu diingat. Menulis harus diimbangi dengan membaca. Karena saya penulis saya juga pembaca. Menulis puisi juga begitu,” kata Mukti. Puisi baginya, tidak hanya sebaris-dua baris kata-kata indah.

Karena itu, penyair yang juga membidani lahirnya kelompok penulis di Semarang ini merekomendasikan bacaan-bacaan yang bisa saja dikonsumsi bagi calon penulis. Bacaan-bacaan seperti buku filsafat, agama, dan kebudayaan misalnya.

”Membaca itu bagi saya seperti mengisi kendi. Diisi sampai tumpah. Tumpahan itu yang menjadi tulisan. Dengan semakin banyak bacaan kita, tentu puisi-puisi yang kita bikin tak hanya menjadi barisan kata-kata indah. Akan tetapi lebih bernyawa. Ada isinya,” terangnya.

Selain menunjang dengan bacaan buku-buku. Tidak kalah pentingnya juga membaca karya-karya dari penyair besar. Semacam WS Rendra, Sapardi Djoko Darmono, hingga Joko Pinurbo, dan juga penyair lain. (alb)      

Selalu Rindu pada Rejenu



Air lima rasa 

Saya selalu rindu dengan Rejenu. Burung-burung yang berkicau. Pepohanan hijau. Dan hawa sejuknya di pagi hari. Tempat yang tepat untuk menyepi. Dari riuh rutinitas dunia modern kini. Kira-kira begitu.

Malam Jumat lalu (24/10), saya bersama beberapa teman, menembus gelap jalanan Desa Japan Kecamatan Dawe, Kudus. Jalanan menanjak. Tikungan dan turunan kami lalui. Gelap sekali. Karena memang begitulah jalanan di desa. Apalagi yang melewati kebun-kebun.

Gapura makam 
Hampir tengah malam kami sampai di Rejenu. Sekitar pukul 11.00. Kebetulan malam Jumat. Rejenu lumayan ramai. Banyak yang berziarah. Di Rejenu ada makam seorang wali. Namanya Syeh Sadzali. Seperti orang-orang yang datang, kami juga berziarah. Membaca tahlil seperti yang diajarkan guru saat masih di madrasah.

Memang tujuannya berziarah. Selebihnya untuk menyegarkan badan dan pikiran. Di tengah hutan. Tanpa sinyal internet. Lumayan banyak yang diobrolkan. Tidak banyak isinya. Karena memang banyak guyonnya. Beberapa menginap. Dua teman memilih turun. Tidur di rumah.

Pagi harinya, kami bangun pagi-pagi sekali. Sangat pagi dari biasanya. Sayang jika berada di tengah hutan bangunnya kesiangan. Pagi di hutan selalu menyenangkan. Saya dan teman-teman pun tak mau melewatkan kesempatan.

Dipandu seorang teman yang mengaku sering menyepi di tempat ini, jalan-jalan pagi dimulai. Selain jalan-jalan, teman saya yang bertindak sebagai ketua rombongan memang menjanjikan akan mengajak kami ke tempat-tempat bagus di Rejenu.

Suasana hutan

Mulai dari melihat air lima rasa hingga melihat satwa Lutung. Selain terkenal dengan air tiga rasanya, di kawasan Rejenu juga ada sumber mata air lima rasa. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di air lima rasa. Jalannya terjal. Satu arah menuju Puncak Argopiloso yang merupakan salah satu puncak Pegunungan Muria.

Benar saja apa yang dikatakan teman saya. Di tengah jalan kami mendapati suara keras. Sulit mendiskripsikannya. Saat pertama mendengar suara itu seperti katak di sawah saat musim tanam padi tiba. Tapi suara ini lebih nyaring.

Ternyata itulah suara hewan Lutung. Di sebuah pohon besar. Lutung menggerombol. Ada lima ekor yang saya lihat. Mereka mungkin sedang bermain. Meloncat dari satu ranting pohon ke ranting lainnya. Santai sekali. Melompat tanpa takut terjatuh. (alb)
          


Ning Sri, dan Inspirasi Generasi Santri Berjiwa Wirausaha




komunikasi yang baik dengan para karyawannya
Ning Sri dan para karyawannya 


Gegap gempita Hari Santri Nasional 2019, tak boleh numpang lewat saja. Mesti ada nilai-nilai yang dipetik untuk mencipta sebuah perubahan. Sri Handayani, pengusaha asal Pati yang pernah menimba ilmu di pesantren menyebut, santri harus mampu berperan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Dalam rangka menghadapi tantangan global.
***
Kabupaten Pati, sebagai merupakan basis pesantren. Kata Sri Handayani, bisa menyumbang peran untuk itu. Sudah saatnya santri dibekali jiwa kewirausahaan dan pendampingan keterampilan agar bisa menjadi pengusaha tangguh.

Masyhur dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur sejati dan wirausahawan yang sukses. Keteladanan beliau dalam menggeluti usaha perdagangan menjadi contoh para sahabat dalam berwirausaha.

Pada usia muda yakni 12 tahun, Nabi Muhammad sudah melakukan perdagangan regional ke Syria. Selanjutnya pada usia 17 tahun, memimpin ekspedisi perdagangan ke Syam, Yaman, Yordania, Irak, dan sejumlah negara lainnya. "Sedangkan pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad sudah menjadi wirausahawan yang sukses dan kaya raya," sambung wanita yang akrab disapa Ning Sri ini.

Sri Handayani yang pengusaha asli Kabupaten Pati ini menambahkan, empat sifat mulia Nabi Muhammad, sangat mendukung dalam berwirausaha. Yaitu Shiddiq atau Jujur, amanah atau dipercaya, fathonah atau cerdas hingga tabligh atau komunikatif.

Pengusaha sukses ini sangat menginspirasi
Sri Handayani

"Shidiq atau jujur yaitu mengatakan yang sebenarnya mengenai barang yang diperjualbelikan. Terkait kelebihan dan kekurangan barang," jelas wanita yang saat ini sedang menyelesaikan program doktoral Ilmu Ekonomi, Undip Semarang itu.

Selanjutnya, jujur atau shiddiq yaitu perdagangan yang didasari sifat amanah akan berbuah berkah. Baik bagi penjual, pembeli, keluarga dan semua yang terlibat di dalamnya. Kredibilitas pengusaha sangat ditentukan pada sifat amanah yang dimilikinya.

"Sementara fathonah yaitu mampu memahami, menghayati, mengenal tugas dan tanggung jawab bisnis dengan sangat baik. Menumbuhkan kreativitas dan melakukan berbagai inovasi yang bermanfaat agar produk perusahaan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat, permintaan pasar dan pola perubahan yang terjadi," kata Ning Sri.

Selanjutnya, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren di Kajen, Margoyoso ini menyebut, pengusaha harus mempunyai sifat tabligh atau komunikatif. Menurutnya, seorang pengusaha dituntut untuk melatih diri dalam menyampaikan profil bisnisnya. Menyampaikan dengan cara yang paling baik, efisien dan efektif. Mampu menggunakan jaringan dengan baik.

"Dan juga yang perlu diperhatikan yaitu membangun tim kerja yang tangguh dan menjaga kepercayaan relasi bisnis. Jangan sampai dilupakan untuk rajin bersedekah dan berinfak. Kalau perlu jadikan sedekah sebagai gaya hidup," tutupnya. (*/alb)

Single Gusti Allah Mboten Sare, Persembahan untuk Bangsa Indonesia




suluk maleman hadir setiap bulan mengusung tema-tema sosial kemasyarakatan yang sedang banyak diperbincangkan
Video klip Gusti Allah Mboten Sare 


Gusti Allah mboten sare.. Kito sedoyo ingkang supe.. Teng donya mung mampir ngombe.. kados ngimpi sak kedepan wae..

Lirik itu menjadi penggalan dari lagu terbaru Sampak GusUran yang diberi judul “Gusti Allah Mboten Sare”. Selain dimainkan secara live, peluncuran single itupun dilakukan dengan memutarkan video klip yang telah diunggah dalam channel Youtube Sampak GusUran dan Suluk Maleman.

Ngaji budaya Suluk Maleman akhir pekan kemarin, sekaligus menjadi momen bedah video klip dari single tersebut.

Pengasuh Suluk Maleman, Anis Sholeh Baasyin mengungkapkan, single itu secara khusus dipersembahkan bagi bangsa Indonesia. Supaya masyarakatnya kembali mengingat kepada Allah.

Sebenarnya, kata Anis, lagu tersebut sudah diciptakan sejak tahun 2011 lalu. Pernah beberapa kali naik proses perekaman, namun berkali-kali gagal. Saat ini dirasa memang harus bisa berhasil. Di situasi seperti saat ini, muslim harus selalu ingat, jika Allah hadir terus menerus.

Suluk Maleman 

Dalam video klip tersebut dihadirkan adegan-adegan yang merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Seperti ungkapan Sayidina Ali, yang mengatakan jika orang hidup layaknya orang tertidur.

“Maka dari itu di video tersebut diawali dengan adegan tiga orang lelaki yang seolah tertidur,” terang Anis Sholeh Ba’asyin.

Ketiga orang lelaki itu sendiri mewakili tiga watak manusia. Mukminun, munafikun dan kafirun. Penggambaranya ditunjukkan dengan sosok lelaki mukminun yang membantu orang lain di tengah padang. Sosok munafikun diperlihatkan sebagai sosok pria yang selalu tersenyum. Namun di belakangnya membawa pisau yang siap dihujamkan.

Sosok kafir dimunculkan dengan seorang pria yang kerap menindas orang lain. Bahkan digambarkan dengan menginjak-injak juga.

Penggambaran perjalanan tiga watak itu juga diperlihatkan saat ketiganya berada di sumber mata air. Dalam filosofi Jawa memang disebutkan, jika hidup selayaknya orang mampir ngombe (Red, minum). Sosok mukmin diperlihatkan meminum air dengan satu cakupan tangan. Seperti halnya kisah Nabi Musa, yang diperintahkan untuk minum hanya secakupan tangan tidak boleh lebih.

Sementara, kedua sosok lainnya terlihat meminum air begitu banyak. Sosok kafir itu bahkan sampai terjun ke dalam air, agar dapat meminum air sebanyak-banyaknya. Seolah-olah tercebur dengan godaan dunia.

Pada akhirnya, lanjut Anis, ketiga orang itu pun menjalani perjalanan ke akhirat dengan jalan yang berbeda. Sosok mukmin terlihat berjalan dengan cepat dan tanpa beban. Sedangkan sosok kedua harus berjalan merangkak untuk memasuki surga karena bebannya. Sementara yang ketiga, membuatnya sulit beranjak karena keterkaitannya pada dunia.

“Sebenarnya ada beberapa simbol lain. Seperti simbol pertikaian antar kelompok untuk memperebutkan perempuan yang tengah bersolek. Dunia memang diibaratkan perempuan yang bersolek hingga selalu menarik semua orang. Namun pada akhirnya orang yang bertikai itu semuanya kalah,” imbuhnya.

Kehadiran single itu diharapkan menjadi pengingat, agar manusia dapat mengutamakan kemanusiaannya. Hilangnya rasa kemanusiaan sendiri disebut bisa terjadi karena terlalu suka pada dunia, maupun terlalu takut pada kematian.

“Coba bayangkan sekarang ini agama diributkan hanya untuk persoalan dunia saja. Tak hanya agama, apapun ujung-ujungnya untuk kepentingan di dunia,” imbuhnya. (ars)



Potensi Besar Latoh Jepara, Tembus Ekspor Jepang-Korea


latoh sangat banyak dijumpai di laut jepara namun masih perlu untuk dibudidayakan
Urap Latoh menjadi salah satu menu olahan tanaman laut ini

Tanaman Latoh banyak tumbuh di lautan Jepara. Latoh yang dikenal sebagai anggur laut atau Green Caviar, merujuk sebutan orang-orang Eropa dan Amerika, sangat baik untuk kesehatan. Bahkan pasar di Jepang dan Korea sudah banyak yang meminta tanaman hasil laut tersebut.
”Latoh memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas ekspor. Jepara sebenarnya sudah ekspor. Tapi masih menggunakan jasa pihak lain. Kedepan bisa diekspor sendiri, sehingga Latoh bisa dikenal sebagai hasil laut khas Jepara,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Jepara, Mulyaji, seperti dikutip dari jepara.go.id.
Lebih lanjut, pihaknya ingin melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir dengan mengangkat pembudidayaan Latoh. Sebab memiliki dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Serta menjadikan brand bahwa Latoh berasal dari Jepara.
Saat ini, Latoh telah mampu menembus pasar internasional. Ekspor tanaman hasil laut ini telah menyasar hingga  ke Jepang dan Korea.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Sugeng Raharjo mengatakan, saat ini banyak tambak yang kondisinya kosong, melihat potensi tersebut dirinya tertarik untuk memanfaatkan pembudidayaan Latoh bersama masyarakat.
“Latoh itu hanya membutuhkan waktu tiga minggu sampai satu bulan, dan sudah bisa dipanen setiap hari. Dengan metode Tumpangsari ataupun Polyculture. Ini potensi yang menarik,” katanya.
bahas masalah budidaya latoh sebagai komoditas menjanjikan dan potensi besar pasar ekspor ke jepang dan korea
Audiensi Kadin Jepara dengan Asisten II Sekda Jepara
Metode tersebut dianggap sukses untuk perkembangbiakan jenis rumput laut ini. Sebagai hasil laut khas Jepara, Sugeng berharap Latoh bisa berkembang dengan baik.
Saat ini, BBPBAP bersama pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jepara, dan Himpunan Nelayan seluruh Indonesia (HSNI) sedang mempersiapkan pembudidayaan, sekaligus sosialisasi kepada masyarakat untuk mengkonsumsi Latoh.
Latoh memiliki banyak kandungan protein, kalsium, asam lemak tak jenuh dan masih banyak lagi kandungan kesehatan lainnya. Tantowi Jauhari, dari Kadin jepara mengungkapkan, pihaknya bakal melakukan kegiatan pengenalan produk hasil laut tersebut.
Upaya sosialisasi itu direncanakan melalui kegiatan pemecahan rekor MURI. Dengan cara kegiatan makan Latoh bersama sebanyak 10 ribu peserta. (alb)




Santan Restaurant, Cita Rasa Kekinian Masakan Indonesia di Hotel @Hom Kudus





Menu baru di restoran Hotel @Hom Kudus


KUDUS – Aroma sedap Grilled Salmon menguar di lobby area Hotel @Hom Kudus. Chef Ali cekatan menggoyang-goyang wajan. Menampilkan atraksi live cooking di depan para wartawan. Menandai bergantinya “bendera” Malabar Restaurant menjadi Santan Restaurant, Kamis (17/10/2019) siang.

Mulai hari itu, tidak ada lagi papan nama Malabar Restaurant di Hotel @Hom Kudus. Hotel di bawah naungan Horison Group ini menutup lembaran kiblat masakan kebarat-baratan. Mengganti dengan konsep masakan-masakan khas bumbu Indonesia. Dengan sajian ala kekinian menu restoran.

Konsep yang diusung adalah Indonesian Authenthicity With Traditional Touch. Horison Group ingin melakukan inovasi dengan hal baru, untuk memanjakan lidah konsumennya. Seiring persaingan usaha kuliner yang semakin menjamur di semua kota dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia. Seluruh restoran jaringan hotel ini merubah konsepnya serentak.
restoran baru hotel @hom kudus
Jajaran manajemen dan chef Hotel @Hom Kudus

”Di era modern seperti ini, masyarakat Indonesia berbondong-bondong mengikuti tren dari luar. Mereka menganggap segala hal yang datang dari luar itu bagus dan keren. Tak terkecuali dengan berbagai macam usaha, seperti usaha kuliner rumah makan atau restaurant yang mengadopsi makanan-makanan dari luar sebagai menu utamanya,” terang General Manager Hotel @Hom Kudus, Ahmad Muthohar.

Lebih dari 20 menu akan disajikan dengan cita rasa khas yang sama di seluruh Horison Group. Dari Sabang sampai Merauke, serentak launching pada pekan ini. Ada 51 restaurant. Ada pula menu-menu tradisional lain yang menjadi ciri khas masing-masing kota. 

Harapannya, Santan Restaurant ini dapat di terima oleh semua kalangan. Kedepannya tetap menjadi favorit serta menjadi ciri khas kuliner bagi konsumen yang berkunjung di hotel Horison Group seluruh Indonesia, khususnya di Hotel @Hom kudus.

Santan Restaurant ini memiliki kapasitas hingga 60 kursi pengunjung. Mulai buka pukul 10.00 sampai 23.00. Tak sabar mencicipi masakannya ? (arf)