Sedap Toleransi Soto Kudus

Soto Kudus, merupakan kuliner khas paling lezat di kota kretek. Makanan ini, sekilas tak jauh beda, dengan varian soto-soto lain di indonesia. 

Bedanya, soto kudus disajikan dengan potongan daging kerbau. Konon, karena masyarakat di kota ini memegang teguh ajaran sunan kudus. untuk tidak menyembelih sapi. Hal itu sebagai penghormatan bagi umat hindu.

Soto kudus, sangat mudah dijumpai di sudut-sudut kota. Mulai dijual di pasar, hingga di pusat kuliner di tengah kota. Seperti di taman bojana. Per porsi, soto lezat ini dibanderol dengan harga 15 ribu. Saking melegendanya kuliner ini, penjualnya pun turun-temurun. Saat ini, kebanyakan sudah masuk generasi ketiga. (arf) 

Desa Kajen dan Ceritanya


Kajen sebuah desa kecil di Pati bagian utara. Desa dengan peninggalan sejarah dan budaya yang luar biasa. Terutama soal nilai-nilai luhur dari Mbah Ahmad Mutamakkin. Sang Wali yang sangat dihormati dan diteladani.  

PATI – Komunitas Jelajah Pusaka Kajen memberanikan diri untuk mengikuti lomba cerita budaya desaku yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI. Lomba itu mengharuskan pesertanya mengirimkan materi dalam bentuk narasi tulis yang dilengkapi foto dan video. Dengan materi tentang potensi budaya yang dimiliki oleh masing-masing desa.

Founder Komunitas Kadjen Heritage Trail, Mohammad Zuli Rizal menjelaskan, penentuan tema yang diangkat oleh Tim berdasar pada tema yang sudah ditentukan oleh panitia "Potensi Budaya Desaku dan Pengembanganya". Yakni mencakup kekayaan sejarah di masa lampau, pengelolaan situs sejarah & peninggalan di masa sekarang, dan bentuk pewarisan dari budaya leluhur untuk generasi penerus.

Salah satu titik tekan yang menjadi garapan dari komunitas yang sudah berdiri sejak tahun 2017 dan memiliki pengalaman menjadi tour guide memandu tamu istimewa dari dalam maupun luar negeri untuk menelusuri tempat ataupun situs benda dan bangunan peninggalan Mbah Ahmad Mutammakin ini adalah Masjid Jami' Kajen.

Masjid Jami' Kajen sudah berumur 300 tahun lamanya. Terdapat Mimbar, Papan Bersurat, Dairoh Dzikir, & peninggalan - peninggalan lainnya dari Mbah Ahmad Mutamakkin yang masih terjaga keasliannya dan sarat akan makna didalamnya.  

Seperti ukiran simbol Kuntul Nucuk Mbulan (Bangau mematuk bulan) yang terpahat dalam mimbar Masjid, mengandung maksud doa dari Mbah Ahmad Mutamakkin kepada keturunan baik secara darah maupun yang melanjutkan perjuangannya, semoga mampu menggapai cita-cita mulia dan menjadi insan bersih dengan semangat pantang menyerah. Bulan sendiri dimaknai sebagai pertanda sebuah kemuliaan atau kebaikan dalam bentuk apapun. Sedangkan kuntul  mempunyai makna pencerahan dari segala hawa nafsu – ahli tirakat dan orang yang nrimo ing pandum (menerima dengan ikhlas apapun yang diberikan).

 Menurut Zuli, Mbah Ahmad Mutamakkin adalah sosok ulama' yang tidak hanya ahli dalam keagamaan saja, tetapi sangat lihai dan peka terhadap seni. Darah seniman mengalir dalam diri beliau. Hal tersebut dapat disaksikan secara nyata dalam bangunan masjid yang beliau buat dengan desain interior begitu indah dan estetik.



 “Dalam penggarapan film pendek atau video ini maupun narasi dan foto untuk mengikuti lomba, kami mencoba merangkul semua elemen yang ada di Desa Kajen. Seperti IPNU KAJEN, Islamic Center Masjid Kajen, Pemerintah Desa, dan ormas - ormas lainnya. Jadinya, kita bersinergi bersama untuk mengharumkan Desa Kajen tercinta dalam rangka mencoba mengenalkan kekayaan - kekayaan sejarah dan kebudayaannya,” ujar Zuli di kediamannya di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, pertengahan September 2020.

“Kami berharap, untuk keberlanjutan dari ikhtiar bersama ini nanti pada waktunya akan membuahkan hasil yang selama ini diimpikan - impikan, yaitu berdirinya Museum Kebudayaan Kajen. Sehingga ada wadah sejarah untuk peninggalan artefak Mbah Ahmad Mutammakin dan peninggalan kerajaan islam, salah satunya Kerajaan Pajang. Keberadaan museum nantinya akan lebih memudahkan para wisatawan dan peneliti sejarah mempelajari peninggalan benda kebudayaan tersebut, jelasnya. (hus)

Adapun video berupa film pendek yang berjudul "Mimpi Besar untuk Desa Kecil Kajen" bisa ditonton pada link YouTube : Cerita Budaya Desaku : KAJEN KAB. PATI atau dapat diakses pada Chanel YouTube Jelajah Pusaka Kajen #KadjenHeritageTrail 

Pedas Menggoda Seblak Mamita

Farida tak menyisakan sedikitpun kuah seblak spesial yang disantapnya di siang yang terik itu. Semua isinya tandas tak tersisa. Penggemar masakan pedas itu nampak puas dengan menu andalan dan paling laris di Kedai Mamita, Tayu tersebut.

Semangkuk seblak spesial itu berisi krupuk, makaroni, bakso, sosis, ceker, dan telur. Dengan bumbu racikan dapur Kedai Mamita, seblak itu dijamin punya rasa berbeda dengan seblak-seblak lain.

”Rasa seblak yang kami jual berbeda. Kami punya bumbu yang spesial. Bumbu kami lebih kental. Lebih mantap. Misalnya cabai, yang kami pakai tentu yang masih segar,” kata Mamita.

Karena itu, kedai tersebut hampir tak pernah sepi orderan. Dalam sehari paling tidak 50 hingga 100 porsi terjual. Harganya pun terjangkau mulai Rp 10-ribuan. Selain seblak ada beberapa menu lainnya di kedai ini.

Selain di Tayu, kedai seblak ini buka juga di Desa Aladowo Kecamatan Dukuhseti. Lokasinya sangat mudah dijangkau. Sebab berada di pinggir Jalan Tayu – Puncel. (yan)


Kampung Budaya Piji Wetan Kenalkan Ajaran Sunan Muria

Dua ajaran luhur Sunan Muria diangkat sebagai bahan mengikuti lomba cerita budaya desa. Dua ajaran itu adalah Tapa Ngeli dan Pagar Mangkuk. Ajaran yang penuh nilai filosofi.

KUDUS – Budaya menjadi pondasi dalam membentuk karakter masyarakat yang penuh dengan kearifan dan terbuka untuk semua kalangan. Mengikuti lomba cerita budaya desaku Kemendikbud RI, warga Piji Wetan mengangkat nilai filosofi Tapa Ngeli dan Pagar Mangkuk ajaran Sunan Muria.

Inisiator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchammad Zaini, menjelaskan pemilihan Tapa Ngeli dan Pagar Mangkuk bertujuan untuk mengenalkan dua ajaran tersebut kepada masyarakat nasional. Ajaran Tapa Ngeli mengandung makna sengaja menghanyutkan diri tetapi tidak terbawa oleh arus gelombang yang ada.

Sedangkan Pagar Mangkuk adalah ajaran Sunan Muria yang mendidik masyarakat agar ringan tangan dalam bersedekah dan membantu orang lain.

Menurut Zaini, dua ajaran tersebut dipandang relevan untuk disebarluaskan kepada masyarakat yang lebih luas untuk bisa mengatasi problematika hidup. Sebenarnya laku hidup tersebut sudah sejak lama dilaksanakan oleh warga nahdliyin, utamanya warga Muria di sekitarnya.

“Di Piji Wetan, dua filosofi ajaran itu diimplementasikan dalam laku budaya berupa jagongan, tonilan dan mangkukan,” kata Zaini.

Tonilan sendiri adalah pentas teater rakyat yang didalamnya berisi lakon cerita-cerita legenda yang berkaitan dengan Sunan Muria, serta asal usul desa-desa yang ada di Kawasan Muria. Pentas ini berfungsi untuk meluruskan cerita-cerita yang salah tentang Sunan Muria agar tidak disalah pahami masyarakat.

Zaini menyebut, banyak versi cerita yang salah tentang Sunan Muria. Karena itu pihaknya ingin meluruskan, untuk meminimalisir salah paham. Seperti legenda Dewi Nawangsih dan legenda Bakaran. (yan)

Adapun video dan konsepnya bisa ditonton di sini 

Solutif : Karang Taruna Desa Sumbersari Bikin Pendampingan Belajar di Masa Pandemi


 

PATI – Wakil Bupati Pati Saiful Arifin Safin menghadiri peluncuran Bimbel Cerdas Mulia yang didirikan oleh Karang Taruna Desa Sumbersari Kecamatan Kayen, belum lama ini.

Pria yang juga ketua umum Karang Tarua Kabupaten Pati ini memberikan apresiasi atas ide kreatif karang taruna yang tanggap akan kesulitan pembelajaran daring di masa pandemi seperti ini.
”Pendirian Bimbel Cerdas Mulia ini kami yakini dapat menjadi jawaban atas keresahan pelajar dan wali murid terhadap proses pembelajaran secara online di masa pandemi Covid-19,” terang Wakil Bupati Saiful Arifin dalam launching yang dilaksanakan di salah satu rumah warga di Desa Sumbersari tersebut.
Menurut pria yang akrab disapa Safin ini, di Sumbersari banyak masyarakat sekitar yang belum siap dengan perubahan sistem pembelajaran yang awalnya tatap muka di sekolah menjadi sistem dalam jaringan (daring) seperti saat ini.
Keresahan orang tua umumnya karena  biaya internet dan kesulitan mereka dalam memberikan pengawasan maksimal selama anak-anak tak ke sekolah.
Terlebih, lanjut Wabup, kondisi pembelajaran di tengah pandemi seperti saat ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Karena itu, Safin amat mengapreasiasi gagasan Karang Taruna Desa Sumbersari yang telah mendirikan Bimbel Cerdas Mulia guna memfasilitasi anak-anak belajar dari rumah. ”Dan tentunya itu dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,”  tegasnya.
Selaku Ketua Karang Taruna Kabupaten Pati ia mengaku akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan sosial, dan kegiatan yang bertujuan memberikan pemberdayaan dan pemahaman bagi masyarakat.
”Peran pemuda sangat vital sekali. Apabila pemuda desa bisa bersatu dengan baik dan memiliki pikiran-pikiran serta energi yang positif, desa setempat akan ikut maju dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuh Safin.
Dalam sambutannya, Safin juga tidak lupa untuk selalu mengingatkan masyarakat agar selalu disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.
Di penghujung acara, Safin lantas memberi bantuan masker kepada masyarakat Desa Sumbersari, sebagai bentuk dukungan pemerintah agar masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan, dengan cara mengenakan masker. (hus)

Santuni Yatim, Utamakan Kebutuhan Pendidikan



Kegiatan santunan anak yatim digelar warga Desa Sirahan Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati (29/8/2020) bertepatan dengan 10 muharram. Total ada 75 anak yatim yang mendapat santunan.

Di teras Masjid Baitur Rohim, raut muka puluhan anak-anak yatim itu nampak berseri. Bahagia. Pagi yang indah bagi mereka.

Kegiatan santunan yatim ini rutin dilakukan. Kemarin dana yang terkumpul samlai Rp 23 juta. Uang ini bersumber dari warga Desa Sirahan. Yabg dihimpun oleh LAZISNU ranting Sirahan.

Ainur Rofiq, Ketua MWC NU Cluwak mengungkapkan, melalui kegiatan ini harapannya dapat membantu meringankan kebutuhan yatim utamanya dimasa pandemi covid-19.

"Sebagai wujud memuliakan yatim juga di bulan muharram ini," imbuh pria yang juga Kepala MTs Darul Falah Sirahan ini.

H. Khoirussalam ketua ranting LAZISNU Sirahan menambahkan, kegiatan serupa diharapkan agar dapat kembali dilakukan, tidak hanya yang bersifat insidental. Tapi bisa  berkelanjutan, rutin sesuai kebutuhan yatim sehari-hari utamanya kebutuhan pendidikannya. (yan)

Situs Sangiran sebagai Verifikasi Pelajaran Sejarah

 


Pelajaran sejarah tentang fosil dan manusia purba sudah dipelajari oleh para pebelajar sejak bangku Sekolah Dasar. Di jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, pelajaran sejarah dikemas dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Sementara di jenjang Sekolah Menengah Atas, barulah secara konkret disebut dengan ‘Sejarah’. Berbeda dengan pelajaran lain yang bisa dilihat wujud nyatanya ̶ misalnya gaya gravitasi dalam pelajaran fisika yang dapat dinikmati lewat pengalaman lemparan ke atas yang selalu jatuh ke bawah, jenis-jenis hewan pemakan rerumputan, perdagingan, hingga pemakan segala dalam pelajaran biologi yang dapat disaksikan di Kebun Binatang, atau ihwal gaya katak dalam pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang dapat dirasakan ketika berenang ̶ , pelajaran sejarah justru berisi tentang kehidupan masa lalu yang tak bisa dinikmati wujud nyatanya.

Di sekolah, pelajaran sejarah hanya ‘dikisahkan’ lewat teks atau audio-visual bagi sekolah-sekolah yang telah ‘disambangi’ kecanggihan teknologi. Kondisi inilah yang membuat kebanyakan pebelajar mudah merasa bosan ketika belajar tentang sejarah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dapat menyiasati kendala ini dengan cara mengajak para pebelajar mengunjungi lembaga pendidikan informal yang berhubungan dengan pelajaran sejarah, seperti Museum Manusia Purba Sangiran yang berada di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah.

Senada dengan ungkapan yang disampaikan oleh G. Brown Goode bahwa sudah seyogianya museum menjadi sebuah rumah yang memelihara pikiran-pikiran hidup daripada hanya menjadi kuburan barang-barang bekas. Dengan cara ini, museum sebagai lembaga pendidikan informal dapat menjadi ‘obat’ atas rasa bosan para pebelajar di lembaga pendidikan formal.

Memverifikasi Pelajaran Sejarah

Satu di antara layanan edukasi yang disediakan oleh Museum Manusia Purba Sangiran adalah program School Goes to Museum[1]. Wujud layanan yang diberikan oleh pihak museum kepada para pebelajar adalah presentasi atau ceramah interaktif, penayangan film tentang Sangiran, dan jalan-jalan keliling museum yang dipandu oleh seorang Guide profesional. Stimulus yang diberikan oleh pihak museum yang berupa informasi sejarah tentang fosil dan manusia purba dalam materi presentasi serta penayangan film, diharapkan dapat direspons dengan baik oleh para pebelajar ketika berkeliling museum untuk melihat koleksi-koleksi fosil manusia dan hewan purba. Respons yang diharapkan adalah verifikasi oleh pebelajar atas materi yang diperoleh selama presentasi, pemutaran film, dan materi-materi yang telah disampaikan oleh gurunya selama di sekolah terhadap bukti konkret di hadapannya seperti artefak dan fosil.

Pebelajar juga dapat membandingkan antara makhluk-makhluk purba dengan makhluk-makhluk modern seperti saat ini. Ukuran gading gajah purba dengan ukuran bermeter-meter dapat dijadikan tolok ukur untuk menerka seberapa besar badan gajah purba jika dibandingkan dengan gajah modern. Artefak-artefak yang digunakan oleh manusia purba untuk membantu aktivitas mereka sehari-hari juga dapat dijadikan pembanding dengan teknologi canggih seperti saat ini. Pengalaman berpikir seperti ini akan lebih diingat oleh para pebelajar, sebab mereka merasakan dan melihat secara langsung atas setiap hal yang mereka pikirkan.

Pandangan Calon Pengajar tentang Situs Sangiran sebagai Sumber Belajar Evolusi

Museum Manusia Purba Sangiran sebagai ‘saksi bisu’ evolusi manusia purba apakah benar-benar cocok dijadikan sumber belajar tentang evolusi manusia menurut sudut pandang para calon pengajar? Alaninda Saputra, Maridi, dan Putri Agustina pernah melakukan penelitian tentang persepsi mahasiswa calon guru terhadap pemanfaatan Situs Sangiran sebagai sumber belajar evolusi[2]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% mahasiswa calon pengajar merasa Situs Sangiran memberikan gambaran yang nyata tentang sejarah penemuan fosil manusia purba di Jawa beserta stratigrafinya, 70% mahasiswa calon pengajar menganggap Situs Sangiran dapat dijadikan sumber belajar evolusi secara langsung, dan 80% mahasiswa calon pengajar menganggap pembelajaran evolusi dengan berkunjung ke Situs Sangiran dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang proses evolusi.

Akhir kata, kisah tentang masa lalu memang layak dimuseumkan kok.

Akhmad Idris, lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, baru-baru ini telah menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020).



[1] Muhammad Mujibur Rohman dalam Jurnal Sangiran No. 5 Tahun 2016

[2] Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains, UNS Surakarta 22 Oktober 2016

Jadi Ketua HIPMI IAIN Kudus saat Pandemi


Dipilih sebagai Ketua HIPMI IAIN Kudus, M Faiz Fadlur bahagia sekaligus berduka. Bahagia karena dipercaya mengemban amanat. Berduka karena teman-temanya di HIPMI ikut terdampak pandemi.

Sebagai ketua, dia sering menjadi tempat keluh-kesah. Banyak usaha anak HIPMI yang stagnan bahkan merugi. Beberapa solusi telah dia berikan, namun beberapa tidak percaya dengan solusinya karena nyeleneh.

Sebagai manusia biasa yang punya lelah, akhirnya dia merubah pendekatan ceramah dan motivasi menjadi inisiasi dan percontohan. Bersama 12 temanya yang tergabung dalam Giveaway Indonesia Official, dia membuat usaha-usaha yang menjadi solusi atas banyaknya permasalahan akibat pandemi.

Dia membuat jasa subsidi ongkos kirim untuk meningkatkan daya beli pada produk UMKM,  penyewaan zoom lengkap beserta pendampingan dan fasilitas lain untuk menjembatani acara daring, serta membuka marketplace optimasi untuk membantu UMKM yang ingin merambah pasar online, namun kurang memiliki pengetahuan IT.

Lewat program C-DNA | BICAYA, dia menitip pesan, “Saya ingin bicara pada teman-teman pengusaha muda bahwa peluang selalu ada. Dan peluang hanya bisa menjadi uang jika kita selalu menproduksi solusi, bukan memaksa orang untuk membeli,” paparnya. (yan)

Menuju Pengkoljagong yang Ramah Lingkungan


Pengkoljagong Murah Festival 2020 digelar. Memperingati HUT Proklamasi ke-75 Republik Indonesia. Sekaligus menegaskan Pengkoljagong sebagai desa wisata yang ramah lingkungan.

BLORA – Puluhan seniman kondang akan ikut ambil bagian dalam acara Pengkoljagong Mural Festival 2020 pada 20 hingga 30 Agustus 2020. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke- 75.

Sekaigus sebagai media sosialisasi Peraturan Desa (Perdes) Pengkoljagong Nomor 6 Tahun 2020 tentang Lingkungan Hidup yang sudah resmi diundangkan. Melalui Perdes ini, ditegaskan larangan perburuan semua jenis burung di wilayah Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati Kabupaten Blora, Minggu

“Kita ingin mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa Desa Pengkoljagong saat ini telah mengesahkan Perdes Lingkungan Hidup. Salah satu cara sosialisasinya ya melalui lomba mural ini. Kita mengajak para seniman rupa untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan ini,” papar Kepala Desa (Kades) Pengkoljagong, Sugiyono.

Lebih lanjut, Sugiyono menambahkan, dengan adanya Perdes ini diharapkan dapat menjadi landasan Desa Pengkoljagong menjadi Desa Wisata. Harapan ini telah digagas sejak awal pemerintahannya, yakni Pengkoljagong Sapta Pesona. Sehingga, peserta lomba nantinya juga harus menggambar mural yang bertema Pelestarian Lingkungan.

Ketua Panitia Pengkoljagong Mural Festival 2020, M Iwan Sukri mengungkapkan, hingga saat ini tercatat ada lebih dari 30 seniman yang akan ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Para peserta tersebut merupakan individu dan kelompok.

“Ada banyak dari luar kota, dari dalam kota juga banyak. Panitia sendiri telah menyiapkan lebih dari 100 panel gambar untuk para peserta. Penilaian mural akan dilaksanakan tanggal 30 Agustus, sedangkan resepsi dan penyerahan hadiah akan digelar pada 31 Agustus mendatang,” paparnya.

Menurut Iwan, pihaknya telah mempersiapkan berbagai kebutuhan dan kegiatan selingan supaya peserta tidak jenuh selama mengikuti acara ini. Tak hanya itu, panitia juga berkomitmen untuk tetap melaksanakan protokol pencegahan penularan Covid-19 mengingat situasi pandemi yang tengah terjadi.

“Kita tetap mematuhi protokol yang ada. Walaupun hingga saat ini Desa Pengkoljagong tidak ada yang terinfeksi Covid-19, kita tidak mau menganggap enteng. Acara akan tetap berlangsung dan protokol kesehatan akan kita patuhi,” pungkasnya. (hus)

 

Jadi Pemijat karena “Ramalan” Kiainya



 
Salah satu kegiatan Muhammad Suud




Muhammad Su’ud tak menyangka, pijat akan menjadi jalan hidupnya saat ini. Motivasi sekaligus “ramalan” dari guru ngajinya di waktu remaja, membuat Su’ud keterusan memijat. Keuletan serta niatnya yang kuat mengantarkan Su’ud mendalami berbagai ketrampilan pijat. 

Kini dia bahkan sudah menjadi trainer. Tidak jarang peserta yang berlatih di tempatnya datang hingga dari negeri seberang. Bahkan beberapa sudah ada yang membuka panti pijat di negara asal.   

Muhammad Su’ud, pemuda kelahiran Desa Karangsari, Cluwak, Pati, Februari 1994 ini sejak remaja sudah tertarik dengan dunia pijat. Itu berawal dari motivasi Guru mengajinya, Kiai Muntahar. Oleh Pak Kiai, remaja beralis tebal ini disebut punya keahlian di bidang penyembuhan, bahkan oleh Pak Kiai, dia dijanjikan akan diberi ilmu Sangkal Putung.

Motivasi dari Guru mengajinya itu membuat Su’ud lebih termotivasi untuk banyak belajar dan menolong sesama. Walau Ilmu Sangkal Putung itu belum dimatangkan, saat ada teman bermain atau teman sekolah yang terkilir saat olah raga, dia lalu beraksi memberi pertolongan. Memijat temannya.

Saat itu dia belum tahu teorinya, namun dalam hati sudah ada motivasi yang kuat untuk menolong siapapun. Dan itu bukan hanya anak-anak saja. Kalangan dewasa pun ada yang minta bantuannya.

Setelah menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Madrasah Aliyah Darul Falah Sirahan, Cluwak, Pati. Su’ud mulai menekuni dunia pijat. Melalui internet, Su’ud mendapat informasi adanya tempat pendidikan pijat di Tangerang, Banten.

Muhammad Suud

Karena ingin belajar yang lebih formal, dia lalu mendatangi tempat itu. Sayangnya, untuk kursus di tempat itu syaratnya harus membayar Rp 6 Juta. Karena minatnya yang kuat, Su’ud lalu menawarkan untuk mengabdi dan sekaligus belajar di tempat kursus itu selama dua tahun dengan jaminan ijazahnya.

Dan selama dua tahun, dia belajar sambil praktik dan sekaligus bekerja. Bahkan dia masih dapat gaji bulanan Rp 1,4 juta dan komisi setiap memijat pasien antara Rp 11 ribu hingga Rp 15 ribu.

Hasil dari belajar dan praktik selama dua tahun itu Su’ud mendapatkan banyak ilmu. Diantaranya  pijat urut tradisional, refleksi, gurah hidung, bekam, pijat ala Thailand, dan masih banyak lainnya.

Setelah dua tahun menyerap ilmu, Su’ud melengkapi keilmuannya di bidang akupuntur (Red, tusuk jarum) karena keilmuan yang ini tidak didapatkan di tempat pertama dia belajar. Dia lalu mencari informasi dimana dia meneruskan belajarnya. Hingga akhirnya dia memilih kota Solo, tepatnya di YAPEPTRI (Yayasan Pendidikan Pengobatan Tradisional Indonesia).

Saat mendaftar di Solo, karena diketahui dia telah belajar berbagai ilmu penyembuhan, oleh pihak Yayasan, Su’ud ditawari untuk bergabung sebagai trainer. Dari situlah keilmuannya semakin berkembang karena dia banyak berinteraksi dengan terapis, juga peserta pelatihan yang berasal dari berbagai bidang keilmuan.

Termasuk diantaranya kalangan medis, bidan, perawat, dan profesi lain dari berbagai kota di Jawa, luar Jawa bahkan ada warga negara asing yang belajar di Solo kemudian di negaranya membuka panti pijat kesehatan.

Selain aktif mengajar dan praktik di Solo, saat dia pulang ke kampung halamannya di Karangsari, Cluwak, Pati, dia juga melayani pasien. Dan belakangan ini sudah mulai banyak penawaran untuk memberikan pelatihan seputar ilmu pijat. [has/arf]