Perburuan Pemain ke Maluku Utara Ala PSG Pati dan SPFA



TERNATE
– Kontestan Liga 2, PSG (Putra Safin Group) Pati dan Safin Pati Football Academy (SPFA) tengah menjalankan progam Goes to Maluku Utara. Program blusukan ini diikuti oleh CEO SPFA, Rudy Eka Priyambada dan head coach PSG Pati, Ibnu Grahan serta Direktur Teknik, Yayat Hidayat.

Rencananya, program blusukan ke Maluku Utara ini berlangsung mulai Rabu (24/2/2021) hingga Minggu (27/2/2021). Dua hari pertama yakni Rabu dan Kamis (24-25/2/2021), tim pelatih memantau eksibisi beberapa SSB kelompok umur U-15 dan U-16 di Pulau Tidore.

Kegiatan ini didampingi langsung oleh Ketua Korwil Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BliSPI) Maluku Utara yang juga Sekretaris Askot PSSI Tidore, Ismid Hi Abdul Latif.

Dari kegiatan itu, terpilih beberapa pemain yang akan diberikan beasiswa untuk bersekolah di SPFA. Selain itu, juga digelar coaching clinic bersama SPFA di Stadion Marimoi, Tidore.

Sedangkan pemantauan pemain untuk PSG Pati di stadion yang sama, pelatih kepala Ibnu Grahan dan asisten Yayat Hidayat harus berpikir esktras menjaring talenta-talenta di Maluku Utara yang mengikuti seleksi.

“Syukur Alhamdulillah kita sudah menemukan “mutiara terpendam” di Ternate-Tidore yang akan kita berikan beasiswa ke SPFA. Berikutnya kita akan jaring lagi di Halmahera Utara,” ujar Ibnu Grahan yang tercatat sebagai pelatih di SPFA sekaligus pelatih kepala PSG Pati, Sabtu (27/2/2021).

Terkait Laskar Kembangjoyo (julukan PSG Pati), Ibnu Grahan mengakui sudah memiliki gambaran beberapa pemain yang akan direkrut dari blusukan yang dilakukan. Gambaran ini didapat dari seleksi di Ternate-Tidore selama dua hari pertama di Maluku Utara.

“Kita sudah kantongi beberapa nama pemain dari seleksi di Tidore. Berikutnya, kita akan coba kembali mencari potensi di Halmahera Utara,” ucap Ibnu Grahan yang tak lain adalah mantan pemain dan pelatih Persebaya Surabaya.

Perburuan pemain hingga ke Maluku Utara disebutnya karena memang harus diakui daerah ini memiliki banyak “mutiara” yang masih terpendam. Dia juga mengatakan saat ini PSG Pati sudah memulai menyusun skuat menyambut kompetisi Liga 2 2021 mendatang.

Sementara itu manajer PSG Pati, Doni Setiabudi mengatakan, manajemen berharap dapat menggelar seleksi di beberapa kota di Indonesia selain di Maluku Utara ini. “Tetapi kita memahami situasi sekarang sedang serba sulit. Semoga kita bisa mendapatkan pemain yang kita inginkan untuk PSG Pati,” ucap pria yang akrab disapa Jalu itu.

Tak lupa, atas nama PSG Pati, dia juga berterima kasih atas perhatian dan antusiasme masyarakat Maluku Utara terhadap agenda SPFA dan PSG Pati. “Terima kasih Askot PSSI Tidore, Askab Halmahera Utara, SSB-SSB di Maluku Utara hingga Past Star juga Player Hunter atas dukungan dan antusiasme yang luar biasanya,” ucap Jalu menambahkan.  

Pemantauan pemain berikutnya digelar pada Sabtu (27/2/2021) di lapangan Miayagina, Togawa mulai pukul 08.00 WIT.
Di hari yang sama, juga diagendakan seminar kepelatihan dengan peserta yang diundang terbatas  untuk wilayah Halmahera Utara.  Selain itu, juga akan digelar coaching clinic SSB di Kecamatan Galela.

“Kegiatan ini juga didukung Askab PSSI Halmahera Utara dan 4G Past Star dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kami berterima kasih kepada PSG Pati dan SPFA yang berkenan hadir ke Halmahera Utara untuk memantau pemain-pemain di daerah kami,” ungkap Ketua Umum Past Star, Hairun Dangkelo selaku penyelenggara.

Selama ini, Maluku Utara dikenal sebagai salah satu gudang penghasil pemain papan atas macam Rizky Pora, Manahati Lestusen, Zulham Zamrun hingga Abduh Lestaluhu. (hus)

KONI Kudus Menilai Musorkablub Forkom Pengkab Cacat Hukum

Konflik di tubuh KONI Kudus terlihat makin memanas. Forkom Pengkab menghendaki Musorkablub. Namun rencana itu dinilai KONI Kudus cacat hukum.

KUDUS – KONI Kabupaten Kudus menyebut musyawarah kabupaten luar biasa (musorkablub) yang bakal diselenggarakan forum komunikasi pengkab cacat hukum. Sebab, musorkablub yang direncanakan diselenggarakan Sabtu (21/2/2021) tak sesuai AD/ART KONI 2020.

Kabid Binkum KONI Kudus Mohamad Nur Hasyim menerangkan, pada pasal 30 (2) Musorkablub/musorkotlub dapat diselenggarakan atas rekomendasi dari dapat anggota yang disetujui oleh minimal 2/3 peserta sah rapat. Padahal dalam rapat anggota pada 22 Januari lalu tak ada rekomendasi musorkablub tersebut.

Di pasal 30 itu juga harus disampaikan secara tertulis dan ditandatangani  oleh ketua umum anggota (pengkab). ”Bila persyaratan itu terpenuhi KONI wajib menyelenggarakan musorkablub,” kata Hasyim mengutip AD ART.

Dia juga menyampaikan, dalam pasal 36 poin a KONI Kabupaten /Kota menganggap  perlu dengan menyebutkan secara tegas dan singkat alasan diselenggarakannya muorkablub.

“Lalu pada pasal 36 juga poin b  bahwa musorkablub diselenggarakan oleh KONI Kabupaten atau Kota. Jadi penyelenggara musorkablub bukan forum komunikasi pengkab,” tegas dia.

Hasyim membeberkan bahwa musorkablub yang bakal diselenggarakan forkom pengkab tidak ada undangan ke KONI Kabupaten Kudus. Undangan hanya ditujukan kepada pengkab.

Lebih lanjut dari itu ada forkom pengkab itu didukung 33 pengkab. Sedangkan 13 pengkab surat keputusan (SK) sudah tidak berlaku.

Dalam aturan KONI bahwa bila sudah tak berlaku maka pengkab tak dapat memilih ketua yang baru. Adapun jumlah pengkab 51. (yan)

IPNU IPPNU Jepara Diberi Hadiah Mobil Operasional

JEPARA- Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kabupaten Jepara menerima bantuan kendaraan mobil operasional dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara pada sabtu malam (13/02/2021) di SMK Hadziqiyyah Nalumsari Jepara 

Pada kesempatan tersebut, penyerahan dilakukan langsung oleh Ketua Tanfidziyyah PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq kepada ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam dan ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati. Moment penyerahan tersebut bersamaan dengan kegiatan Latin-Latpel PC IPNU IPPNU Jepara.

Ketua PCNU Jepara, KH Hayatun Abdullah mengucapkan selamat dan mengapresiasi perkembangan IPNU dan IPPNU di Kabupaten Jepara yang dinilainya semakin maju. “Dalam lima tahun terakhir ini, IPNU dan IPPNU Kabupaten Jepara banyak mengalami kemajuan yang positif baik dari segi keorganisasian maupun kegiatannya,” terangnya.

Maka dari itu, kami selaku pengurus PCNU Jepara mengapresiasi para pelajar NU Jepara ini agar kedepannya lebih baik dan maju. “Dengan bantuan mobil ini kita harapkan laju organisasi IPNU dan IPPNU di Jepara semakin maju dan dapat bermanfaat untuk organisasi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam berterimakasih kepada PCNU Jepara yang selama ini mendukung penuh segala kegiatan IPNU dan IPPNU di Jepara. “Kami ucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami PCNU Jepara yang sudah memberikan bantuan kendaraan operasional, semoga ini menjadi spirit baru kepada kami untuk lebih cepat dan mudah dalam pergerakan organisasi,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati, Ia mengaku senang dan akan memanfaatkan penuh kendaraan operasional ini untuk kepentingan organisasi. “Dengan bantuan kendaraan operasional ini, kami akan lebih mudah dalam menjalankan organisasi IPNU dan IPPNU. Apalagi di Jepara ini termasuk wilayah yang luas, terdapat enam belas kecamatan, puluhan komisariat, dan ratusan ranting,” tandasnya. (Wafa)

Sang Pendekar Al-Qur'an itu Berpulang

 

KH Ahmad Minan bin KH Abdullah Salam 



KH. Ahmad Minan bin KH. Abdullah Zain Salam adalah sosok pendekar al-Qur'an. Beliau memahami al-Qur'an tidak hanya tekstual, tapi kontekstual. Beliau sosok hamilul qur'an yang nafasnya bersama al-Qur'an.

Penulis hanya satu tahun mendapatkan ilmu ulama al-Qur'an ini ketika studi di Perguruan Islam Mathali'ul Falah tahun 1996 saat kelas 2 Aliyah. Beliau mengajar ilmu al-Tafsir karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Lebih dari itu, penulis melihat sosok ini ketika sedang menunaikan shalat jum'at. Meskipun masih banyak ulama sepuh, KH. Ahmad Minan mendapat amanah menjadi imam shalat jum'ah. Masih teringat bacaan merdu-berwibawa Kiai ini pada dua rakaat shalat jum'ah, yaitu Surah al-Jum'ah pada rakaat pertama dan Surah al-Munafiqun pada rakaat kedua.

Sebagai santri kampung yang tidak terbiasa dengan bacaan surah panjang tentu awalnya kaget. Namun, pada akhirnya terlatih dengan bacaan panjang saat shalat jum'ah dengan Imam KH. Ahmad Minan ini.

Gus Minan, biasa kami para santri PIM memanggil, adalah sosok yang tawadlu' (rendah hati). Ketika beliau berjalan, wajahnya menunduk ke bawah sebagai bukti ketawadluan beliau yang selalu menganggap diri tidak lebih tinggi dari orang lain.

Ingat dawuh Nabi yang artinya

Orang yang rendah hati karena Allah, maka derajatnya diangkat Allah.

Gus Minan mempraktekkan ini. Di sela-sela mengajar di PIM, khususnya saat istirahat, di ruangan utara bersama para guru sepuh, beliau berdiskusi dan bercengkrama dengan akrab tanpa ada kelas sosial. Meskipun beliau dari keluarga pendiri PIM, namun beliau akrab dan ngobrol gayeng dengan para guru.

Memang begitu orang yang mendalam ilmunya. Laksana padi, semakin tua semakin menunduk. Kedalaman ilmu al-Qur'an beliau luar biasa. Ketika mengajar ilmu al-Tafsir, banyak sekali keterangan yang beliau sampaikan kepada kami, para santri. Beliau memaknai al-Qur'an secara kontekstual agar al-Qur'an hidup sesuai spirit zaman.

Beliau sering menjelaskan nama-nama sahabat yang berperan dalam ilmu tafsir al-Qur'an. Hal ini tidak lepas dari rihlah ilmiyyah beliau di Mekkah. Beliau menghafalkan al-Quran kepada ayahandanya, KH. Abdullah Zain Salam, kemudian menurut KH. Samhadi (2021) berguru kepada Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam waktu yang relatif panjang.

Perjalanan panjang rihlah ilmiyyah KH. Ahmad Minan Abdillah ini juga meneruskan jaringan Kajen-Haramain yang sebelumnya dilakukan para santri-kiai Kajen dan sekitarnya, seperti KH. Mahfudh Salam, KH. Hasbullah, KH. Mukhtar, dan KH. Hambali Waturoyo.

Maka wajar jika KH. Ahmad Minan lahir sebagai ulama ahli al-Qur'an yang luas wawasannya, mendalam ilmunya, dan santun pribadinya sehingga dengan ijin Allah bisa melahirkan kader-kader penerus al-Qur'an yang bertebaran di banyak wilayah di Indonesia.

Kecintaan mendalam KH. Ahmad Minan Abdillah kepada al-Qur'an benar-benar sepanjang hayat. Meskipun kondisi kesehatannya menurun, namun semangat mendaras al-Qur'an beliau tidak pernah luntur. KH. Ahmad Mu'adz Thohir (2021) menjelaskan kegigihan KH. Ahmad Minan Abdillah dalam mendaras al-Qur'an yang luar biasa, meskipun kondisi kesehatanya kurang mendukung.

Beliau, Gus Minan ini, kata KH. Samhadi (2021), ketika sedang membaca al-Qur'an, maka konsentrasinya di atas rata-rata orang biasa. Dari awal sampai akhir beliau asyik bersama al-Qur'an sehingga tidak mau diganggu dengan aktivitas lain, seperti makan, minum, dan lain-lain. Subhanallah.

Bersama istri Hj. Maftuhah Minan, Gus Minan berjuang membumikan al-Qur'an di seluruh penjuru daerah di Kabupaten Pati. Qiro'ati adalah metode baca al-Qur'an yang ketat dan disiplin dalam makhraj dan tajwid sehingga menghasilkan kader-kader al-Qur'an yang handal.

TPQ Qiro'ati Kabupaten Pati di bawah pimpinan Hj. Maftuhah Minan tidak hanya mengajarkan al-Qur'an, tapi juga praktek ibadah, hafalan surat-surat pendek dan hal-hal lain yang penting dalam pembentukan karakter Qur'ani. Bahkan, dalam perkembangannya, TPQ Qiro'ati ini juga membuka cabang untuk orang tua.

Di samping ahli al-Qur'an, KH. Ahmad Minan adalah sosok yang peduli kepada fakir miskin. Menurut KH. Samhadi (2021), KH. Ahmad Minan Abdillah aktif menyantuni fakir miskin yang berkahnya dirasakan anak cucu dan para santri. Ini adalah bukti kesalehan sosial beliau yang harus diteladani para santri. Sebuah teladan agung dari Sang Pendekar Al-Qur'an yang menjadi inspirasi para santri.

KH. Ahmad Minan bin KH. Abdullah Zain Salam yang merupakan dzurriyyah Syaikh Ahmad Mutamakkin Kajen dimakamkan di Waturoyo, di samping masjid Waturoyo. Insya Allah ada isyarat langit yang menunjukkan daerah ini menjadi daerah yang berkah, baik ilmu, masyarakat, dan lain-lain. Amiin.

Kajen, Selasa, 4 Rajab 1442 - 15 Februari 2021

Jamal Ma'mur Asmani, penulis adalah Wakil Ketua PC NU Pati, produktif menulis biografi para kiai di Pati, tulisan ini sebelumnya telah dimuat di status facebooknya.

 

Jidhuran dan Kesederhanaan Beragama Ala Orang Desa

Sudah lebih dari lima tahun saya vakum dari dunia “penerbangan” (baca: rebana). Kalau tidak salah ingat, terakhir menabuh rebana waktu kelas tiga Madrasah Aliyah. Praktis, tangan saya sudah tak lentur lagi menabuh dengan berbagai jenis gaya dan variasi.

Semalam, saya ikut Pak Mul, bapak saya, Jidhuran. Tempatnya di Makam Mbah Surojoyo. Bagi kami, ia lah yang menjadi cikal bakal kehidupan di Dukuh Kebok Kidul, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri.

Sederhananya, Jidhuran adalah nama lain rebana klasik. Saya masih ingat betul, semasa kecil dulu, tiap malam Kamis selalu ada Jidhuran di kampung. Bapak saya tak pernah absen. Sepekan sekali Jidhuran digelar di rumah-rumah anggota yang jumlahnya hanya belasan. Secara bergiliran.

Saya selalu menantikan giliran bapak saya jadi tuan rumah. Berbeda dengan teman-teman sebaya, waktu itu saya sangat tertarik untuk mengamati dan menikmati setiap tabuhan dan lantunan shalawat dari mereka. Tanpa sadar, telapak tangan saya kerap menabuh lutut sendiri mengikuti irama yang tersaji. Bahkan, saya hampir selalu mengikutinya hingga selesai. Yang sering kali sampai dini hari.

Ingatan saya masih baik ketika suatu malam, nenek saya bertutur “kue kudu iso terbangan, nang. Simbah-simbahmu biyen ahli terbangan kabeh (baca: kamu harus bisa rebana, nak. Kakek-kakekmu dulu ahli rebana semua).” Pitutur itu masuk ke telinga saya waktu masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah.

Memang, kata orang-orang, simbah buyut saya dulu ahli Jidhuran dan bahkan menjadi pentolan di setiap angkatan. Keahlian itu nampaknya terwariskan kepada bapak saya dan saya sendiri -meskipun saya cuma bisa sebisanya-. Saya dan bapak punya kemiripan dalam hal rebana, yaitu sama-sama menguasai hampir semua tabuhan piranti rebana. Tapi ada satu kesamaan yang cukup aneh, kami sama-sama tak berbakat jadi vokal. Mungkin Tuhan sengaja membuat pita suara kami sama.

Dulu, grup Jidhuran bapak sering diundang dalam hajatan-hajatan. Baik di kampung sendiri atau tetangga desa. Seperti pernikahan atau khitanan. Bahkan, tak jarang ada orang yang sampai bernadzar untuk menghadirkan grup Jidhuran itu saat punya hajatan.

Kembali ke Jidhuran malam tadi. Karena sudah lima tahun lebih vakum, tangan saya jadi sedikit keram. Beruntung saya masih sanggup menabuh sampai tiga judul shalawat. Perlu dicatat, Jidhuran sangatlah berbeda dengan rebana-rebana modern. Saya juga cukup lama mempelajari beberapa model rebana. Rebana modern salah satunya. Sekilas, tabuhan di Jidhuran memang sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Ditambah lagi dengan ukuran dan berat rebana yang jauh berbeda dengan rebana kekinian.

Bisa jadi, orang-orang sekarang enggan mempelajari rebana klasik macam Jidhuran itu. Sebab, selain rumit, Jidhuran terkesan kuno dan kampungan. Tentu berbeda dengan rebana kekinian yang lebih hits dan digandrungi kawula muda.

Tadi malam saya menjadi yang paling muda. Lainnya sudah sepuh. Sepanjang ingatan saya, mereka tak pernah berubah sejak dulu. Setiap kali Jidhuran, mereka hanya mengenakan pakaian sopan seadanya. Yang bahkan, tak jarang sarung atau baju mereka sudah lusuh dan berlubang akibat terkena bara kretek.

Mereka tak memikirkan busana. Yang penting bisa Jidhuran dan bershalawat. Kitab-kitabnya bahkan sudah lusuh dan hampir rusak. Mereka tak peduli. Yang penting masih bisa dibaca. Toh, sebagian besar kalimat-kalimat di kitab itu sudah berada di luar kepala mereka.

Saat melafalkan kalimat-kalimat maulid pun, mereka tak fasih-fasih betul. Huruf “u”, misalnya, yang mestinya harus dilafalkan “u”, terkadang bunyi yang keluar dari mulut mereka mirip dengan huruf “o”. Dalam hal ini, saya sangat kagum. Dengan keterbatasan mereka dalam melafalkan huruf-huruf Arab, mereka seperti tak mempedulikan apakah itu salah atau benar. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kemurnian atas esensi makna setiap kalimat. Kalaupun mereka tak sepenuhnya mengerti maknanya, mereka yang dengan penuh semangat melafalkan pujian-pujian kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, itu dengan kemurnian cinta.

Saya jadi semakin kagum dengan cara para wali terdahulu -seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga- yang dengan penuh cinta membersamai orang-orang kampung di Jawa untuk mencintai Islam.

Usai Jidhuran, mereka tak langsung pulang. Kami mendengarkan pitutur-pitutur dari salah satu kiai kampung, yang kebetulan Pak Dhe saya. Situasi itu sama sekali tak seperti kajian-kajian agama. Antara kiai dan jama’ah saling ngobrol.

Jangan berpikiran mereka mengobrolkan cara beragama orang lain, busana muslim-muslimah, trending topik di media sosial, bisnis MLM, politik negara, atau Omnibus Law. Tidak! Mereka hanya membicarakan hal-hal sederhana dari keseharian hidup. Seperti saling bertanya kabar, keadaan tanaman dan sawah yang sedang digarap, atau membicarakan kondisi piranti Jidhuran yang mulai usang. Bahkan, sebagai petani, mereka sama sekali tak menyinggung kelangkaan atau naiknya harga pupuk. Mereka memang hebat.

Obrolan demi obrolan makin gayeng. Saat makanan yang disuguhkan adalah pisang rebus dan kopi hitam hasil tumbukan sendiri. Bisa jadi inilah yang membuat sebagian orang Islam kampung lebih memilih berislam dengan cara “orang kota”. Tentu saja, kopi dan rebusan pisang itu sangat tidak instagramabel untuk menunjukkan keislaman hari ini. Apalagi busana mereka yang lusuh dan sudah berlubang. Ditambah tak ada obrolan tentang hal-hal kekinian. Ah! Orang kampung memang begitu dari dulu…

Tapi, dengan masih adanya Jidhuran, perkumpulan-perkumpulan orang Islam di kampung, dan tetap adanya kiai kampung, kok, keyakinan saya bahwa agama dan bangsa ini masih akan tetap baik-baik saja. Gitu.

Faqih Mansyur, penulis adalah alumni IAIN Kudus, penikmat kesenian dan kebudayaan lokal di Jepara, tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di facebook.  

Ansor Pati Kirim Mainan dan Jajanan untuk Anak-Anak Korban Banjir

Anak-anak korban banjir dapat jajan dan mainan 

PATI – Pimpinan Cabang GP Ansor Pati memberikan pemulihan trauma atau trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kegiatan tersebut digelar di Desa Kedungpancing Kecamatan Juwana Ahad (14/2/2021). Menggandeng Komunitas Pecinta Kucing (Kotaku) Pati mereka berkolaborasi memberikan kegiatan permainan dan mendongeng.

Tak hanya itu, mereka membagikan tak kurang dari 700 paket makanan ringan dan 200 paket mainan. Diperuntukkan kepada anak-anak agar tak mengalami stres atau suntuk sebab rumahnya terendam banjir selama dua pekan lebih.

Sekretaris LBH Ansor Luqmanul Hakim yang hadir dalam acara tersebut menjelaskan hal itu dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi mental dan menghilangkan rasa bosan yang dialami anak-anak setelah dikurung banjir dan masa pandemi. “Kalau mereka larut dalam trauma dan tekanan mental itu mengganggu tumbuh kembang mereka,” jelasnya.

Ia mengatakan kegiatan seperti ini dibutuhkan anak-anak untuk menormalkan psikologi mereka agar tepa sehat dan bersemangat dalam situasi sulit yang dialami keluarganya. “Kami menghibur mereka dengan permainan menyanyi, tepuk tangan dan mendengarkan dongeng yang kami bawakan. Itu membuat mereka rileks,” imbuhnya.

Luqman menyatakan selama ini bantuan memang berdatangan, namun ta banyak yang menyasar anak-anak. Padahal seharusnya anak-anak juga mendapatkan perhatian secara psikis dan mental. “Kalau sudah asyik bermain beban akan terkurangi. Ia kan kembali pulih kejiwaannya dan lincah seperti sediakala,” tandasnya.

Dalam kesempatan lain Ketua Kotaku Pati menyatakan, mereka juga membawa bantuan berupa obat-obatan dan pembalut. Mengingat korban banjir juga membutuhkan perhatian kesehatan. “Kami sudah survey, ternyata bantuan logistik sudah banyak. Obat-obatan dan mainan anak yang nyaris tak ada,” sebutnya.

Bersamaan dengan pelaksanaan pemulihan trauma, anak-anak juga mendapatkan kesempatan melihat lihat kucing ras yang dibawa oleh komunitas. Belasan kucing ras Persia dan Anggora dipamerkan untuk mengurai perasaan tegang di tengah banjir yang belum surut. “Anak-anak biasanya menyukai hewan peliharaan. Kebetulan kami adalah komunitas pecinta kucing,” pungkasnya. (yan)

Menyemai Kembali Tanaman Obat Keluarga di Sekitar Kita

Kegiatan KKN dari rumah oleh mahasiswi UIN Walisongo belum lama ini

Beragam jenis tanaman obat keluarga. Manfaatnya banyak. Sudah saatnya kita kembali melirik tanaman ini untuk dibudidayakan di lingkungan rumah.

Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata Mandiri dari Rumah (KKN MIT DR KE 11) UIN Walisongo Semarang mengadakan penanaman obat keluarga dan pembuatan pot bunga dari bahan bekas dengan peserta didik di lingkungan sekitar yang dilaksanakan pada Jum’at, 05 Februari 2021 sejak pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.

Penanaman obat keluarga tersebut sebagai pertolongan pertama pada kecelakaan kecil pada keluarga. Banyak pekarangan rumah yang kosong tanpa manfaat karena malas dan menyepelekan manfaat dari tanaman toga oleh karena itu banyak hal yang seharusnya bisa dimanfaatkan salah satunya menanam obat keluarga untuk pertolongan pertama pada keluarga kecil anda.

Banyak tanaman yang bisa ditanam di pekarangan rumah antara lain : lidah buaya, kunyit, sereh, lengkuas, jahe, kencur dll. Salah satunya kunyit yaitu dalam bahan alam kunyit yang bisa ditanam dengan mudah di pekarangan rumah sangat kaya manfaat dan bahan kimia yang memberikan manfaat berlimpah. Kunyit memiliki nama lain Curcuma domestica Val. Khasiat kunyit sebagai antioksidan, anti karsinogenik, anti alzeimer dan juga anti kanker. (Depkes RI, 1995). 

Anak-anak mengikuti kegiatan penanaman tanaman obat keluarga

Kurkumin mempunyai rumus molekul C12H20O6 (BM = 368). Sifat kimia kurkumin yang menarik adalah sifat perubahan warna akibat perubahan pH lingkungan. Kurkumin berwarna kuning atau kuning jingga pada suasana asam sedangkan suasana basa berwarna merah  Adanya cahaya dapat menyebabkan terjadinya degradasi fitokimia senyawa tersebut. Hal ini karena adanya gugus metilen aktif diantara dua gugus keton pada senyawa tersebut

Kurkumin adalah senyawa yang berasal dari tanaman kunyit dan sejenisnya. Kurkumin dapat dimanfaatkan sebagai senyawa antioksidan. Tubuh memerlukan antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa ini. (Nugrahadi dan Limantara, 2008).

Kunyit (Curcuma domestica Val.) meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh secara drastis. Kerusakan oksidatif diyakini menjadi salah satu mekanisme dibalik penuaan dan sejumlah penyakit. Kerusakan oksidatif melibatkan radikal bebas, molekul yang sangat reaktif disertai dengan electron yang tidak memiliki pasangan. Radikal bebas cenderung bereaksi dengan zat organik yang penting, seperti protein asam lemak atau DNA. Alasan utama mengapa antioksidan sangat penting adalah karena mereka melindungi tubuh kita dari radikal bebas. Kurkumin ternyata memiliki kandungan antioksidan yang diperoleh dari struktur kimiawi yang dapat menetralisir radikal bebas. Namun kurkumin juga meningkatkan aktivitas enzim antioksidan tubuh. Dengan cara tersebut, kurkumin mampu melawan radikal bebas. Kurkumin memblokir radikal bebas secara langsung, kemudian menstimulasi mekanisme antioksidan tubuh.

Dari kegiatan ini, harapannya tidak ada lagi masyarakat yang tidak menggunakan pekarangan rumah dengan alasan malas dan menyepelekan manfaat dari tanaman toga karena kegiatan tanaman toga akan tetap tumbuh subur secara optimal tanpa perawatan khusus maupun pupuk. Semoga kesadaran masyarakat terhadap penanaman obat keluarga ini sebagai bekal pertolongan pertama yang cukup penting bagi keluarga.

Tika Fauziatul Maula, Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata Mandiri dari Rumah (KKN MIT DR KE 11) UIN Walisongo Semarang

 

Legenda Kayu Naga Muria dalam Pentas Seni Tutur

Suasana pementasan seni tutur Legenda Kayu Muria


Sebuah panggung berdiri. Bentuknya menyerupai masjid. Lengkap dengan menara dan kubahnya. Di kubah tertera logo NU. Di bawahnya bertuliskan Seni Tutut Tsummakala. Pentas dibuka dengan dalang yang mengucapkan salam untuk seluruh makhluk Allah di muka bumi.  

KUDUS – Kolaborasi apik dilakukan tim Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) dengan Lesbumi Kudus. Senin (1/1/2021) malam sebuah pentas seni tutur digelar dengan cerita Kayu Naga Muria.

Pentas dilakukan secara virtual dalam siaran youtube. Acara yang termasuk langka ini digelar untuk menyemarakkan hari lahir ke-95 Nahdlatul Ulama.

Ketua KBPW Muchammad Zaini mengatakan, seni tutur ini menggunakan media wayang sebagai pengantar dongengnya. Hanya saja, musik dan gendingnya menggunakan aliran kontemporer yang dipadukan dengan salawat.

"Melalui seni tutur ini kami ingin agar masyarakat, khususnya generasi muda semakin familiar dengan cerita rakyat dan salawat," ujarnya.

Zaini menamai program seni tuturnya dengan sebutan "Tsummakala". Pada kesempatan tersebut, ia menceritakan bahwa Kayu Naga Muria adalah mitos masyarakat Muria tentang Pohon Pakis Haji.

"Pohon itu dipercaya bisa menjadi pengusir hama tikus dan dikenalkan pertama kali oleh Sunan Muria," ujar Wakil Ketua Lesbumi NU Kudus ini.

Cerita-cerita folklore seperti ini, imbuh Zaini, penting sekali dikenalkan kepada publik sebagai khazanah yang menarik bagi pemajuan kebudayaan lokal. Utamanya bagi kaum Nahdliyin yang gerakan dakwahnya mengarus pada kultur masyarakat pada umumnya.

"Banyak sekali bahan folklor yang bisa digarap oleh seniman Nahdliyin untuk digaungkan kembali ke kencah global," sebutnya. (arf)