Selaraskan Iptek dengan Imtaq Ala SD Negeri Tambahmulyo 2



Pendidikan Akhlak
PATI – Era globalisasi dengan kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu jajaran guru di SD Negeri Tambahmulyo 2 disamping meningkatkan prestasi akademiknya, juga berusaha meningkatkan pendidikan iman dan taqwa (imtaq).

Kepala SD Negeri Tambahmulyo 2, Junadi mengungkapkan, peningkatan itu dilakukan dengan membangun sinergitas kegiatan baca tulis Alquran. Penerapannya dilakukan dengan cara mendatangkan ustad dan ustazah dari Desa Tambahmulyo sendiri.

”Kami di SD Negeri Tambahmulyo 2 memang bertekad ingin menyiapkan generasi masa mendatang yang baik, berakhlak dan berkarakter,” terang Junadi. 

Salah satu usahanya adalah dengan memberikan pembiasaan kepada anak-anak didiknya untuk bersalaman dengan para guru, sebelum masuk ke dalam kelas untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. ”Di era yang seperti ini anak-anak harus dididik dengan baik. Disiapkan dengan serius, ini yang harus dilakukan para guru. Harus membangun sinergitas untuk mendidik para siswa,” imbuhnya.

Selain itu, di SD yang terletak di Desa Tambahmulyo Kecamatan Gabus ini, anak-anak didiknya juga digembleng dengan berbagai kegiatan. Seperti ekstrakurikuler olahraga volly dan takraw, selain itu ada juga kegiatan seni musik modern dan islami.

Kegiatan-kegiatan yang aktif itu mendongkrak prestasi SD yang memiliki 154 siswa tersebut. Prestasi-prestasi yang kerap diraih adalah di ajang lomba mata pelajaran dan seni Islam (Mapsi). Baik di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Serta beberapa kejuaraan dalam ajang popda. Seperti lomba sepak takraw dan lomba volly. (has)


Off Road Jelajahi Wisata Pati



Rally Wisata 


GEMBONG – Ratusan mobil jip menyerbu Waduk Gembong, Waduk Gunungrowo, dan Wisata Jolong akhir pekan kemarin. Melalui jalur off road mereka merangkak menuju salah satu destinasi wisata andalan di Bumi Mina Tani tersebut.

Kegiatan off road wisata itu sendiri dilepas oleh Wakil Bupati Saiful Arifin di halaman Plaza Pragolo.  Jalur-jalur yang dilalui oleh peserta, menyajikan pemandangan alam yang luar biasa. Seperti jalur Jenggolo pada etape pertama, peserta diajak menikmati indahnya Kabupaten Pati dari puncak Bukit Pati Ayam.

Kemudian dilanjutkan ke jalur Waduk Gembong, dimana peserta diajak menikmati berkendara di tepian waduk dengan hamparan rumput yang hijau. Kemudian finish etape pertama, peserta diajak berkemah menikmati malam di tepian Waduk Gunung Rowo sambil menikmati alunan Keroncong Conground Jenaka  dari Juana, dan ditutup dengan menerbangkan lampion beramai-ramai.

Peserta yang datang tidak hanya dari Pati saja, tetapi dari luar daerah seperti Kudus, Jepara, Demak, Semarang dan Rembang, hadir dan mengikuti gelaran even bertajuk Jambore Jip dan Rally Wisata ini.

Tercatat kurang lebih 200 offroader (Red, sebutan pecinta off road) yang mengikuti off-road.   “Event ini adalah sarana yang sangat tepat sebagai ajang untuk mempromosikan obyek wisata di Kabupaten Pati,” terang Joni Kurnianto Pembina dari Indonesia Off-road Federation Pengurus (IOF) Pengcab Pati.

Lebih lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat ini juga mengungkapkan, bahwa belakangan ini kegiatan semacam sport tourism memang menjadi salah satu yang mendongkrak potensi wisata daerah.

Ditambah lagi belakangan ini makin marak bermunculan destinasi-destinasi wisata baru yang hits dan instagrammable di Pati dan sekitarnya. ”Kegiatan semacam ini akan membuat wisata dan olahraga di Kabupaten Pati makin bergairah,” paparnya. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan pengundian beberapa hadiah. (has)

Selametan Bumi Pesantenan, Khataman Alquran, hingga Pembaretan Banser



ISTIMEWA


PATI - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Pati menggelar Selametan Bumi Pesantenan di Stadion Joyokusumo, Jumat (20/9/2019). Ketua PC GP Ansor Pati Itqonul Hakim mengatakan, gelaran tersebut bukan hanya sebatas prosesi keagamaan, namun sarat pesan kebajikan.

Dia mengemukakan, kegiatan diawali dengan 100 hataman Alquran, Kamis (19/9). Adapun acara puncak berupa apel dan pembaretan ribuan Banser yang dirangkai istighasah.

"Selametan Bumi Pesantenan mengandung makna filosofis, betapa kami menghargai leluhur dengan cara mendoakan mereka yang telah menghadap Allah. Karena kata Bumi di sini kami maknai sebagai Abi dan Umi yang berarti ayah dan ibu," ujarnya.

Tidak hanya leluhur kader Ansor, warga Pati juga diajak untuk turut mendoakan leluhurnya dalam acara tersebut. Tidak itu saja, doa juga dipanjatkan secara khusus untuk tokoh Ki Ageng Penjawi.

"Hataman Alquran 100 kali kami lakukan di Makam Ki Ageng Penjawi. Kami menyimbolkan Ki Ageng Penjawi karena merupakan tokoh Nusantara yang turut membesarkan Kabupaten Pati," katanya.

Sejalan dengan itu, kader Ansor dan warga nahdliyyin juga berdoa untuk keselamatan Kabupaten Pati dan lebih luas lagi untuk bangsa dan negara. Termasuk untuk memohon agar bangsa ini sejahtera dan dijauhkan dari perpecahan.

Adapun untuk apel dan pembaretan anggota Banser, Itqon berlangsung pada Jumat mulai jam 17.00. Prosesi pembaretan dijadwalkan dilakukan pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo

"Ribuan kader Banser dari penjuru Kabupaten Pati akan mengikuti prosesi pembaretan. Prosesi itu menjadi muara dari gelombang pengkaderan Banser selama ini," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, peran Banser begitu besar bagi bangsa dan negara. Keberadaannya tidak sebatas sebagai pengawal ulama, tetapi juga menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (hus)

Ratusan Mobil Jip Siap Trabas Alam Bumi Mina Tani



Jajal medan 

PATI – Ratusan penggemar Jip dan SUV bakal memeriahkan even bertajuk Jambore Jip dan Rally Wisata pada Sabtu depan. Even itu sendiri digelar dalam rangka memeringati Hari Jadi ke 696 Kabupaten Pati sekaligus pengenalan obyek wisata alamnya.

Even itu sendiri akan berlangsung selama dua hari penuh. Sabtu, 14 September hingga Minggu 15 September. Bermacam hiburan disiapkan panitia. Total jarak yang ditempuh kurang lebih sepanjang 55 kilometer yang terbagi menjadi dua kelas. Ekstrim dan fun. Dan dua etape. Para peserta bakal diajak merasakan alam Kabupaten Pati.

Untuk Start etape pertama, peserta akan dilepas pada Sabtu (14/9/2019) dari halaman Plaza Pragola untuk selanjutnya melintasi rute Pegandan – Bermi – Gembong dan finish di area Waduk Gunung Rowo.

Selanjutnya peserta akan bermalam dan berkemah di area Waduk Gunung Rowo, sambil menikmati suguhan hiburan musik serta pesta lampion dan kembang api. Keesokan paginya, Minggu (15/9/2019) peserta akan dilepas untuk melanjutkan perjalanan etape kedua, yang akan melintasi Hutan Regaloh untuk selanjutnya finish di Bumi Perkemahan Regaloh Pati.

“Event ini akan memperebutkan hadiah satu unit Mobil Suzuki Jimny dan 1 unit Sepeda motor Suzuki yang akan diundi pada saat finish di lokasi Bumi Perkemahan Regaloh”, terang Benny Nugroho, Ketua Indonesia Off-road Federation Pengurus (IOF) Pengcab Pati.

Lebih lanjut, melalui even ini para peserta bakal diajak untuk mengenali wisata-wisata alam yang ada di Kabupaten Pati. Terutama di wilayah lereng Pegunungan Muria. Panitia memperkirakan bakal ada 300 peserta. Baik yang tergabung dalam komunitas atau perorangan. (has)

Masjid Agung Demak dan Bantahan Telak "Opini" Ridwan Saidi



Diskusi bersama para pakar


DEMAK – Sejarah Raden Fatah dibedah. Inisiatornya Yayasan Dharma Bhakti Lestari dan Research Center Media Group melalui Sahabat Lestari. Diskusi digelar untuk menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang sejarah sultan pertama di Tanah Jawa tersebut.

Selain itu, diskusi juga menjadi respon para sejarawan atas pernyataan “ngawur” salah seorang budayawan yang kerap muncul di layar kaca, Ridwan Saidi. Budayawan berambut gondrong itu menyebut Raden Fatah dan Sultan Trenggono adalah seorang Yahudi. Pernyatan itu dinilai telah melukai masyarakat Demak dan para sejarawan yang meneliti Kerajaan Demak.

Retno Lukito, salah satu perwakilan Yayasan Dharma Bhakti Lestari mengungkapkan, dengan mengangkat tema “Menyegarkan Sejarah Raden Fatah,” diskusi tersebut bertujuan untuk meluruskan opini publik yang tergiring oleh pernyataan Ridwan Saidi tersebut. Pihaknya merasa sangat mendesak untuk melakukan counter terhadap diskusi liar yang berkembang di masyarakat.

”Kita harus meluruskan opini publik yang sudah dibingungkan dengan pernyataan Ridwan Saidi. Terutama diskusi-diskusi yang berkembang di media sosial,” tegas Retno dalam Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Amantis, baru-baru ini.

Senada dengan Retno, Alamsyah, salah satu pakar penelitian Yayasan Dharma Bhakti Lestari menyatakan, perlu pergerakan cepat untuk meluruskan pandangan publik terkait isu tersebut. Melalui FGD tersebut, pihaknya mengajak seluruh narasumber yang hadir dari berbagai kalangan untuk merekontruksi sejarah Raden Fatah dan Kerajaan Demak.

Senada, Chamamah Suwarno, Guru Besar Filologi asal Universitas Gajah Mada (UGM) menegaskan bahwa pernyataan Ridwan Saidi tersebut sangat fatal. Sebab tidak berdasar pada data dan fakta sejarah yang valid. Dia menilai pernyataan tersebut sangat mudah dibantah dengan bukti-bukti yang sampai saat ini masih ada.

”Ridwan Saidi itu ngawur. Pernyataan itu menunjukkan kapasitas keilmuannya menganai sejarah Kerajaan Demak. Itu sangat fatal,” tegas Chamamah.

Beberapa bukti yang bisa membantah pernyataan Ridwan Saidi antara lain masih berdiri kokoh masjid Demak, terdapat makam-makam bercorak Islam, dan hampir seluruh peninggalan lainnya menunjukkan bahwa Raden Fatah, Sultan Trenggono dan Kerajaan Demak secara umum beragama Islam. Tidak ada satu bukti yang menyimbolkan adanya Yahudi di Kerajaan Demak.

Lebih dalam Chamamah mendedahkan, di dalam Masjid Agung Demak terdapat empat tiang penyangga utama. Dari intepretasinya, jika empat tiang tersebut ditarik dengan garis diagonal, maka akan bertemu pada satu titik di tengah. Titik tersebut tepat berada di bawah kubah masjid. Kaitan antara titik dan kubah itu bisa dimaknai sebagai pemurnian ketauhidan kepada Tuhan.

”Titik utama tersebut berada tepat di bawah kubah. Secara filosofis, titik itu terhubung langsung ke atas kubah. Satu kubah tersebut merupakan simbol yang bisa mengantarkan hati manusia menujusatu titik puncak semesta. Yakni Tuhan Yang Maha Esa,” terang Chamamah.

Sementara itu, Joko Suryo, guru besar sejarah UGM menegaskan bahwa dengan alasan dan dalih apapun, Raden Fatah dan Sultan Trenggono tidak bisa disebut sebagai seorang Yahudi. Sebab, Raden Fatah hidup bersama Walisongo yang sudah jelas keislamannya. Bukan hanya itu, Walisongo lah yang menjadi penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

”Saya bisa bantah dengan mudah pernyataan menyesatkan Ridwan Saidi itu. sebab, Kesultanan Demak merupakan pusat peradaban Islam di Jawa dan Nusantara pada abad ke 16,” tegas Joko. (alb)


Mandi Sampai Pagi di Blumbang Sarean Kajen Malam Suro



Suasana mandi di kolam belakang makam Syeh Ahmad Mutamakkin Kajen


PATI Toyib, 17, sama sekali tak menggigil kedinginan. Walaupun sudah lebih 30 menit berendam di semua kolam besar di belakang makam Syeh Ahmad Mutamakkin Kajen tersebut. Sabtu (31/8) malam lalu, area kolam yang tepat bersebelahan dengan balai desa tersebut penuh sesak. Baik oleh orang-orang dan sepeda motor yang diparkir.

Orang-orang datang mengerumun di kolam yang dikenal sebagai Blumbang Sarean itu. Dari mulai anak-anak remaja tanggung, hingga orang dewasa. Sebagian besar anak laki-laki semua. Hanya satu-dua terlihat ibu-ibu. Malam itu mereka menyebut sebagai kegiatan mandi di awal tahun hijriah. Atau malam satu Suro.

Mandi di malam satu Suro seakan menjadi tradisi di kalangan santri Kajen, tidak hanya santri, masyarakat di luar Desa Kajen pun berbondong-bondong datang ke desa yang terkenal dengan pondok pesantrennya.

Kebiasaan ini sudah lama mengakar di kalangan masyarakat daerah Margoyoso dan sekitarnya. Berbagai latar belakang menjadi alasan melakukan ritual mandi, yang lebih pas disebut berenang ini.

Kolam berbentuk persegi ini sudah ramai selepas Isya’ dan bertambah ramai ketika tengah malam. Waktu isya’ sampai sebelum pukul 11.00, biasanya anak-anak kecil yang mandi. Setelah itu giliran usia dewasa. Semuanya laki-laki.

”Tiap tahun selalu kesini, tiap malam Suro. Ikut-ikutan mandi saja di awal tahun. Mungkin bisa berkah di tahun baru ini,” kata Toyib yang datang bersama teman dan orang tuanya tersebut. Anak muda asal Waturoyo, Kecamatan Margoyoso ini mengaku tak tahu secara pasti alasan ikut mandi di tempat itu.

Rofi’i warga Desa Ngemplak Kecamatan Margoyoso mengungkapkan, tiap tahun bertepatan dengan malam satu Suro, kolam berukuran sekitar 30x60 meter ini selalu ramai. Terutama para remaja.

”Ritualnya ya membersihkan badan karena menyambut tahun baru. Tapi ada cerita-cerita katanya dengan mandi malam satu Suro di sini bakal enteng jodoh juga. Selain itu, kolam ini juga ada hubungannya dengan Mbah Mutamakin, mungkin ngalap berkah wali,” kata Rofi’i.

Dimas, salah satu santri yang turut mandi di kolom ini membenarkan. Pria berpostur jangkung ini ikut mandi di kolam sebab percaya bakal berkah. ”Ngalap berkah saja mas, tahun baru bersih diri. Biar awet muda,” kata santri yang sudah empat tahun tinggal di Kajen.

Sementara itu, di berbagai literatur disebutkan, tradisi mandi di masyarakat Jawa lekat dengan nilai filosofis. Mandi, berarti membersihkan dan mensucikan kotoran atau najis. Hal itu berarti isyarat bahwa pada malam 1 suro itu orang harus mensucikan dirinya dari segala dosa dan perbuatan dosa dengan memohon magfirah Allah Sang Maha Pengampun. Kemudian meniti hidup baru dengan langkah yang lebih positif serta semangat baru pula.

Di momen-momen tertentu, mandi selalu menjadi bagian dari ritual yang dijalankan. Sebagaimana maknanya untuk persiapan secara lahir batin. (ars) 


Doakan Papua dan Keutuhan Bangsa di Momen Tahun Baru Hijriah



Para pelajar dan guru khusyuk berdoa untuk keutuhan bangsa 


PATI – Para guru dan pelajar di MA NU Luthful Ulum Wonokerto, Desa Pesucen, Trangkil menggelar doa bersama. Kegiatan itu dalam rangkat menyambut tahun baru 1441 hijriah. Sabtu (31/8/2019) lalu. Doa akhir dan awal tahun itu juga sekaligus dijadikan munajat untuk mengharap keutuhan bangsa Indonesia.

Doa tersebut secara khusus ditujukan untuk ribut-ribut di tanah Papua. ”Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan selamanya akan menjadi indonesia. Untuk itu, doa kutuhan bangsa ini kami lantunkan bersama,” kata Kepala MA NU Luthful Ulum Wonokerto, Sabar.

Sehingga, bertepatan dengan tahun baru hijriyah ini, diharapkan juga menjadi awal perdamaian. Bahwa sudah banyak korban yang berjatuhan lantaran lantaran kerusuhan yang terjadi di Papua.

“Kerugian materi mungkin masih bisa di cari, tetapi kalau nyawa yang melayang, sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Kami dari Pati ini hanya bisa berdoa agar kerusuhan di Papua segera berakhir,” terangnya.

Dirinya juga berharap, dengan membaca doa awal tahun, para insan pelajar dan pendidik di kabupaten Pati senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah.

Rifan Muadzin salah satu siswa MA NU Luthful Ulum juga mengatakan, kerusuhan di Papua adalah derita bangsa Indonesia. Keutuhan NKRI harus selalu dijaga, sehingga tidak ada lagi yang namanya perpecahan.

”Papua adalah NKRI. Kami akan terus berdoa agar kerusuham di Papua segera berakhir dan menemui jalan terbaik,” paparnya. (has)



Keberadaan Prawoto, Dikaji dari Serat Centini


KAJI SEJARAH : Sejumlah warga Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo dan sekitarnya saat mengikuti tadarus Serat Centhini Sabtu (31/8/2019) malam lalu.




PATI, SUKOLILO – Malam suro (31/8/2019) malam lalu digunakan warga Desa Prawoto dan sekitarnya untuk berdiskusi. Mereka membedah Serat Centhini yang di dalamnya memuat informasi tentang Prawoto.

Lantunan kidung mengalun dari beberapa orang tua yang melingkar di Balai Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo pada malam 1 Suro atau yang jatuh pada Sabtu (31/8/2019) malam lalu. Tembang yang dilantunkan itu dari Serat Centini. Mereka tengah melagukan bagian dari serat yang menjadi salah satu rujukan penelitian sejarah tersebut.

Dalam bait yang ditembangkan itu rupanya sangat familiar dengan desa tersebut. Seperti menyebutkan sendang Gerudha atau yang dikenal Godo, sendang Beji dan sendang Jibing. Kesemua sendang itu memang ada di Desa yang ada di bagian paling selatan sebelah barat kabupaten Pati tersebut.

Warga dan para sesepuh desa itu memang tengah mengkaji keterkaitan antara Prawoto yang disebutkan di Serat Centhini. Keberadaan Prawoto baik sebagai wilayah maupun tokohnya yakni Sunan atau Sultan Prawoto sendiri diakui memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Kerajaan Demak Bintoro.

Ali Romdhoni, salah seorang peneliti dari desa setempat memang meyakini jika istana Keraton Prawoto pernah menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Demak. Mereka juga yakin jika hal tersebut juga dijelaskan dalam serat centini yang mereka kaji.

“Seperti dikisahkan jika Raden Jayengresmi cucu buyut dari Sunan giri pernah melakukan napak tilas yang pada kemudian hari sampai di bekas istana Prawoto. Disana beliau bertemu dengan Kyai Darmajati yang saat itu menjadi lurah,”terangnya.

Mereka bertemu di Sendang Beji untuk kemudian diajak mampir ke rumah Lurah Kyai Damarjati. Setelah itu Raden Jayengresmi ditunjukkan bekas istana para Sultan Demak termasuk digunakan untuk Sultan atau Sunan Prawoto.

“Raden Jayengresmi juga ditunjukkan Sendang Grudo yang merupakan tempat favorit pemandian raja-raja Demak dan sendang Jibing yang menjadi tempat pemandian putri dan kerabat keraton,”terangnya.

Informasi itu dinilai begitu penting untuk kemudian digali secara menyeluruh. Oleh karena itulah mereka sengaja memilih mengisi malam satu suro dengan tadarus serat Centhini. Yakni bertemakan “Istana Prawoto dalam Pemberitaan Serat Centhini”.

“Kami sangat berharap nantinya dengan memahami bahwa Prawoto memiliki nilai sejarah yang kuat bisa memotivasi anak-anak muda sebagai generasi penerus agar dapat ikut melakukan penelusuran,”terangnya.(has)

Atraksi Jembul Tulakan Pikat Parade Seni Pesta Rakyat Jawa Tengah di Wonogiri





Jembul Tulakan


Tradisi Jembul dari Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo mewakili duta seni Kabupaten Jepara yang memeriahkan Pesta Rakyat Jawa Tengah, di Kabupaten Wonogiri, Minggu (25/8/2019).

Penari-penari cantik mengawali langkah kontingen Kota Ukir tersebut. Ada puluhan yang ikut di rombongan Jepara, yang berada di urutan ke 13 setelah Kabupaten Rembang.
Diusungnya Tradisi Jembul Tulakan ini sekaligus untuk mengenalkan kepada masyarakat luas. Jika di Jepara ada perayaan budaya yang cukup unik.

“Jika biasanya sedekah bumi desa yang diarak adalah hasil bumi. Namun untuk di Desa Tulakan adalah sebuah jembul, yang diarak berupa iratan-iratan bambu yang disusun seperti gunungan besar yang menarik,” kata Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Jepara, Zamroni Lestiaza.

Atraktif

Jembul Tulakan ini juga berkaitan kisah Ratu Kalinyamat saat melawan Arya Penangsang. Kisahnya panjang.

Jembul Tulakan menurut cerita warga setempat, diyakini bisa menjadi tolak bala. Sekaligus membantu mereka agar mendapatkan hasil pertanian yang melimpah.

“Kami membawa pesan, untuk terus menjaga kearifan lokal masyarakat. Jembul yang dibawa tidak hanya berupa gunungan, namun memiliki makna yang mengikat. Tepat dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng,” katanya.

Sutradara Pementasan Rhobi Sani menambahkan, dalam even tersebut dirinya membawa delapan puluh personil yang terdiri dari tiga puluh penari wanita dan sisanya adalah penari laki-laki, pengarak jembul dan personil musik gamelan.

Persiapan sudah jauh hari dilakukan. Mulai dari materi hingga personil yang tampil. “Kami menyaring dari berbagai sekolah di Kota Jepara, Kecamatan Mlonggo, Bangsri, Donorojo, Tahunan dan Kedung. Semuanya berkolaborasi menyuguhkan atraksi seni yang memikat hati penonton,” katanya.

Cantik

Dalam parade seni, duta seni menempuh perjalanan sekitar 2 Kilometer dengan finish lapangan Giri Krida Bakti. Sepanjang perjalanan dari garis start mereka menari dan melakukan display.
Salah satu peserta Ayu Emes mengaku senang bisa tampil dalam even Jawa Tengah. 

Meskipun sudah sering mengikuti kegiatan parade budaya, menurutnya kali ini agak berbeda. “Butuh stamina yang ekstra, karena tarian yang kami tampilkan sangat menguras tenaga. Selain itu sepanjang perjalanan kita harus menari,” katanya. Sepanjang jalan ribuan penonton memberikan sambutan yang meriah bagi kontingen Jepara. 
Begitu juga Atikoh Ganjar Pranowo, istri gubernur Jawa Tengah dan sejumlah pejabat lain yang duduk di panggung kehormatan. (hus)




Santri Harus Menjadi Generasi Emas Penyongsong 1 Abad Indonesia



Para santri saat mengikuti upacara


Pagi hari, menjelang detik-detik proklamasi, pada Hari Sabtu 17 Agustus 2019, santri-santri Yanbu’ul Qur’an 1 Pati melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-74. Upacara bendera di Yanbu’ul Qur’an 1 Pati ini sedikit unik, karena dilaksanakan dengan menggunakan atribut santri, yakni bersarung dan berpeci. 300-an santri dan segenap asatidz Yanbu’ul Qur’an 1 Pati melaksanakan upacara dengan khidmat.

Dalam amanat pembina upacara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati , Ustadz Sahal Mahfudh M.Pd menyampaikan beberapa amanat kepada para santri, yaitu:

Pertama, bahwa kemerdekaan merupakan jembatan emas Indonesia dalam membangun sebuah peradaban. Jembatan emas ini hanya bisa dibangun oleh generasi bangsa yang terdidik dan tercerahkan, sesuai dengan yang pernah diucapkan oleh Bapak Proklamator RI Ir. H. Soekarno dalam Buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Jika kemerdekaan merupakan jembatan emas, maka para santri merupakan generasi emas Indonesia, yang harus mampu mengisi kemerdekaan, dengan menjadi generasi yang terdidik dan tercerahkan. Sehingga, nanti saat Indonesia berada di satu Abad, para santri menjadi generasi emas negeri ini yang mampu membawa Indonesia meraih kemajuan dan kejayaan.

Kedua, santri yang “terdidik” harus mampu untuk menjadi santri yang memiliki kompetensi Abad ke-21, yang bisa disingkat menjadi 4K, yaitu: Kritis, Komunikatif, Kolaboratif, Kreatif. Khusus santri YQBS 1 Pati, ada kompetensi lain yang juga harus dimiliki, yaitu: Kompetensi Khidmah, yakni mengabdi dan melayani masyarakat. Sehingga ada 5K yang harus dimiliki oleh santri-santri Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, selain juga harus senantiasa menjaga al-Qur’an sepanjang hayat.

Ketiga, santri yang “tercerahkan” adalah yang memiliki akhlak dan karakter yang baik. Sesuai dengan slogan YQBS 1 Pati “Berfikir Madani Berakhlak Qur’ani”, santri-santri YQBS 1 Pati harus memiliki akhlak yang sesuai dengan al-Qur’an. Sebenarnya, mereka punya modal yang besar untuk menjadi generasi yang terdidik dan tercerahkan. Sebab, setiap hari mereka selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah, melalui amal-amal ibadah dan aktifitas membaca dan menghafalkan al-Qur’an. Karenanya, mereka mempunya modal yang besar untuk menjadi pribadi yang tercerahkan secara ruhani.

Keempat, bahwa menurut Imam Al-Ghazali, seseorang bisa mendapatkan Ilmu Nafik, manakala ia mau menempuh jalan at-Ta’allum (belajar) dan at-Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah). Ilmu Nafi’ yang dimaksud Imam Ghazali adalah ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat dan mampu mengantarkan masyarakatnya maju, memiliki karakter yang baik, serta dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jalan Ta’allum dan Taqarrub pada dasarnya selain mengantarkan seseorang meraih Ilmu Nafik, juga mengantarkan pribadi-pribadi mereka menjadi pribadi yang terdidik dan tercerahkan, yang mampu menjadi generasi emas pengisi kemerdekaan Indonesia.

Kelima, santri-santri harus percaya diri. Jangan merasa rendah diri. Ketika berkumpul dengan orang lain, harus mampu untuk bergaul. Ketika berkumpul dengan bangsa lain, harus mampu untuk menjadi pemimpin. Coba ditelisik sejarah, bahwa Hadhratusy Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari saat masih mondok di Mekkah, pernah menginisiasi sebuah perkumpulan santri-santri yang berasal dari negara-negara yang terjajah untuk melakukan sebuah sumpah bersama di depan Multazam, bahwa kelak mereka akan kembali mengabdi kepada negaranya untuk berjuang jihad fi sabilillah dan memerdekakan agama mereka. Kisah ini ditulis oleh Sayyid Muhammad Asad Syihab dalam Kitab “al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari, Wadhi’u Lubnati Istiqlali Indonesia” (KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Peletak Dasar Kemerdekaan Indonesia). Akhirnya, ketika kembali ke negara masing-masing, mereka mampu untuk berjuang dan berjihad fi sabilillah. 

Hadhratusysyekh mampu mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama untuk menyatukan visi-misi para Ulama untuk melawan penjajah, menginisiasi pendirian Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi wadah militer rakyat untuk melawan penjajah. Bercermin dari kisah Hadhratusy Syekh Kiai Hasyim Asy’ari, seharusnya para santri sekarang juga harus percaya diri, dan mampu untuk menunjukkan kemampuan dan kiprahnya demi berjuang di jalan Allah.

Keenam, para santri khususnya santri Yanbu’ul Qur’an 1 Pati di saat Indonesia mendapatkan bonus demografi pada rentang tahun 2030-2045, harus mampu berkiprah dan memiliki peranan yang signifikan dalam menyongsong satu abad Indonesia. Bonus demografi adalah manakala usia penduduk yang produktif (15-64 tahun) di sebuah negara lebih banyak daripada penduduk yang memiliki usia tidak produktif (dibawah 15, diatas 64). Santri harus mampu mengambil peran, karena pesantren merupakan salah satu partner pemerintah Republik Indonesia dalam membangun masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang madani dan berperadaban.



Perpustakaan Desa Tulakan Juara Dua Nasional



Sumber Diskominfo Jepara 

Prestasi membanggakan disabet Perpustakaan Aku Cinta Membaca (Kucica), Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Perpusatakaan milik desa itu berhasil meraih Juara II lomba perpustakaan desa tingkat Nasional Tahun 2019.

Penghargaan prestasi ini, diserahkan langsung Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Woro Titi Haryanti di Hotel Aryaduta Jakarta pada Kamis, (16/8/2019) lalu.

Bunda Baca Jepara Hesty Nugroho memberikan apresiasi terhadap torehan prestasi yang diraih perpustakaan tersebut. Dia berharap perpustakaan-perpustakaan lainnya di Kabupaten Jepara, bisa meniru dan mengembangkan ruang baca seperti yang dilakukan Perpustakaan Kucica itu.

“Mudah-mudahan menjadi contoh yang baik dalam memberikan edukasi, inovasi, dan kreasi kepada masyarakat,” kata istri Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi tersebut.

Seperti diketahui, Perpustakaan Kucica didirikan dan dikelola langsung masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Pengelolaannya dengan menggunakan alokasi dana desa, sehingga saat ini sudah bisa berkembang serta maju. Saat ini, Kucica memiliki koleksi setidaknya 10 ribu judul buku. Sejalan dengan arah pembangunan manusia yang sedang didorong oleh pemerintah sekarang.

”Kedepan, diharapkan tidak hanya mendongkrak minat baca, perpustakaan ini dapat mendorong geliat ekonomi kreatif masyarakat sekitar,” imbuh perempuan yang terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Jepara tersebut.

Perpustakaan Kucica sudah berbasis inklusi yang melibatkan berbagai komunitas masyarakat setempat, sehingga turut mengembangkan ekonomi kreatifnya. Artinya, komunitas itu menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang mengakses pengetahuan dalam hal ekonomi dengan berbagai varian bentuk hasilnya.

“Dengan belajar masyarakat akan menjadi tahu, mereka akan mengembangkan pengetahuannya untuk melakukan suatu perubahan dalam hidup mereka kearah yang lebih baik,” kata dia.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Jepara beberapa waktu lalu, Tim Juri Nasional Supriyanto menyampaikan, ada beberapa pedoman atau unsur utama dalam komponen penyelenggaraan dasar perpustakaan.

Pertama koleksi (printed, recorder, online) dari perpustakaan. Kedua pelayanan dari perpustakaan tersebut, serta ketiga, tenaga atau para pustakawan. Keempat, sarana dan prasarana yang dimiliki. Terakhir juga anggaran, apakah perpustakaan tersebut mempunyai anggaran yang cukup dan berkelanjutan atau tidak. Selain komponen tersebut, terdapat juga komponen penguat diantaranya adalah membangun sebuah inovasi untuk perpustakaan, serta kelembagaan. Selain itu juga kepedulian dari pemerintah daerah dan masyarakat.

“Apabila bisa meyakinkan, memantapkan komponen-koponen tersebut, insyaAllah kita bisa membawanya menuju yang lebih baik,” tuturnya. (has)