Penyemprotan Disinfektan Tidak Efektif

Penyemprotan disinfektan yang dilakukan Polres Pati belum lama ini 



Penyemprotan disinfektan tidak lagi disarankan. Karena dinilai tidak efektif dan malah membahayakan. Apalagi yang disemprot-semprotkan ke tubuh manusia. Bukan hanya virusnya saja yang mati. Bisa-bisa orangnya mati karena penyemprotan itu.

Ketua Satgas Penanggulangan Penyebaran COVID-19 Kabupaten Jepara, Edy Sujatmiko tidak merekomendasikan penggunaan cairan disinfektan. Di samping mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan, harganya cukup mahal, juga tidak efektif untuk jangka waktu lama.

Pria yang juga Sekda Jepara ini menilai, disinfektan memang cukup ampuh menangkal virus corona. Namun, hal itu saat masih berupa cairan, yang hanya bertahan kurang dari tiga jam. “Karena dia membunuh ketika masih berwujud cairan. Disemproti, kalau sudah kering sudah tidak bisa membunuh,” terang Edy dalam rapat evaluasi langkah pencegahan persebaran COVID-19 atau virus corona, di ruang kerja Bupati Jepara awal April ini.

Pihaknya khawatir, warga akan terlena karena merasa sudah aman setelah disemprot disinfektan. Edy lebih menganjurkan warga memanfaatkan detergen atau sabun dan air. “Pencegahan lebih baik memakai detergen, cuci tangan pakai sabun, mengisolasi diri dan menggunakan masker bilamana dia merasa sakit,” jelas Edy.

Meskipun begitu, pihaknya tidak melarang cara pencegahan dengan penyemprotan disinfektan. Kepada satgas tingkat bawah, diimbau lebih memaksimalkan pendataan bagi warga yang baru datang dari perantauan. Selain juga terus melakukan sosialisasi, dan mengupayakan alat pelindung diri (APD). (arf)


Pakai Dana Desa Atasi Darurat Virus Korona

jepara.go.id



Pemerintah desa dapat mengalokasikan sebagian dana desanya untuk mendukung langkah pencegahan persebaran virus corona. Realokasi anggaran itu sudah ada petunjuk teknisnya. Hal itu disampaikan langsung Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi belum lama ini.

”Dana desa dapat direalokasi untuk itu. Pemerintah desa dapat mengalokasikan sebagian dana desanya. Termasuk pemberian sembako bagi warga miskin terdampak. Sudah ada petunjuknya, jadi bisa dilakukan pergeseran di DD dan ADD-nya,” jelas pria yang akrab disapa Andi ini.

Seperti diketahui, imbauan pemerintah pusat untuk tidak mudik ke kampung halaman nyatanya tidak banyak yang diindahkan. Ribuan orang sudah tercatat melakukan perjalanan ke tempat masing-masing. Mereka pulang dari daerah-daerah zona merah. Seperti Jabodetabek. Praktis para perantau yang nekat pulang itu langsung saja berstatus orang dalam pemantauan (ODP). Di sini daerah-daerah pelosok tentu akan menjadi sangat rawan.

Pemerintah daerah pun ketiban tugas berat untuk melakukan penanganan ODP itu. Belum nanti masalah kesehatannya. Apalagi kesiapan fasilitas kesehatan di daerah-daerah juga masih tanda Tanya.

 Mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga tingkat desa. Mereka harus bekerja keras mencegah persebaran virus corona. Ini tentu bukan pekerjaan mudah. Perlu anggaran serta kecerdasan menentukan bagi para pemerintah yang ada di bawah itu.

Lebih lanjut pihaknya ingin satgas-satgas pencegahan persebaran virus korna di tingkat desa bisa lebih gencar lagi melakukan sosialisasi kepada warganya. Media-media komunikasi yang ada di desa dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk melakukan edukasi.

”Semua media komunikasi harus diefektifkan. Termasuk menggunakan pengeras suara yang ada di tempat peribadatan bisa digunakan,” terang Andi. (ars)  

Cegah Corona, Pemdes Pelemgede Periksa Warga Perantauan yang Pulang

Spanduk sosialisasi cegah corona 





Satu per satu warga berdatangan ke kantor desa. Ruang tamu di kantor itu disulap menjadi posko yang sederhana. Hanya ada satu bidan desa yang dibantu beberapa perangkat desa, mereka melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warganya yang baru saja pulang merantau.

PATI – Posko penanggulangan virus corona (Covid-19) dibuat di Desa Pelemgede. Hal itu untuk mendeteksi kondisi kesehatan warga desanya yang baru saja pulang dari perantauan.

Namun, kegiatan itu dirasa penuh risiko. Pihak pemerintah desa sendiri cukup khawatir, mengingat saat melakukan pemeriksaan terhadap warga perantauan yang pulang, alat pelindung diri yang dikenakan hanya berupa masker dan sarung tangan saja.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan, mengingat daerah-daerah asal perantauan yang merupakan zona merah, dimana sudah terjadi kasus pasien positif corona yang meninggal dunia. Disamping itu, langkah pemerintah desa setempat juga perlu diapresiasi, mengingat langkah pencegahan yang pro aktif ini akan membantu pemerintah dalam upaya mencegah persebaran virus tersebut.

Kepala Desa Pelemgede Hadi Mustamar mengungkapkan, pihaknya memang berkomitmen untuk melakukan pencegahan agar warga desanya tidak terkena wabah corona. ”Ini bagian dari upaya pencegahan kami. Diantaranya melakukan sosialisasi dengan selebaran yang ditempel-tempel di tempat umum, penyemprotan disinfektan, hingga membuat posko penanggulan virus corona dengan sasaran para perantau yang pulang agar memeriksakan diri,” terang Hadi Mustamar.
Suasana pengecekan warga perantauan 

Saat ini (26/3/2020) sudah ada 23 warga desanya yang pulang merantau. Mulai dari luar kota seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, dan juga Batam. Dari luar negeri kebanyakan warga desanya perantauan dari Malaysia. Total ada sekitar 200-an warga desanya yang merantau, namun belum dipastikan dalam waktu dekat apakah akan pulang atau tidak.

”Sebenarnya kami arahkan untuk langsung periksa ke puskesmas atau ke rumah sakit. Namun banyak warga yang enggan. Karena itu kami berinisiatif dengan membuat posko ini,” jelasnya.

Setiap perantau yang dating, lanjut kepala desa, mereka dilakukan cek kesehatan berupa pengukuran suhu tubuh, tensi darah, dan pemberian multivitamin. Setelah itu mereka dianjurkan beristirahat selama dua pekan.

”Yang kami periksa semua sehat. Tidak ada keluhan seperti batuk maupun flu. Semoga sehat semua,” imbuhnya.

Untuk melakukan antisipasi ini, kepala desa mengandalkan bidan desa, serta kader-kader kesehatan desa. Di Desa Pelemgede ada 30 kader kesehatan. Termasuk untuk mengingatkan warga agar tidak berkerumun, dan menjaga diri, menjaga kebersihan dan kesehatan masing-masing. (ars)


Masa Depan Gemilang Kiper Lokal Jepara


Suasana latihan kiper Persijap 


JEPARA – Berbeda dengan musim 2018 lalu ketika masih ada nama Amirul Kurniawan, musim ini memang tidak ada nama kiper lokal di skuad Persijap Jepara. Tiga pemain dengan posisi kiper sudah diisi nama-nama kiper dari luar daerah. Mereka adalah Galih Sudaryono, Harlan Suardi dan Wais Alqorni.


Ketiga kiper itu kemampuannya tidak bisa diragukan. Galih dan Harlan keduanya bahkan pernah mencicipi karis di timnas kelompok umur. Galih Sudaryono sudah pernah menjejakkan kakinya di timnas U 19 dan U 23. Sedangkan Harlan Suardi pernah menghuni timnas U 18. Hanya Wais Alqorni yang belum pernah.

Namun, baru-baru ini pelatih kiper Laskar Kalinyamat, Iman Suherman mengungkapkan kekagumannya pada kemampuan dua kiper lokal Jepara. Mereka adalah Fuad asal Welahan dan Arifin Setiadi asal Keling. Penampilan dua kiper itu memikat hati Iman Suherman.

”Arifin ini saya minta untuk magang dulu di Persijap, dia masih muda teknik bermainnya bagus, ini yang saya suka. Dia potensial untuk menjadi kiper yang bagus, saya suka untuk memolesnya. Soal postur bagi saya tidak masalah asal teknik, perilaku bagus,” kata Iman.

Ada lagi, kiper asal Welahan  yang sudah masuk kriteria Iman, namanya Fuad. ”Sebenarnya sudah mau saya tawari kontrak tanpa seleksi, dia masih muda, namun karena dia lebih memilih Pra-PON, ya saya menghormatinya,” imbuh pelatih kiper lisensi C AFC ini. (hus)


Bencana Alam, Pemerintah, dan Peran Perusahaan

Ahmad Kharis



Secara geografis, Indonesia merupakan negara yang masuk dalam kawasan rawan bencana alam, atau disebut Ring of Fire Indonesia. Keadaan tersebut menyebabkan Indonesia kerap mengalami beragam bencana alam.Seperti gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung berapi.

Dampak Gempa Bumi di Maluku, 26 September 2019, total rumah rusak sekitar 12.137 unit. Jumlah kerusakan paling banyak dibandingkan bencana lainnya. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total bencana alam gempa bumi selama tahun 2019 berjumlah 30 kali. Paling parah berada di Kepulauan Maluku.

Ada tips aman saat terjebak dalam gedung bertingkat atau dalam ruangan, salah satunya memanfaatkan meja yang kokoh untuk berlindung dari reruntuhan material bangunan.

Jika bencana gempa bumi datang tanpa kenal waktu, maka adapula bencana di wilayah Indonesia yang seringnya datang saat musim penghujan. Akhir-akhir ini, air hujan mengguyur kawasan Indonesia, termasuk Pulau Jawa.

Jika masyarakat tidak memiliki kesiapsiagaan bencana alam, maka hujan tidak hanya membawa berkah melainkan musibah. Datangnya hujan berlarut-larut bisa mendatangkan banjir. Tindakan kecil membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah menghadang datangnya banjir.

Sejak November 2019, intensitas hujan berada di posisi cukup tinggi. Datangnya air hujan selain membawa berkah bagi makhluk hidup, mendatangkan bencana alam yang tidak diharapkan seperti tanah longsor hingga banjir bandang.

Mengutip lini twitter @TMCPoldaMetro yang diberitakan Kompas.com pada tanggal 02/01/2020 menjelaskan, beberapa titik kawasan Jakarta tergenang air banjir. Catatan dari BNPB, setidaknya ada 7 kelurahan dari 4 kecamatan yang terendam banjir. Selain itu, wilayah Kabupaten Tangerang dilaporkan banjir diantaranya Kawasan Perumahan Pulo Indah, Cipondoh hingga Kota Tangerang. Kondisi debit air yang deras mengakibatkan air banjir masuk ke rumah warga serta menyebabkan banyak kendaraan pribadi seperti motor, mobil, dan alat berat lainnya dalam kondisi tenggelam.

Tidak hanya ibu kota yang mengalami bencana banjir tahun ini, ibukota Provinsi Jawa Barat juga mengalami peristiwa yang sama. Tepatnya berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat terjadi banjir bandang. Rumah terdampak banjir tercatat 150 rumah, di Desa Margajaya, serta kerusakan rumah sebanyak 77 rumah berada di Desa Cipendeuy.

Curah hujan yang tinggi tidak hanya melanda Jakarta, ada tiga wilayah di Provinsi Jawa Tengah menerima dampaknya. Beberapa titik di Kabupaten Kudus, Pekalongan, dan Batang juga mengalami banjir, seperti dilansir dari AntaraNews.com.

Kabupaten Kudus yang diguyur hujan sejak hari Minggu (23/2) mengakibatkan sekitar 235 rumah tergenang banjir daerah Desa Jati Wetan, Desa Pasuruhan Lor, Setrokalangan, Banget, Kedung Dowo dan Kesambi.

Kabupaten Pekalongan juga mengalami banjir yang cukup serius yaitu Kecamatan Tirto dan Siwalan. Sebanyak 470 warga mengungsi ke lokasi yang aman seperti tempat pelayanan publik dan tempat peribadatan.

Kabupaten Batang merasakan guyuran hujan tak henti-henti selama dua hari (Minggu-Senin/23-24 Febuari 2020). Intensitas guyuran hujan yang tidak berhenti mengakibatkan 10 desa terendam air bah. Operasional masyarakat dikabarkan mengalami kemacetan dan beberapa sekolah diliburkan.

Mengatasai bencana
Dari kasus banjir diatas mengajarkan, jika tidak ada usaha pencegahan dan penanganan banjir, maka akan membuat kondisi kehidupan masyarakat semakin parah. Siapakah yang bertanggung jawab atas musibah banjir di atas?

Tentu peran pemerintah sebagai primary agent memiliki kekuatan penuh mengatasi banjir yang terjadi di sejumlah daerah/kota di Indonesia. Perlu kerja sama yang sinergi antarpihak terkait untuk merumuskan upaya menghadang datangnya banjir sejak dini. Pemerintah daerah/kota bisa berkoordinasi dengan sektor privat atau perusahaan yang berada di sekitar area terdampak banjir.

Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007, perusahaan wajib melaksanakan komitmen untuk berpartisipasi menciptakan kehidupan masyarakat yang berkelanjutan, dalam hal ini konteks penanganan musibah banjir.

Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) adalah bentuk kewajiban organisasi yang tidak hanya menyediakan beragam kebutuhan barang dan jasa, tapi turut memperhatikan kualitas lingkungan dan sosial serta berkontribusi memberikan pelayanan kesejahteraan komunitasnya (Januarti & Apriyanti: 2006).

Melalui program ini, pemerintah dan perusahaan didorong menyelaraskan program kerja masing-masing agar mencapai tujuan bersama.

Upaya pencegahan bencana alam oleh pemerintah sendiri telah dilakukan melalui sejumlah tahapan. Ada baiknya perlu sikap kooperatif dengan perusahaan agar keharmonisasian antarsektor pluralisme menjadi hal yang koordinatif. Adapun cara menanggulangi banjir tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Membuat pos peringatan bencana
Salah satu upaya yang kemudian dapat diupayakan adalah mendirikan pos peringatan bencana. Pos inilah yang nantinya menentukan masyarakat bisa kembali menempati tempat tinggalnya atau tidak.

Peran pemerintah dan perusahaan bisa terjalin baik sebagai upaya preventif bencana banjir. Membuat pos peringatan bencana diusahakan saling menguntungkan antar masyarakat. Seketika bencana alam terjadi di sudut-sudut desa, maka akan cepat informasi terdistribusi kepada seluruh masyarakat.

Membiasakan hidup tertib dan disiplin
Diperlukan pola hidup tertib, yaitu dengan menegakkan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan hidup. Asal masyarakat menaatinya, berarti setidaknya kita telah berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan. Masyarakat juga harus disiplin.

Pemerintah dan perusahaan saling kerja sama mengadakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan menjaga kelestarian lingkungan. Perlu dukungan sikap disiplin dari masyarakat yang merupakan refleksi dari perjalanan menjaga alam tetap asri dan bersih.

Rangkaian acara sosialisasi setidaknya menyasar seluruh elemen masyarakat yang terbagi lingkup dewasa dan anak-anak. Beragam pengetahuan seputar krisis lingkungan, dampak, serta penanganan menjadi hal prioritas mengakomodasi proses edukatif, sehingga masyarakat memperoleh pengetahuan baru.

Sedangkan kategori anak-anak diberikan edukasi terkait pola hidup membuang sampah pada tempatnya. Memulai sejak dini diajarkan menanam pohon yang berfungsi menahan erosi tanah dan jenis-jenis pepohonan penyimpan air. Melalui kegiatan itu akan menciptakan daya ingat anak menjaga lingkungan hingga dewasa nantinya.

Memberikan pendidikan tentang lingkungan hidup
Faktor ini telah dipertegas dalam konferensi dunia tentang langkah pengurangan bencana alam, yang diselenggarakan lebih dari dua dasawarsa silam, 23-27 Mei 1994 di Yokohama, Jepang. Forum tersebut pada masa itu merupakan forum terbesar tentang bencana alam yang pernah diselenggarakan sepanjang sejarah. Tercatat lebih dari 5.000 peserta yang hadir berasal dari 148 negara.

Lanjutan dari forum-forum internasional tersintesis oleh Pemerintah Indonesia, salah satunya membuat Forum Relawan Penanggulangan Bencana Alam (FRPBA). Forum ini berdiri sejak tahun 2003 yang diprakarsai oleh Kelompok Pecinta Alam, Pekerja, Mahasiswa, dan Pelajar yang memiliki maksud dan tujuan penanggulangan bencana alam.

Anggota FRBA merupakan seseorang yang memiliki jiwa sosial, kepekaan lingkungan sekitar, kepedulian sesama, dan terlibat aktif kegiatan sosial lainnya tanpa mengharapkan imbalan.

Institusi diatas mempunyai peran penting menciptakan masyarakat anti sosial. Setiap anggota berusaha memunculkan naluri kepekaan terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Tindakan kolektif seperti ini perlu dipelihara seiring derasnya arus individualistik kalangan remaja milenial.

Peran perusahaan dan pemerintah turut memelihara kondisi sosial yang kaya kepercayaan, norma, nilai-nilai, dan partisipasi. Sesuai komitmen negara mewujudkan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” akan tercapai jika antar sektor berangkat dari niat dan tujuan yang sama.

Ahmad Kharis, Dosen IAIN Salatiga





Tidak Panik dan Tetap Waspada, Bersalawat dan Berdoa Cegah Corona


Suasana pembacaan slawat dan doa bersama di madrasah Darul falah Sirahan Pati


PATI - Salawat Thibbil Qulub mengalun lembut di halaman Perguruan Islam Darul Falah Desa Sirahan, pagi kemarin. Kiai Jamaludin Umar memimpin pembacaan salawat tersebut. Ratusan siswa-siswi duduk bersila menghayati munajat kepada Yang Maha Menyembuhkan itu.

Direktur Perguruan Islam Darul Falah, Syamsudin Sukahar mengungkapkan, anak didiknya diajak untuk memperbanyak membaca salawat dan istighfar. Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar semuanya tetap tenang.

Namun kewaspadaan harus ditingkatkan, dengan caa menjaga kebersihan dan kesehatan diri. ”Mencuci tangan, menggunakan masker bagi yang sait, tida pergi ke tempat atau daerah yang sedang terjangkit, menghindari tempat-tempat keramaian untuk sementara waktu, dan dan menghindari kontak yang berpotensi menularkan virus corona,” terang Syamsudin usai menggelar sosialisasi kewaspadaan risiko virus corona (Covid-19) dan doa bersama menjelang libur selama dua pekan tersebut.

”Intinya agar tidak panik dan tetap waspada,” tegasnya.

Selama libur ini, lanjut Syamsudin, seperti yang sudah diinstruksikan baik dari Gubernur Jawa Tengah, dan juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para guru agar bisa mengatur pembelajaran siswanya masing-masing.

Bisa melalui pembelajaran online, atau dengan pemberian tugas. Untuk pelaksanaan ujian, kata Syamsudin untuk sementara waktu ditunda. Penundaan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Kegiatan itu menjadi penting, karena tidak bisa usaha pencegahan virus yang sedang mewabah ini hanya dilakukan begitu saja, tanpa campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. ”Usaha pencegahan dilakukan dengan perilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sebagai orang beriman, usaha ini perlu didukung dengan doa. Memasrahkan  kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Melalui amalan-amalan yang sudah diajarkan para guru-guru kita,” paparnya. (hus)

Pendidikan Perempuan Di Atas Bahu IPPNU ?


Anggota DPR RI F-PKB Drs. H. Fathan Subchi

KUDUS – Seminar bertema perempuan digelar di Gedung Mubarokfood CIpta Delicia, Kota Kudus, Minggu (14/03/2020). Seminar perempuan bertajuk  “Menata Diri Menjadi Pelajar Putri yang Berdedikasi”.

Dalam momen itu, perempuan diharapkan dapat memberi manfaat lebih kepada bangsa dan negara. Tidak hanya urusan rumah tangga, tetapi juga yang menyangkut kepentingan masyarakat yang lebih luas, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, budaya dan agama.

Hadir dalam acara tersebut Anggota DPR RI F-PKB Drs. H. Fathan Subchi, Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus Dr. Siti Malaiha Dewi, M.Si dan Wakil Ketua PC Lesbumi NU Kudus Muchammad Zaini.



Pada kesempatan itu, Fathan menjelaskan perjuangan perempuan dalam lingkup organisasi IPPNU sejak dulu telah banyak membantu negara dalam mengentaskan pendidikan kaum perempuan. Akhirnya, kesadaran perempuan untuk mengenyam pendidikan semakin meningkat dengan wadah serta visi misi yang jelas.

"Kita tahu organisasi IPPNU memiliki tujuan mulia untuk mendorong generasi muda untuk selalu belajar, berjuang dan bertaqwa untuk menghidupkan tiga pilar utama yaitu agama, bangsa dan negara," paparnya.

Untuk itu, imbuh Fathan, pelajar perempuan Nahdlatul Ulama harus terlebih dahulu sadar peran untuk mendahulukan kepentingan agama, bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi. Perempuan harus cerdas dan memiliki kompetensi serta pandangan yang maju agar tidak tergilas oleh ganasnya zaman.

"Pelajar perempuan ini perlu terus didorong agar bisa mengakses pendidikan tinggi, bisa lewat beasiswa yang disediakan pemerintah maupun swasta agar semakin berdaya," kata Fathan.

Senada, Dosen IAIN Kudus, Siti Malaiha Dewi juga mengungkapkan pentingnya peran perempuan di semua bidang. Terlebih sebab tidak jarang perempuan justru lebih cakap dan teliti meski mengerjakan banyak pekerjaan.

"Coba itu lihat ibu-ibu kita, meski sambil mengasuh anak masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, melayani suami dan sebagainya," ujar Siti Malaiha.

Sayangnya, dedikasi yang sedemikian besarnya, tidak banyak yang menghargai kiprah perempuan. Meski demikian, Malaiha tetap berpesan agar perempuan generasi muda ini bisa percaya diri dan tidak takut terhadap segala tantangan.

"Harus tetap berjuang dan tunjukkan bahwa kita mampu dalam semua bidang," ujarnya memotivasi.

Sementara itu, Wakil Ketua Lesbumi NU Kudus Muchammad Zaini lebih menyarankan agar perempuan generasi milenial ini menciptakan budaya baru positif ditengah merebaknya budaya-budaya negatif akibat media sosial. Pelajar Putri NU, menurutnya, harus percaya diri dengan ideologi serta nalar keagamaan yang dimiliki sehingga bisa memberi teladan bagi pelajar lain.

"Manfaatkan media sosial itu untuk menciptakan inspirasi dan gerakan budaya positif. Bukan malah terseret arus negatif tik-tok, misalnya," kata Zaini.

Acara tersebut dimoderatori oleh Pengurus PP IPPNU Septianti, yang dihadiri tak kurang dari 200-an pengurus dan anggota IPPNU dari tingkatan anak cabang, ranting dan komisariat Se-Kabupaten Kudus. (ars)

Diliburkan Dua Pekan Bukan untuk Piknik

Belajar mandiri di rumah 


Para pelajar di Jawa Tengah diliburkan. Selama dua pekan. Waktu libur itu bukan untuk liburan. Apalagi jalan-jalan. Pemerintah memiliki kebijakan meminimalisir kontak dengan orang banyak. Karena itu para pelajar diminta libur dan belajar mandiri di rumah.

Buku-buku dan beberapa lembar kertas berserak di meja belajar Windi Fibriani. Di kamarnya, siang itu Windi mengerjakan tugas-tugas yang sebelumnya telah diberikan gurunya.

Siswi kelas XII IPS III SMA PGRI 2 Kayen ini memilih tetap di rumah. Belajar mandiri sesuai intruksi gurunya. Yang meliburkan total seluruh kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah, akibat dari kebijakan untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan satuan pendidikan.

 ”Memang libur. Tapi rasanya masih tetap seperti bersekolah. Tugas-tugasnya banyak. Hanya tidak harus bangun dan berangkat pagi-pagi ke sekolah saja,” kata gadis yang banyak berprestasi di bidang modelling dari tingkat daerah sampai nasional ini.
***

Seperti diketahui, pelajar yang diliburkan selama dua pekan diimbau untuk menaati edaran yang telah dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dimana tidak diperkenankan melakukan perjalanan ke luar wilayahnya.

Hal itu seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Siswanto, pihaknya mengungkapkan, kebijakan libur sekolah yang dikeluarkan pemerintah itu tujuannya adalah agar mengurangi kontak dengan orang banyak.

Sehingga, kata Edi, selama dua pekan atau 14 hari tidak sakit dapat dipastikan tidak terpapar Covid-19. ”Bila dipakai jalan-jalan tujuan dari kebijakan pemerintah tersebut tidak akan tercapai. Meskipun selama 14 hari libur dan tidak sakit, maka masih bisa dimungkinkan terpapar Covid-19,” jelas Edi.

Karena itu, lanjutnya, semuanya harus patuh dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Jangan sampai 14 hari diliburkan itu digunakan untuk liburan (jalan-jalan, Red) tetapi hanya boleh untuk di rumah saja. Kecuali kebutuhan yang amat mendesak.

Selain itu, pihaknya juga berpesan agar masyarakat tidak panik. Akan tetapi melakukan antisipasi-antisipasi. Seperti berolahraga rutin, menghindari kerumunan, menjaga jarak dengan lawan bicara yang tida dikenal, makan minum dengan gizi seimbang, menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, dan juga lupa berdoa. 
Tugas sekolah 

Seperti diketahui, dalam edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, selama pelaksanaan belajar mandiri, kegiatan studi tour, kemah, prakerin, maupun kegiatan yang sebelumnya dijadwalkan di luar lingkungan sekolah ditiadakan, dan para siswa diminta untuk tidak melakukan perjalanan keluar wilayah tempat tinggalnya. Sekaligus menjaga pola hidup sehat dan bersih. (arf)

Menggali Kembali Kebesaran Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Putera Asli Jepara



 
Dialog budaya ngobrolin dr Tjipto 
Jepara tidak hanya RA Kartini dan Sosrokartono. Ada nama besar Dr Tjipto. Putra kelahiran Pecangaan Kulon. Tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ini terkenal sebagai tiga serangkai. Bersama Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker. Kiprahnya pada masa pergerakan dulu patut diteladani generasi masa kini.  

Di balaidesa Pecangaan Kulon, Kabupaten Jepara, orang-orang membicarakan tokoh bernama dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Seorang tokoh besar. Tokoh pergerakan nasional, dengan kiprah yang sudah diakui sejarah.

Malam itu (3/3/2020), orang-orang memperingati hari kelahirannya. Bertajuk Wungon 134 Tahun., dari Jepara untuk Indonesia. Perjalanan hidup serta lakunya menjadi perbincangan serius.

Orang-orang itu ingin menilik kembali catatan sejarah masa pergerakan nasional. Perbincangan dalam balutan dialog itu  menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain pegiat sejarah Jepara Hadi Priyanto, budayawan Iskak Wijaya, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara Nur Hidayat, sejumlah tokoh masyarakat, dan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pecangaan.

Petinggi Desa Pecangaan Kulon, Muhammad Abdurrochman, mengaku sangat senang ada banyak tokoh dan pemikir Jepara yang hadir di desanya. Dia mengajak agar seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda meneladani jejak-jejak hidup sang tokoh.

Hadi Priyanto mengungkapkan, dr Tcipto lahir di Desa Pecangaan Kulon berdasarkan literature dari pemerintah pusat. Menurut Hadi Priyanto, literatur sejarah tersebut yang menjadi landasan pemerintah dalam menjadikan dr Tcipto sebagai pahlawan nasional.

Iskak Wijaya juga menguatkan pendapat tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak akan asal menggunakan literatur yang tidak valid untuk menjadikan seorang tokoh sebagai pahlawan nasional.

”Pemerintah tentunya sudah memiliki tim khusus yang ahli dalam bidang literatur sejarah,” jelasnya. Melihat sejarah hidup dr Tjipto, Iskak menilai bahwa salah satu pahlawan pergerakan itu memiliki gagasan-gagasan yang melampaui zamannya. Dr Tjipto juga berhasil membangkitkan semangat rakyat untuk melawat kolonialisme dan feodalisme pada waktu itu.

”Jepara ini punya banyak tokoh besar nasional bahkan dunia. Dr Tjipto menjadi salah satu bukti bahwa sesunggunya Jepara memiliki potensi besar untuk melahirkan tokoh-tokoh yang besar juga,” tutur Iskak.

Dalam dialog tersebut, salah satu peserta mengusulkan agar pemerintah membangun patung atau monumen Dr Tjipto. Usulan ini didukung oleh sebagian besar peserta yang hadir. Tujuannya, agar masyarakat luas dan generasi mendatang tahu bahwa Dr Tjipto lahir di Desa Pecangaan Kulon.

Monumen iku diyakini akan menimbulkan semangat generasi muda untuk mempelajari sejarah kehidupan Dr Tjipto. Sehingga diharapkan mereka bisa meneladani laku hidup pada masa pergerakan itu. (arf)

Niat Menjaga Lereng Muria, Agar Lestari dan Menghidupi

Penanaman di lereng Pegunungan Muria 


Kawasan sumber air menjadi sorotan. Sejumlah pegiat lingkungan menaruh perhatian untuk melestarikan. Agar keseimbangan alam kembali terjadi. Menjadikan Pegunungan Muria lestari dan menghidupi.

JEPARA – Kawasan hulu menjadi sasaran penanaman pohon. Seperti yang dilakukan sejumlah warga di kawasan saluran irigasi Tines Dukuh Setro, Desa Batealit.

Mereka tergabung dalam kelompok Sekretariat bersama Pencinta Alam Jepara (Sekber-PAJ). Pada Sabtu (8/2/2020) lalu aksi penanaman pohon mereka lakukan.

Sebelum melakukan aksinya itu, puluhan peserta menelusuri sungai untuk menentukan titik penanaman. Hal ini diharapkan dapat memunculkan mata air baru. Sekaligus sebagai langkah revitalisasi sumber mata air di kawasan lereng Pegunungan Muria.

Saat ini kondisinya sangat memperihatinkan. Musim kemaru yang lalu menjadi bukti kekeringan terjadi dimana-mana. Sedangkan kebutuhan air warga sulit tercukupi dari alam.

Salah satu koordinator kegiatan bertajuk “Penanaman Telusur Sungai” Abdul Kholiq mengatakan, aksi tersebut dilakukannya untuk menjaga keberlangsungan mata air, yang selama ini menjadi gantungan hidup warga setempat.

Sedikitnya 200 batang pohon ditanam di kawasan hulu dari sejumlah sungai itu. Seperti Sungai Batealit, Somosari, Raguklampitan, dan Geneng. “Aksi tanam pohon ini selain untuk menjaga ketersediaan air di sumbernya, juga untuk mencegah terjadinya longsor di lereng Muria,” jelasnya.

Jenis pohon yang ditanam adalah yang spesifik, sesuai dengan tujuan penanaman. Yaitu jenis pohon konservasi alam seperti pohon beringin, yang memiliki akar kuat untuk menahan erosi dan bisa menyimpan air. “Disamping beringin yang paling banyak, ditanam juga pohon jenis alpukat, durian, jambu biji, pete, dan jengkol,” kata Kholiq seperti dikutip dari laman jepara.go.id.

Lebih lanjut pria yang aktif melatih panjat tebing di SMA Negeri 1 Tahunan ini mengharapkan, dengan aksi menanam pohon masyarakat akan tergerak menjaga lingkungan dan pelestarian. Terutama di kawasan bantaran sungai, lereng pegunungan, dan kawasan mata air. (arf)