Ragam Motif Batik Jepara Tumbuh Pesat

 

Beragam motif batik Jepara dipamerkan

Bupati Jepara Dian Kristiandi menerima penghargaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Penghargaan itu diraih atas dedikasinya terhadap pelestarian batik Jepara.

Penghargaan diserahkan oleh Ketua Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) Alamsyah, didampingi tim peneliti Siti Maziyah, pada Jumat (20/11/2020), di Pendopo Kartini Jepara. Selain Dian Kristiandi, penghargaan juga diberikan kepada pemerhati batik Jepara Hadi Priyanto, dan perajin batik Suyanti Jatmiko.

Bupati Jepara Dian Kristiandi menyampaikan jika perhatian Pemkab Jepara terhadap keberadaan batik lokal Jepara bukan untuk meraih penghargaan. Melainkan substansinya untuk melestarikan dan mengembangkan batik Jepara sebagai sebuah warisan budaya agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kita jangan sampai menolak masuknya seni dan budaya asing selama tidak menggantikan atau mematikan seni dan budaya lokal. Justru jadikan kesempatan itu untuk memperkuat kualitas dan memperkaya ragam dari batik Jepara itu sendiri,” kata Bupati Andi.

Andi menambahkan, saat ini batik Jepara mengalami perkembangan yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perajin batik di Jepara yang terus bertambah. Beragam motif khas Jepara juga terus dilahirkan oleh para perajin batik tersebut.

“Pengembangan kearifan lokal melalui batik ini juga menjadi salah satu upaya kita untuk meningkatkan ketahanan budaya di tengah kompleksitas dampak modernisasi dan globalisasi yang tak dapat kita hindari,” jelasnya.

Sementara itu, Alamsyah mengatakan, agenda yang diusung dalam kegiatan ini adalah pemberian penghargaan kepada pribadi selaku individu atau yang memegang jabatan, yang oleh peneliti dipandang mempunyai kontribusi terkait dengan batik motif lokal Jepara.

Penghargaan ini didasarkan riset selama 3 tahun melalui Penelitian Terapan Unggulan perguruan Tinggi (PTUPT) dibawah naungan LPPM Undip Semarang.

“Kami memandang bupati Jepara Dian Kristiandi, berdasarkan pengamatan dan interaksi kami yang diukur dari komitmen terhadap industri kreatif batik cukup baik. Sehingga layak untuk mendapatkan penghargaan ini,” kata Alamsyah.

Peran ini menunjukkan bentuk implementasi dari Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) selama masa jabatan bupati. Dari interaksi yang dilakukan peneliti, ada upaya sungguh-sungguh dari bupati untuk memajukan industri kreatif batik sebagai identitas lokal Jepara, di tengah meredupnya kemampuan mengukir masyarakat Jepara.

“Kami percaya perhatian beliau terhadap perkembangan batik motif lokal Jepara akan semakin meningkat,” katanya. (arf)

 

Reaksi Keras Ansor Banser kepada Para “Pencoleng Agama”

 

Gus Yaqut saat melakukan orasi kebangsaan.

REMBANG – Reaksi keras ditunjukkan Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas atas peristiwa berdarah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Gus Yaqut, sapaan akrabnya, meminta aparat tegas pada pelaku kekerasan yang disebutnya sebagai “pencoleng agama”,  yang berakibat empat orang jadi korban perilaku biadab atas nama agama itu.

"Kami minta aparat tindak tegas pencoleng-pencoleng agama di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah," katanya saat menyampaikan orasi kebangsaan di hadapan jutaan kader secara virtual pada Minggu (29/11/2020).

Lebih lanjut, Gus Yaqut memberi peringatan pada kelompok-kelompok kecil yang senang mengatasnamakan agama. Perilaku biadab yang sangat merugikan agama. Ansor Banser akan setia bersama TNI/Polri mengadang kelompok perusuh.

"Hentikan perilaku kalian atau akan berhadapan dengan Ansor Banser. Kami, Ansor Banser siap bersama TNI/Polri mengadang mereka," tegas Gus Yaqut.

Selain merespons dinamika politik kekinian, Gus Yaqut juga meminta semua kader menjadi contoh penerapan protokol kesehatan. Bahu membahu menghadapi era pandemi Covid-19. Termasuk komitmen untuk tidak asal menggelar acara, atas nama agama sekalipun tapi mengabaikan keselamatan masyarakat.

"Era sekarang, kita harus jaga kiai-kiai kita. Tidak hanya melindungi dari bully, tapi dari pandemi. Jangan sowan kiai dulu, cari berkah dengan cara lain," katanya mengingatkan.

Terkait pilkada serentak 9 Desember mendatang, Gus Yaqut juga meminta kader jadi contoh. Tercatat ada 270 pelaksanaan Pilkada. Demokrasi, kata Gus Yaqut juga harus dibuktikan dengan mengedepankan keselamatan warga, tidak hanya bicara hak politik.

Apel Kebangsaan virtual GP Ansor Banser diikuti seluruh pengurus cabang di Pulau Jawa, 34 pimpinan wilayah di Indonesia, dan empat cabang luar negeri yakni Malaysia, Korea Selatan, Mesir, dan Taiwan. Apel dengan protokol kesehatan ketat ini mewakili 7 juta kader Ansor Banser. (hus)

Menebas Pegunungan Sampah

Foto bersama usai diskusi soal penanganan sampah 


Malam tadi saya belajar banyak dari para petugas sampah. Mereka berpikir sangat sederhana, jika dengan gerobak kecil saja bisa mengelola sampah dan menghasilkan uang, apalagi dengan armada truk yang bisa mengangkut lebih banyak sampah, pasti lebih menguntungkan.

Bertemu mereka jangan pernah berharap akan mendengar pemikiran-pemikiran muluk. Kepada wakil Dinas LH yang hadir malam itu, mereka mengajukan usulan kecil, meminta difasilitasi kredit motor roda tiga ke bank milik Pemda dengan bunga rendah. Mereka ingin meningkatkan daya angkut agar bisa menjangkau luasan wilayah dan besaran kapasitas sampah yang masih belum terjamah petugas Pemda. Bukan armada truk yang tak bisa masuk ke gang-gang tikus.

Dengan tambahan itu, mereka akan mengajak kerabatnya memanfaat peluang sampah yang belum terkelola itu. Mereka meminta Pemda mengawasi rakyat yang masih bandel membuang sampah, kalau perlu diberikan sanksi tegas. Juga membangun tempat pembuangan sementara di beberapa tempat. Kesadaran dan ketakutan itu akan memberi mereka peluang usaha. Jasa untuk pengelolaan itu bisa dari masyarakat, bisa juga dari anggaran Pemda. Titik.

Ini ide yang sangat cerdas. Mereka bukan lulusan sekolah tinggi yang biasanya cita-citanya digantungkan setinggi langit. Mereka juga bukan keluarga kaya yang kalau kerja maunya pilih yang bersih-bersih. Cita-cita mereka setinggi tanah, bahkan lebih bawah lagi, di kubangan sampah. Sebagian besar hanya lulus SMP. Tetapi, cara melihat peluang usaha dan serapan tenaga kerja, pemikiran mereka setara pengusaha.

Mari kita cek kepintaran mereka. Tahun 2019, jumlah timbunan sampah di Kudus, seperti dikatakan Plt Bupati Hartopo, mencapai 159.083 ton. Dari jumlah tersebut, hanya 60,54 persen yang dapat dikelola, dan 39,46 persen sisanya masih belum terkelola (Tribunjateng, 11 Agustus 2020).

Oke, kita konsentrasi pada 39,46 persen yang belum dikelola. Ia setara dengan 58 ton sampah setiap tahun. Jika armada motor roda tiga bisa memuat 250 kg, dibutuhkan 232 armada baru. Apabila setiap armada bisa mengangkut dua rit setiap hari, setidaknya butuh 116 armada pengangkut sisa sampah yang belum terkelola. Jelas, mereka cerdas melihat peluang usaha.

Dikelola atau tidak, 159.083 ton sampah tiap tahun adalah jumlah yang sangat besar. Mari kita hitung dimensinya. Setiap bak truk bisa mengangkut rata-rata 1,5 ton sampah. Maka, produksi sampah 159.083 ton setara dengan 106,05 bak truk. Dengan ketinggian bak 1,5 meter, dalam setahun jumlah sampah akan setara setinggi 106,05 meter. Dalam 10 tahun, ketinggiannya sudah menyaingi pegunungan Muria yang puncak tertingginya 1.594 meter.

Dengan luas TPA Pemda yang hanya 5,25 Ha, produksi sampah sejumlah itu pasti tidak akan tertampung. Ia harus dikelola secara renewable terutama sampah organik atau non logam/plastik dengan memfermentasinya, bisa melalui proses composting (pengomposan) dengan bantuan bakteri pengurai maupun melalui reaktor biogas yang bisa menampung gas buang metan. Sampah-sampah jenis organik dengan cara itu akan menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman.

Bagaimana kompos tersebut dimanfaatkan? Dalam skema yang saya buat atas permintaan Pemda setahun lalu, tepatnya beberapa bulan setelah Kudus meraih Piala Adipura, saya mengusulkan program desentralisasi pengelolaan sampah. Kewenangan mengelola didelegasikan ke RT/RW atau komunitas pengelola bank sampah yang diinisiasi oleh Pemda dengan program audisi dan stimulasi seperti dalam flowchart.

Untuk memastikan keseriusannya, saya ajak Bupati dan teamnya memaparkan pengembangan desa termasuk pengelolaan sampah di Bentara Budaya, Kompas, usai menerima piala Adipura. Panel dengan Kementerian Desa, anggota DPR RI dan Stafsus Presiden. Acara yang dihadiri oleh puluhan wartawan dan para aktivis desa.

Secara informal, saya sudah presentasikan skema ini ke perusahaan besar yang concern di bidang lingkungan dan ke pejabat di Kementerian Desa. Mereka mendukung dan menunggu Pemda yang punya wilayah dan kewenangan memutuskan. Tetapi, waktu terus berganti, Pemda masih belum merespon dan tak juga punya program lain yang spektakuler. Padahal semua kepala daerah penerima Piala Adipura sudah meneken kontrak untuk mengurangi sampah 30 persen dalam kurun lima tahun.

Rupanya untuk menebas gunung sampah, kita perlu belajar dari para tukang sampah ini. Dengan tagline: "mengubah masalah menjadi berkah", mereka terbukti tak hanya lebih pintar dari bahkan pejabat dan ahli, juga lebih bijak dari kita semua. Salam dongeng! 

Tulisan ini ditayangkan secara utuh dari status facebook Hasan Aoni

Jalan Berliku Menuju Air Terjun Desa Papasan

Pemandangan Air Terjun Gembong yang masih jarang dijamah pengunjung

Ada tiga air terjun di Desa Papasan Kecamatan Bangsri, Jepara. Salah satunya adalah Air Terjun Gembong 2. Deni Arfian, seorang videografer petualang akan berbagi cerita keseruannya mengunjungi tempat yang masih tersembunyi ini. 

Laki-laki yang hobi berpetualang itu bernama Deni Arfian. Warga Desa Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji, Jepara ini sudah banyak menyinggahi sejumlah air terjun di Bumi Kartini. 

Salah satu yang menarik menurutnya adalah Air Terjun Gembong 2 di Desa Papasan, Bangsri. Ada dua air terjun di tempat ini. Orang-orang menyebutnya Gembong dan Gembong 2.

Jalan panjang dan berliku harus dilalui Deni. Askes menuju air terjun menguji seberapa kuat mental petualang. 

Untuk mencapai lokasi air terjun itu pengunjung harus melewati beberapa aliran sungai. Pertama harus menanjak menaiki bukit terlebih dahulu, kurang lebih memakan waktu 30 menit

"Setalah itu bertemu jalan setapak yang landai, dari jalan setapak ini kita masih berjalan kurang lebih 10 menit sampai ketemu jalur menuruni tebing untuk menuju air terjunya, nah bagian menantangnya disini, sebab harus menuruni tebing dengan ketinggian 15 meter," terang pemilik channel youtube Deni Arfian ini kepada Lingkar Muria.

Tebing ini, lanjut Deni, sangat licin apalagi pas musim hujan. Membuat medan ini tambah  sulit, apalagi hanya berpegangan pada tanaman yang menjalar di sekitar. 

"Pengalaman saya sendiri pernah terperosot sampai bawah dari ketinggian dua meteran karena tanaman yang saya buat pegangan tidak kuat akarnya untuk menahan beban saya," kenang Deni. 

Setelah melewati jalur menantangnya itu, pengunjung baru akan menikmati keindahan suasana alam yang masih alami. Sebab lokasi air terjun ini belum banyak orang yang tahu. 

Air terjun ini memiliki dua kolam. Kolam pertama paling atas dengan kedalaman kurang lebih dua meteran. 

Deni mengaku suka sekali dengan kolam yang pertama ini, karena bisa lompat dari tebing samping air terjun yang menambah keseruan explore air terjun ini. 

"Tapi tetap harus hati-hati apalagi untuk orang seperti saya ini yang tidak terlalu pandai berenang. Dan Untuk kolam kedua juga lumayan dalam sih. Meskipun taking mencapai dua meteran," imbuhnya. 

Perlu diketahui, di Desa Papasan, Bangsri ini terdapat 3 air terjun yang aliran sungainya masih sama. Dengan urutannya paling bawah adalah Air Terjun Kedung Ombo, tempat ini yang paling populer, kemudian Air Terjun Gembong dan baru Air Terjun Gembong 2 ini yang diceritakan Deni. (hus)

Plesiran ke Gunung Menyegarkan Badan dan Fikiran

Windi saat berpose dengan latar pegunungan di kawasan wisata Umbul Sidomukti 


SEMARANG - Akhir pekan dimanfaatkan Windi Febriani dengan liburan. Gadis yang baru lulus jenjang SMA ini memilih wisata alam gunung sebagai pilihan melepas penatnya.

Hari Sabtu (7/11/2020) kemarin cuaca cerah di sekitar wilayah Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Langit terlihat membiru dengan paduan gumpalan awan. Menambah elok pemandangan wilayah pegunungan itu.

Mengenakan setelan casual, Windi nampak asyik sekali menikmati liburannya di Umbul Sidomukti bersama keluarganya itu.

Gadis yang dikenal sebagai model berprestasi ini langsung sigap mengabadikan momen kunjungan pertama kalinya di Umbul Sidomukti. Windi langsung mencari spot-spot foto terbaik.

"Pemandangannya indah banget. Adem suasana asri. Asyik sekali untuk menjadi tempat refreshing. Apalagi beberapa bulan ini disibukkan aktivitas belajar daring yang sangat bikin pusing," terang Windi.

Selepas berfoto-foto, Windi langsung menjajal kolam renang yang ada di kawasan wisata itu. "Biar sekalian makin fresh badan dan pikiran," imbuh gadis yang berasal dari Desa Pakis Kecamatan Tambakromo, Pati ini.

"Sebenarnya pengen nyoba sepeda flying fox. Keliatannya asyik menantang. Tapi saya takut. Jadi cukup renang dan hunting foto aja sih," pungkasnya.(yan)

Segera Daftarkan Kebudayaan Muria jadi Warisan Nasional

 

 

Kegiatan monitoring dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Kampung Budaya Piji Wetan

KUDUS – Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Kudus Roro Lilik Ngesti W, mengaku simpatik dengan apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat Kampung Budaya Piji Wetan Desa Lau. Rencananya ia akan mengajukan legalitas kebudayaan masyarakat Muria ini sebagai warisan nasional.

“Termasuk kebutuhan administratif lainnya juga segera kami upayakan agar kebudayaan masyarakat Muria, khususnya Piji Wetan Desa Lau ini bisa diakui secara nasional,” jelasnya saat mengikuti kunjungan tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke Kampung Budaya Piji Wetan Desa Lau, pada Rabu (04/11/20).

Inisiator Kampung Budaya Piji Wetan Desa Lau Muchammad Zaini menjelaskan agenda terdekat yang sedang disiapkan oleh warga yakni peresmian. Bersamaan dengan itu, tim kreatif juga tengah menyiapkan dokumen pemajuan kemajuan desa (DPKD) untuk bisa digunakan sebagai landasan dalam mengurus dokumen administratif lainnya.

“Dengan DPKD itu juga nantinya kita bisa memetakan secara lebih komprehensif potensi apa saja yang bisa kami angkat dan bangun,” papar Wakil Ketua Lesbumi Kabupaten Kudus ini.

Untuk diketahui, upaya pemajuan kebudayaan desa terus digenjot oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI). Salah satu langkah konkritnya yaitu dengan mengadakan monitoring dan evaluasi (Monev) di Kampung Budaya Piji Wetan.

Hadir dalam acara ini Tim Monev Ditjen Kebudayaan Eko Sukarno, Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Kudus Roro Lilik Ngesti W, Kasi Sejarah Permuseuman dan Kepurbakalaan Mitta Hermawati, Anggota Badan Permusyawaratan Desa Lau Wagiman Sutrisno, serta tokoh masyarakat Piji Wetan Desa Lau.

Ketua Tim sekaligus Kasubpokja Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Cagar Budaya Kemdikbud RI, Eko Sukarno, mengatakan monitoring ini adalah tindak lanjut dari kegiatan Lomba Cerita Budaya Desaku yang digelar pada Agustus-September 2020, kemarin 

“Lomba itu dan monev hari ini termasuk bagian dari pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk memberi rangsangan kepada masyarakat untuk tetap berkarya di masa pandemi,” ujar Eko.

Sesuai dengan tagline yang diusung, tujuan utamanya tentu supaya generasi muda bisa mengetahui budaya desanya. Generasi muda diharapkan juga mengerti makna serta filosofinya dan mau melestarikan budaya tersebut secara berkesinambungan dengan generasi sebelumnya.

“Bila sudah begitu, ini diharapkan bisa berkelanjutan menjadi aktivitas dan kegiatan yang produktif dan memakmurkan masyarakat berbasis budaya,” imbuh Eko. (hus)

 

Sensasi Segar Air Terjun Dong Paso Somosari Jepara



Mila berpose di atas batu besar di air terjun Dong Paso Somosari, Jepara 

Matahari bersinar terang sepanjang hari. Angin bertiup pelan. Membelai dedaunan semak-semak. Kamilatus Sa'adah melangkah pelan, menyusuri jalan setapak. Di wajahnya, gadis berjilbab yang akrab disapa Mila itu tak merasa lelah.

Jalan itu menuju sebuah air terjun. Nama air terjunnya Dung Paso. Lokasinya berada di Desa Somosari Kecamatan Batealit, Jepara. Untuk sampai di tempat ini pengunjung harus berjalan kaki dari lokasi parkir kendaraan. Kurang lebih 30 menit untuk berjalan. 

Tapi tenang, rasa lelah berjalan kaki akan terbayar lunas. Sesampainya di lokasi air terjun, pengunjung akan disuguhin pemandangan alam yang menyegarkan mata dan pikiran. 

Sebuah air terjun dengan ketinggian kurang lebih 10 meter. Merambat tanaman hijau di dinding tebing. Airnya jernih mengalir menerobos bebatuan berwarna hitam. 

Sesampainya di air terjun Mila, langsung menceburkan diri ke sungai, asyik bermain air. Membasuh muka merasakan segarnya air yang mengalir dari sumber di lereng Pegunungan Muria ini. 

Tempat ini belakangan sudah banyak dikunjungi. Meskipun begitu, pengunjung hanya dikenakan tarif parkir sebesar Rp 5 ribu. Harga yang terjangkau untuk menikmati keindahan air terjun. (mil) 


Wisata Jurang Nganten Blingoh Dibangun

 


JEPARA - Obyek wisata alam Jurang Nganten di Desa Blingoh, Donorojo, Jepara mulai dibangun. Selasa (6/10/20) Bupati Jepara Dian Kristiandi meletakkan batu pertama pembangunan obyek wisata tersebut.

 Obyek wisata ini berada di luasan sekitar satu hektar, yang menyajikan pemandangan air terjun, persawahan hingga rintisan wisata permainan air. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Zamroni Lestiaza turut mendampingi Bupati dalam itu.

Dian Kristiandi mengapresiasi pembukaan obyek wisata desa yang berada di lereng Gunung Batok tersebut. Menurutnya, keberadaan obyek wisata akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di desa dan sekitarnya. Semua elemen, khususnya anak muda digerakkan untuk menambah inovasi dan kreatifitas, sebab banyak potensi yang dimiliki.

Bupati Andi meletakkan batu pertama pembangunan obyek wisata Jurang Nganten

“Pariwisata itu mempengaruhi banyak hal dan memberikan multiplier effect atau dampak ganda terhadap berbagai sektor khususnya ekonomi. Jika obyek wisata tumbuh dan berkembang maka perekonomian masyarakat di sekitarnya juga akan berdampak,” kata Bupati Andi seperti rilis yang diterima Lingkar Muria.

Andi menambahkan, dirinya juga mengapresiasi semangat gotong royong dan kebersamaan yang ditunjukkan oleh warga Dukuh Senggrong Desa Blingoh dalam mempersiapkan adanya obyek wisata Jurang Nganten ini.

“Pariwisata itu harus membuat nyaman. Untuk itu harus diciptakan kondisi yang senyaman mungkin agar pengunjung bisa betah. Jika memang potensi alamnya dirasa kurang maka harus dibuat wisata atraksi sebagai pelengkap,” jelas politisi PDI Perjuangan ini. (hus)

 

Kampung Budaya Piji Wetan Raih Penghargaan dari Kemendikbud



Kegiatan rebbana di Kampung Budaya Piji Wetan 


KUDUS – Senyum mengembang dari bibir Muhammad Zaini. Salah seorang inisiator Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) itu baru saja menerima kabar. Kerja kerasnya bersama masyarakat Piji Wetan diganjar penghargaan.

Tidak main-main. Dapat dua penghargaan sekaligus. Kampung Budaya Piji Wetan menjadi pemenang kedua kategori naskah terbaik dan masuk daftar 30 peserta terbaik dari 486 desa yang mendaftar dalam Lomba Cerita Budaya Desaku tingkat Nasional yang digagas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Muhammad Zaini, merasa bersyukur bisa meraih penghargaan tersebut. Menurutnya, capaian ini merupakan anugerah sekaligus amanah untuk melanjutkan kerja budaya bersama masyarakat Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

“Tentu senang, tapi juga berat, karena ke depan kita harus lebih semangat dalam merawat kampung budaya yang kita usung ini,” ujar Zaini di rumahnya, Senin (05/10/20).

Kendati demikian, ia tetap yakin kampung budaya ini bisa maju dan berkembang bermodalkan semangat guyub rukun warga Piji Wetan. Saat ini, kata dia, warga secara gotong royong tengah menyiapkan kegiatan peluncuran kampung budaya. Mulai dari tata rias lokasi (makeup area), pentas seni tradisi, gelaran budaya, dan juga pasar ampiran.

“Rencananya ini akan kami adakan kegiatan peluncuran kampung budaya dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19,” jelas Wakil Ketua Lesbumi Kudus ini.

Sebagai informasi, konsep KBPW ini mengusung ajaran Tapangeli dan Pager Mangkuk Sunan Muria. Keduanya merupakan nilai dan laku filosofis yang dianut oleh masyarakat kaki gunung Muria dan sekitarnya. Salah satu penerapan nilainya yakni dengan gemar bersedekah, gemar menolong antarsesama dan tetap guyub rukun meski berbeda-beda.

Sementara itu, Kepala Desa Lau H. Rawuh Hadiyanto mengaku bangga dan mengapresiasi keberhasilan warganya tersebut. Ia juga mengajak kepada seluruh elemen agar bisa mencontoh semangat warga Piji Wetan dalam memajukan desa.

“Alhamdulillah, bisa menjadi yang terbaik se-Indonesia, semoga bisa dicontoh yang lainnya, untuk sama-sama membangun dan memajukan Desa Lau tercinta,” sebutnya. (yan)

Eksotis Sekaligus Mistis dulu Petilasan Syeh Siti Jenar (2)

 

Selain eksotis, Pantai Lemah Abang konon juga mistis. Dikisahkan, dulu tempat ini merupakan petilasan dari salah seorang wali yang kontroversial pada zaman walisongo. Namanya Syeh Siti Jenar.

”Cerita-ceritanya begitu. Ada aura mistis. Temenku suatu sore pernah “disasarkan” di tengah hutan karetan, saat hendak ke pantai itu,” kata Ardian Firda Maulida, salah seorang pengunjung dari Desa Blingoh Kecamatan Donorojo, Jepara.

Terlepas dari aura mistis seperti yang diceritakan teman Firda itu, Pantai Lemah Abang sangat sayang dilewatkan bagi pecinta wisata alam. Pantai Lemah Abang terbilang unik dikarenakan pantainya berbeda dari yang lain. Di pantai ini pasirnya ada yang berwarna hitam, bahkan ada pasir yang berwarna kemerah-merahan. Karena bercampur dengan tanah.

Selain itu eksotisnya pantai ini ditambah dengan bentuk pantainya yang bertebing. Bahkan di sana terdapat batu yang sangat besar. Menyerupai punggung sapi yang menonjol. Dalam bahasa Jawa disebut punuk. Sehingga ada yang menyebut Pantai Lemah Abang ini sebagai Pantai Punuk Sapi.

 Teks = Hasan 

Foto = adam9aluh