Baginda Teladan Sepanjang Zaman

Istimewa

Oleh : Achmad Ulil Albab
Hari ini kita dihadapkan dengan tontonan dagelan yang bisa dibilang menjijikkan. Tabrak sana tabrak sini tak peduli aturan, orang tak lagi punya pegangan. Kira-kira begitu pengamatan saya. Lebih tepatnya hari ini kita selalu dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis multi dimensional yang akut.
Mulai krisis figur pemimpin, hingga krisis kepercayaan diri yang telah lama mengendap dalam pola pikir dan kedalaman hati. Begitu parah krisis yang dihadapi. Akhirnya bangsa ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.
Lihat saja ketika musim pemilu, pilkada dan pemilihan pemimpin lainnya. Akan ada transaksi deal to deal. Suap, sogokan dan serangan fajar mafhum demi melenggangnya seseorang di kursi pimpinan. Masih tak percaya ? lihatlah Kasus jua beli jabatan pemda di Klaten yang menyeret nama Bupati Sri Hartini, belum lama ini. Rakyat disuguhi “keteladanan” yang salah.
Maka jangan heran manakala hari ini kita melihat keanehan yang menghinggapi setiap lini. Apa penyebabnya ? sederhana. Kita kehilangan contoh, kalau kata Ki Hajar Dewantara seharusnya, Ing Ngarsa Sung Tulodho, di depan memberikan contoh (teladan).
Dalam sebuah forum maiyah Tafakur Akhir Zaman (2015), Gus Mus menyentil, kalau kanjeng Nabi memerintahkan Sholat, beliau sudah sholat dulu. Kalau beliau menyuruh menyayangi istri, ramah dengan tetangga dan seterusnya. Beliau terlebih dahulu melakukan. Itu yang jarang kita temukan hari ini, untuk menghindari mengatakan tidak ada. Malah, kata Gus Mus lagi, sekarang itu orang menyuruh ke barat dia sendiri melangkah ke timur. Apa ndak bingung yang disuruh?
Kalau kita cermat membaca sejarah baginda nabi. Menghadapi permasalahan semacam itu, sebagai pimpinan beliau menerapkanstrategi yang cukup sederhana, sesuai dengan sabdanya Ibda' Binafsik yang artinya "Mulailah dari diri sendiri (anda)" dan itu sudah dimulai beliau sendiri. Oleh karena itu sebuah perubahan struktural tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya perubahan kultural, dan perubahan kultural tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan individual.
Bisa jadi perubahan individual menjadi titik pokok untuk sebuah perubahan yang lebih besar, perubahan struktural (bangsa). Menjadi bangsa yang beradab dan berbudaya tentunya.
Telaga Keteladanan 
Di tengah kegalauan kehidupan yang demikian menjemukan itu, kita perlu kembali mendalami akhlak mulia dan kearifan sikap nabi. Menyelami telaga keteladanan yang jauh lebih dalam, semisal :  
Tidak memanfaatkan jabatan. Baginda nabi wafat tanpa meninggalkan warisan material. Jabatan sebagai pemimpin bagi baginda, bukanlah cara memperkaya diri. Seperti yang ditampilan sebagian pejabat hari ini. Berderet mobil dan rumah mewah dipajang dengan pongah.
Integritas. Integritas menjadi bagian penting dari kepribadian baginda, yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya dari apapun yang menjadi tujuannya.
Sikap egaliter. Salah satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Nabi, adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba). Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.
Kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan, tantangan serta serta peluang.
Visioner. Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul SAW. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan.Banyak hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata "akan datang suatu masa", lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Sekian abad berlalu, kini banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat nyata.
Terakhir kesederhanaan, kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan Rasul saw.Tak pernah baginda nabi bermewah.  Ini yang tidak banyak ditampilkan pemimpin hari ini. Pesona akhlak dan sikap baginda yang demikian itu tentunya mampu menjadi cerminan kita hari ini.
Begitu, setelah menyelam dalam telaga keteladanan yang jernih dan menyejukkan itu, pikiran kita akan segar, untuk kembali meniti jalan panjang di dunia yang berliku dan berbatu. (*) 






Share this

Related Posts

Previous
Next Post »