Alif Sumadi Spesialis Peternak Murai Batu


Jadi Peternak Karena Kepincut Teman

DOKUMEN PRIBADI

Sebelumnya pekerjaan Alif Sumadi memang tak jauh dari dunia perburungan. Dia bekerja sebagai penjual jangkrik untuk pakan burung. Namun pekerjaan itu dia tinggalkan saat kepincut penghasilannya temannya yang sukses ternak burung.


Rumahnya bisa dibilang gedongan, dibanding rumah di sekelilingnya. Di depan rumah terparkir satu unit mobil jenis minibus. Saat mulai masuk ke dalam rumah, suara cericit burung-burung menyambut siapapun yang datang. Di kalangan pecinta burung, Madi sapaan akrabnya memang sangat dikenal. Banyak orang datang dari dalam kota hingga luar kota.
Dia ramah, dan blak-blakan. Menganggap semua tamu, baik yang baru pertama datang maupun yang sudah sering bertamu seperti teman sendiri. ”Sudah anggap saja seperti tempat sendiri. Mau ngopi atau ngeteh, buat sendiri sesuai selera. Jangan sungkan,” kata Madi mempersilahkan tamunya.
Usai menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan aspanya, Madi baru bercerita bagaimana dirinya memulai usaha ternak burung. Awalnya, Madi memang penjual jangkrik yang digunakan sebagai pakan burung. Sudah berjalan cukup lama.
”Namun suatu saat saya melihat teman saya berhasil dengan menjadi peternak burung Murray waktu itu, singkatnya kemudian saya tertarik. Lalu mulai sedikit demi sedikit merintis usaha ini,” jelas pria yang tinggal di Dukuh Pilang Desa Tompomulyo ini Kecamatan Batangan Kabupaten Pati.
Madi memilih ternak jenis Murray. Sedangkan jenis lovebird, Madi hanya menjual saja. ”Sebab Murray lebih cepat beranak dibanding lovebird. Lebih cepat beranak lebih cepat pula dapat untung kan. Makanya saya fokus di Murray saja. Perbandingannya sekali lovebird beranak. Murray bisa tiga kali,” papar Madi.
Usaha ternak burung ini sudah dijalani Madi puluhan tahun. Bahkan sejak anak satu-satunya masih kecil, hingga kini sudah menjadi sarjana di salah satu kampus negeri di Surakarta. ”Ya lumayan lah, untung dari ternak burung ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak saya hingga jenjang yang tinggi,” imbuhnya.
Namun perlu diketahui, kata Madi. Ternak burung ini tak menentu. Perlu sebuah kunci untuk telaten di bidang ini. Kuncinya sabar. ”Sebab ternak burung ini gampang-gampang susah. Harganya kadang ya tak menentu. Misalnya kemarin satu jenis burung lovebird dihargai Rp 10 juta. Tiba-tiba bisa turun sampai di angka Rp 1 juta. Begitu juga dengan Murray, namun tidak sedrastis anjloknya jenis loverbird. Ini salah satu tantangannya,” terangnya.
Memang ternak burung ini cukup menjanjikan. Anakan saja sepasang bisa dihargai Rp 3 juta, kalau kualitasnya lebih baik bisa sampai Rp 5 juta. Itu untuk jenis burung Murray batu. Perawatannya pun tak repot. ”Bahkan bisa untuk pekerjaan sampingan saja. Perawatannya sama lah kurang lebih seperti merawat burung pada umumnya. Memberi makan dan juga membersihkan kandang,” kata Madi.
Saat ini di peternakannya, Madi telah memiliki sebanyak 10 kandang untuk 10 pasang Murray. Juga puluhan kandang untuk jualan burung jenis lovebird. Pantas ruangan paling belakang rumah Madi sudah seperti alam bebas. Suara keriuhan cericit burung menyesaki ruangan dengan luas 6x5 meter tersebut.
 Keberhasilan Madi beternak burung ini pun membuat banyak yang kepincut. Kini di Desa Tompomulyo banyak yang mengikuti jejak Madi. Rata-rata mereka anak muda. Salah satunya Gunarto.
Pria yang tinggal tak lebih dari 20 meter dari rumah Madi ini sekarang menjalani usaha ternak burung. Gunarto sudah mulai sejak tiga tahun lalu. Kurang lebih dia mempunyai 21 indukan burung. ”Saya yang ngajarin ternak juga dari Pak Madi,” terang pria yang sebelum menjadi peternak burung ini bekerja sebagai tenaga serabutan.
Kini di desa yang mayoritas penduduknya bergantung di dunia pertanian ini banyak warganya yang menekuni usaha ternak burung. Disamping Madi dan Gunarto, masih ada yang lain. ”Ada lebih 20an kira-kira yang sekarang mulai ternak burung. Rata-rata baru setahun dua tahun,” kata Gunarto. (Achmad Ulil Albab)


 


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »