Melihat Optimisnya Sang Presiden Meski Terus Dicaci

FOTO : TOPSKOR


Sekitar musim 2008  hingga 2011, atau tepatnya ketika Indonesian Super League bergulir menjadi kasta tertinggi sepakbola Indonesia, Persijap boleh dikatakan pernah mengalami saat-saat mentereng. Tim berjuluk Laskar Kalinyamat ini menjadi salah satu kontestan yang disegani.
Era itu kita mengenal nama-nama beken sekelas Johan Juansyah, Pablo Frances, Amarildo Souza, Danang Wihatmoko, Isdiantono, A M Bahtiar, dan beberapa pemain top lainnya. Saat itu mereka diarsiteki coach Almarhum Junaidi. Masa-masa itu semua bangga dengan klub yang bermarkas di Stadion Gelora Bumi Kartini ini. tiap pertandingan tiap jengkal tribun selalu sesak oleh penonton.
Namun kini, Persijap sedang terseok-seok. Setelah musim lalu tampil di kasta kedua. Kini musim kompetisi 2018 ini tim kebanggan warga Kota Ukir ini mesti turun kasta ke liga 3. Jebloknya prestasi Persijap kini menimbulkan cacian-cacian, cibiran, bahkan rasa tak percaya dengan manajemen yang ada.
Alhasil CEO Persijap sekaligus presiden klub saat ini, Esti Puji Lestari harus menjadi sasaran cacian-cacian sebab dinilai gagal. Mulai saat masih berjuang di Liga 2 hingga saat ini, dimana manajemen sedang membentuk tim untuk mengarungi kompetisi di kasta ketiga.

Di media sosial banyak sekali cacian-cacian, serta ungkapan rasa tak percaya lagi, kepada Esti. Bahkan ada pula yang menuduh, Persijap ada di tangan orang yang salah. 

 
Salah satu cacian yang diterima Esti

Gelombang cacian dan cibiran itu pun kian menjadi, terutama saat keputusan mendatangkan pelatih impor dari negeri yang saat ini prestasi sepakbolanya sedang bercokol di puncak klasemen FIFA, Jerman.
Banyak yang meragukan. Namun perempuan yang gila bola ini, menjawab semua cibiran itu dengan positif dan optimis. Esti tetap fokus dengan tujuannya untuk membangun Persijap menjadi klub yang professional.  Berikut ulasan wawancara wartawan Lingkarmuria.com bersama Presiden Klub Persijap Esti Puji Lestari.

Pasca prestasi Persijap merosot dari liga dua ke liga tiga, gelombang cibiran dari berbagai kalangan suporter akar rumput sangat tinggi. Bagaimana anda menanggapi itu?
Saya jujur, tidak mengganggap mereka supporter akar rumput, mereka itu “aktor intelektual” yang ingin menjatuhkan Persijap. Kenyataannya banyak yang diam diam DM ke saya, menyatakan dukungan dan tidak pernah menghujat saya sekalipun.

Terbaru, soal perekrutan pelatih asal Jerman pun ada juga yang mencibir. Ada yang meragukan track recordnya sebagai pelatih sebuah klub.
Semua boleh meragukan, yang paling penting saya ikut regulasi dari penyelenggara liga. Minimal lisensi C AFC , dan beliau, mengantongi lisensi B UEFA, jadi sudah pasti di atasnya.

Bahkan entah ini guyon atau serius. Ada yang menganggap itu teman-teman Anda di luar negeri yang nganggur, kemudian diajak ke Indonesia untuk kerja (Red, Sebagai pelatih).
Perlu diketahui Patrick Sofian Ghigani itu Owner dari sekolah sepakbola terbesar di Munich,  MSC. Silahkan cek Google. Jadi dia tidak pengangguran. Beliau datang untuk membantu Persijap, karena merasa sedih dengan situasi saya, dan ingin membantu. Jujur beliau membantu saya dan juga percaya potensinya.
Seperti yang saya bilang di atas, beliau Head of recruitment di Nike Academy, bisa di cek juga, dan memiliki sekolah bola sendiri, dengan penghasilan fantastis dan gaya hidup tinggi. Kenapa beliau ingin ke Persijap dan meninggalkan 5 anak di sana? Karena beliau prihatin dengan sepak bola Jepara yang pada saat menganalisa pertandingan di musim lalu, banyak hal-hal yang beliau rasa bisa diperbaiki. Sementara tim pelatih terdahulu tidak melakukannya.

Apa sih sebenarnya target Anda untuk Persijap saat ini.
Sesuai kontrak dengan Patrick, 2+1, kembali ke liga 1 bertahap dan kuat

Sepertinya Anda begitu tegar, dari saat di liga 2 Persijap mulai terseok-seok hingga sampai akhirnya terdegradasi, banyak sekali hujatan-hujatan. Apa yang membuat Anda bertahan.
Banyak masa di mana bukan saya yang ingin keluar, tapi keluarga saya. Karena mereka merasa ini sudah merenggut nama baik saya, saya kembali memberikan penjelasan. Hidup ini bukan menumpuk harta, atau mencari uang semata.
Tapi juga merubah nasib sebuah bangsa, menggeser paradigma yang kuat ke jalan yang benar, dan pada akhirnya, saya memang sebagai business woman percaya sepak bola Indonesia bisa menjadi industri dan bisnis yang sehat, bukan untuk saya saja !
Tapi untuk siapapun penerus Persijap selanjutnya setelah saya, untuk bisa menikmati hasil kemandirian Persijap sebagai klub, jangan selalu bergantung ke personal yang banyak uang misalnya, karena itu tidak stabil dan tidak permanen.

Ada beberapa suporter di kawasan yang menantang Anda, mampukah mengulang masa emas di era Super League? Era pelatih almarhum Junaidi. Menjadi 4 besar Copa Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda.
Menantang atau mengajak? Saya pikir ini yang sangat saya tekankan untuk berubah, masa lalu bisa saja dijadikan patokan, tapi masa lalu tidak bisa kembali, dengan regulasi, industri sepak bola yang sudah berbeda, ini bukan jaman APBD. Kita bukan jago kandang, kita bukan klub kabupaten, kita harus jadi klub besar secara financial dan struktur dulu, baru prestasi akan menyusul dan akan menjadi fundamental yang kuat.

Makanya sesuai dengan motto Persijap menemukan kembali ciri  atau identitas baru, membuat visi baru dan sejarah baru. Siapa tahu bukan hanya menjadi Big 4 di sebuah kompetisi, tetapi bisa menjadi juara. 


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »