Pengabdian dan Mimpi Santri untuk Indonesia 2025




Misbahul Munir saat di London Inggris/CSSMoRA ITS 


Ahad, 07 Januari 2017 menjadi hari pertama saya mengabdi di Perguruan Islam Darul Falah, Pati, Jawa Tengah. Tempat saya menghabiskan enam tahun usia remaja. Kegiatan pengabdian ini sebenarnya program yang sangat bagus, agar alumni penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) mau kembali ke pesantrennya pascalulus.

Bagaimana tidak mau, ketika wisudawan lainnya menerima ijazah saat bersalaman dengan rektor, kami, hanya menerima cover ijazah dengan satu lembar kertas bertuliskan ”Ijazah Anda ditahan sampai Anda menyelesaikan tanggungan dari Kementerian Agama,” wkwkwk. Praktis, keinginan melamar pekerjaan ke instansi yang diimpikan harus di-pause untuk sementara waktu.

Sebelum memutuskan untuk mengabdi di Darul Falah, saya sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh beberapa guru, termasuk kepala sekolah kami, bahwa sekolah kami tidak sedang membutuhkan tenaga pengajar, sehingga saya direkomendasikan untuk melanjutkan sekolah lagi saja, toh mengabdi bisa di mana-mana. Sebuah pesan yang menurut saya sangat bijaksana. Karena lulusan perguruan tinggi sudah barang tentu memiliki ekspektasi yang cukup besar, kaitannya dengan pekerjaan.

Namun, bagi saya tidak masalah. Mau ditempatkan di mana saja, yang penting saya menuntaskan kewajiban saya dulu. Agar dua hingga tiga tahun yang akan datang saya tidak diributkan dengan tetek bengek pengabdian.

Oke. Di hari pertama yang saya maksud tadi, saya diminta untuk mengisi kelas mendadak. Alasannya, guru yang mengisi mata pelajaran tersebut sedang tidak hadir. Dan saya diminta memberi motivasi kepada anak-anak di kelas. Hmm, kalo kelas IPA sih gak masalah, tapi ini kelas Agama. Ketakutan saya adalah, kira-kira anak Agama kelas 10 tertarik gak ya berdiskusi tentang topik X, wich is berhubungan dengan sains. Tidak dapat dipungkiri, yang masuk ke dalam otak saya kebanyakan adalah sains, sains, dan sains, all the time.

Pantas saja, setelah beberapa menit berjalan dan saya sedang serius-seriusnya bercerita bahwa di tahun 2025 nanti, orang-orang Amerika sudah berencana mendaratkan manusia di Mars, hampir semua anak cekikikan. Ternyata mereka menertawakan beberapa kata yang saya gunakan. Saya menggunakan istilah seperti kreativitas, inovasi, kegigihan, dst, yang mungkin belum familiar di telinga mereka sehingga terkesan, ini orang ngomong apa sih, kagak ngerti gua, wkwk.

Karena kehabisan ide, saya akhirnya meminta anak-anak kelas Agama itu untuk mengeluarkan selembar kertas. Dan menuliskan tentang mimpi mereka untuk Indonesia 2025. Pemilihan topik itu juga asal ngawur aja, saya tidak benar-benar tahu emang di tahun 2025 ada agenda besar apa di Indonesia. Pertanyaannya ada dua, yang pertama, kondisi seperti apa yang diinginkan. Dan yang kedua, apa yang bisa saya kontribusikan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan saya sebenarnya ingin mengetahui seberapa kenal sih santri-santri ini dengan kondisi di lingkungan sekitarnya dan apakah ada niatan untuk memberi pengaruh dalam waktu tujuh tahun terhitung dari sekarang. Jawaban mereka beragam, ada yang menulis detil sesuai instruksi, ada yang menulis jawaban skeptis karena gak punya ide. Wajar lah, masih kelas 10 Madrasah Aliyah.

Dari total 33 santri, ada 10 tulisan yang saya suka. Mereka menuliskan masalah dengan jelas, dan hal-hal yang mungkin bisa mereka kontribusikan untuk mengatasi masalah tersebut. Di antaranya adalah santri-santri itu ingin Indonesia 2025 bebas korupsi, narkoba, dan tindakan kriminal. Beberapa anak juga menulis rakyat Indonesia harus memiliki akhlak yang mulia, karena karakter yang buruk adalah sumber bagi berbagai kerusakan di muka bumi. Dan santi-santri itu dalam tulisannya menyatakan bahwa pengajaran ilmu agama di tengah masayarakat bisa menjadi solusi yang ia usulkan.

Di samping itu, ada juga mimpi santri yang menitikberatkan pada masalah lingkungan. Dalam coretannya, pada 2025, ia ingin Indonesia menjadi negara bebas polusi. Dengan cara menciptakan kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan dan ingin menggerakkan masyarakat agar banyak berpartisipasi dalam membuat lingkungan menjadi lebih hijau.

Selain itu, dalam tulisan lain, seorang santri juga menduga di tahun 2025 nanti, akan banyak pemuda desa usia produktif yang menganggur, sedangkan mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan yang cukup untuk bersaing di dunia kerja. Oleh karena itu ia ingin mendirikan organisasi kepemudaan untuk mengembangkan bank sampah dan melatih ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah sampah tersebut di lingkungannya. Selain dapat mengurangi volume sampah, kegiatan itu juga dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Terakhir, ada tiga kertas yang di dalamnya tertulis santri-santri itu ingin bahwa Indonesia 2025 menjadi negara maju. Negara yang berdaulat, yang mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri dan tidak bergantung pada impor dari negara lain. Negara maju di tahun 2025 itu juga dicirikan dengan meratanya pembangunan dan persebaran penduduk, baik di kota maupun di desa. Dan untuk mencapai hal itu, santri-santri menyadari bahwa para remaja yang sedang mengenyam pendidikan menengah harus tekun belajar, menghindari kegiatan menyimpang, dan mau ikut serta memikirkan Indonesia.

Kelas yang seharusnya diisi oleh mata pelajaran Kewarganegaraan itu pada akhirnya mencoba untuk menyadari hakikat dan peran santri sebagai bagian dari warga negara. Mimpi yang mereka tuliskan untuk Indonesia 2025 itu terlebih menyadarkan kepada saya bahwa Indonesia masih punya banyak stok anak muda yang optimis memandang masa depan negaranya. Mengutip pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, cepat atau lambat, di tahun 2025 atau bukan, Indonesia akan menjadi negara maju jika para generasi muda tak pernah putus asa mencintai negerinya.

“Indonesia dapat menjadi negara maju yang dibanggakan rakyatnya dan disegani bangsa lain karena Indonesia memiliki generasi muda yang selalu ingin belajar dan ingin maju, yang haus akan prestasi dan memiliki daya juang yang tidak pernah luntur. Indonesia memiliki 65 juta generasi muda yang tidak pernah berputus asa mencintai negerinya,“Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI.

Misbahul Munir, Alumni ITS Surabaya, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darul Falah Sirahan, beberapa kali pernah singgah di kampus top Benua Eropa dan Amerika, alumni CSSMoRA ITS. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar