Banyak yang Menjadi Sumantri di Negeri Ini



DOKUMEN GAMELAN KIAI KANJENG


Emha Ainun Najib menangkap, di negeri ini banyak terjadi seperti kisah dalam pewayangan. Kisah Sumantri dan Sukrasana. Dua saudara yang memiliki karakter sangat berbeda. Hal itu dikemukakan Budayawan Emha Aninun Najib dalam Suluk Maleman edisi ke 74, Senin (26/2/18) malam lalu.
Ngaji budaya yang malam itu mengambil tema Gondelan Barang Ambruk itu nampak gayeng. Halaman Rumah Adab Indonesia Mulia penuh sesak oleh jamaah. Bahkan hingga meluber ke setengah badan Jalan Pangeran Diponegoro.
Malam itu, selain Cak Nun- sapaan akrab Emha Ainun Najib, hadir pula dalang Sigit Ariyanto. Dalang muda ini mementaskan wayangnya dengan lakon Duryudana Gugur. Ngaji budaya malam itu, lalu sedikit membahas soal dunia pewayangan dengan kenyataan Indonesia sekarang.
Hayo aku takon. Kenapa harus ada wayang,” kata Cak Nun kepada dalang Sigit Ariyanto.  Lalu dalang Sigit menjawab, selain sebagai sarana hiburan, wayang juga merupakan tuntunan bagi umat manusia. Kisah-kisah pewayangan bisa dijadikan suri tauladan.
”Nah maka dari itu, saya mengingat cerita Sumantri dan Sukrasana. Sumantri kakaknya Sukrasana. Dia rakus. Amat mementingkan kekuasaan, sementara berbalik dengan sang adik Sukrasana. Bahkan di sebuah cerita, Sukrasana membantu Sumantri, lalu pada akhirnya sang adik disingkirkan sendiri oleh sang kakak. Lalu di negeri ini banyak Sumantrinya apa Sukrasana?,” papar Cak Nun lalu melempar pertanyaan pada jamaah yang sudah memadati Rumah Ada Indonesia Mulia sejak ba’da isyak.
Sigit Ariyanto menambahkan. Dia juga menyinggung soal tokoh Aswatama, tokoh yang ingin selamat sendiri, ketika terjadi huru-hara usai perang saudara legendaris Baratayuda.
”Dia tokoh yang digambarkan ingin dirinya selamat sendiri,” kata Sigit yang kemudia ditimpali Cak Nun. Dimana negeri ini banyak pula terjadi demikian seperti Aswatama.
Lalu, sebelum diskusi beranjak menuju dialog dengan jamaah, Cak Nun mengajak semuanya untuk berfikir bersama. Sepuluh tahun mendatang akan ada banyak perubahan.
”Negara-negara Asia Pasifik yang membentang dari China hingga Indonesia akan menjadi negara pertama. Negara yang maju. Menggeser Eropa dan Amerika Serikat. Lalu saat itu kita nanti mau jadi apa? Buruh cuci atau security?,” kata Cak Nun dengan nada bertanya.
Untuk itu mari, lanjut Cak Nun semuanya mesti belajar. ”Jadilah pakar di satu keahlian. Pelajari betul. Dan yang paling penting carilah kebahagiaan hidup, jangan mencari kekayaan. Pekerjaan yang membuat bahagia, kaya akan mengikutinya,” terang budayawan yang enggan tampil lagi di acara-acara tv swasta nasional ini. (Achmad Ulil Albab) 
 


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »