Beginilah Nyekiklik Channel, Kumpulan Pemuda Kreatif di Cluwak-Pati


Percaya Diri Angkat Guyonan Khas Bumi Mina Tani
 
Para personil Nyekiklik saat berbincang di Cafe Gojoos Kelat Senin (29/1/18)
Berawal dari teman satu tongkrongan, Nyekiklik Channel hadir. Mereka percaya diri menampilkan guyonan dengan mengusung dialek khas asalnya, Kabupaten Pati di layar Youtube.

Obrolan terasa gayeng, saat saya mencoba menggali kisah tentang Nyekiklik Channel yang belakangan menjadi perhatian khalayak. Lontaran-lontaran joke humor segar, terus keluar dari para punggawa channel Youtube yang baru seumur jagung ini.
Tak terasa, obrolan di sebuah kafe itu melewati 60 menit dengan cepat. Channel humor yang digawangi Chris, Bayu, Dian, Jatmiko, dan Mela ini boleh dibilang memang unik. Mereka menampilkan sisi-sisi humor yang khas.
”Kami memang menampilkan kekhasan dari Pati. Terutama memang dialeknya. Em, leh, dan lainnya. Dimanapun Pati memang dikenal pertama sebab dialeknya. Kami mengangkat itu,” kata Dian salah satu penggawa Nyekiklik Channel.
Begitu pula dengan penamaan channel. Penamaan ini pun mengusung tema Pati. ”Pada saat berembuk nama, semua memang sepakat. Harus menggunakan nama yang khas dengan Pati. Maka terpilihlah nama Nyekiklik,” sambung Chris, penggawa paling senior dilihat dari KTP.
Nama Nyekiklik sendiri memang dialek Pati. Artinya tertawa terbahak-bahak, seperti tujuan mereka yang ingin mengajak sedulur Nyekiklik-sebutan untuk fans mereka- untuk tertawa terbahak-bahak. Nama Nyekiklik itu sendiri muncul dari usulan Jatmiko yang lebih dikenal sebab memerankan karakter Pongge di setiap video unggahan mereka.
Channel yang terbentuk sejak November 2017 ini sekarang sudah menampilkan sebanyak 11 video-video humor yang dijamin bisa menggelitik perut. Meski baru, sudah banyak yang menaruh perhatian dengan channel yang mayoritas punggawanya dari Desa Payak ini.
”Bahkan di sebuah video, si Pongge secara tak sengaja mengucapkan kata “mu” padahal itu bukan dialek Pati. Lantas ada yang mengomentari hal itu,” kata Dian.
Nyekiklik hadir memang berawal dari sebuah tongkrongan. Dari pada hanya nongkrong tak jelas, maka sepakatlah mereka untuk berkarya. Selain menyuguhkan video humor dengan dialek khas Pati, Nyekiklik pun ingin menyuguhkan alam Pati.
Seperti yang dituangkan dalam video-video awal garapan mereka. Video itu berjudul Jejak Si Pongge, yang menampilkan  alam desa mereka. Lebih dari itu, Nyekiklik tampaknya mengamalkan kata-kata ndakik yang sering terlontarkan. Kreativitas Tanpa Batas.
Itu lantaran video-video yang mereka buat memang seadanya. Seperti alat penunjang hingga skenario video jarang mereka pakai. ”Diakui, Nyekiklik memang berjalan sangat mengalir. Asal rekam, tapi tetap kreativitas dan sisi keunikan diperhatikan dengan detail,” sahut Bayu Gesang, satu-satunya punggawa Nyekiklik yang dari luar Desa Payak. Lelaki kurus kering ini warga Desa Karangsari.
Kreativitas tanpa batas ini memang diakui seluruh punggawa Nyekiklik. Peralatan sederhana, hanya bermodal satu kamera DSLR biasa. Tak ada penunjang alat lainnya.
Namun itu semua tak menjadi halangan mereka berkarya. Buktinya, di tengah keterbatasan itu, memang secara total menyajikan konten-konten yang benar-benar menghibur dan natural. Soal natural, Nyekiklik boleh diacungi jempol. Dalam penggarapan video-videonya tak jarang memang sangat natural. Tanpa ada teks skenario.
Hanya ada kerangka-kerangka, aktor harus mengeksplore imajinasinya sendiri. Dialog-dialog pun juga eksplorasi sendiri. ”Bahkan di salah satu video, ketika kami kekurangan pemain, ada seorang lewat kami seret untuk berakting di depan kamera. Hanya sedikit arahan, dan jadilah dialog lepas yang videonya menjadi paling banyak ditonton,” imbuh Bayu.
Nyekiklik terus berbenah. Mereka ingin menjadi channel yang memang profesional. Sejumlah plan sudah tertulis. Mulai konsistensi berkarya, hingga pewujudan sebuah basecamp untuk menunjang kreativitas mereka. ”Setiap pekan, minimal satu video kami suguhkan, itu tekad kami,” terangnya. (Achmad Ulil Albab)
 



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »