Jadi Pembaca yang Bertanggung Jawab, dengan Menulis Resensi



Al Mahfud, Peresensi buku

DOKUMEN PRIBADI


Keseharian Al Mahfud banyak dihabiskan dengan membaca buku. Tak sekdar membaca sambil lalu, dia membaca dengan serius. Kemudian menuangkan bacaan itu menjadi resensi, dan dia kirimkan ke media penyedia rubrik resensi di penjuru negeri.  


Beragam judul buku menumpuk di sebuah meja kayu. Mulai buku fiksi hingga non fiksi. Di rumahnya itu Al Mahfud mengisi kesehariannya dengan menulis dan membaca buku. Ada mungkin ratusan buku dengan ketebalan bervariasi.
Tapi dari ratusan buku yang menumpuk itu, Al Mahfud tak banyak merogoh koceknya. Buku-buku itu dikirim dari penerbit yang merasakan servis pria lajang kelahiran Pati, 9 Maret 1992 ini.
”Ya kebanyakan, bahkan mayoritas koleksi saya hasil kiriman dari penerbit yang sebelumnya buku dari penerbit itu saya resensi dan tayang di media,” kata Al Mahfud.
Itu menjadi salah satu enaknya menjadi peresensi buku. Bisa dapat kiriman buku dari penerbit, juga kadang, dan lebih sering dapat honor dari media. Aktivitas ini sudah lama dia tekuni. Kurang lebih sekitar 2014, saat mas akhir kuliah.
”Awalnya coba-coba kirim, lalu banyak kemuat di beberapa media. Baik lokal di Jawa Tengah hingga media nasional dan juga lokal di luar Jawa,” kata alumni S1 Tarbiyah/PAI STAIN Kudus ini.
 Bagi Al Mahfud, selain mendapat sejumlah reward itu, ada yang masih penting untuk dirinya. Dimana menulis resensi buku menjadikan dirinya sebagai pembaca yang bertanggung jawab.
”Memang sangat berbeda jika hanya membaca seperti biasa. Kalau kita membaca dengan anagan-angan akan menuangkan hasil bacaan itu menjadi resensi, kita pasti akan serius membaca. Memahami kalimat demi kalimat yang disajikan. Dan tentu pemahaman kita akan lebih terstruktur kalau dituangkan lewat tulisan resensi,” jelas pria yang aktif di kajian diskusi Paradigma Institute (Parist) Kudus ini.
Soal menulis resensi, bagi pria yang juga menggemari dunia sastra ini, tidak ada kata gampang dan tidak gampang. Baginya menulis resensi itu soal gairah. Sreg atau kurang sreg dengan judul buku yang ada.
”Untuk itu harus ada kegairahan dalam menuliskan resensi. Makanya, tiap resensi saya tayang di media, saya pesan buku-buku yang sesuai selera,” kata pria yang juga pernah menyabet Juara Cerpen Nasional yang diadakan Forum Pemuda Bangun Negeri pada 2014 lalu dengan cerpennya yang berjudul Puteri Bunga.
Al mahfud selalu memilih buku-buku tentang sosial. Seperti bbuku-buku biografi. Dia juga menggemari fiksi, dan juga buku-buku soal sejarah. Baiknya, para penerbit yang menjadi langganan Al Mahfud selalu mengabulkan itu.
Buku-buku yang sesuai seleranya itu makin hari, memang makin menjejali rumahnya yang berada di pedesaan Kota Nasi Gandul. Sebab produktivitas kepenulisannya memang patut diacungi jempol.
Dia sering memanfaatkan waktu pagi menjadi saat yang tepat untuk menulis. Pagi setelah subuh bagi Al Mahfud menjadi momentum tepat untuk mempertanggungjawabkan hasil bacaannya itu.
”Kalau masih pagi, otak masih segar. Enak buat nulis. Dan kebanyakan saya menulis ya memang di waktu pagi seperti ini,” papar penggila talkshow Mata Najwa sejak di stasiun tv lama hingga berpindah ke stasiun tv baru ini. (Nur Khasan)




   

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »