Kue Gandos Manis, Jajanan Legendaris Era 80 hingga 90an


Menikmati Serunya Jajanan Nostalgia


Di Jepara utara, bagi anak kelahiran 90an, pasti kenal dengan jajanan satu ini. Namanya Kue Gandos. Jajanan ini sudah ada sejak 1979. Cita rasa serta bahan membuatnya, hingga kini tetap dipertahankan.


Dari jauh, mata Rifa’i berbinar. Dia melihat seorang pria lanjut usia menuangkan satu adonan ke dalam cetakan. Sesekali pria itu melumuri adonan setengah matang itu dengan susu coklat. Kemudian mencongkel adonan itu ketika terlihat sudah matang coklat kekuningan.
Aromanya harum. Dipadukan dengan sedikit aroma gosong-gosong yang menggoda selera, membuat perut Rifa’i berontak ingin melahap jajanan tersebut. Terlebih saat itu hujan rintik-rintik turun di Jalan Raya Tayu – Jepara.
Rifa’i mendekat, dia mengulurkan pecahan Rp 10 ribu untuk menebus beberapa potong kue berbentuk setengah lingkaran tersebut. ”Pak beli Rp 10 ribu sedapatnya,” kata Rifa’i sambil mengulurkan uang tersebut kepada si penjual yang tak asing wajahnya itu.
Wajah pria tua itu akrab di mata Rifa’i 10 tahun lalu, saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Rifa’i kerap merengek minta uang untuk jajan kue bercita rasa manis itu.
Ya, bapak tua itu bernama Takrim. Dia satu-satunya penjual Kue Gandos yang bertahan. Sejak 1979 pria yang tinggal di Desa Kelet Kecamatan Keling tersebut, sudah menjajakan kue tradisional sejenis apem-apeman ini.
Takrim berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, tak jarang dia juga berkeliling dari satu rumah ke rumah di sudut-sudut kampung. Hingga kini kurang lebih sudah 39 tahun dia setia menjual kue ini.
”Awalnya saya dulu belajar dari orang Tasikmalaya. Waktu itu dia di Kelet sini. Kalau di Jakarta kue ini namanya Kue Pancong, tapi di sini akrabnya dengan Kue Gandos Manis,” paparnya di sela-sela menuangkan adonan demi adonan ke pemanggangan yang muat sekitar 20an biji kue ini.
Dia menjadi yang pertama berjualan Kue Gandos ini di Jepara utara. Tetapi ada juga yang mengikuti jejaknya, namun tak semuanya setia hingga di zaman now ini. Mereka hanya eksis di zaman old masa lalu saja.
Kue Gandos ini memang menarik. Boleh dibilang antik. ”Bahan serta resepnya sejak 39 tahun lalu tetap sama. Tepung terigu dicampur beras, kelapa, santan, pisang, dan juga garam dengan tambahan pengembang kue,” imbuh Takrim dengan tangan cekatan mencongkel satu demi satu kue yang sudah matang.
Selain mempertahankan cita rasa, dia juga mempertahankan keotentikan peralatan jualannyan. Media jualan tetap sama, yakni pikulan, sama seperti dulu. Dia tak berganti menggunakan sepeda motor seperti penjual jajan lainnya, serta alat congkelnya yang mirip clurit kecil pun tetap sama. Meskipun jajanan ini terbilang jajanan jaman dulu (jadul), namun hingga kini peminatnya tak berkurang sedikitpun.
”Tak surut penikmat kue ini, setiap hari, kini hampir 200 lebih biji kue terjual, satunya Rp 500. Keuntungan bersih bisa Rp 100 ribu per hari sekali mangkal,” kata Takrim.
Saat ini memang Takrim hanya mangkal, tak berkeliling lagi seperti puluhan tahun lalu. Terakhir berkeliling sekitar 2007. Setelahnya, dia lebih sering mangkal untuk menjajakan Kue Gandos ini. Seperti di depan perkantoran.
”Meski tak keliling, namun tetap saja ada yang beli. Kebanyakan mereka mengenang mas kecilnya. Oh iya ini dulu jajananku, terlebih di sini hanya ada satu-satunya,” katanya menirukan beberapa pembelinya. (Achmad Ulil Albab)
          




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »