Diecaster, Bukan Sembarang Pecinta Mobil-mobilan




Tak sedikit yang mencibir para kolektor dan pecinta mobil-mobilan. Sudah dewasa masih saja bergumul dengan mainan anak-anak. Begitu biasanya, orang-orang yang belum paham soal hobi mengoleksi mainan mobil-mobilan yang rintisannya muncul pada abad ke 20 itu.
Ketua Komunitas Diecaster Pati, Whido Danang Kesumo membenarkan. Bagi mereka yang belum paham dengan hobi yang satu ini, sudah pasti siapapun mencibir. Namun perlu diketahui, hobi mobil-mobilan ini bukan hobi sembarangan.
Bahkan pernah terjadi. Ketika sedang berburu koleksi ke sebuah supermarket, banyak yang melihat keheranan. ”Ya sudah pasti. Itu orang-orang dewasa kok rame-rame milih mainan. Tetapi ada yang sudah paham, lalu berbasa-basi. Kolektor ya mas,” kata Widho mengenang kejadian itu.
Ada nilai estetika kepuasan. Di samping itu, ada pula nilai investasi melalui koleksi mobil-mobilan. Lazim disebut dengan istilah kolekdol. Dikoleksi dulu, kalau laku yang didol atau dijual. Terlebih, yang paling menarik dari hobi ini ada pada seni custom mobil-mobilan itu sendiri.
Custom-custom yang paling menarik. Misalnya mengganti ban, velg, nambah decal, stiker. Lalu membuat detail-detail seperti mobil mirip seperti aslinya betulan. Lampu sein menyala, roda bisa belok, bisa membuka kap dan pintu. Termasuk juga custom detail di bagian interior. Disitulah letak keseruan hobi ini. Di samping bisa pula menjadi barang investasi seperti kolekdol itu,” papar Whido.
Sementara itu, tentang kolekdol, hobi ini punya daya tarik sendiri. Selalu ada sebuah item yang menjadi incaran dan buruan. Khususnya di salah satu merk mobil-mobilan yang terkenal.
”Nah disitu nilai kolekdolnya muncul. Keuntungan itu tergantung pada kondisi pasaran, serta item-item yang sedang menjadi buruan. Jika ada lelang, satu unit bisa meraup untung 30 hingga 50 persen,” papar sang ketua.
Itu merupakan gambaran-gambaran kepuasan dari hobi ini. Dapat mengoleksi barangnya, mengutak-atik lalu kalau sudah waktunya, koleksi masuk kolekdol. ”Laku dijual saja,” pungkas Widho. Anggota dari komunitas ini sangat beragam. Ada PNS, ada karyawan swasta, mahasiswa hingga anak sekolah. (lil)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »