Gedung Kesenian Dikeluhkan, Begini Kondisinya




Lingkar Muria, PATI – Keberadaan gedung kesenian Pati yang berada di komplek Stadion Joyokusumo mendapat sorotan. Anggota komisi D DPRD Kabupaten Pati, Jamari menyayangkan bangunan yang menelan anggaran sekitar Rp 650 juta tersebut. Sebab bangunan tersebut tak banyak berguna sebagaimana mestinya.
”Desain bangunannya boleh dibilang mengecewakan. Itu tak merepresentasikan sebuah gedung kesenian yang berfungsi sebagai gedung pertunjukan. Melainkan hanya banguna pendapa saja,” sesal politisi dari PDI Perjuangan ini.
Lebih lanjut, pihaknya mengungkapkan, bentuk bangunannya memang sangat kurang. Seharusnya tidak hanya pendapa terbuka seperti itu. ”Kalau untuk pertunjukan apapun akan sulit, dan tak maksimal. Misal untuk pertunjukan teater akan sulit untuk menata pencahayaan. Disamping itu juga tidak tersedia tribun untuk penonton,” imbuhnya.
Hal itu disebutnya sebagai salah konsep pembangunan sebuah gedung kesenian. Seharusnya dalam desain bangunan itu para pelaku seni dilibatkan. ”Waktu perencanaan saya heran. Kok begitu jadinya,” kata Jamari heran.
Lebih lanjut Jamari mengungkapkan, gedung kesenian seharusnya paling tidak seperti anjungan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. ”Jadi ada tribun penonton melingkar. Dengan seperti itu, akan memudahkan untuk pentas apa saja, dan akan berfungsi sangat baik untuk sebuah pentas. Kedepan coba akan kami komunikasikan dengan pemkab terkait hal itu,” papar Jamari.
Senada dengan Jamari, salah satu pegiat kesenian di Kabupaten Pati, Beni Dewa mengungkapkan kekecewaan yang sama. Menurutnya di Pati belum ada sarana dan prasarana yang mendukung dunia kesenian di Bumi Mina Tani ini.
”Gedung kesenian di Pati tak ideal. Kotor tak terawat. Untuk pentas juga tak bisa maksimal sebab tempatnya terbuka seperti itu,” papar Beni.
Selain itu, di area tersebut kendaraan banyak yang masuk, sehingga mengganggu kegiatan yang akan digelar di sana. ”Khusus untuk penyelenggaraan pentas teater juga sulit terutama untuk setting panggung maupun tata cahaya.
Selain itu pihaknya juga menyesalkan satu hal. Dimana sektor kesenian sekarang masuk di ranah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Namun saat hendak meminjam aula SKB rasanya seperti dipersulit.
”Banyak alasan. Seperti ada kegiatan extra. Padahal, seharusnya kelompok kesenian mestinya didorong serta dibina. Salah satunya dengan kemudahan-kemudahan seperti kemudahan dalam peminjaman tempat,” papar pria yang bergiat di Teater Mina Tani ini. (aua) 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »