Melihat Kiprah MTs Abadiyah Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati


 Madrasah Pinggiran Prestasi Jempolan


Madrasah erat kaitannya dengan stigma kuno dan kolot. Pamornya sudah pasti kalah dengan sekolah negeri. Namun itu tak berlaku di MTs Abadiyah. Sekolahan di pinggiran Kota Pati ini dua tahun belakangan prestasinya makin moncer.


Di temani Kepala MTs Abadiyah Saiful Islam, Ali Syarifudin antusias berkisah. Pria bertubuh gempal ini adalah salah satu di balik kegemilangan prestasi MTs Abadiyah di bidang sains. Selain Ferry Ferdian dan juga Ami Triono.
 Sambil berkisah, dia tampak membuka-buka sebuah buku besar. Mirip sebuah buku album foto kenangan.
Namun itu bukan album kenangan. Buku itu adalah buku siswa berprestasi dari madrasah seluruh Indonesia. Buku itu disusun Kementrian Agama. Pejabat penting sekelas Dr. Phil Mohamad Komarudin memberikan testimoni di buku bersampul oranye tersebut.
Di buku setebal hampir 300 halaman itu, ada satu nama siswa dari MTs Abadiyah. Itu siswa binaan Ali Syarifudin. Namanya Muhamad Ulinnuha. Siswa yang kini duduk di kelas IX ini telah berhasil menyabet berbagai ajang lomba matematika. Tak hanya tingkat lokal, dia pun mampu meraih nya hingga tingkat internasional. Di ajang internasional, terakhir Ulinnuha menyabet medali perak di SIMOC Singapore Internasional Math Olympiad Challenge tahun 2016.

Selain Ulinnuha, ada lagi. Namanya Naila Karomatul Ulya. Dia meraih perak di event TIMO 2018, Thailand International Mathematic Olympiad di Bangkok Thailand awal Maret 2018  kemarin. Selain keduanya, masih ada lagi. Kurang lebih ada enam siswa-siswi.
Tak heran, di ruang tamu kepala sekolah itu, puluhan piala terpajang rapi di almari. Tak kalah, piagam beserta medali juga memenuhi dindingnya. ”Kira-kira sejak 2015 lalu, prestasi siswa-siswi di sini mulai moncer. Terutama bidang matematikanya,” kata alumni UNISMA Jurusan Pendidikan Matematika ini.
Ali melanjutkan, sejak itu dirinya memang mendorong anak didiknya untuk maju. Berbagai perlombaan diikuti, berbagai gelar juara berhasil dibawa pulang. Mulai dari O2SN hingga sekelas olimpiade.
”Problemnya, sekolah-sekolah di pinggiran seperti Abadiyah ini memang jarang punya akses. Namun jika mau berusaha ya pasti bisa tentunya,” kata pria yang saat berstatus mahasiswa kerap menjadi guru les matematika ini.
Dari situ, Ali lantas tergugah. Dia mulai melakukan pembinaan rutin. Sepulang sekolah dia membina anak-anak di Pusat Pendidikan Matematika Abadiyah. Sepekan lima kali pembinaan sepulang sekolah hingga pukul 17.00. Bahkan saat libur kadang digunakan untuk belajar memperdalam matematika.
”Kami menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Kalau hanya pembinaan yang biasa, dua jam saya rasa anak sudah ngantuk dan ingin pulang,” lanjut Ali.
Pembinaan yang menyenangkan itu lanjut Ali, seperti memeragakan permainan-permainan matematik. ”Anak-anak sering saya berikan semacam trik-trik pemecahan masalah hingga sulap angka. Disitu anak menjadi tertarik,” kata Ali.
Namun, ada yang lebih penting, Ali menambahi. Mentoring diakuinya cukup penting. ”Selain mengajar dan membina kami juga menjadi tempat berkeluh kesah anak-anak. Hingga sebuah kedekatan muncul disitu,” papar Ali.
Sementara itu kepala MTs Abadiyah, Saiful Islam menuturkan, dirinya sangat berterimakasih dengan kerja keras dari tim pendidikan matematika yang digawangi Ali cs. ”Ini tentu membuktikan kiprah madrasah, dimana yang dianggap pinggiran, mampu menorehkan prestasi tinggi, mengalahkan sekolah-sekolah negeri favorit dan bonafit. Ini sebuah kebanggaan yang luar biasa,” kata Saiful Islam.
Keberhasilan dengan sejumlah raihan prestasi ini, diharapkannya tak hanya menjadi sebuah ajang kompetisi saja. ”Keberhasilan ini tentu harus diikuti mata pelajaran lainnya, supaya lebih berprestasi. Dan itu tentunya harus menjadi laku fastabiqul khoirot dalam berprestasi. Akhirnya semangat berprestasi bisa membudaya di sini,” jelasnya penuh optimisme. (Achmad Ulil Albab)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »