Suluk Maleman, Kepekokan Massal Melanda Bangsa





PATI – Ngaji budaya Suluk Maleman kembali hadir. Di edisi yang ke 76 itu, Suluk Maleman hadir mengolah rasa para jamaah dengan tema Zaman Pekok Now, Sabtu (21/4) malam lalu di Rumah Adab Indonesia Mulia Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 70.
Suguhan musik khas ala Orkes Puisi Sampak Gusuran membuka acara itu. lagu-lagu soal kritik soal dilantunkan hingga membius puluhan jamaah yang duduk bersila. Tiga lagu dimainkan, acara kemudian dimulai oleh pembina Suluk Maleman Habib Anis Sholeh Ba’asyin.
Malam itu, Habib Anis membuka dengan kritikannya soal laku orang-orang yang sekarang banyak yang sumpek. ”Kesumpekan itu yang menjadikan pola pikir sumbu pendek. Misalnya, baru-baru ini Ganjar Pranowo dilaporkan karena membaca puisi yang menurut satu kelompok itu adalah penistaan agama, namun kemudian dicabut saat tahu itu puisinya Gus Mus. Lalu kemudian minta maaf,” kata Habib Anis. 
Menurutnya, kesumpekan itu berlatar dari kepekokan yang kini banyak diderita orang-orang. ”Pola pikir yang sumbu pendek ini yang merpotkan,” imbuh Habib Anis.
Sementara itu Saratri Wilonoyudho, menyadari kepekokan masal ini memang benar-benar terjadi. Akademisi dan juga penggiat budaya dari Semarang ini menyadari betul kepekokan yang menurutnya telah menjangkiti bangsa Indonesia.
”Bagaimana tidak pekok, misalnya kita ini punya makanan-makanan khas yang sehat dan murah, namun memilih makanan mahal dan tidak sehat. Contohnya kini banyak yang suka makan-makan seperti burger dan sejenis makanan produk impor ketimbang melahap makanan pecel misalnya. Itu kan pekok,” kata Saratri disambut tawa para jamaah.
Lanjut Saratri, pola pikir pekok itu yang menjadikan orang tidak jernih memilih. ”Ya seperti kasus memilih makanan itu. rasanya nyata pekoknya saya pikir,” papar Saratri.
Ngaji budaya kali tambah gayeng, ketika salah satu budayawan Eko Tunas yang datang malam itu menampilkan sebuah monolog. Eko Tunas yang banyak menulis naskah teater ini menampilkan monolog. Lagi-lagi monolog yang menyoroti persoalan bangsa ini. Eko Tunas dalam monolognya menyinggung juga soal arak dan kopi. Dulu di zaman penjajahan, Belanda mengajari minum arak, namun dilawan dengan minum wedang kopi.
”Dulu para tokoh-tokoh bangsa dalam setiap pertemuan, menyuguhkan kopi bukan arak. Apa jadinya jika yang disuguhkan arak, tentu kemerdekaan ini tak pernah terwujud. Sebab para tokohnya mabuk,” kata Eko Tunas yang menyihir jamaah dengan kemampuan monolognya. (lil)
      


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »