Tawuran, dan Cara Anak Mengisi Kebosanan





Akhir pekan, Sabtu (16/12) lalu Polres Pati menangkap setidaknya 25 anak yang baru gede. Masih berseragam, mereka pelajar setingkat SMP. Para pelajar yang semuanya laki-laki ini bergerombol di sebuah warung di dekat SPBU. Saat diamankan, salah satu dari mereka kedapatan membawa satu buah clurit dan juga regam.
Mereka hendak tawuran, namun sebelum pecah tawuran itu, gelagat mereka sudah tercium aparat dan akhirnya mereka disikat, lalu diamankan ke Mapolres. Guru dari sekolah bersangkutan diundang. Begitu pula para orang tua pelajar belia itu.
Belakangan, kabar dari beberapa kawan intelijen, terindikasi pelajar di beberapa sekolahan memang hendak menggelar hajat tawuran. Cerita yang berkembang, sejak lama beberapa sekolahan memang pelajarnya kerap baku hantam. Aksi tawuran boleh dikatakan sebagai aksi turun temurun, warisan dari kakak kelas mereka bertahun-tahun. Ironis.
Gambaran singkatnya, kelas 3 tawuran dengan sekolah lain, adik kelas diajak. Kemudian kesempatan lain ada tawuran, adik kelasnya diajak lagi. Jadi ada semacam regenerasi dalam dinamika tawuran pelajar yang terjadi. Dengan begitu, satu sekolah dengan sekolah lain punya sisi emosional saling balas yang kuat sekali di kalangan siswanya. 
Melihat hal itu, saya jadi teringat apa yang dikatakan Jean Piget, psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori perkembangan kognitif. Kaum muda termasuk para pelajar, termasuk dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought).
Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari. ”Kini, ia makin menyadari keberadaan masalah-masalah disekelilingnya. Salah satunya, bagaimana membuktikan kesetiakawanan.”
Nah sisi kesetiakawan yang keliru itulah yang banyak terjadi, saat terjadi gesekan yang berujung pada aksi tawuran. Konsekuensi logis sesuai perkembangan kognitifnya itu mengatakan, supaya ia mengikuti segala aturan kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah untuk anak susia mereka.
Itu dari segi internal psikologi para pelajar muda. Sedangkan masih ada beberapa faktor, yang mana faktor itu cukup penting diperhatikan. Selama ini yang sering terjadi tawuran merupakan pelajar dalam tanda kutip, sekolahnya yang kurang kegiatan, atau ada kegiatan tapi kurang menarik bagi siswanya. Hal ini dibenarkan salah satu polisi saat saya tanyakan tentang faktor dari sekolah itu sendiri.
”Para pelajar yang suka tawur ini, memang dari sekolahan yang kurang kegiatan,” katanya singkat. Hal ini bisa jadi benar, sebab rata-rata usai sekolah para pelajar yang sering terlibat tawuran ini menghabiskan waktu kongkow-kongkow dengan temannya, begitupun saat ditangkap, mereka sedang kongkow di sebuah warung.
Saat bergerombol kepercayaan diri akan meningkat, dan menyulut untuk baku hantam sangat mudah sekali.
Melihat fenomena ini, tentu pihak sekolah mesti berbenah. Sebagai penyedia jasa pendidikan, dan berkewajiban mendidik siswanya, tentu harus ikut bertanggung jawab meminimalisir terjadinya aksi tawuran ini.
Bisa jadi tiap sekolahan pasti punya kegiatan diluar jam pelajaran. Biasanya ada ekstrakurikuler, tapi entah sebagaimana pengalaman saya sekolah dulu, tak jarang ektrakurikuler hanya kegiatan rutinitas membosankan. Hingga banyak anak yang memilih kabur, dan bermain di luar sekolah hingga aktivitasnya tak terkontrol, lalu pada akhirnya terlibat aksi tawuran antar pelajar.
Memang banyak faktor, tapi saya rasa faktor kegiatan di sekolahan memang harus digalakkan. Guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Kegiatan-kegiatan di luar pelajaran mesti dibuat sevariatif mungkin, agar anak kerasan berkegiatan di sekolah. Baik itu kegiatan olahraga maupun seni.
Kembali soal aksi tawuran, hal itu tak serta merta anak yang mesti disalahkan, kita juga patut berbenah diri. Polisi, guru, terlebih orang tua itu sendiri. Jika dilihat dari beberapa hal yang telah terjadi, tawuran pelajar menurut saya memang cara terbaik anak mengisi kebosanan. Sebab di sekolahan guru belum menyediakan ruang yang menyenangkan bagi mereka. Tak salah mereka mengaktualisasikan diri unjuk kebolehan adu jotos di arena bebas. Begitu. (Achmad Ulil Albab)

Artikel ini pernah dimuat di harian "Tribun Jateng" versi cetak   




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »