Habib Lutfi : Ayo Merasa Memiliki Bangsa Ini




Maulana Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan mengajak seluruh masyarakat untuk kembali merasa memiliki bangsa ini. Bahkan itu memiliki sehelai rumput kering sekalipun. Pesan itu disampaikannya kepada ribuan orang yang memadati halaman Mapolres Pati Selasa (9/10) malam lalu, dalam acara Silaturahmi Akbar.
Kepada hadirin, Rais Am Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah  (Jatman) ini menyeru betapa pentingnya rasa memiliki tersebut. Sebab, rasa memiliki itu yang nantinya akan membawa orang memiliki rasa nasionalisme.
”Itulah mengapa perlu adanya peringatan hari kesaktian pancasila. Kenapa mesti hari kesaktian pancasila diperingati,” tanya Habib Luthfi.
Pancasila itu, kata Habib Luthfi adalah produk dari para pendahulu. Sebuah nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya sebagai generasi penerus wajib untuk menjaganya.
”Dalam momentum seperti inilah, harusnya menjadi momen syukur karena kita sebagai bangsa telah mendapat warisan karya yang bisa menjaga negara ini. Jaga pancasila ini, jangan sampai para pendahulu kita menangis dan kecewa di alam sana,” jelasnya.
Rasa memiliki itulah yang dianggap sangat penting untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Pengasuh Kanzus Sholawat ini lantas bercerita panjang lebar. Mulai dari zaman kerajaan hingga perjuangan kemerdekaan yang menurutnya berdarah-darah. Bukan kemerdekaan hadiah.
Habib Luthfi bercerita mengenai Nusantara yang mulai jatuh kepada bangsa penjajah, ditandai dengan takluknya Malaka kepada Portugis tahun 1511 Masehi, hingga bagaimana Pancasila terbentuk. Sejarah kebangsaan itu diharapkan terus tersemai kepada generasi muda.
”Sejarah-sejarah kelam seperti Kerajaan Demak yang hanya sampai empat generasi sultan misalnya, itu karena kurang adanya dukungan dari internal kerajaan. Ada semacam pembusukan dari dalam. Ini yang menjadi bahaya bagi kehidupan berbangsa,” paparnya.
Jangan sampai, lanjut Habib Luthfi, hal-hal seperti itu terjadi di pemerintahan Republik Indonesia. Jangan sampai muncul ketidakpercayaan kepada pemerintah, ulama, dan juga militer seperti TNI dan Polri.
”Strategi memecah belah, mulanya adalah menebar ketidakpercayaan. Itulah yang terjadi kepada Kerajaan Demak, maupun Turki yang dulunya menjadi mercusuar umat Islam. Kalau sampai begitu, bukan tidak mungkin negeri ini bisa pecah belah. Makanya jaga pancasila sebagai produk warisan generasi pendahulu ini. jaga betul-betul,” harap Habib Luthfi.
Selain Habib Luthfi, dalam acara Silaturahmi Akbar bertajuk “Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2018 dan Pelaksanaan Pemilu 2019 yang Aman, Damai dan Sejuk”, tampil sebagai pembicara adalah Habib Umar Muthohar dari Semarang.
Dalam kesempatan itu, Habib Umar yang terkenal akan guyonannya “Yak Nah” itu berpesan supaya menghadapi pemilu haruslah adem. ”Pilihan boleh beda, yang penting harus adem,” katanya.
Selain itu, Habib Umar juga berpesan kepada masyarakat untuk memanfaatkan momen pemilu lima tahunan sebagai kesempatan untuk memilih pemimpinnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Habib Ja’far Al Kaff dari Kudus. Dalam doanya, berulang kali habib berambut gondrong ini mendoakan supaya Pati, juga juga Indonesia tetap aman, damai, dan juga mendoakan ekonomi tetap lancar dan gampang.
Silaurahmi akbar ini sendiri merupakan bagian dari sebuah rangkaian acara. Mulai dari kirab merah putih, dan juga wawasan kebangsaan. Acara bertambah meriah dengan lantunan salawat yang dipimpin Habib Ali Zaenal Abidin dan diiringi grup hadrah Az Zahir dari Pekalongan. (yan)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »