Hebat, SMAN 2 Pati Juarai Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2018



Anggota tim musikalisasi puisi SMAN 2 Pati usai menjuarai lomba tingkat nasional


Prestasi membanggakan datang lagi dari Kota Nasi Gandul. Masih dari pelajar SMA, kali ini giliran SMAN 2 Pati yang membikin harum nama kota pinggiran ini, melalui prestasinya di lomba musikalilasai puisi tingkat nasional 2018, yang diselenggarakan balai bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 
Di ballroom Hotel Mercury Jakarta, akhir bulan kemarin, enam siswa-siswi SMAN 2 Pati membuat takjub seisi ruangan. Menampilkan musikalisasi puisi dari WS Rendra, berjudul Pertanyaan Penting, dan puisi Ahmadun Yosi Herfanda Nyanyian Seorang Pecinta, SMAN 2 pati dinobatkan sebagai juara pertama lomba musikalisasi puisi yang digelar balai bahasa kementrian pendidikan dan kebudayaan.
Menyingkirkan 34 pesaing dari 34 provinsi. SMAN 2 Pati mewakili Provinsi Jawa Tengah. Termasuk SMA di kota-kota besar seperti Jakarta. Di bidang kesenian ini, sekolah yang berada di Jalan Ahmad Yani ini boleh dibilang menjadi salah satu unggulan.
Tak heran, prestasi itu sekaligus menahbiskan tim musikalisasi puisi SMAN 2 Pati sebagai salah satu yang paling berprestasi. Sejak keikutsertaannya kali pertama di tahun 2014, SMAN 2 Pati sudah dua kali menjadi juara 1, yaitu pada 2015 dan tahun ini. Sementara di tahun 2017, mereka meraih juara ketiga. Dan di 2016 tak bisa ke tingkat nasional, karena tak bisa menjadi yang nomor satu di tingkat provinsi.
Namun, prestasi di tahun ini menjadi salah satu pengalaman menarik dan paling dikenang bagi SMAN 2 Pati, selain karena persiapannya menuju lomba tingkat nasional yang lumayan menguras tenaga dan fikiran, usai dinobatkan menjadi juara, mereka langsung diboyong menjadi pengisi acara dadakan di kongres bahasa 28 Oktober lalu di Hotel Sahid Jakarta.
Tampil di depan orang-orang penting membuat mereka sedikit grogi. Kongres itu sendiri dihadiri oleh para menteri, duta besar negara sahabat, hingga para sekda di seluruh Indonesia yang mewakili daerahnya masing-masing.
”Nyaris tanpa persiapan khusus. Setelah diumumkan juara, langsung diboyong ke kongres bahasa. Cek sound sebentar, lalu tampil. Lumayan lima menit yang mendebarkan. Namun sukses menghibur hadirin,” kata Endah Yuli Winarni, guru kesenian SMAN 2 Pati.
Perjuangan Berat
Sebelumnya, perjuangan untuk bisa ikut lomba musikalisasi puisi diakui lumayan berat. Tantangannya selain regenerasi pemain, juga soal membuat instrumen musik. Bagi Yuli, membuat instrumen musik biasa semisal pop, dengan instrumen untuk musikalisasi puisi sangat berbeda. Lebih menantang untuk musikalisasi puisi.
Karena, kata Yuli, dalam menciptakan musiknya harus memahami ilustrasi alur cerita puisi tersebut. Dinamika musiknya juga berbeda. ”Kadang harus bongkar pasang lagi dalam mengaransemen musik, kalau dicoba-coba rasanya kurang enak,” jelas alumni S1 pendidikan musik Unnes ini.
Apalagi seperti memusikalisasi puisi milik WS Rendra yang berjudul  Pertanyaan Penting, puisi tersebut berkisah tentang rakyat yang kalah. Seperti kasus Marsinah, tentu nada-nada yang harus disuguhkan adalah nada yang bisa memainkan emosi para penonton. Nada-nada yang mengajak penonton ikut bersedih sekaligus membangkitkan emosional penonton.
”Yang seperti itulah sulitnya. Apalagi waktu yang disediakan juga lumayan singkat,” imbunya.
Setelah memenangi di tingkat provinsi, panitia lomba nasional langsung mengirimkan naskah puisi-puisi yang menjadi pilihan untuk dimusikalisasi. Jeda waktu yang ada langsung dimaksimalkan.
”Kurang lebih dua pekan sampai satu bulanan lah instrumen untuk musikalisasi benar-benar matang, dan bisa ditampilkan. Beruntung kami memiliki anggota anak-anak yang cerdas yang bisa cepat menerima perubahan-perubahan nada, dan memainkan sesuai instrumen musik yang diharapkan,” papar perempuan yang berasal dari keluarga pemusik ini. (lil)





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »