Mengenang Tragedi Untuk Mengukir Prestasi




Judul Buku
Tragedi Tiket Montreal
Penulis
Eko Wardhana
Cetakan
2018
Halaman
320
13,5x20 cm
Penerbit
Indie Book Corner
ISBN
978-602-3093-54-0

Membincang sepakbola Indonesia lebih banyak membikin dada sesak. Para pendukung Timnas Garuda lebih akrab dengan drama-drama kegagalan tim kesayangannya, ketimbang keberhasilan menjuarai sebuah turnamen. Namun sayang, rentetan kegagalan timnas tak menjadikan pembelajaran untuk bangkit dan secepatnya mereguk prestasi.
Hingga saat ini Timnas Garuda belum sekalipun tampil sebagai juara dalam major turnamen. Paling mentok hanya mengantongi dua keping medali emas. Turnamen setingkat regional Piala AFF, Indonesia selalu gagal di babak final.
Indonesia adalah negara besar, tetapi prestasi sepakbolanya kecil. Penduduk Indonesia lebih dari 249 juta jiwa (2014), sepakbolanya sudah mendarah daging sejak zaman kolonial Belanda. Ada anekdot menarik yang lama beredar di belantika sepak bola kita, “Dengan negara seluas itu, dengan penduduk sebanyak itu, mengapa sulit sekali mendapat 11 orang terbaik di lapangan bola?” Singapura dengan hanya 5,4 juta penduduk, bisa mengoleksi 4 tropi Piala AFF, betapa mengenaskan Timnas Indonesia. (halaman 11)
Dari nasib mengenaskan itu, pada akhirnya selalu membawa masyarakat pecinta bola tanah air menghibur diri dengan kenangan semasa PSSI, sebutan bagi timnas kita sebelum tahun 1980-an, kuat dan berjaya di banyak turnamen, baik resmi maupun tidak resmi.
Kita pernah hadir di Piala Dunia 1938 dengan nama Hindia Belanda, menahan raksasa Uni Soviet 0-0 di Olimpiade 1956, hingga meraih medali perunggu Asian Games 1958, dua keping medali emas SEA Games 1987 dan 1991, serta beberapa kejuaraan lainnya. (halaman 17)
Namun, tanpa meremehkan pertandingan lainnya, sebuah kenangan perjuangan tim nasional yang paling fenomenal terjadi di perebutan tiket menuju Olimpiade Montreal. Perjuangan punggawa merah putih diceritakan dengan apik oleh penulisnya yang saat laga tersebut berlangsung masih duduk di bangku kelas VI SD, dan menontonnya melalui siaran TVRI hitam-putih dengan penyiar olahraga paling terkenal di masa itu, Sambas.
Kegagalan paling memilukan memang terjadi saat babak final Pre Olympic 1976, yang dihelat di Stadion Utama Senayan (Kini Stadion Gelora Bung Karno). Timnas Indonesia takluk atas Korea Utara melalui babak tos-tosan, setelah di waktu normal hanya mampu bermain seri 0-0. (halaman 169)
Perjuangan mati-matian telah dilakukan. Sebelum berhadapan dengan Korea Utara di final, timnas harus melakoni pertandingan hidup mati melawan musuh bebuyutan Malaysia yang berkesudahan dengan skor tipis 2 -1. Timnas Indonesia pun lantas bersua kembali dengan Korea Utara yang di babak penyisihan mengalahkan Indonesia dengan skor 1 – 2.
Di babak final perebutan satu tiket menuju olimpiade, penampilan Timnas Indonesia lumayan meyakinkan. Rony Pasla, pemain Persija Jakarta yang dipercaya pelatih Wiel Coerver mengawal gawang timnas tampil ciamik.
Pemain yang dijuluki ”Sang Burung Gagak”, karena gerakan lincahnya dan dulu sering berseragam gelap, berulang kali menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan penyerang Korea Utara yang dimotori veteran Piala Dunia 1966 di Inggris, An Se Uk. Bahkan, bapak-bapak yang nonton siaran langsung dari TVRI harus geleng-geleng kepala melihat penampilan Rony Pasla. Dalam percakapan berbahasa Jawa itu, mereka mengatakan, kalau bukan Rony Pasla yang mengawal gawang Indonesia mungkin sudah bobol dari tadi. (halaman 168)
Di babak penalti, Timnas Indonesia sejatinya berada di ambang kemenangan. Indonesia sedang berada di atas angin. Skor 3-3, Korea Utara sudah melakukan tendangan kelimanya atau terakhir dan ditepis Rony Pasla. Tinggal Indonesia, sedang bersiap melakukan tendangan pemungkas. Anjas Asmara bersiap, wasit Toshio Asami dari Jepang meniup peluit, kiper Korea Utara mencoba menebak arah bola... Anjas Asmara menyepak dengan penuh keyakinan. Bola sedikit melambung dan kiper Jin In Chol mampu mentip ke atas mistar. Disinilah puncak dari drama yang pernah dijuluki media sebagai Tragedi Senayan itu. (halaman 200)
Kemenangan di ujung mata buyar. Selanjutnya Korea Utara yang memanfaatkan keadaan dalam babak sudden death, hingga di penendang ketujuh, Suaib Rizal gagal menceploskan bola. Skor penalti berakhir 4-5 untuk kemenangan Korea Utara sekaligus merebut tiket menuju olimpiade.
Dampak kekalahan itu sangat mendalam bagi timnas. Kesedihan yang begitu pekat diselingi isak tangis para pemain, official, bahkan wartawan. Air mata deras menetes di sudut-sudut tribun. Tiket Olimpiade Montreal yang sudah ada di depan mata secara ajaib direbut Korea Utara dengan pertolongan Dewi Fortuna. (halaman 209)
Kapten Iswadi Idris sampai menangis meraung-raung histeris seperti orang gila. Pimpinan Majalah Olympic, S. Wardoyo yang menonton dari tribun sampai pingsan dan menjalani opname di rumah sakit. Anjas Asmara lebih remuk lagi. Satu bulan dia tak mampu menyentuh bola dan tak bisa tidur, bertahun-tahun tidak mau mengambil eksekusi penalti. (halaman 215)
Makin menyedihkan setelah tragedi final tiket Olimpiade Montreal itu, lambat laun prestasi timnas makin memburuk. Bukannnya mengambil pelajaran dari peristiwa memilukan itu. Berbeda dengan timnas Brazil. Maracanazo 1950, atau peristiwa kekalahan Brazil di partai final Piala Dunia di hadapan ribuan pendukungnya di Stadion Maracana, telah membawa negara samba itu melejit dengan raihan gelar piala dunia beruntun, 1958, 1962, dan 1970. Brazil menjadikan peristiwa itu pelajaran untuk bangkit.
Sedangkan timnas Indonesia pasca final Pre Olympic 1976, lebih banyak dihiasi rentetan kegagalan medio 1976-1979. Mulai dari Anniversary Cup, Merdeka Games, SEA Games, Pra Piala Dunia, dan juga Pre Olympic. Lebih mengenaskan, di Merdeka Games 1978. Setelah tampil meyakinkan mengalahkan Jepang dan Syria, sesuatu yang aneh terjadi. Indonesia beruntun kalah tanpa mencetak sebiji gol pun atas Irak, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan ditahan imbang Singapura 0-0.
Aroma busuk menyeruak. Sejumlah pemain inti diperiksa polisi  dan akhirnya diberi sanksi PSSI tidak boleh aktif di sepakbola karena telah mencoreng sportivitas dan menjual harga diri bangsa. (halaman 251)
Sayang memang, timnas kita tak menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit dan mengukir prestasi. Yang ada makin hari malah makin menambah kontroversi. Buku yang ditulis dengan penuh perasaan ini, sudah selayaknya mengingatkan pelaku sepakbola untuk bergegah membenahi diri. Agar kelak nyaris-nyaris berprestasi itu berubah menjadi prestasi manis. 

Nur Khasan, Peresensi Adalah Guru di SD N 2 Kelet Jepara 


    
   

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »