Mimpi Buruk Penjudi, Berganti Mimpi Manis Prestasi

ILUSTRASI ISTIMEWA


Teriakan lantang nan heroik dari Januar Herwanto, manajer Madura FC seakan menjadi awal mimpi buruk sepakbola Indonesia yang karut-marut di bawah bayang-bayang barisan mafia. Ya, sepakbola di negeri yang sudah 73 tahun merdeka ini, alih-alih menyuguhkan prestasi, lebih banyak malah membikin dada sesak. Sebab nihilnya trofi juara yang nangkring di lemari prestasi PSSI.
Bayangkan saja, sepakbola Indonesia yang sudah berkembang lama sejak zaman kolonialisme, bahkan pernah tampil di piala dunia dengan nama Hindia Belanda ini, tak mampu sekalipun merengkuh prestasi di ajang regional sekelas Piala AFF. Sejak kali pertama digelar dengan nama Piala Tiger, paling banter kita hanya puas duduk sebagai runner up. Prestasi Indonesia paling mentok dapat emas ajang multi event SEA Games, selain itu hanya mampu juara di turnamen-turnamen tak resmi milik sebuah negara. Merdeka Games misalnya, kejuaraan milik Malaysia.  
Selebihnya, sepakbola tanah air lebih lekat dengan beragam kontroversi, sekaligus berita miring bin buruk yang terdengar gaungnya dimana-mana. Kontroversi, ya semacam ketua umum yang berstatus narapidana, dualisme federasi, rentetan panjang kematian sia-sia suporter di stadion, baku hantam antar pemain, baku hantam dengan wasit. Hingga yang mencengangkan adalah mencuatnya skandal pengaturan skor, sogok-menyogok kepada wasit, hingga kepada pengurus yang memiliki kewenangan dalam kompetisi. Pokoknya bikin geleng-geleng kepala. Nyaris tak ada yang membikin kita tegak kepala jika berbicara soal sepakbola.
Tetapi kemudian, jelang akhir tahun 2018, berita soal perintah mengalah sebuah kesebelasan di pertandingan babak 8 besar Liga 2 dibeberkan ke publik dengan berani. Berita itu bersumber dari Januar, majaner Madura FC yang pemberani itu. Buntutnya panjang. Diskusi-diskusi maupun obrolan warung kopi, soal mafia bola makin nyaring terdengar. Hingga dibentuklah Satgas Antimafia Bola dari Mabes Polri yang digadang-gadang untuk bersih-bersih noda hitam di sepakbola Indonesia, yang mana noda hitam itu juga melekat di beberapa oknum PSSI melalui skandal match fixing yang sedang trending belakangan.
Aroma kecurangan di dunia kulit bundar tanah air sebenarnya sudah lama. Seperti yang sudah sering ditulis dalam pemberitaan, kecurangan itu laksana kentut. Bisa dirasakan, namun tak diketahui rimbanya. Itu yang menjadi kesulitan untuk memerangi skandal-skandal yang sudah kadung membekas di dunia sepakbola kita. Macam pengaturan skor itu.
Praktis melalui blak-blakan obrolan para pelaku sepakbola, sekaligus gerak cepat Satgas Antimafia Bola membuat ketar-ketir para pelaku  mafia alias penjudi bola itu, jika tidak, cukuplah pihak berwenang bisa mengorek siapa-siapa yang terlibat, siapa-siapa yang bermain dalam skandal tersebut melalui orang-orang yang sudah terlebih dahulu ditangkap dan ditetapkan tersangka.
Aksi bersih-bersih ini tentu mengundang angin segar untuk prestasi sepakbola yang lebih baik. Angin segar prestasi itu pantas dielu-elukan, sebab selama ini image kompetisi yang tak sehat dengan segala praktik licik kemenangan untuk mengeruk untung dan dukungan, sudah menjadi rahasia umum.
Benar-benar rahasia umum. Sedikit banyak, setahun belakangan saya sendiri mendengar langsung dari para pelaku sepakbola tanah air di daerah. Orang-orang di manajemen yang mengurusi teknis perjalanan sebuah kesebelasan dalam mengarungi kompetisi. Mereka dengan santai bercerita suap-menyuap yang sudah lumrah di sepakbola tanah air. Bahkan di level kompetisi paling bawah. Main mata wani piro dengan wasit harus dilakukan jika tak ingin dikerjai dalam sebuah pertandingan.
Namun hal itu sepertinya akan menjadi masa lalu. Kini dengan sigap mafia-mafia penoda sepakbola mulai menemui ajalnya. Mimpi buruk memang telah tiba bagi mafia itu. Kini, saatnya berganti mimpi indah prestasi untuk pecinta sepakbola tanah air. Tentu setelah kompetisi benar-benar bersih, permainan juga akan benar-benar bersih. Para pemain bisa menunjukkan permainan terbaiknya, tanpa ada faktor-faktor non teknis lainnya. Macam aksi dikerjai wasit lewat suap-menyuap. Hingga pada skandal pengaturan skor. Akhirnya. Kompetisi yang baik, dan bersih diyakini memang menjadi jalan terbaik menuju timnas yang lebih berprestasi. Lihatlah macam sepakbola Thailand bagaimana sepakbolanya berkembang. Jangan sungkan belajar dari tetangga. (Riyan Aziz)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »