Korupsi dan Azas Pencurian yang Harus Dilawan


Dokumen Pribadi

Alkisah. Nyai Ontosoroh meradang suatu pagi kepada sekaut (Red, kepala kepolisian distrik). Mertua Minke, dalam Roman Anak Semua Bangsa besutan Pramoedya Ananta Toer itu sedang terlibat pertengkaran kecil.
Pemicunya tak lain adalah sebuah azas. Sebelumnya, Nyai Ontosoroh dan Minke tak diperkenankan keluar rumah dalam beberapa hari, setelah Annelis dibawa berlayar (Red, dirampas dari suami dan mamanya) ke Belanda untuk menjalani perwalian. Pagi-pagi itu, setelah sekaut kabur, bersamaan dengan omelan Nyai Ontosoroh, giliran Minke yang mendapat ceramah dari mertuanya tersebut.
Katanya, biar kau kaya bagaimanapun, kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekalipun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela rumah.
Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya : mengambil milik tanpa ijin ; pencurian ; itu tidak benar, harus dilawan. Apalagai pencurian terhadap kebebasan kita selama beberapa hari ini. Nyai Ontosoroh menggerutu kesal. Sekaligus menggurui menantunya itu.
Nyai Ontosoroh memberondong pengajaran kepada Minke, menantunya yang seorang lulusan terbaik HBS Surabaya, pendidikan menengah umum setara SMA. Barangsiapa, kata Nyai Ontosoroh lagi, tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan ; dijahati atau menjahati.
Barangkali, azas yang dikemukakan Nyai Ontosoroh ada benarnya. Bahkan sangat benar. Bangsa Indonesia kini sedang mendapat ujian bagaimana melihat azas pencurian tersebut untuk dijadikan sebuah laku.
Azas pencurian tersebut nampaknya harus dilawan sungguhan. Sama seperti Nyai Ontosoroh yang meradang saat kebebasannya tiba-tiba dicuri. Dirampas. Azas pencurian itu patut menjadi perhatian masyarakat Indonesia menyambut gelaran Pemilu 2019 April mendatang. Masalah korupsi masih menjadi isu aktual di negeri ini. Korupsi sebagaimana dikemukakan Alatas (1987), sebagai pencurian yang melalui tindak penipuan dalam situasi menghianati kepercayaan.
Harian Jawa Pos (2/2/2019), mengabarkan, ada 49 calon anggota legislatif (caleg), yang berstatus mantan narapidana korupsi. Mereka siap berkontestasi menuju gedung parlemen. Menjadi wakil rakyat kita selama lima tahun kedepan. Mereka, masih akan punya kans untuk terpilih. Kans melakukan korupsi bisa saja terjadi lagi.
Tentunya satu-satunya hal yang patut kita lakukan sudah pasti melawannya. Caranya menghukum secara moral, tidak akan memercayai yang bersangkutan untuk menjadi wakil rakyat, untuk menduduki jabatan yang dulu pernah dicederainya sendiri. Pendeknya menolak mereka. Menolak memberikan kepercayaan kepada penjahat-penjahat yang sudah membikin bangsa ini menambah kemelaratannya.
Menghukum mereka, rasanya memang tidak hanya cukup di balik jeruji besi. Toh kita sudah tau sama tau bagaimana mereka diperlakukan di dalam penjara. Sebuah tayangan talkshow televisi pernah mengangkat hal itu. Mereka masih mendapat perlakuan manis di hotel prodeo. Bahkan cenderung diistimewakan. Ketimbang napi yang lainnya.
Hal mengejutkan juga muncul. Anggapan seperti Prabowo Subianto misalnya. Dalam debat capres edisi perdana, saat ditanya Jokowi dirinya mengatakan, kalau sudah diproses hukum, hukum mengizinkan, rakyat menghendaki, dan tentunya kalau (mungkin) korupsinya enggak seberapa. Pernyataan itu seketika membikin kaget saja.
Itu, sebuah pernyataan yang harusnya dilawan. Masyarakat harus menggaris bawahi hal itu. Jangan dilihat sebagai enggak seberapanya. Sama seperti Nyai Ontosoroh berkhotbah tentang azas pencurian. Bukan seberapanya, bukan nilainya. Melainkan tentang azas pencurian yang tak dibenarkan. Azasnya : mengambil milik tanpa ijin ; pencurian ; itu tidak benar, harus dilawan.
  
Achmad Ulil Albab, bergiat di PAC IPNU Keling-Jepara

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »