Warga Dukuhseti Dilatih Tanggap Bencana, dari Orang Tenggelam sampai Simulasi Gempa



PATI - Warga Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti mendapat pelatihan tanggap bencana Kamis (7/2/2019) di balaidesa setempat. Pelatihan diberikan oleh sejumlah mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Semarang. Pelatihan itu ditujukan untuk mengurangi resiko bencana yang sering kali menimpa warga.
Warga terdiri dari pemuda karang taruna maupun warga yang berprofesi nelayan antusias mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Nana Rochana, dosen pembimbing Undip menyebut, pengetahuan dasar tentang tanggap bencana harus dipahami masyarakat. Mengingat di Dukuhseti sering terjadi bencana seperti banjir, gempa bumi hingga orang tenggelam.
“Pengalaman pertolongan pertama pada korban bencana yang mengalami pingsan penting diketahui. Terlebih disini juga sebagian warganya berprofesi sebagai nelayan. Sehingga jika terjadi kecelakaan di laut dan ada korban tenggelam,” ujar Nana.
Langkah pertama, lanjutnya, yaitu dengan menolong korban keluar dari air. Jika tidak bisa meraih korban bisa dilakukan dengan menggunakan tali atau alat pengaman lain untuk menolong. Setelah berhasil, yang harus dilakukan yaitu mengecek pernafasan korban.
“Letakkan telinga kita di dekat mulut dan hidung korban. Ini dilakukan untik mengecek apakah masih ada pernafasan atau tidak. Lihatlah apakah dada korban tersebut bergerak atau tidak. Selain itu, kita juga bisa memeriksa denyut nadinya selama 10 detik,” jelasnya.
Jika memang tidak ada denyut nadi, maka selanjutnya harus dilakukan resusitasi jantung paru-paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Hal ini perlu dilakukan pada seseorang yang mengalami henti nafas karena sebab-sebab tertentu. Upaya CPR ini diharapkan mampu membuka kembali jalan nafas yang mengalami penyempitan atau bahkan tertutup sama sekali.
“Secara perlahan, angkatlah leher korban. Karena kemungkinan ada cidera pada leher. Lalu pencet hidung korban hingga tertutup. Lalu ambil nafas normal, kemudian tiuopkan nafas bantuan selalma dua detik. Setelah itu, ikuti dengan 30 kali menekan dada korban. Saat melihat dada naik, kembali lakukan upaya itu. Upayakan hal ini sebelum tim medis sampai di lokasi,” ujar Nana.
Pada kegiatan yang juga dihadiri Ketua Pusdalops BPBD Kabupaten Pati, Sunarto. Dia juga memimpin simulasi jika terjadi bencana gempa bumi. Pada kesempatan ini ia juga menerangkan tiga hal utama yang perlu dilakukan saat terjadi bencana.
“Yang pertama pastikan sebelum menolong orang lain, diri kita dalam keadaan aman. Setelah itu baru melakukan pertolongan pertama terhadap korban lain dan menunggu hingga tim bantuan medis datang. Dan yang ketiga, perlu juga dilakukan yaitu mencari barang-barang berharga yang masih mungkin bisa diselamatkan,” kata Sunarto.
Pada kesempatan ini, Suanrto juga mengajak kepada semua komponen masyarakat untuk meningkatkan kesiap-siagaan dan memprioritaskan upaya Pengurangan Resiko Bencana. Yaitu dengan terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, mulai dari tahap prabencana, saat bencana, sampai pascabencana.
“Selain itu, melalui pelatihan ini kami berharap akan semakin meningkatkan wawasan dan keterampilan para peserta sebagai tambahan potensi sumberdaya kesiap-siagaan khususnya di Dukuhseti. Sehingga masyarakat disini menjadi lebih tangguh dalam penanggulangan dan pengurangan risiko bencana,” pungkasnya. (hus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »