Melangitkan Doa, Melarung Energi Negatif untuk Indonesia di TPI Banyutowo

Gus Umar Fayumi memberikan tausiyah kebangsaan sekaligus memimpin doa lintas agama

 Matahari terik menyinari area TPI Banyutowo di Desa Banyutowo Kecamatan Dukuhseti, Sabtu (9/3/2019) lalu. Bunyi melodis gamelan, dan sepoi-sepoi angin pantai, menyambut hadirin. Janur-janur kuning ikut menghiasi jalan menuju TPI. Beberapa orang mengenakan setelan pakaian tradisional jawa. Berbatik, blangkon dan ada pula yang berjarik.

Anak-anak berseragam sekolah tak mau mengalah berdesakan. Para nelayan, dan warga sekitar tak ketinggalan. Sebuah pesta bernama Kenduri Nusantara 2019 digelar di pesisir utara wilayah Kabupaten Pati tersebut. Orang-orang menyemut. Menyaksikan ritual selamatan. Yang terutama dipanjatkan untuk keselamatan bangsa.

Kenduri nusantara itu bertajuk “Umbul Donga Larung Sukerto”. Maksudnya memanjatkan doa, dan melarung energi negatif ke lepas pantai. Adalah kembar mayang dan dua ekor bebek yang dilarung. Keduanya dijadikan perlambang.

Ipong Ismunarto, Ketua Panitia Kenduri Nusantara itu mengungkapkan, larung sukerto adalah simbol untuk melarung atau membuang hal negatif. Atau tindak tanduk yang bisa mengancam kelangsungan kehidupan berbangsa.
Kembar mayang yang akan dilarung

”Jadi ini tak sekadar hanya sebuah tradisi, tapi sebagai perwujudan tekad kami sebagai masyarakat Pati yang tak ingin melihat Ibu Pertiwi bersusah hati, melihat anak bangsanya sedang terkotak-kotak akibat perbedaan. Kami juga terinspirasi apa yang dilakukan warga Solo pekan lalu melalui kegiatan semacam ini yang bertajuk doa anak negeri,” terangnya di sebeleum acara larung sukerto dilaksanakan.

Acara itu sendiri dimulai pukul 14.00, dimulai dengan sambutan-sambutan, ngaji kebangsaan oleh Gus Umar Fayumi, dilanjutkan dengan doa lintas agama, pentas kesenian tayub, dan prosesi inti larung sukerto tersebut.

Lima perahu nelayan dikerahkan melarung ke laut sejauh kurang lebih satu kilometer dari bibir pantai. Selain rangkaian acara tersebut, ada juga kembul tumpeng. Panitia menyediakan sebanyak 25 tumpeng, dengan nasi merah putih. Perlambang keindonesiaan.
Perahu nelayan yang mengiringi prosesi larung 
”Ya intinya ini adalah tolak-balak. Di tengah kondisi bangsa yang semacam ini, semoga kebhinekaan sebagai ciri bangsa Indonesia bisa tetap survive mengarungi perjalanan hidup. Makanya kami juga melarung dua ekor bebek. Sebagai perlambang bebek yang tetap bisa bertahan hidup di atas air,” jelasnya. Lebih lanjut, pihaknya berharap kegiatan itu tak berhenti begitu saja.

”Kami berharap kegiatan semacam ini menginspirasi di tempat lain. Inilah saatnya menyatukan kembali kepingan-kepingan kerukunan. Merangkainya menjadi satu fragmen kehidupan yang menegaskan bahwa bangsa ini berbeda namun memiliki sisi harmonisasi kehidupan. Demi masa depan anak cucu,” tegas Ipong seperti dilansir di rilis resmi panitia kenduri nusantara. (alb)    


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »