Menjaga Arah Partisipasi Rakyat






Pemilu serentak 17 April kian dekat, sebentar lagi negara akan berpesta bersama seluruh rakyat. Itulah harapan normatif penyelenggara pemilu tiap kali menggelar hajatan demokrasi. Pertanyaannya adalah apakah harapan itu akan benar-benar terwujud?

Faktanya, setiap kali penyelenggaraan pemilu selalu dihantui oleh realitas yang cukup sulit dihadapi. Hantu tersebut bernama golongan putih (golput). Ya, golput memang selalu menjadi momok bagi pemilu.

Berdasarkan data Litbang Kompas yang dimuat dalam Harian Kompas (11/3/2019), yang dilakukan pada 5-6 Maret 2019 dengan melibatkan 567 responden di 16 kota besar di Indonesia menunjukkan, hampir semua responden (97,9 persen) menyatakan akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Presentase itu meningkat 4,5 persen dibandingkan respons dari responden pada jejak pendapat Kompas sekitar enam bulan lalu (Kompas, 24/9/2018).

Membaca data tersebut, secara gamblang kita bisa melihat ada trend positif terhadap partisipasi pemilu 2019 nanti. Namun kita tidak boleh tersenyum lebar-lebar. Sebab, ada hal yang mungkin saja “luput” dari survey, yakni semangat partisipasi pemilih yang pada faktanya mengarah kepada fanatisme yang berlebihan.

Bisa jadi karena calon presidennya hanya dua lah yang menyebabkan fanatisme berlebihan itu berakibat adanya pembelahan dalam masyarakat. Betapa tidak, mereka yang terlampau fanatik akan melakukan apapun untuk menyerang dan menjatuhkan lawannya. Sebagai contoh, ditangkapnya  tiga emak-emak pendukung paslon 02 pada Februari silam yang melakukan kampanye hitam. Kampanyenya sangat keterlaluan: Kalau Jokowi menang tidak ada lagi suara adzan, tidak ada lagi perempuan memakai kerudung, dan perkawinan sejenis akan diperbolehkan.

Realitas itu menimbulkan kegelisahan sebagian besar masyarakat. “Kok, pemilu sampai segitunya sih?” Kegelisahan itu sebenarnya sudah muncul sejak awal (bahkan sebelum) kampanye yang diwarnai dengan narasi fitnah dan hoaks. Bukan tidak mungkin kegelisahan tersebut akan berubah menjadi apatisme terhadap pemilu. Ini ancaman dari “hantu” itu bukan?

Akal sehat
Data Litbang Kompas juga menunjukkan tingginya dukungan terhadap gerakan antigolput. Jumlahnya lumayan tinggi, yakni 77,8 persen. Gerakan antigolput dinilai cukup efektif meningkatkan partisipasi rakyat.

Kita musti mengingat bahwa partisipasi pemilih cenderung menurun sejak Pemilu 2004. Pada Pemilu 2014, partisipasi pemilih menyentuh 75,11 persen untuk pemilu legislatif dan 69,58 persen pemilu eksekutif. Kini, KPU menargetkan tingkat partisipasi hingga 77,5 persen.

Partisispasi tersebut tentu kalah jauh dengan awal reformasi. Angka partisipasi pada Pemilu 1999 mencapai 92,7 persen. Yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemilu Orde Baru. Namun perbedaannya tentu terletak pada kecenderungan mobilisasi oleh penguasa yang otoriter saat itu.

Melihat data sejarah partisispasi tersebut tentu membuat kita bertanya-tanya mengapa tingkat partisipasi kian tahun kian menurun? Bukankah telah banyak orang mengagung-agungkan keberhasilan demokrasi kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab oleh elit-elit polotik yang ingin berkuasa nanti. Bahwa mereka harus menjawab realitas “demokrasi kebablasan” yang ditunjukkan dengan buruknya fanatisme berlebih pada pemilu kali ini. Dengan menjawab itu, rakyat akan menilai sendiri siapa pemimpin yang layak untuk didukung dan dipilih. Tentunya dengan akal sehat. Akal sehat yang menyehatkan demokrasi, bukan membunuh demokrasi.[]     

Faqih Mansyur Hidayat, tinggal di Kota Ukir

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »