Ke Pulau Panjang, Ziarah dan Mereguk Air Berkah (3)





Bersimpuh di depan makam


Matahari telah benar-benar tenggelam. Langit gelap. Kesunyian Pulau Panjang makin terasa. Lampu-lampu di jalan paving sudah dinyalakan. Malam jadi sedikit terang.

Komplek makam Syeh Abu Bakar sepi sekali. Waktu itu sudah masuk isya. Saya hendak menunaikan salat sekaligus ziarah ke makam waliyullah tersebut. Di komplek itu lumayan terang. Banyak lampu menyala.

Ada sekitar lima bangunan permanen di komplek itu. Dari bibir pantai sekitar 50 meter jaraknya. Selain makam, ada mushola, tempat juru kunci, tempat istirahat tamu, dan satu tempat lagi yang mungkin adalah sebuah gudang.

Usai salat, bergeser 10 meter saya bersama seorang teman kemudian bersimpuh di teras makam. Kami tak bisa masuk. Pintunya tertutup jika malam hari. Hanya hari-hari tertentu pintu makam terbuka saat malam hari.

Seperti biasa, tradisi ziarah ke makam wali diawali dengan ucapan salam penghormatan. Kemudian mengirim doa kepada Kanjeng Nabi Muhamad, keluarganya, para sahabat, para ulama, guru-guru dan khususnya kepada Syeh Abu Bakar, tuan rumah Pulau Panjang.

Di depan pintu makam

Tak sampai 30 menit kami selesai. Tapi teman saya masih enggan beranjak dari teras. Saya tunggu. Dia bersila dan memejamkan mata. Sekitar 10 menitan. ”Menikmati sunyi. Mengambil energi positif,” katanya.

Di makam tersebut tumbuh banyak sekali tanaman dewadaru. Tanaman khas pulau. Orang familiar tanaman itu identik di Karimunjawa. Tanaman yang banyak disakralkan banyak orang. Kanyunya biasanya dibuat beragam pernak-pernik. Dari gelang sampai tasbih.

Pulang dari makam, saya berbelok ke arah utara. Ada papan nama “Air Berkah”. Saya bergegas saja kesana. Dari tenda saya sudah bawa tiga botol kosong air mineral. Lumayan untuk persediaan minum sekaligus membikin kopi dan merebus mie instan. Air berkah, benar-benar memberi berkah. Bagaimana tak berkah. Air mineral dalam kemasan di Pulau Panjang harganya dua kali lipat.

Air berkah

Air mineral seukuran botol besar harganya Rp 10 ribu. Cukup mahal. Maka air berkah yang diambil gratis (Red, paling tidak mengisi kotak amal seikhlasnya) sangat membantu wisatwan berkantong tipis macam kami ini. Air berkah sendiri diambil dari sebuah gentong. Ada dua gentong di tempat itu. Konon itu sumur peninggalan sang wali.

Tiga botol telah terisi penuh. Saya dan seorang teman bergegas kembali ke tenda. Tiga teman di sana sedang menyiapkan makan malam ikan bakar. Sampai di depan warung yang berada tepat di pintu gerbang menuju makam, saya berhenti. Batre hape sudah limit. Saya ngecas hape dulu. Rp 5 ribu sampai penuh.

Sayang listrik hanya menyala sampe pukul 21.00, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Praktis hanya punya waktu sejam. ”Tapi lumayanlah,” batin saya. Usai menyerahkan selembar uang limaribuan, hape saya cas. (ars)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »