Malam Berpendar Cahaya di Lautan Pulau Panjang (2)






Saya kira malam hari di Pulau Panjang, hanya bisa menikmati gelap saja. Anggapan saya salah. Malam hari keindahan lain menyuguhi liburan kami. Malam tak gelap-gelap amat. Meskipun bintang tiada bertebaran di angkasa.

Lepas azan isya saya dan teman-teman sempat dibuat repot. Saat sedang asyik menyiapkan makan malam, angin berhembus kencang. Sayup-sayup terdengar gemuruh di langit. Kilap menyambar-nyambar di langit. Di tempat terbuka seperti di pantai, kilatan cahaya di balik gumpalan awan jelas terlihat. Takjub sekaligus ngeri juga.

Sekitar 15 menit angin bertiup lumayan kecang. Berbarengan dengan rintik-rintik air hujan. Di panggangan masih ada empat ekor yang belum matang betul. Satu orang bertugas memastikan ikan matang, yang lain menyelamatkan barang-barang. Termasuk memasang satu kain tambahan di atas tenda. Sebab kain tenda bisa saja basah kuyup, bahkan membasahi barang-barang yang ada di dalamnya kalau tak dilapisi.

Tepat saat pemasangan kain atas selesai, hujan lebat langsung mengguyur. Lumayan repot, namun berakhir dengan indah. Hujan turun di saat kami benar-benar siap. Siap juga menyantap makan malam.

Api unggun dan bakar ikan

Makan malam masih sama saat makan siang. Ikan bakar. Tanpa nasi tanpa sambal. Hanya dibumbui kecap manis dan penyedap rasa. Ditambah dua bungkus mie instan goreng yang diberi kuah sedikit. Makan jadi tambah nikmat dengan derasnya air hujan yang turun. Kami makan asyik di dalam tenda dengan cahaya lampu dari hape masing-masing. Makan selesai, hujan masih turun.

Padahal teman saya sudah siap-siap mau mancing malam itu. Akhirnya usai makan, kami hanya berdiam di tenda. Ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton youtube. Videonya dari soal Jihan Audy sampai ajian rawa rontek-pancasona, di serial-serial kolosal macam Mak Lampir-Misteri Gunung Merapi, dan Prabu Angling Darma. Ngobrol-ngobrol sampai kantuk menyerang. Dua teman tidur lelap.

Hampir tengah malam hujan baru reda. Hujan malam itu merata. Beberapa wilayah Jepara seperti kota, sampai di Kecamatan Keling juga diguyur hujan lebat.

Santai di pasir

Tak bisa tidur, saya dan dua teman keluar dari tenda. Masih rintik-rintik. Angin berhembus pelan. Menimbulkan hawa dingin. Saya kemudian duduk-duduk di hamparan pasir putih Pulau Panjang. Tenang sekali suasananya. Hanya debur ombak, dan desis angin yang menyibak daun-daun cemara laut.

Dari bibir pantai, kerlap-kerlip cahaya Kota Jepara terlihat. Dari area Pantai Kartini sampai dekat Pantai Bandengan lampu-lampu bercahaya. Pantai jadi tak gelap, karena sorotan cahaya-cahaya kecil lampu di daratan seberang itu.

Ditambah lampu-lampu dari bagan apung yang banyak bertebaran di laut Pulau Panjang. Berjarak sekitar 50 meter dari pantai, ada puluhan bagan apung yang terpasang. Bagan apung sendiri sejenis alat tangkap ikan di laut. Di bagan apung itu terpasang lampu-lampu yang dihidupkan para nelayan dari genset.

Cahaya lampu-lampu itu membikin suasana malam di Pulau Panjang makin syahdu. Cahayanya memantul di air laut. Enak sekali dipandang dari bibir pantai. Sambil menggenjreng gitar menyanyikan lagu Kemesraannya Iwan Fals. (arf/alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »