Ngecamp Malam Senin, Serasa Miliki Pulau Sendiri (1)



Menikmati pantai yang bersih dan berpasir putih dengan tenang
@Arif


Laut yang tenang mengantarkan saya ke Pulau Panjang, Jepara Minggu (7/4/2019) siang. Benar-benar tenang. Debur ombak hanya sayup-sayup seperti genjrengan pengamen malas. Cuaca cukup terik. Untung saya memakai kaos oblong katun. Adem.

Dari dermaga Pantai Kartini perjalanan dimulai. Saya berangkat berlima. Naik perahu Sapta Pesona nomor 5. Selain saya dan teman-teman, ada rombongan peziarah yang turut satu perahu. Mereka datang dari Batang. Di Pulau Panjang memang bersemayam seorang yang dikenal waliyullah. Namanya Syeh Abu Bakar. Lengkapnya Syeh Abu Bakar Bin Yahya Ba’alawy.

Jarak Pulau Panjang dengan Pantai Kartini amat dekat, 1,5 mil. Kurang lebih 15 menitan naik perahu. Minggu siang Pulau Panjang ramai pengunjung. Di pintu dermaga, para pengunjung berjejalan. Petugas memungut karcis kepada pengunjung. Besarnya Rp 5 ribu. Karcis dipungut tiap akhir pekan saja. Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Sampai di pulau, saya dan teman-teman bergegas mencari tempat mendirikan tenda. Kami dapat tempat yang kurang tepat sebenarnya. Tempat-tempat terbaik dengan view lepas pantai sudah banyak didirikan tenda.

Tugu yang merupakan ikon Pulau Panjang
@Arif

Ya, di malam Minggu memang banyak yang kamping. Biasanya mereka menikmati Pulau Panjang sampai Minggu sore. Sehabis azan asar biasanya mereka pulang. Kami mendirikan tenda di bawah pohon cemara laut. Di pantai sisi selatan memang banyak sekali cemara.  

Sore menjelang. Tenda sudah berdiri. Tikar digelar, dua buah hammock bergantung di pohon cemara seukuran lengan orang dewasa. Perlahan-lahan pulau yang masuk Kelurahan Bulu, Kecamatan Kota ini mulai sepi.

Rombongan peziarah, dan anak-anak muda yang berkemah, berbondong-bondong menuju perahu lalu pulang. Angin tak terlalu kencang berhembus. Bahkan hanya sesekali saja menebar udara segar. Selebihnya panas menyengat yang lebih terasa.

Ngecamp di bawah pohon cemara


Air laut yang jernih kebiruan nampak segar. Mengundang badan untuk lekas berenang. Dan berlama-lama berendam di air yang asin tersebut. Saya pun tak melewatkan kesempatan berenang. Meskipun hanya sedalam paha saya. Maklum sebagai bukan orang pesisir, juga bukan orang gunung, saya tak pandai berenang. Cukuplah hanya bermain-main air berbasah-basahan saja.

Pantai di Pulau Panjang ini masuk kreteria kebanyakan para pecinta pantai. Airnya berwarna biru jernih. Nyaris tak berombak, dan berpasir putih. Airnya juga tak terlalu dalam. Sepanjang 20 meter dari bibir pantai kita masih bisa bermain air sesuka hati. Sebab, airnya masih dangkal. Namun yang perlu diwaspadai, setelah jarak 20 meter itu kita harus waspada. Banyak bulu babinya.

Di sore yang tenang itu saya puas bermain air. Sepanjang pantai di sisi selatan pulau, tak ada orang lain kecuali saya dan rombongan. Juga penjaga menara suar dan penjaga makam. Pantai hanya milik kami hari itu. Para pemancing juga sudah pulang dengan sekepis ikan-ikan kecil. (alb)
  

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »