Mengakrabi Muria dari Karya Seni Rupa



satuharapan.com

Pegunungan Muria dan kota-kota yang melingkarinya berunjuk gigi, melalui tangan-tangan lembut para seniman perupa. Ada sepuluh perupa dari tiga kota yang berada tepat di kaki Pegunungan Muria. Jepara, Pati, dan Kudus.

Mereka tergabung dalam kelompok yang bernama Songolikur Art Project. Mereka menggelar pameran karya bertajuk “Dari Titi Muria” di Tembi Rumah Budaya, Yogjakarta. Pameran dibuka sejak (17/5) hingga (7/6/2019).

Para perupa itu adalah Angga Aditya, Apis Btwr, Briyan Farid, Budi Karya, Indarto Agung Sukmono, Indrayana, Putut Puspito Edi, S. Mulyana Gustama, Susilo Tomo, dan Winantyo Agung P.

Mereka mempresentasikan karya dua-tiga matra dengan mengeksplorasi sejarah-geografis semenanjung Muria sebagai pijakan proses berkarya sekaligus membangun dialektika berkesenian.

“Berawal dari relasi pertemanan saat berkumpul di puncak 29 (puncak tertinggi kedua di Pegunungan Muria) memperbincangkan hal-hal sederhana tentang berkesenian oleh seniman-pekerja seni di lingkar Muria. Dalam perjalanannya perbincangan berkembang dalam berbagai ranah termasuk sosio-historis semenanjung Muria,” jelas S. Mulyana “Mamik” Gustama yang dikutip lingkarmuria.com dari satuharapan.com.

satuharapan.com

Kawasan Pegunungan Muria, kata Mamik, dahulu adalah sebuah pulau tersendiri yang terpisah dari daratan pesisir Pulau Jawa sekitar Kudus-Pati sehingga meninggalkan jejak kebudayaan yang bisa jadi cukup berbeda. Kita mengenalnya ada Selat Muria.

Secara geografis terlihat pada berbagai aspek yang melingkupinya. Dari aspek kebudayaan bisa dilihat pada sisi sejarah, tradisi yang masih hidup hingga realitas budaya kontemporer yang didalamnya mengandung dimensi sosial politik.

Secara garis besar, karya yang dipresentasikan kesepuluh seniman-perupa lebih banyak berbicara pada pembacaan suasana, refleksi historis, dan realitas.

Dalam lukisan berjudul Dandangan, kemeriahan dinanti historis dilupa Bryan Farid Abdillah Arif, membaca tradisi dandangan yang masih digelar untuk mengawali bulan Ramadan namun hanya menyisakan kemeriahan semata.

Karya tersebut menjadi kritik Farid pada realitas upacara adat-tradisi di berbagai daerah kehilangan ruh-nilai sakralnya dan berganti hanya sebatas rutinias semata, termasuk tradisi dandangan di Kudus.

Kritik sosial dilakukan juga oleh Apis Btwr dalam karya berjudul Investor dan enam lukisan panil berjudul Kalangkabut #1 dengan goresan abstrak serta penggunaan obyek figur binatang ikan, burung, anak ayam, kepik sejati atau biasa disebut bapak pucung.

Berasal dari Pati yang dikenal sebagai Bumi Mina Tani bisa jadi karya-karya tersebut merupakan keprihatinan Apis pada program pembangunan yang hanya memberikan ruang bagi investor semata.

Hari-hari ini Pati dikepung oleh kepentingan investor-investor yang masuk dan mencoba mengeksploitasi sumberdaya alam, dalam bentuk industri ekstarktif semen dan bahan tambang lainnya yang membahayakan bagi keberlangsungan-kelestarian sumberdaya karst sebagai sumber mata air dan penghidupan bagi usaha mina-tani masyarakat.

Dalam karya panil drawing pada empat layer akrilik transparan berjudul Batu Rahtawu, Indarto Agung Sukmono memotret suasana Desa Rahtawu Kecamatan Gebog-Kudus dengan bebatuannya. Secara visual karya panil drawing Indarto yang ber-layer tersebut memunculkan kesan tiga dimensi dan menjadi dramatis saat Indarto membuatnya dalam rona monochromehitam-transparan.

Pembacaan hal yang sama pada suasana dilakukan oleh Mamik pada dua karya dalam medium tinta-cat akrilik di atas kanvas berjudul Bertetangga dan Gapura Tanjung. (alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »