Pentas Teater As : Kekalahan Wong Cilik, dan Keserakahan Wong Berduit





PATI – Ruang dosen di Gedung B lantai II Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati disulap menjadi panggung pementasan. Malam Jumat (2/5/2019), Anak-anak Teater As sedang unjuk gigi. Mereka menggelar pentas produksi perdana dengan mengangkat lakon berjudul “Lorong” karya Puthut Bukhorie.

Gedung yang biasanya menjadi tempat istirahat para dosen itu disulap jadi perkampungan pemulung. Pentas itu mengambil setting tempat sebuah desa bernama Loh Ijo. Mayoritas penghuninya orang-orang miskin. Wong Cilik.

Pentas itu disutradarai Beni Dewa, pegiat seni budaya Kabupaten Pati yang juga punggawa Teater Mina Tani.  Sebelum pentas teater, para penonton yang hadir baik dari Pati sendiri, Kudus, hingga Jepara disuguhi hiburan tari khas Pati. Tari Gumregah Tani.

Pementasan dibuka dengan munculnya persoalan salah satu warga bernama Jambul yang menderita sakit misterius. Warga pun dibuat panik olehnya. Mereka, bahkan berdebat sengit untuk mencari solusinya. Rencana membawa kedokter, terhalang lantaran mereka tidak memiliki uang. Sedangkan saat mau dibawa ke dukun, mereka tampak ragu. Mampukan si dukun berbuat banyak.

Di saat itulah muncul sosok pria bernama Prantoro. Rupanya, si Prantoro ini mampu menyembuhkan Jambul. Hal itu membuat seluruh warga di kampung tersebut bergembira. Semua mengelu-elu kan si Prantoro.

Namun siapa sangka, itu semua rupanya politik licik dari Prantoro. Dia hendak menerapkan politik balas budi. Penyakit yang di derita Jambul rupanya merupakan virus yang disebarkan oleh Prantoro. Dan dia pulalah yang memiliki obat penawarnya.

Dia ingin warga desa berhutang budi sehingga mau menuruti yang dikatakan Prantoro. Terlebih Prantoro sendiri merupakan pesuruh dari Investor yang ditugasi untuk membeli, sekaligus menggusur warga Desa Loh Ijo tersebut.

Untungnya, Selip, salah seorang warga mengetahui rencana itu. Warga berupaya melakukan pemberontakan. Namun sayang, perlawanan dari warga miskin itu rupanya dengan mudah dikalahkan oleh aparat keamanan. Bahkan perkampungan itu tetap saja digusur.

Mohammad Noor Fais, lurah Teater As STAI Pati mengungkapkan, pentas tersebut diharapkannya dapat menjadi tolak ukur, setelah melalui proses latihan yang digelar sekitar empat bulan terakhir ini.

“Selain sebagai bentuk penguatan minat dan bakat, kami berharap ini mampu menjadi bekal bagi mahasiswa STAIP yang tergabung di Teater As. Karena dari proses teater sendiri membawa banyak manfaat selain dari sisi keseniannya,” terangnya usai pentas.

Di satu sisi dalam proses penggarapan teater biasanya akan disertai dengan proses pengkajian dan bedah naskah. Selain itu setiap aktor tentunya juga dituntut untuk mempelajari karakter orang lain. Sehingga akan memunculkan semangat toleransi dan saling memahami.

“Proses teater sendiri berlangsung kolektif. Tidak bisa berjalan sendiri oleh karena itu bekal keorganisasi dan solidaritas harus kuat. Sisi lebih lainnya bagi yang kuliah di jurusan tarbiyah, seorang calon guru tentu harus bisa memberikan materi pembelajaran dengan menarik. Dan itu bisa dipelajari dengan dasar teater,”tambahnya. (alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »