Syahadah, Kesaksian, dan Kenyataan





Suluk Maleman pada edisi ke 89 di bulan Ramadan kali ini kembali mengajak untuk mengulik makna syahadah. Konsep syahadah yang tak sekadar ucapan lisan menjadi sentilan tersendiri bagi warga yang datang dalam ngaji budaya tersebut.

Sabrang Mowo Damar Panuluh bahkan membuka dialog dengan menyebut jika syahadah menjadi suatu fondasi sebuah sistem dalam berkehidupan. Baginya konsep dari syahadat adalah sebuah kepercayaan. Dan rasa percaya itulah yang kemudian menjadi hakim dalam perjalanan.

“Misalnya kita mau ke Jogja tapi tidak tahu jalan. Akhirnya kita percayakan pada Google Maps. Dan kita akhirnya bisa menemukan titik tersebut. Begitu pula dalam memulai perjalanan kita berikrar dan menjalankan sistem dengan konsep syahadat tersebut,” terang pria yang karib disapa Noe Letto ini.

Anis Sholeh Baasyin menambahkan, banyaknya manusia yang terjebak pada sesuatu yang formal dan hanya lisan kerap membuat penurunan drastis dalam sikap keagamaan. Bersyahadat dikatakannya tak hanya dilakukan dengan lisan namun harus dengan keseluruhan daya dan upaya.

“Syahadat lebih bagaimana membuktikan kebenaran Allah dan wujud paling mulia adalah Rasullulah. Tak punya tujuan selain Allah dan citra terbaik adalah Rasullullah,” terangnya.

Dengan konsep tersebut, maka secara batin akan bersaksi sedangkan dalam hidup selalu berorientasi meneladani Rasulullah. Jika hal tersebut dialkukan maka sama halnya bersyahadat dari detik ke detik dan dari waktu ke waktu

“Kita menjadikan Rasulullah sebagai panutan utama. Dan kalau menggunakan tolak ukur tertinggi kita pasti akan merasa kurang. Hal itulah yang kemudian menjaga agar kita tak pernah merasa sombong. Karena pasti selalu dibawah dari panutan tersebut,” terangnya.

Dia pun menceritakan seorang ulama besar yang tengah berangkat haji tiba-tiba bermimpi melihat malaikat. Dari mimpinya disebutkan ada seorang sosok bernama Ali Muwafiq dari Damaskus yang dikatakan merupakan haji yang paling mabrur.

“Karena penasaran akhirnya dicarilah sosok tersebut. Rupanya yang bernama Ali Muwafiq itu seorang tukang sol sepatu. Saat itu sendiri tidak sedang beribadah haji,” ujarnya.

Lantaran rasa penasaran itulah akhirnya ditanyakan. Ternyata sosok tukang sol itu tak jadi berangkat haji lantaran uang yang telah ditabungnya bertahun-tahun diberikan kepada seorang tetangganya.

“Dia terketuk hatinya karena tetangganya rupanya tengah memasak bangkai lantaran tidak memiliki harta lagi untuk memberikan makan kepada anak-anaknya. Meskipun tak jadi berangkat haji, dia rupanya disebutkan haji yang paling mabrur. Yang dilakukannya bentuk syahadat yang terbaik,” terangnya.

KH. Ahmad Nadhif Abdul Mudjib memandang jika makna syahadah harus diaktualisasikan sebagai keterbutuhan dan kerapuhan manusia yang bersifat asli. Sedangkan segala kesempurnaan hanyalah milikNya. Namun seringkali manusia justru lupa bahwa sesungguhnya berasal dari ketiadaan yang diadakan oleh yang Maha Ada.

“Dengan konsep itulah kita akan mengakui kehambaan menjadi bentuk pembebasan paling total. Kita akan lebih waspada,” terangnya.

Lucunya, Gus Nadhif justru menyentil akan banyaknya sikap lupa yang justru menghamba pada sesuatu yang bersifat material. Seperti menghamba jabatan maupun segala hal yang bersifat duniawi lainnya.

“Seperti orang bersodaqoh saat mau nyaleg. Lha ini yang merintah sodaqoh kursi mau, tapi kalau diperintah sama Tuhan tidak mau. Mbah Abdullah, kakek KH. Abdullah Salam-Kajen, setiap pagi melihat di rumah putranya ada tumpukan beras di rumah, lantas  menyindir: wah pantas hidupmu tentram, wong sudah ditemani tumpukan berhala. Dengan cara tersebut beliau mengingatkan agar putra-putranya lebih waspada munculnya keterikatan pada selain Allah,” terangnya.

Karena keterlupaan itu pulalah yang kemudian seringkali membuat manusia sering menjambret kewenangan Allah. Banyak orang yang begitu mudah mengkafirkan. Padahal manusia disebutkannya hanya sebagai penyeru bukan menghakimi, hakim hanyalah Allah. Diapun mengingatkan agar lebih baik keliru menganggap orang itu muslim daripada salah menganggap kafir.

“Secara sederhana kebenaran ada dua yakni objektif mutlak dan nisbi. Kalau kebenaran nisbi pendapatku bagiku benar tapi masih mungkin salah sedangkan pendapat orang lain bagiku salah tapi masih mengandung kebenaran. Berbeda dengan kebenaran mutlak. Meskipun kebenaran tetap tidak boleh dipaksakan kepada orang lain,” terangnya.

Terkait hal tersebut Noe pun memiliki analogi yang begitu menarik. Dia mengibaratkan sesama manusia selayaknya sesama siswa dalam satu kelas.

“Tentunya sesama siswa tidak bisa mengisi rapot temannya. Sesama siswa harus sibuk bersih-bersih kelas. Tidak menunjuk orang tapi wani tandang resik-resik kelas,” tambahnya. (ars)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »