Bangun Kesiangan Tak Jadi Nyunrise (2)



Puncak Gunung Gede yang menakjubkan dengan kepulan asap dari kawahnya 


Matahari mulai meninggi. Kami tak sadar. Setelah makan malam itu kami terlelap. Nyenyak sekali. Bangun kesiangan membuat momen sunrise hilang. Padahal momen saat matahari terbit itu menjadi dambaan para pendaki. Termasuk kami.

Setelah bangun, kami mulai bersiap-siap. Memasak sarapan dengan bahan-bahan yang kami bawa dari rumah. Ada kacang ijo, jagung, sosis, tempe, dan nasi. Tak ketinggalan kopi menjadi menu sarapan kami sebelum naik ke puncak. Tak lama masakan jadi. Semua masakan disantap tiada sisa. Sambil makan, foto-foto tak ketinggalan.

Makan selesai, tenda kami bongkar. Kami mendirikan dua tenda. Tapi hanya satu tenda yang kami bongkar. Tenda teman kami dari Lampung tak dibongkar. Rencananya saya bersama Ci’lo akan melanjutkan pendakian ke Gunung Pangrango.

Perjalanan ke puncak, kami benar-benar kesiangan. Saat yang lain turun, rombongan kami baru menuju ke atas. Kami banyak berpapasan dengan pendaki lain di alun-alun Surken itu. Seperti diketahui, dari berbagai sumber yang ada, nama Alun-alun Suryakencana berasal dari sejarah Raden Suryakencana, nama lengkapnya Raden Suryakencana Winata Mangkubumi.

Beliau merupakan seorang putra dari Pangeran Arya Wiratanudar, yaitu pendiri kota Cianjur yang beristrikan putri Jin Islam. Pangeran Arya menikahkan anaknya Suryakencana dengan salah satu putri bangsa Jin dan di percayai masyarakat sekitar sampai sekarang hidup di alam Jin dan bersemayam di Gunung Gede Pangrango.

Di titik terakhir Surken sebelum tanjakan ke puncak, saya dan William menuju sungai kecil untuk mengisi perbekalan air yang hampir habis. Sementara yang lain duduk menunggu kami sambil mempersiapkan tenaga buat nanjak nanti.

Menurut kepercayaan setempat, sumber air ini dahulu untuk keperluan minum dan mandi Raden Suryakencana bersama rakyat Jinnya. Sementara alun-alun dijadikan lumbung Padi. Petilasan singgasana Kerajaan Raden Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk Pelana atau tempat duduk untuk menunggang Kuda.

Sayang, waktu itu kami tak sempat menjumpainya. Setelah mengisi perbekalan air minum, kami lanjut berjalan. Kami berjalan pelan menuju puncak.

Sampai di puncak meski kesiangan
Di perjalanan, sembari istirahat, kami di suguhi pemandangan Gunung Gede dengan kemegahan dan keindahannya. Kami akhirnya sampai juga di puncak Gunung Gede. Tingginya  2958 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut).

Hamparan luasnya cakrawala terpampang di depan mata kami. Juga cantiknya kawah Gunung Gede yang mengeluarkan asap. Tanda Gunung Api ini masih aktif. Kami istirahat sejenak sembari bergantian foto dengan pendaki lain di tugu Puncak Gede.

Wajar saja, banyak juga pendaki yang sampai di puncak siang itu. Beberapa saat kemudian kami berpisah dengan William, Elsa, Lela dan Khusnul. Saya bersama Ci’lo ingin lanjut ke Puncak Pangrango lalu lintas lewat Cibodas, sementara mereka turun kembali di jalur putri. (Arif Bonvink/bersambung)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »