Ngobrolin Hutan Muria, Upaya Pelestarian dan Ancamannya



Diskusi santai di Omah Aksi. Ngobrolin Hutan Muria


Di bawah sinar lampu yang temaram, obrolan-obrolan kecil itu menguar ke udara. Mochamad Widjanarko mengambil mikrofon. Tak keras-keras, dosen psikologi Universitas Muria Kudus itu berbicara tentang pengalamannya meneliti kawasan Pegunungan Muria sejak 2004 silam.

Puluhan anak muda asyik menyimak kisah Widjanarko, sambil mengunyah singkong yang di rebus dengan gula merah di pabriknya langsung. Banyak persoalan yang dihadapi dalam upaya pelestarian Hutan Muria. Ada perambahan hutan lindung, penjualan pasir-batu, berkurangnya sumber air, hingga perburuan satwa. ”Menarik ditelisik. Untuk kemudian dirumuskan apa usaha yang mesti dilakukan dalam rangka pelestarian ini,” kata Widjanrako dalam acara bedah buku dan diskusi “Menengok Kehidupan Pemelihara Hutan Muria”, Sabtu (27/7/2019) di Omah Aksi. Jalan Ekapraya Gang III, Rendeng, Kudus.

Kegiatan itu adalah buah kerjasama antara Muria Research Center (MRC) Indonesia, Omah Aksi dan Paradigma Institute. Para peserta diskusi tidak hanya warga Kudus. Beberapa aktivis dan pemerhati lingkungan Pegunungan Muria di Pati dan Jepara ikut melingkar memperkaya diskusi tersebut.

Nur Hamid, perwakilan dari perhutani yang datang di acara tersebut menyebutkan, teramat banyak tantangan kelestarian hutan di Pegunungan Muria. Nur Hamid mengungkapkan ada istilah jagungisasi. Dan yang sedang ngetren adalah kopinisasi.

”Jagungisasi dan kopinisasi ini menjadi persoalan. Apalagi untuk kopi. Dimana komoditas ini sedang sexy-sexynya. Kami di perhutani hanya bisa mengerem laju perluasan perkebunan kopi di hutan. Jangan sampai komoditas kopi ini merambah dan mendesak hutan lindung agar berganti menjadi perkebunan kopi,” terang Nur Hamid.

Melihat dinamika yang terjadi pada kelestarian kawasan hutan Pegunungan Muria, Rosidi, pemerhati sosial budaya di Kabupaten Kudus menghendaki adanya pembangunan persepsi kepada masyarakat yang berada di ring satu kawasan hutan.

Persepsi yang dibangun itu adalah memunculkan kesadaran bersama dalam memelihara hutan. Jika perlu harus memunculkan tokoh lokal di kawasan hutan tersebut. ”Ada istilah perspektif pemuliaan hutan. Kita tahu ada kawasan lestari yang berbau mitologi. Di Kudus ada hutan Masin. Yang masyhur dengan cerita siapa saja yang mengambil, bahkan hanya ranting pohon jati di sana bisa kena bala. Hal yang semacam ini mungkin bisa di bangun di tempat lain juga. Sebab orang kita itu jika sudah merembet ke danyang sudah pasti akan menghormati,” terangnya.

Selain itu, lanjut Rosidi, perlu sekiranya membangun komunitas-komunitas pelestari lingungan yang berbasis desa. "Misalnya di desa yang berada di kawasan hutan itu kita manfaatkan karang taruna, atau ormas Islamnya. Misalnya Nahdlatul Ulama (NU). Melalui ormas semacam itu kita tumbuhkan perspektif pemuliaan hutan," imbuh jurnalis di Suara Nahdliyin ini.

Diskusi ringan itu sejatinya menghadirkan beberapa narasumber dari berbagai disiplin ilmu yang lain. Misalnya dari sisi kesejarahan dan geologi. Edy Supratno, sejarawan Kudus yang diundang hadir mendadak ada acara keluar kota. Agus Hendratno, geolog dari Universitas Gajah Mada juga tak bisa hadir karena alasan yang lain. Namun hal itu tak menyurutkan antusias peserta. Bahkan, usai ditutup pukul 22.00, diskusi kecil masih berlanjut hingga tengah malam.

Untuk diketahui, buku yang dibedah tersebut merupakan buah pemikiran Widjanarko, dari hasil menyelesaikan studi doktoralnya. Buku tersebut bergenre psikologi lingkungan. Dimana buku tersebut mengulas mengenai perilaku ekologi warga di kawasan hutan Pegunungan Muria. (alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »