Mandi Sampai Pagi di Blumbang Sarean Kajen Malam Suro



Suasana mandi di kolam belakang makam Syeh Ahmad Mutamakkin Kajen


PATI Toyib, 17, sama sekali tak menggigil kedinginan. Walaupun sudah lebih 30 menit berendam di semua kolam besar di belakang makam Syeh Ahmad Mutamakkin Kajen tersebut. Sabtu (31/8) malam lalu, area kolam yang tepat bersebelahan dengan balai desa tersebut penuh sesak. Baik oleh orang-orang dan sepeda motor yang diparkir.

Orang-orang datang mengerumun di kolam yang dikenal sebagai Blumbang Sarean itu. Dari mulai anak-anak remaja tanggung, hingga orang dewasa. Sebagian besar anak laki-laki semua. Hanya satu-dua terlihat ibu-ibu. Malam itu mereka menyebut sebagai kegiatan mandi di awal tahun hijriah. Atau malam satu Suro.

Mandi di malam satu Suro seakan menjadi tradisi di kalangan santri Kajen, tidak hanya santri, masyarakat di luar Desa Kajen pun berbondong-bondong datang ke desa yang terkenal dengan pondok pesantrennya.

Kebiasaan ini sudah lama mengakar di kalangan masyarakat daerah Margoyoso dan sekitarnya. Berbagai latar belakang menjadi alasan melakukan ritual mandi, yang lebih pas disebut berenang ini.

Kolam berbentuk persegi ini sudah ramai selepas Isya’ dan bertambah ramai ketika tengah malam. Waktu isya’ sampai sebelum pukul 11.00, biasanya anak-anak kecil yang mandi. Setelah itu giliran usia dewasa. Semuanya laki-laki.

”Tiap tahun selalu kesini, tiap malam Suro. Ikut-ikutan mandi saja di awal tahun. Mungkin bisa berkah di tahun baru ini,” kata Toyib yang datang bersama teman dan orang tuanya tersebut. Anak muda asal Waturoyo, Kecamatan Margoyoso ini mengaku tak tahu secara pasti alasan ikut mandi di tempat itu.

Rofi’i warga Desa Ngemplak Kecamatan Margoyoso mengungkapkan, tiap tahun bertepatan dengan malam satu Suro, kolam berukuran sekitar 30x60 meter ini selalu ramai. Terutama para remaja.

”Ritualnya ya membersihkan badan karena menyambut tahun baru. Tapi ada cerita-cerita katanya dengan mandi malam satu Suro di sini bakal enteng jodoh juga. Selain itu, kolam ini juga ada hubungannya dengan Mbah Mutamakin, mungkin ngalap berkah wali,” kata Rofi’i.

Dimas, salah satu santri yang turut mandi di kolom ini membenarkan. Pria berpostur jangkung ini ikut mandi di kolam sebab percaya bakal berkah. ”Ngalap berkah saja mas, tahun baru bersih diri. Biar awet muda,” kata santri yang sudah empat tahun tinggal di Kajen.

Sementara itu, di berbagai literatur disebutkan, tradisi mandi di masyarakat Jawa lekat dengan nilai filosofis. Mandi, berarti membersihkan dan mensucikan kotoran atau najis. Hal itu berarti isyarat bahwa pada malam 1 suro itu orang harus mensucikan dirinya dari segala dosa dan perbuatan dosa dengan memohon magfirah Allah Sang Maha Pengampun. Kemudian meniti hidup baru dengan langkah yang lebih positif serta semangat baru pula.

Di momen-momen tertentu, mandi selalu menjadi bagian dari ritual yang dijalankan. Sebagaimana maknanya untuk persiapan secara lahir batin. (ars) 


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »