Menghadapi Persoalan dengan Pikiran Jernih



Gayeng diskusi Suluk Maleman


Ada yang luput di zaman sekarang ini. Tentang bagaimana menghadapi sebuah persoalan. Sering kali, manusia kurang memerhatikan kejernihan dalam menghadapi persoalan. Perlunya kejernihan dalam menghadapi persoalan dinilai penting agar tidak sampai terjadi ketidakadilan ketika memberikan sebuah penilaian.
Hal itu menjadi obrolan mendalam pada Suluk Maleman edisi ke 93, Sabtu (22/9/2019) malam lalu di Rumah Adab Indonesia Mulia. Ngaji budaya malam itu mengusung tema Fathul Mubin.

Pengasuh Suluk Maleman, Habib Anis Sholeh Ba’asyin mengungkapkan,  di tengah situasi carut marut seperti saat ini, kerap terjadi persoalan yang justru hilang substansinya.

“Banyak yang menyerang hanya karena bukan golongannya, begitu pula banyak yang membela habis-habisan hanya karena temannya. Padahal kritik kalau baik harus diterima sekalipun datang dari lawan,” terang budayawan yang juga santri Kajen tersebut.

Banyak cara pandang yang menjadi salah hanya karena terlalu membesarkan emosi. Banyak hal yang coba dibuat kacau pola berfikirnya. Padahal jika itu terjadi bukan tidak mungkin justru menjadikan ketidakadilan dalam penempatan penilaian tertentu.

“Dulu Indonesia dikenal sebagai penghasil kopra atau turunan dari kelapa yang besar. Namun tiba-tiba muncul narasi kelapa dapat membuat kolestrol tinggi. Yang terjadi, produksi kelapa seketika itu hancur. Anehnya setelah produksi kelapa di Indonesia hancur muncul narasi baru jika kelapa justru mampu menghasilkan virgin coconut oil (VCO) yang memiliki banyak manfaat,” terangnya.

Hal tersebut diakuinya sebagai salah satu bentuk kekacauan berfikir di ranah industri. Belum lagi di konteks lain seperti halnya politik. Oleh karena itulah dirinya mengajak untuk berhati-hati dalam mengerti persoalan tertentu.

“Butuh kejernihan melihat persoalan. Mari berdaulat dengan diri sendiri. Tanyakan dirimu sendiri tentang apa yang kamu lakukan yakin atau tidak. Kurangi nyinyir untuk mencaci orang lain jangan sampai nanti kita kecelik,”imbuhnya.

Terkait tema Fathul Mubin, Abdul Jalil akademisi sekaligus budayawan dari Kudus lebih merujuk pada makna tentang Al Fath. Menurutnya Al Fath memiliki lebih dari 18 pemaknaan. Meskipun yang sering dipakai ada tiga yakni pembuka, pembebasan, dan hukum.

“Kita semua tahu peradaban modern ini adalah dunia simbol. Sulit sekali menghilangkan simbol. Seperti gaya berpakaian saya ini sebenarnya juga simbol. Demokrasi menjadi simbol dunia saat ini. Padahal simbol itu wujud dari topeng ketidak sejatian,”tegas Kyai Jalil.

Sayangnya, justru seringkali ketersinggungan justru muncul karena persoalan simbol tersebut. Banyak yang mencampur adukkan persoalan simbol tanpa melihat makna yang ada di baliknya. 

“Nah justru di Al Fath itulah yang kemudian mengajarkan untuk menerobos dari simbol. Menyadari jika simbol milik manusia itu bukan yang sejati tapi mencari yang dibaliknya. Harus dibuka seperti makna pertama dari Al Fath tersebut.,”terangnya.

Setelah menelaah antara simbol dan makna dibaliknya, maka barulah makna hukum dari Al Fath menjadi relevan. Semua yang dibalik simbol itu harus dipahami dengan hukum yang berlaku dan sesuai. 

“Kalau melihat simbol dengan hukum simbol tapi jika melihat dibalik simbol ada hukumnya tersendiri. Jangan dicampur aduk. Ayo tegakkan hukum yang sesuai,” terangnya.

Barulah setelah mampu membuka makna simbol dan menegakkan hukum baru bisa sampai ke pembebasan. Diantaranya tentu dengan pembebasan dari penjungkirbalikkan fakta yang ada. Kalau proses bisa dilalui maka barulah mencapai ke pembebasan yang nyata.

“Ada penekanan dan penguatan jika akan dibebaskan dengan pembebasan yang nyata,” tegasnya. (hus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »