Menyalakan Suluh Masa Depan Literasi di Bumi Mina Tani



kegiatan workshop penulisan artikel populer di media massa oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah bersama Paradigma Institute Kudus
Pembukaan bedah buku


PATI – Sejak awal, peserta workshop dan bedah buku Akhir Sekolah Elite, sebuah kumpulan artikel bertema pendidikan, didoktrin untuk datang murni belajar. Para peserta yang mayoritas guru di SD maupun SMP ini pun gayeng saja mengikuti pelatihan yang lebih mengedepankan dialog ini.

Kegiatan tersebut dimulai pukul 09.30, diawali pembukaan oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pati, Suwanto. Ditandai dengan penyerahan sebanyak dua eksemplar buku Akhir Sekolah Elite, sebagai dokumentasi karya penulis lokal di perpustakaan daerah.

Suwanto, membuka dengan terlebih dahulu memberikan arahan (Red, lebih banyak memotivasi) tentang dunia penulisan. Mulai bagaimana memulai menulis. Tips-tipsnya, hingga bercerita betapa manisnya royalti penjualan buku.

”Menulis itu mudah. Menulis ya menulis saja. Saya dulu juga seperti itu. Ada proses-prosesnya. Untuk menghasilkan tulisan bagus tidak bisa serta-merta,” terang pria yang pernah aktif menerbitkan buku bahan ajar di sekolah-sekolah ini.

 Selain menghadirkan penulis buku, Udi Utomo. Kegiatan bedah buku dan workshop penulisan artikel ini juga menghadirkan pegiat literasi dari Paradigma Institue Kudus, Achmad Ulil Albab.

Paradigma Institute sendiri adalah sebuah lembaga yang berkonsentrasi di bidang penerbitan karya, dan penggerak literasi di Kudus dan sekitarnya. Dengan rutin menggelar kegiatan bazaar buku, diskusi sastra, hingga penulisan buku-buku bertema kearifan local di kawasan lingkar Pegunungan Muria.

Dalam kesempatan itu sendiri, Ulil memaparkan model artikel popular yang ada di dalam buku tersebut. Menurutnya, tulisan-tulisan Udi Utomo dibuku tersebut patut menjadi contoh kecil untuk memulai menulis dengan tema-tema pendidikan.

”Saya kira sebelum mengulik bagaimana teori penulisan artikel popular, kita bisa menengok dan membaca artikel-artikel yang ditulis Pak Udi. Tulisannya sederhana. Ringan. Bahasanya tidak berat. Dan yang paling penting tulisan-tulisan yang dibuatnya adalah berlatar fakta-fakta dan peristiwa aktual yang sedang terjadi. Lalu diulas dengan mengutip sumber-sumber buku maupun data-data lainnya. Kemudian ditutup dengan kalimat reflektif yang sederhana pula. Ini menjadi menarik. Rata-rata semua tulisan Pak Udi juga dibuka dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya di lapangan,” terang Ulil.

Sementara itu, Udi Utomo menegaskan agar kegiatan menulis yang merupakan ketrampilan ini disetting untuk menjadi passion. ”Mulai sekarang paradigmanya harus diubah. Menulis jadi passion. Jangan hanya menulis untuk memenuhi syarat poin kenaikan pangkat saja,” terangnya.

Menulis tema pendidikan, kata Udi masih menjadi peluang besar. Media-media massa sering menyukai tulisan-tulisan bertema pendidikan.

Apalagi untuk guru-guru, tentunya banyak sekali mengalami problem-problem kebijakan birokrasi yang kadang menemui hambatan. Hal itu tentu menjadi peluang guru untuk menuangkan gagasan-gagasannya melalui sebuah tulisan. Entah kritik. Atau buah pemikiran untuk menawarkan alternatif penyelesaian masalah.       

”Lebih dari itu saya senang di kegiatan pelatihan ini meskipun panitia tidak menyediakan sertifikat dengan durasi jam belajar, para peserta tetap antusias. Selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar dunia penulisan,” imbuhnya.

Terbersit semangat menulis di wajah-wajah peserta workshop.  Bahkan mereka menginginkan untuk bergotong-royong menulis antologi artikel dengan tema-tema pendidikan yang dialami saat bergelut di bangku sekolah. Para guru itu menyalakan suluh literasi di Bumi Mina Tani. (alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »