Menyingkap Keteladanan Wirausaha dari Kiai Tionghoa

KH Agus Sunyoto



KUDUS – Diskusi bertajuk "Menggali Culture-Preneurship Kyai Telingsing: Inspirator Sunan Kudus,"digelar  Mubarok Food Delecia. Perusahaan jajanan jenang itu menggandeng Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kudus.

 Sarasehan itu dilaksanakan untuk mendedahkan kembali kepada khayalak tentang keteladanan salah satu kyai yang masyhur di Kudus tersebut.

Direktur Mubarok Food Delecia, Muhammad Hilmy menyatakan, sarasehan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan ajaran-ajaran Culture-Preneurship dari Kyai Telingsing, mulai dari nilai kebudayaan, kewirausahaan, dan hubungan antar keduanya.

Dalam sarasehan tersebut, hadir dua narasumber yang masyhur dalam ilmu sejarah Islam Nusantara. Yakni Asmaji Muchtar yang berlatar belakang akademisi sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan Islam Kyai Telingsing, dan Agus Sunyoto penulis buku Atlas Walisongo sekaligus Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU.

Asmaji Muchtar menyatakan bahwa sejarah tidak banyak yang mencatat siapa Kyai Telingsing. Kekaburan sejarah ini membuat adanya perbedaan versi tentang kehidupan Kyai Telingsing. Yang paling mendasar dari perbedaan tersebut yakni terkait asal usul Kyai Telingsing itu sendiri. Dia menyebutkan setidaknya ada dua argumen tentang hal itu. Pertama, sebagian sejarawan atau peneliti menganggap bahwa Kyai Telingsing berasal adalah seorang keturunan Arab (ayah) yang beribu Tionghoa.

Suasana diskusi

Sedangkan, lanjut Asmaji, pandangan kedua berasal dari penuturan masyarakat yang berargumen bahwa Kyai Telingsing adalah anak Kyai Sungging, seorang pribumi dari Desa Sunggingan. Kyai Sungging kemudian melakukan perjalanan ke negeri Cina menggunakan layang-layang. Sesampainya di Cina, Kyai Sungging menikah dengan gadis pribumi dan melahirkan Kyai Telingsing. Di usia 17 tahun, Kyai Telingsing diperintahkan oleh ayahnya untuk kembali ke Jawa Dwipa untuk melanjutkan dakwah ayahnya.

"Pengetahuan tentang Kyai Telingsing secara umum hanya didapat melalui laku spiritual atau meditasi. Yang tentu tidak dapat dikategorikan sebagai catatan sejarah yang valid," terangnya.

Sama halnya dengan Asmaji, Agus Sunyoto menyatakan jejak Kyai Telingsing yang sampai saat ini masih abu-abu dalam kaca mata sejarah. Hal itu dibuktikan dengan Denys Lombard yang sama sekali tidak menemukan bukti arkeologi sama sekali pada makam Kyai Telingsing. Dia hanya mendapatkan penuturan dari juru kunci makam yang intinya tidak jauh berbeda dengan argumen kedua yang di kemukakan oleh Asmuji.

Membaca hal itu, Agus berulangkali mencoba menganalisis penuturan-penuturan yang ada. Namun hal itu sama sekali tidak bisa dilogika oleh ilmu sejarah. Berdasarkan hasil penelusuran dari berbagai literatur, dia berkesimpulan bahwa Kyai Telingsing merupakan tokoh tua di antara Cina Muslim yang tinggal di pantai Utara Jawa yang seusia dengan Raden Kusen Adipati Pecat Tanda Terung.

Menurutnya Kyai Telingsing merupakan seorang bergolongan saudagar dari kalangan Cina Muslim yang melakukan dakwah di Kudus dan sekitarnya. Atas cerita yang masih simpang siur tersebut, Agus mengajak agar masyarakat lebih mengutamakan pemahaman tentang keteladanan Kyai Telingsing dalam berdakwah. Selain itu juga tetap memperbanyak literasi sejarah Kyai Telingsing. Agar data sejarah yang telah ada semakin valid.

"Yang lebih penting dari perdebatan keabu-abuan sejaran ini adalah keteladanan dari Kyai Telingsing. Dan masyarakat Kudus harus bisa meneladaninya," tururnya. (alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »