Ning Sri, dan Inspirasi Generasi Santri Berjiwa Wirausaha




komunikasi yang baik dengan para karyawannya
Ning Sri dan para karyawannya 


Gegap gempita Hari Santri Nasional 2019, tak boleh numpang lewat saja. Mesti ada nilai-nilai yang dipetik untuk mencipta sebuah perubahan. Sri Handayani, pengusaha asal Pati yang pernah menimba ilmu di pesantren menyebut, santri harus mampu berperan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Dalam rangka menghadapi tantangan global.
***
Kabupaten Pati, sebagai merupakan basis pesantren. Kata Sri Handayani, bisa menyumbang peran untuk itu. Sudah saatnya santri dibekali jiwa kewirausahaan dan pendampingan keterampilan agar bisa menjadi pengusaha tangguh.

Masyhur dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur sejati dan wirausahawan yang sukses. Keteladanan beliau dalam menggeluti usaha perdagangan menjadi contoh para sahabat dalam berwirausaha.

Pada usia muda yakni 12 tahun, Nabi Muhammad sudah melakukan perdagangan regional ke Syria. Selanjutnya pada usia 17 tahun, memimpin ekspedisi perdagangan ke Syam, Yaman, Yordania, Irak, dan sejumlah negara lainnya. "Sedangkan pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad sudah menjadi wirausahawan yang sukses dan kaya raya," sambung wanita yang akrab disapa Ning Sri ini.

Sri Handayani yang pengusaha asli Kabupaten Pati ini menambahkan, empat sifat mulia Nabi Muhammad, sangat mendukung dalam berwirausaha. Yaitu Shiddiq atau Jujur, amanah atau dipercaya, fathonah atau cerdas hingga tabligh atau komunikatif.

Pengusaha sukses ini sangat menginspirasi
Sri Handayani

"Shidiq atau jujur yaitu mengatakan yang sebenarnya mengenai barang yang diperjualbelikan. Terkait kelebihan dan kekurangan barang," jelas wanita yang saat ini sedang menyelesaikan program doktoral Ilmu Ekonomi, Undip Semarang itu.

Selanjutnya, jujur atau shiddiq yaitu perdagangan yang didasari sifat amanah akan berbuah berkah. Baik bagi penjual, pembeli, keluarga dan semua yang terlibat di dalamnya. Kredibilitas pengusaha sangat ditentukan pada sifat amanah yang dimilikinya.

"Sementara fathonah yaitu mampu memahami, menghayati, mengenal tugas dan tanggung jawab bisnis dengan sangat baik. Menumbuhkan kreativitas dan melakukan berbagai inovasi yang bermanfaat agar produk perusahaan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat, permintaan pasar dan pola perubahan yang terjadi," kata Ning Sri.

Selanjutnya, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren di Kajen, Margoyoso ini menyebut, pengusaha harus mempunyai sifat tabligh atau komunikatif. Menurutnya, seorang pengusaha dituntut untuk melatih diri dalam menyampaikan profil bisnisnya. Menyampaikan dengan cara yang paling baik, efisien dan efektif. Mampu menggunakan jaringan dengan baik.

"Dan juga yang perlu diperhatikan yaitu membangun tim kerja yang tangguh dan menjaga kepercayaan relasi bisnis. Jangan sampai dilupakan untuk rajin bersedekah dan berinfak. Kalau perlu jadikan sedekah sebagai gaya hidup," tutupnya. (*/alb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »