Puisi Tidak Hanya Sebaris Kata-kata Indah



Mukti Sutarman Espe saat hadir di FASBuK


Bagaimana menulis puisi. Bagaimana menulis puisi yang indah. Bagaimana menulis puisi yang bernyawa. Bagaimana menulis puisi yang membawa pesan moral. Bagaimana menulis puisi sebagai kritik sosial. Bagaimana…

Pertanyaan demi pertanyaan, membuat riuh sesi diskusi Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuk), Selasa (29/10/2019) di auditorium Universitas Muria Kudus. Pada edisi Oktober 2019 ini, panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus menampilkan pertunjukan dari tiga kampus di kota Kudus.

Mereka mewakili masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang literasi maupun seni pertunjukan seperti LPM Paradigma IAIN Kudus, LPM Pena Kampus Universitas Muria Kudus dan Teater Bledug Universitas Muhammadiyah Kudus.

Ketiga komunitas tersebut diwakili lima sastrawan muda. Seperti Muhammad Achyarie Amrullah, Achmad Shokhibul Imam, Umi Yukhanid, Ifa Rizki Purnama Wati, dan Nuryanti. 

Mereka menyuguhkan pertunjukan berdasarkan puisi dari buku “Menjadi Dongeng “ karya Mukti Sutarman Espe salah satu sastrawan senior Kudus yang karyanya sudah banyak termuat di berbagai media nasional.

Edisi kali ini merupakan ruang untuk mengenal, mempelajari serta mendalami proses kepenyairan Mukti Sutarman Espe. Selain dikenal karena produktivitas karyanya, Mukti sendiri adalah salah satu pendiri FASBuK. Bersama sejumlah sastrawan Kudus lainnya. Seperti almarhum Yudhi MS.

Menulis
Mukti mulai jatuh cinta menulis sejak lama. Jauh saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia juga banyak belajar dari tulisan-tulisan surat cinta kakaknya. Mukti sering mencuri baca. Malam itu, Mukti mengeluarkan semua kisah dan pengalaman kepenyairannya.  

”Yang perlu diingat. Menulis harus diimbangi dengan membaca. Karena saya penulis saya juga pembaca. Menulis puisi juga begitu,” kata Mukti. Puisi baginya, tidak hanya sebaris-dua baris kata-kata indah.

Karena itu, penyair yang juga membidani lahirnya kelompok penulis di Semarang ini merekomendasikan bacaan-bacaan yang bisa saja dikonsumsi bagi calon penulis. Bacaan-bacaan seperti buku filsafat, agama, dan kebudayaan misalnya.

”Membaca itu bagi saya seperti mengisi kendi. Diisi sampai tumpah. Tumpahan itu yang menjadi tulisan. Dengan semakin banyak bacaan kita, tentu puisi-puisi yang kita bikin tak hanya menjadi barisan kata-kata indah. Akan tetapi lebih bernyawa. Ada isinya,” terangnya.

Selain menunjang dengan bacaan buku-buku. Tidak kalah pentingnya juga membaca karya-karya dari penyair besar. Semacam WS Rendra, Sapardi Djoko Darmono, hingga Joko Pinurbo, dan juga penyair lain. (alb)      

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »