Single Gusti Allah Mboten Sare, Persembahan untuk Bangsa Indonesia




suluk maleman hadir setiap bulan mengusung tema-tema sosial kemasyarakatan yang sedang banyak diperbincangkan
Video klip Gusti Allah Mboten Sare 


Gusti Allah mboten sare.. Kito sedoyo ingkang supe.. Teng donya mung mampir ngombe.. kados ngimpi sak kedepan wae..

Lirik itu menjadi penggalan dari lagu terbaru Sampak GusUran yang diberi judul “Gusti Allah Mboten Sare”. Selain dimainkan secara live, peluncuran single itupun dilakukan dengan memutarkan video klip yang telah diunggah dalam channel Youtube Sampak GusUran dan Suluk Maleman.

Ngaji budaya Suluk Maleman akhir pekan kemarin, sekaligus menjadi momen bedah video klip dari single tersebut.

Pengasuh Suluk Maleman, Anis Sholeh Baasyin mengungkapkan, single itu secara khusus dipersembahkan bagi bangsa Indonesia. Supaya masyarakatnya kembali mengingat kepada Allah.

Sebenarnya, kata Anis, lagu tersebut sudah diciptakan sejak tahun 2011 lalu. Pernah beberapa kali naik proses perekaman, namun berkali-kali gagal. Saat ini dirasa memang harus bisa berhasil. Di situasi seperti saat ini, muslim harus selalu ingat, jika Allah hadir terus menerus.

Suluk Maleman 

Dalam video klip tersebut dihadirkan adegan-adegan yang merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Seperti ungkapan Sayidina Ali, yang mengatakan jika orang hidup layaknya orang tertidur.

“Maka dari itu di video tersebut diawali dengan adegan tiga orang lelaki yang seolah tertidur,” terang Anis Sholeh Ba’asyin.

Ketiga orang lelaki itu sendiri mewakili tiga watak manusia. Mukminun, munafikun dan kafirun. Penggambaranya ditunjukkan dengan sosok lelaki mukminun yang membantu orang lain di tengah padang. Sosok munafikun diperlihatkan sebagai sosok pria yang selalu tersenyum. Namun di belakangnya membawa pisau yang siap dihujamkan.

Sosok kafir dimunculkan dengan seorang pria yang kerap menindas orang lain. Bahkan digambarkan dengan menginjak-injak juga.

Penggambaran perjalanan tiga watak itu juga diperlihatkan saat ketiganya berada di sumber mata air. Dalam filosofi Jawa memang disebutkan, jika hidup selayaknya orang mampir ngombe (Red, minum). Sosok mukmin diperlihatkan meminum air dengan satu cakupan tangan. Seperti halnya kisah Nabi Musa, yang diperintahkan untuk minum hanya secakupan tangan tidak boleh lebih.

Sementara, kedua sosok lainnya terlihat meminum air begitu banyak. Sosok kafir itu bahkan sampai terjun ke dalam air, agar dapat meminum air sebanyak-banyaknya. Seolah-olah tercebur dengan godaan dunia.

Pada akhirnya, lanjut Anis, ketiga orang itu pun menjalani perjalanan ke akhirat dengan jalan yang berbeda. Sosok mukmin terlihat berjalan dengan cepat dan tanpa beban. Sedangkan sosok kedua harus berjalan merangkak untuk memasuki surga karena bebannya. Sementara yang ketiga, membuatnya sulit beranjak karena keterkaitannya pada dunia.

“Sebenarnya ada beberapa simbol lain. Seperti simbol pertikaian antar kelompok untuk memperebutkan perempuan yang tengah bersolek. Dunia memang diibaratkan perempuan yang bersolek hingga selalu menarik semua orang. Namun pada akhirnya orang yang bertikai itu semuanya kalah,” imbuhnya.

Kehadiran single itu diharapkan menjadi pengingat, agar manusia dapat mengutamakan kemanusiaannya. Hilangnya rasa kemanusiaan sendiri disebut bisa terjadi karena terlalu suka pada dunia, maupun terlalu takut pada kematian.

“Coba bayangkan sekarang ini agama diributkan hanya untuk persoalan dunia saja. Tak hanya agama, apapun ujung-ujungnya untuk kepentingan di dunia,” imbuhnya. (ars)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »