Ada Kerja Keras Bule Perancis dalam Lezat Ikan Bakar di Pantai Bondo (2)

Bakar ikan 




Ranting-ranting kayu yang kami kumpulkan, telah habis terbakar dan berubah menjadi bongkahan arang yang membara. Ikan tengkurungan dan banyar sudah bersih. Setidaknya sudah terbuang isi perutnya yang membuat pahit.

Sayang, pesta kecil-kecilan yang menjadi agenda utama kami kacau. Berlagak seperti anak petualang, kami tak membawa bekal peralatan yang cukup untuk membuat pesta bakaran. Tidak ada panggangan ikannya.

Santai di pinggir pantai

Akhirnya, karena bara sudah terlanjur menyala dan menanti korbannya, ikan kami bakar seadanya. Percobaan, satu ekor ikan banyar berukuran sekitar tiga jari. Ikan ditusuk dengan sebilah bambu yang tergeletak tak jauh dari tempat kami membuat perapian.

Ikan yang dibakar tidak hanya matang. Tetapi malah menjadi arang. Karena saking gosongnya. Bambu yang digunakan sebagai tusukan, patah karena terbakar api. Akhirnya dua teman yang baru menyusul di pantai, ditugasi mencari panggangan yang terbuat dari kawat besi. Entah pinjam atau beli. Pokoknya harus dapat.

***

Oscar, bocah berusia sekitar dua tahun itu tertarik dengan apa yang kami kerjakan. Mula-mula dia mengintip. Kemudian mendekat. ”Fish.. fish,” kata Oscar, sambil menunjuk ikan yang ada di atas lembaran kantong plastik. Oscar kemudian meracau dengan bahasa Inggris yang tak bisa kami tangkap maksutnya selain kata fish.

Oscar kemudian disusul bapaknya, Edward, yang meminjam korek untuk menyulut sebatang rokok putih yang terselip di jari-jarinya. Edward sudah lumayan lancar berbahasa Indonesia. Dia sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Sebelum di Jepara, dia tinggal di Bali.

Edward sangat ramah. Meski baru pertama bertemu dan ngobrol basa-basi, bule dari Perancis ini mau repot-repot membantu bakar ikan. Edward memiliki ide membuat plagangan dari batang bambu.

Dia menancapkan dua buah batang bambu menyilang. Membuat formasi huruf X berjajar. Tiap ujung ada dua formasi huruf X. Di bagian tengahnya kemudian ditumpangi dua buah batang bambu memajang, (Saya sulit mendiskripsikannya. Lihat saja digambar bagaimana bentuknya) pokoknya dia mau kerja keras supaya kami bisa membakar ikan malam itu.

Tidak hanya membuatkan plagangan, Edward juga berulang kali membantu proses pembakaran. Dari ngipasi bara api, sampai membolak-balikkan ikan agar matang merata. Entah apa yang merasukinya. Hehe… Oscar juga ikut-ikutan ngipasi dengan sobekan kardus bekas mi instan.

Ada dua kemungkinan. Mungkin saja Edward merasa iba karena kami mengalami kesusahan. Atau karena bakar-bakaran model kami ini tidak ada di negaranya sana. Karena saat meminjam korek ke kami, Edward menyebut kami sedang pesta barbeque.  

***
Teman kami yang mencari panggangan kembali. Panggangan didapatkan dengan membeli. Belinya lumayan jauh, di Pasar Mlonggo. Jarak dari pantai 4,9 kilometer.

Masih ada separo ikan yang belum dibakar. Edward pamitan pulang. Sudah lumayan dia membantu menyiapkan menu makan malam kami. Ikan bakar dengan bumbu kecap manis yang dicampur penyedap rasa, dan bubuk lada.

Karena lapar, sepiring ikan bakar dan satu mangkuk besar nasi putih habis dimakan tujuh orang. Nasi di piring tak tersisa. Ikan bakar tinggal duri dan kepala.
Makan dengan lahap

Perut kenyang, kantuk menyerang. Beberapa teman langsung mencari tempat tidur yang berada di kafe Omah Laut. Agenda maulidan dan ngobrol-ngobrol yang telah direncanakan akhirnya bubar sebelum dimulai. (arf)  



Ini cuplikan video keseruan bakar ikan 
  
  
   



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »