Melihat Cermin Diri dari Panggung “Sinden” Teater Gerak 11

Salah satu adegan pada pentas "Sinden" Teater Gerak 11 



Apa yang terjadi di Desa Watugundul, sejatinya juga terjadi saat ini. Menonton pentas “Sinden” ini, bisa jadi menonton diri sendiri.

KUDUS –  Muda-mudi memenuhi Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus Selasa (26/11/2019) malam. Pentas 5 kota Teater Gerak 11, dengan naskah “Sinden”, tengah singgah di kota kretek itu. Singgah di kotanya sendiri. Setelah sebelumnya memulai pentas keliling dari Magelang, Solo, dan Semarang. Setelah dari Kudus, Teater Gerak 11 akan menutup pentas kelilingnya di Yogyakarta Desember nanti.

Panitia mencatat 300 pasang mata menontong lakon yang merupakan adaptasi naskah garapan Haru Kesawa Murti ini. Seperti kebanyakan pentas-pentas teater. “Sinden” menyuguhkan sebuah refleksi kehidupan yang makin kacau dari hari ke hari.

Alunan gamelan nyaring bertalu-talu. Berpadu dengan tabuhan kendang. Bersamaan dengan terbukanya tabir di panggung. Sekaligus membuka pentas malam itu.

Sutradara lakon Sinden, Sutrimo Astrada menyebut, Teater Gerak 11 ingin menyampaikan kritik sosial dari panggung kesenian. Sekarang banyak terjadi oknum penguasa yang biasanya hanya ingin tampil “bersihnya”. Biasanya di suatu daerah ada orang yang memiliki kemampuan dan berprestasi langsung diambil tanpa memikirkan kompleksitas.

Pentas itu juga mengupas emansipasi wanita yang dinilai kebablasan. Itu digambarkan dari tokoh Semi yang seorang Sinden, tapi lupa hakikatnya. Dan berbalik menginjak Panjang sang suami yang hanya seorang pengangguran.

Menurutnya, pentas kali ini salah satu eksperimen untuk keluar dari pakem pertunjukkan teater kebanyakan. Dengan membalut pertunjukkan bergaya Sampakan, dia meyakini para aktor lebih bisa menikmati dan mendalami peran yang dimainkannya.

“Gaya sampakan, memang gaya ini teknik bermain teater itu kemasannya memang agak berbeda dengan teknik-teknik yang pada umumnya. Kita bebaskan pemain, tetapi benang merah harus dipegang. Kita agak mengesampingkan dramaturgi,” kata Sutrimo.

Kisah ini bermula ketika di alam kayangan, Sang Hyang Guru merasakan kegelisahan akibat para dewa semakin kacau dalam bekerja. Mereka lebih suka bermain media sosial, membaca koran, dan bermain catur. Bukan hanya itu, sifat mereka juga berubah, yakni menjadi koruptif dan sombong.

”Alam kayangan semakin kacau. Sudah tak ada lagi dewa yang bisa aku andalkan,” kata Sang Hyang Guru mengawali pentas malam itu kepada Dewa Narada.

Sang Hyang Guru lalu memiliki ide untuk memboyong Sinden dari Marcapada bernama Semi untuk cerminan para dewa. Semi merupakan sinden kondang di Desa Watugundul. Banyak lelaki yang tergila-gila dengan Semi, hingga membuat kacau hubungan rumah tangga.

Tak terkecuali Lurah Desa Watugundul bernama Tanpa Sembada, yang juga harus bercerai dengan istrinya lantaran sang istri cemburu dengan Sinden Semi.

Panjang, suami sinden Semi, setiap hari dibuat geram oleh sang istri lantaran jarang sekali pulang. Sekalinya pulang, mereka bertengkar sebab hal-hal sepele. Panjang harus merawat anak-anaknya sendirian. Sedangkan Semi, nyinden terus menerus dengan dalih suami tak bisa memberikan nafkah yang cukup.

Dengan dalih melestarikan budaya, Pak Lurah memperlakukan Sinden Semi melebihi istrinya yang sudah minggat itu. Kemasyhuran Sinden Semi semakin menjadi-jadi. Kemudian, Genjik dan Sawi, asisten Pak Lurah datang dengan membawa seorang wartawan dari media bernama Tempe untuk meliput kemasyhuran tersebut.

Saat asyik bercengkrama, tiba-tiba datang dua orang warga yang mengadu kepada Pak Lurah lantaran suaminya sakit jiwa semenjak gandrung dengan Semi. Hal ini menjadi tamparan keras untuk Pak Lurah. Sebab, bisa saja wartawan akan menuliskan kejelekan Sinden Semi.

Namun, Pak Lurah tak kehabisan akal. Wartawan tersebut diberi sejumlah uang tutup mulut. Dan menuliskan hal-hal yang baik saja. Si wartawan pun menerima uang tersebut dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah.

Tiba-tiba saja, datang Dewa Narada dan Yamadipati untuk menjemput Sinden Semi. Semua warga tak ada yang berani melawan keduanya. Hanya Panjanglah yang berani menentang permintaan itu. Meskipun Sinden Semi bersikeras untuk ikut ke kayangan karena diiming-imingi akan dijadikan sinden yang lebih masyhur. Bukan hanya di dunia, melainkan di kayangan juga.

Karena kesetiaannya kepada sang istri dan keluarganya, Panjang membawa Sinden Semi hingga tak bisa ditemukan oleh kedua dewa tersebut. Di sisi lain, Narada dan Yamadipati bertengkar lantaran harus memutuskan untuk tetap membawa Sinden Semi atau tidak. Narada bersikeras membawayanya, sementara Yamadipati menolaknya.

Tak disangka, Yamadipati malah memilih tidak ikut kembali ke kahyangan. Sedangkan Narada tetap kembali untuk melaporkan kegagalannya memboyong Sinden Semi kepada Sang Hyang Guru. (arf)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »