Pentingnya Generasi Muda NU Paham Aswaja Ala Nahdliyah


DOKUMEN PRIBADI


Belakangan ini, banyak kelompok Islam mengatasnamakan diri ahlussunah. Namun praktiknya yang terjadi jauh dari kehidupan waljamaah. Kelompok ini beranggapan bahwa untuk memahami ajaran agama serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari cukup dikembalikan pada Al Qur'an dan Sunnah (Hadist).

Di sinilah, generasi muda NU perlu cerdas. Generasi muda NU mesti paham mengenai ajaran-ajaran yang dilestarikan sesepuh-sesepuh NU, yang pastinya tidak sembrono dalam penentuannya. Oleh karenanya generasi muda NU sebagai penerus perjuangan ulama NU, selayaknya harus mengenal serta mempelajari serta memahami tentang Ahlussunnah Wal Jamaah.

     Apa sih Ahlussunnah Wal Jamaah?
Kita sebagai generasi muda Nahdiyin harus mengetahui dasar-dasar dan tujuan Ahlussunnah Wal Jamaah sesuai Muqaddimah AD/ART jam'iyah Nahdlatul Ulama. Pada Muqaddimah ini yang merupakan rumusan Roisul Akbar KH Hasyim Asy'ari menyatakan bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah menurut NU ialah mengikuti rumusan-rumusan A'imatil mujtahidin di dalam memahami dan melaksanakan agama.

Di dalam aqidah NU mengikuti mazhab Imam Abu Hasan Al Asy'ari, Imam Abu Mansur Al maturidi. Di dalam fiqih NU mengikuti Mazhabi'il arba'ah, Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam As Syafi'I, Imam Ahmad Ibnu Hanbal. Di dalam masalah tasawuf NU mengikuti Imam Ghozali, Imam Junaid Al Baghdadi.

Itulah rumusan Ahlussunnah Wal Jamaah yang dirumuskan Roisul Akbar pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari sesuai Muqaddimah AD/ ART jam'iyah Nahdlatul Ulama.

 Kenapa harus mengikuti mazhab- mazhab tersebut?
Alasan yang paling mendasar ialah sebab kita orang awam, yang mungkin belum mempunyai kemampuan untuk mengambil hukum dari Kitabullah dan Sunnati Rasululillah. Al Quran dan Hadist.

Karena, untuk memahaminya dengan baik harus ada beberapa disiplin ilmu yang harus dimiliki, yang rata-rata orang zaman sekarang belum memahami dengan baik hukum-hukum tersebut. Di antaranya ialah ilmu usul Fiqih. Untuk dapat memahami Al Quran Hadis, kita juga harus memahami ilmu Al ulumil Al Arabiyah yaitu ilmu Nahwu,Shorofi, dan Balaghah, yang mana ilmu tersebut sangat sedikit dipelajari di madrasah –madrasah, apalagi pada sekolah formal yang mengikuti kurikulum pemerintah.

   Al Quran dan hadis harus selalu berdampingan dengan ilmu Nahwu Shorof dan Balaghah dikarenakan Quran dan hadis ini kedua-duanya menggunakan bahasa Arab, bahkan di dalam Al-Qur'an bahasa yang digunakan juga mengandung kasustraan Arab yang tinggi, sehingga untuk memahaminya perlu menggunakan ilmu Balaghah dan ilmu sastra Arab.

  Oleh karenanya, Imam As suyuthi menyebutkan bahwa memahami ilmu balaghoh hukumnya fardhu 'ain, karena kita tidak akan tahu tentang i'jazul Qur'an (bagian dari Ilmu Tafsir yang membahas tentang sesuatu yang menyangkut kemukjizatan Al Quran) tanpa ilmu Balaghah. Sebab inilah yang mendasari ulama-ulama sepuh NU bersepakat bahwa kita sebagai orang awam di dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama harus mengikuti rumusan-rumusan A'imatul mujtahidin.

  Sebagian orang awam yang tidak punya disiplin ilmu yang sampai pada Rub'atin ijtihadi ini wajib hukumnya mengikuti para ulama-ulama Ai matil mujtahidin seperti Imam Syafi'i, Imam Ghozali, Imam Junaid al-Baghdadi dan lain-lain, untuk memudahkan kita sebagai orang awam dalam memahami hukum-hukum Islam, diakui atau tidak kita sebagai orang awam belum bisa mencari sendiri hukum Islam di dalam Al-Qur'an.

Apa yang mendasari kelompok-kelompok islam mengaku Ahlussunnah? Hal ini didasari sabda Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan At Tirmidzi bahwa umatnya pada akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu, lalu sahabat bertanya "siapa itu Ya Rasulullah" Rasul menjawab "yaitu mereka yang mengikuti apa yang aku lakukan dan yang dilakukan para sahabat"

Jadi Ahlussunnah Wal Jamaah ialah kumpulan manusia yang telah melaksanakan dan meniru nabi, keluarga, sahabat, dan tabi'in serta konsekuensi dalam melaksanakannya juga di dalam pengambilan pemahaman mengenai hukum-hukum Islam menganut pada Aimatul mujtahidin dan para ulama, dikarenakan keterbatasan di dalam disiplin ilmu, sehingga tidak mampu mengambil langsung hukum di dalam Al-Qur'an dan hadist.

Muchamad Romadan, Departemen Organisasi PAC IPNU Keling



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »