Proper Emas Bukan Pencapaian Akhir

Sinergi 



            Peran pemerintah dalam hal pembangunan mempunyai jangkauan yang sangat luas, dimulai yang bersifat pelayanan operasional hingga pada persoalan ideologis dan spiritual. Di Indonesia mempunyai peran strategis melakukan kombinasi antara menggali, menggerakkan dan mengombinasikan faktor sumber daya yang tersedia seperti tenaga kerja, biaya, peralatan, partisipasi dan kewenangan yang sah. Pemerintah turut berperan sebagai elemen sentral dalam pembangunan yaitu menetapkan kebijakan umum dan melaksanakannya.

            Disisi lain, peran perusahaan mempunyai posisi strategis mewujudkan masyarakat sejahtera mencapai pembangunan inklusi, mandiri secara ekonomi dan sosial. Misalnya payung legalitas kegiatan CSR sudah jelas tertuang dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang kewajiban perusahaan/PT (Perseroan Terbatas). Bahwa setiap perusahaan yang kegiatan proses bisnis mengandung unsur eksploitasi alam, wajib melaksanakan Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan disesuaikan laporan tahunan. Merujuk Bab V Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan Pasal 74 ayat 4 menjelaskan, “Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah”.

            Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) adalah suatu program yang dirancang mengukur melalui indikator  kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sejak tahun 1995, pemerintah mendorong perusahaan meningkatkan pengelolaan lingkungan. Melalui skema penilaian proper, masyarakat akan mengetahui reputasi/citra perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan sekitar perusahaan.

            Berikut ini skema penentuan reputasi/citra perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan dinilai dengan warna emas, hijau, biru, merah dan hitam. Emas adalah simbol kasta tertinggi diantara warna lainnya, sebab perusahaan mampu menciptakan integrasi pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat (baca: beyond compliance).

            Hijau merupakan warna yang mencitrakan perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan. Antara lain Efisiensi Energi, Penurunan Emisi, 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Limbah Padat, 3R Limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), Pencemaran Air, Sistem Manajemen Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati. Warna hijau dan emas termasuk kriteria penilaian aspek lebih dari yang dipersyaratkan.

            Biru adalah perusahaan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku dalam bidang penilaian tata kelola air, penilaian kerusakan lahan, pengendalian pencemaran laut, pengelolaan limbah B3, pengendalian pencemaran udara, pengendalian pencemaran air dan implementasi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

            Merah adalah warna yang menunjukkan perusahaan telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan namun baru sebagian persyarakat yang telah diatur dalam undang-undang dalam bidang penilaian tata kelola air, kerusakan lahan, pencemaran laut, limbah B3, pencemaran udara, pencemaran air dan implementasi AMDAL.

            Hitam adalah stratifikasi paling dasar terbawah dalam citra pengelolaan lingkungan. Perusahaan belum memulai upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana yang dipersyaratkan. Justru perusahaan seperti ini berpotensi besar mencemari lingkungan dan beresiko terhadap perusahaan hingga ditutup ijin usahanya oleh pemerintah berwenang (KLHK).

            Setiap perusahaan berkesempatan besar dan lebar meraih pole position dalam ajang perhelatan proper tahunan. Tak terkecuali perusahaan listrik negara sekelas PT. PLN (Persero) UIK Tanjung Jati B. Tahun ini, PT. PLN (Persero) UIK Tanjung Jati B Jepara berhasil menggondol kategori emas dalam sejarah pencapaian tertinggi sejak tahun 2014. Hal ini menunjukan kapasitas melampaui kepatuhan yang dipersyaratkan KLHK kepada perusahaan tersebut. Komitmen perusahaan menjalin hubungan baik dengan masyarakat senantiasa mendorong pola kesadaran menjaga lingkungan, mewujudkan keberlanjutan ekosistem bisnis berjalan stabil bahkan meningkat.

            Pada tahun 2015 inisiasi program pemberdayaan masyarakat menyasar kelompok ternak kambing di desa ring-1 perusahaan, antara lain : Desa Tubanan, Desa Kaliaman dan Desa Bondo. Kelompok ternak menerima program pemberdayaan setelah sekian bulan melalui proses penggalian potensi dan karakter masyarakat setempat. Disebut “Dotuman Angon” adalah nama program pemberdayaan masyarakat yang sudah berjalan hampir lima tahun khusus mendampingi kelompok ternak.

            Selain program diatas masih ada program unggulan lain yang ditujukan kepada masyarakat pinggir pantai. Daerah pesisir pantai utara Jepara yang terletak di Pantai Bondo tak luput disentuh berbagai program pemberdayaan. Kondisi pantai terlihat kotor, kumuh dan memprihatinkan mengundang perhatian perusahaan agar menyulap pantai penuh potensi ekonomi, lingkungan dan sosial. Membangun jaringan individu dan komunitas sebagai modal sosial menggerakkan partisipasi masyarakat. Disebut Dewi Bondo/Desa Wisata Bondo merupakan program pemberdayaan masyarakat pesisir Desa Bondo.

            Terakhir, Juara Mik Pantura akronim dari Rajungan dan Karang Endemik Pantai Utara Jawa adalah program pemberdayaan masyarakat yang fokus mengembalikan kepunahan rajungan dan rusaknya karang di Pulau Panjang, Jepara. Berangkat dari kegelisahan masyarakat terhadap kondisi rajungan semakin berkurang, akibat sistem penangkapan rajungan tanpa disortir maka bibit rajungan yang masih kecil atau indukan bertelur tidak berkesempatan proses regenerasi. Didukung rusaknya karang endemik meningkatkan angka kepunahan ikan karena kondisi rumah ikan untuk hidup telah hilang/rusak.

            Jika kondisi ini hanya dibiarkan tanpa konsensus antar sektor yang jelas dan konkret, maka timbul masalah besar terhadap koloni rajungan dan ikan hilang tanpa perhatian. Nelayan akan merasakan dampak serius menurunnya pendapat materiil ketika dihadapkan situasi demikian.

            Oleh karena itu, predikat proper kategori emas yang diperoleh PT PLN UIK TJB Tahun 2019 menjadi kebanggaan sebagai perusahaan yang melampaui kepatuhan. Justifikasi masyarakat memberikan citra perusahaan semakin baik terkait pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai masalah justru akan hadir jika perusahaan tersebut puas sampai dititik ini. Hal yang paling kontroversi adalah apakah perusahaan mampu menyelenggarakan nilai-nilai proper secara berkelanjutan ?

            Pekerjaan rumah masih menumpuk banyak di meja kerja. Tidak ada waktu terlambat kecuali sudah memulai langkah demi langkah. Perusahaan sebaiknya mampu memelihara modal sosial yang sudah dimiliki masyarakat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat proaktif membuat jalinan hubungan. Modal sosial akan kuat tergantung pada kapasitas aktor dalam kelompok masyarakat untuk membangun sejumlah asosiasi/perkumpulan.

            Pada karakter masyarakat dan kelompok sosial yang tebentuk didalamnya memiliki bobot resiprositas kuat akan melahirkan masyarakat yang memiliki tingkat modal sosial yang tinggi. Misalnya terefleksinya tingkat kepedulian sosial yang tinggi, saling membantu dan saling memaafkan. Keuntungan yang diperoleh adalah lebih mudah membangun diri, kelompok dan lingkungan sosial dan fisik mereka sangat mengagumkan.

            Terakhir, perilaku proaktif yang memiliki kandungan modal sosial dapat dilihat melalui tindakan dari yang paling sederhana sampai berdimensi dalam dan luas. Masyarakat Desa Bondo yang proaktif untuk memungut sampah berserakan di bibir pantai, membersihkan kandang ternak dari kotoran dan sampah, melakukan inisiatif kepada kelompok untuk menjaga ekosistem rejungan dan karang endemik. Semua itu merupakan bentuk tindakan yang di dalamnya terkandung semangat keaktifan dan kepedulian tinggi yang bernuansa modal sosial.

Selamat Atas Anugerah PROPER EMAS PT. PLN (Persero) UIK Tanjung Jati B Jepara

Ahmad Kharis, Dosen IAIN Salatiga


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »