Situs Sangiran sebagai Verifikasi Pelajaran Sejarah

 


Pelajaran sejarah tentang fosil dan manusia purba sudah dipelajari oleh para pebelajar sejak bangku Sekolah Dasar. Di jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, pelajaran sejarah dikemas dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Sementara di jenjang Sekolah Menengah Atas, barulah secara konkret disebut dengan ‘Sejarah’. Berbeda dengan pelajaran lain yang bisa dilihat wujud nyatanya ̶ misalnya gaya gravitasi dalam pelajaran fisika yang dapat dinikmati lewat pengalaman lemparan ke atas yang selalu jatuh ke bawah, jenis-jenis hewan pemakan rerumputan, perdagingan, hingga pemakan segala dalam pelajaran biologi yang dapat disaksikan di Kebun Binatang, atau ihwal gaya katak dalam pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang dapat dirasakan ketika berenang ̶ , pelajaran sejarah justru berisi tentang kehidupan masa lalu yang tak bisa dinikmati wujud nyatanya.

Di sekolah, pelajaran sejarah hanya ‘dikisahkan’ lewat teks atau audio-visual bagi sekolah-sekolah yang telah ‘disambangi’ kecanggihan teknologi. Kondisi inilah yang membuat kebanyakan pebelajar mudah merasa bosan ketika belajar tentang sejarah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dapat menyiasati kendala ini dengan cara mengajak para pebelajar mengunjungi lembaga pendidikan informal yang berhubungan dengan pelajaran sejarah, seperti Museum Manusia Purba Sangiran yang berada di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah.

Senada dengan ungkapan yang disampaikan oleh G. Brown Goode bahwa sudah seyogianya museum menjadi sebuah rumah yang memelihara pikiran-pikiran hidup daripada hanya menjadi kuburan barang-barang bekas. Dengan cara ini, museum sebagai lembaga pendidikan informal dapat menjadi ‘obat’ atas rasa bosan para pebelajar di lembaga pendidikan formal.

Memverifikasi Pelajaran Sejarah

Satu di antara layanan edukasi yang disediakan oleh Museum Manusia Purba Sangiran adalah program School Goes to Museum[1]. Wujud layanan yang diberikan oleh pihak museum kepada para pebelajar adalah presentasi atau ceramah interaktif, penayangan film tentang Sangiran, dan jalan-jalan keliling museum yang dipandu oleh seorang Guide profesional. Stimulus yang diberikan oleh pihak museum yang berupa informasi sejarah tentang fosil dan manusia purba dalam materi presentasi serta penayangan film, diharapkan dapat direspons dengan baik oleh para pebelajar ketika berkeliling museum untuk melihat koleksi-koleksi fosil manusia dan hewan purba. Respons yang diharapkan adalah verifikasi oleh pebelajar atas materi yang diperoleh selama presentasi, pemutaran film, dan materi-materi yang telah disampaikan oleh gurunya selama di sekolah terhadap bukti konkret di hadapannya seperti artefak dan fosil.

Pebelajar juga dapat membandingkan antara makhluk-makhluk purba dengan makhluk-makhluk modern seperti saat ini. Ukuran gading gajah purba dengan ukuran bermeter-meter dapat dijadikan tolok ukur untuk menerka seberapa besar badan gajah purba jika dibandingkan dengan gajah modern. Artefak-artefak yang digunakan oleh manusia purba untuk membantu aktivitas mereka sehari-hari juga dapat dijadikan pembanding dengan teknologi canggih seperti saat ini. Pengalaman berpikir seperti ini akan lebih diingat oleh para pebelajar, sebab mereka merasakan dan melihat secara langsung atas setiap hal yang mereka pikirkan.

Pandangan Calon Pengajar tentang Situs Sangiran sebagai Sumber Belajar Evolusi

Museum Manusia Purba Sangiran sebagai ‘saksi bisu’ evolusi manusia purba apakah benar-benar cocok dijadikan sumber belajar tentang evolusi manusia menurut sudut pandang para calon pengajar? Alaninda Saputra, Maridi, dan Putri Agustina pernah melakukan penelitian tentang persepsi mahasiswa calon guru terhadap pemanfaatan Situs Sangiran sebagai sumber belajar evolusi[2]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% mahasiswa calon pengajar merasa Situs Sangiran memberikan gambaran yang nyata tentang sejarah penemuan fosil manusia purba di Jawa beserta stratigrafinya, 70% mahasiswa calon pengajar menganggap Situs Sangiran dapat dijadikan sumber belajar evolusi secara langsung, dan 80% mahasiswa calon pengajar menganggap pembelajaran evolusi dengan berkunjung ke Situs Sangiran dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang proses evolusi.

Akhir kata, kisah tentang masa lalu memang layak dimuseumkan kok.

Akhmad Idris, lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, baru-baru ini telah menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020).



[1] Muhammad Mujibur Rohman dalam Jurnal Sangiran No. 5 Tahun 2016

[2] Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains, UNS Surakarta 22 Oktober 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »