Jidhuran dan Kesederhanaan Beragama Ala Orang Desa

Sudah lebih dari lima tahun saya vakum dari dunia “penerbangan” (baca: rebana). Kalau tidak salah ingat, terakhir menabuh rebana waktu kelas tiga Madrasah Aliyah. Praktis, tangan saya sudah tak lentur lagi menabuh dengan berbagai jenis gaya dan variasi.

Semalam, saya ikut Pak Mul, bapak saya, Jidhuran. Tempatnya di Makam Mbah Surojoyo. Bagi kami, ia lah yang menjadi cikal bakal kehidupan di Dukuh Kebok Kidul, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri.

Sederhananya, Jidhuran adalah nama lain rebana klasik. Saya masih ingat betul, semasa kecil dulu, tiap malam Kamis selalu ada Jidhuran di kampung. Bapak saya tak pernah absen. Sepekan sekali Jidhuran digelar di rumah-rumah anggota yang jumlahnya hanya belasan. Secara bergiliran.

Saya selalu menantikan giliran bapak saya jadi tuan rumah. Berbeda dengan teman-teman sebaya, waktu itu saya sangat tertarik untuk mengamati dan menikmati setiap tabuhan dan lantunan shalawat dari mereka. Tanpa sadar, telapak tangan saya kerap menabuh lutut sendiri mengikuti irama yang tersaji. Bahkan, saya hampir selalu mengikutinya hingga selesai. Yang sering kali sampai dini hari.

Ingatan saya masih baik ketika suatu malam, nenek saya bertutur “kue kudu iso terbangan, nang. Simbah-simbahmu biyen ahli terbangan kabeh (baca: kamu harus bisa rebana, nak. Kakek-kakekmu dulu ahli rebana semua).” Pitutur itu masuk ke telinga saya waktu masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah.

Memang, kata orang-orang, simbah buyut saya dulu ahli Jidhuran dan bahkan menjadi pentolan di setiap angkatan. Keahlian itu nampaknya terwariskan kepada bapak saya dan saya sendiri -meskipun saya cuma bisa sebisanya-. Saya dan bapak punya kemiripan dalam hal rebana, yaitu sama-sama menguasai hampir semua tabuhan piranti rebana. Tapi ada satu kesamaan yang cukup aneh, kami sama-sama tak berbakat jadi vokal. Mungkin Tuhan sengaja membuat pita suara kami sama.

Dulu, grup Jidhuran bapak sering diundang dalam hajatan-hajatan. Baik di kampung sendiri atau tetangga desa. Seperti pernikahan atau khitanan. Bahkan, tak jarang ada orang yang sampai bernadzar untuk menghadirkan grup Jidhuran itu saat punya hajatan.

Kembali ke Jidhuran malam tadi. Karena sudah lima tahun lebih vakum, tangan saya jadi sedikit keram. Beruntung saya masih sanggup menabuh sampai tiga judul shalawat. Perlu dicatat, Jidhuran sangatlah berbeda dengan rebana-rebana modern. Saya juga cukup lama mempelajari beberapa model rebana. Rebana modern salah satunya. Sekilas, tabuhan di Jidhuran memang sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Ditambah lagi dengan ukuran dan berat rebana yang jauh berbeda dengan rebana kekinian.

Bisa jadi, orang-orang sekarang enggan mempelajari rebana klasik macam Jidhuran itu. Sebab, selain rumit, Jidhuran terkesan kuno dan kampungan. Tentu berbeda dengan rebana kekinian yang lebih hits dan digandrungi kawula muda.

Tadi malam saya menjadi yang paling muda. Lainnya sudah sepuh. Sepanjang ingatan saya, mereka tak pernah berubah sejak dulu. Setiap kali Jidhuran, mereka hanya mengenakan pakaian sopan seadanya. Yang bahkan, tak jarang sarung atau baju mereka sudah lusuh dan berlubang akibat terkena bara kretek.

Mereka tak memikirkan busana. Yang penting bisa Jidhuran dan bershalawat. Kitab-kitabnya bahkan sudah lusuh dan hampir rusak. Mereka tak peduli. Yang penting masih bisa dibaca. Toh, sebagian besar kalimat-kalimat di kitab itu sudah berada di luar kepala mereka.

Saat melafalkan kalimat-kalimat maulid pun, mereka tak fasih-fasih betul. Huruf “u”, misalnya, yang mestinya harus dilafalkan “u”, terkadang bunyi yang keluar dari mulut mereka mirip dengan huruf “o”. Dalam hal ini, saya sangat kagum. Dengan keterbatasan mereka dalam melafalkan huruf-huruf Arab, mereka seperti tak mempedulikan apakah itu salah atau benar. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kemurnian atas esensi makna setiap kalimat. Kalaupun mereka tak sepenuhnya mengerti maknanya, mereka yang dengan penuh semangat melafalkan pujian-pujian kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, itu dengan kemurnian cinta.

Saya jadi semakin kagum dengan cara para wali terdahulu -seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga- yang dengan penuh cinta membersamai orang-orang kampung di Jawa untuk mencintai Islam.

Usai Jidhuran, mereka tak langsung pulang. Kami mendengarkan pitutur-pitutur dari salah satu kiai kampung, yang kebetulan Pak Dhe saya. Situasi itu sama sekali tak seperti kajian-kajian agama. Antara kiai dan jama’ah saling ngobrol.

Jangan berpikiran mereka mengobrolkan cara beragama orang lain, busana muslim-muslimah, trending topik di media sosial, bisnis MLM, politik negara, atau Omnibus Law. Tidak! Mereka hanya membicarakan hal-hal sederhana dari keseharian hidup. Seperti saling bertanya kabar, keadaan tanaman dan sawah yang sedang digarap, atau membicarakan kondisi piranti Jidhuran yang mulai usang. Bahkan, sebagai petani, mereka sama sekali tak menyinggung kelangkaan atau naiknya harga pupuk. Mereka memang hebat.

Obrolan demi obrolan makin gayeng. Saat makanan yang disuguhkan adalah pisang rebus dan kopi hitam hasil tumbukan sendiri. Bisa jadi inilah yang membuat sebagian orang Islam kampung lebih memilih berislam dengan cara “orang kota”. Tentu saja, kopi dan rebusan pisang itu sangat tidak instagramabel untuk menunjukkan keislaman hari ini. Apalagi busana mereka yang lusuh dan sudah berlubang. Ditambah tak ada obrolan tentang hal-hal kekinian. Ah! Orang kampung memang begitu dari dulu…

Tapi, dengan masih adanya Jidhuran, perkumpulan-perkumpulan orang Islam di kampung, dan tetap adanya kiai kampung, kok, keyakinan saya bahwa agama dan bangsa ini masih akan tetap baik-baik saja. Gitu.

Faqih Mansyur, penulis adalah alumni IAIN Kudus, penikmat kesenian dan kebudayaan lokal di Jepara, tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di facebook.  

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »