NU

Dokumen facebook

Meski tak punya kartu anggota Nadlatul Ulama (NU), tapi tak apa pula aku mengaku warga NU. Anggaplah NU kultural, bukan sebagai struktural. Meski pernah menerima sebuah SK Pembekuan dalam kepengurusan NU, sebutlah pemecatan, tapi tak apa pula aku tetap mengaku warga NU. NU bukan hanya yang tercatat resmi, yang tak tercatat resmi jauh lebih besar jumlah dan kekuatan. Maka memahami NU akan mengalami kesusahan tersendiri.

Fleksibelitas sikap warga NU merupakan karakter ushuli yang tidak mudah dijelaskan. Dalam sikap politik misalnya, selalu dekat dengan penguasa seolah menjadi stigma tersendiri meski perlawanan secara tersembunyi selalu terjadi di balik layar. 

Saat Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959 bahkan menyatakan diri sebagai presiden seumur hidup, kreasi politik NU sangat luar biasa. PKI yang sedang naik daun di mata rakyat, hampir bisa dipastikan menang pemilu 1960 dan 1965. Posisi krusial inilah yang menjadikan tokoh NU menginisiasi penundaan pemilu pasca 1955 sebagai pemilu pertama, dan pengangkatan Sukarno sebagai presiden seumur hidup pada 1963 agar PKI tak memuncaki pemerintahan saat itu.

NU masuk dalam koalisi Nasakom, sering dipersepsi sebagai kawan komunis. Namun secara ini, jika tidak ada agamawan dalam pemerintahan yang mengawal presiden, bisa jadi negara ini benar-benar mengarah pada pencapaian sebagai negara komunis. 

NU melakukan perlawanan tersembunyi untuk menjaga kaum tani dan rakyat pedesaan dari pengaruh PKI. Kontestasi tak terhindarkan sehingga PKI menjuluki para kyai dan santri sebagai "setan desa" yang harus dimusnahkan. 

NU menjadi penyeimbang kekuatan di pemerintahan sekaligus melakukan kontrol kebijakan presiden agar PKI tidak secara mudah memainkan diri mengatur-atur kebijakan negara. Prinsip dar'ul mafasid muqoddamu ala jalbil masholih benar-benar menjadi "mantra" dalam menempatkan diri.

Dalam sisi budaya, warga NU tentu mengalami banyak keunikan. Seorang kyai dan santri hampir sangat mudah bergaul dengan preman bahkan ahli maksiat sekalipun. Seorang kyai dan santri hampir sangat akrab dengan pemuka dan umat agama lain bahkan yang tak beragama sekalipun. 

Seorang kyai dan santri sangat akrab dengan pemberian dan hadiah dari pejabat maupun orang paling miskin sekalipun. Fenomena tersebut tak mudah dijawab tanpa menjelaskan pokok ushuli dalam pendekatan fiqih.

Sebagai contoh, seorang yang sangat miskin memberikan amplop sedekah pada kyai atau santri dalam mengisi mengaji. Jika tidak diterima, bisa jadi ketersinggungan orang miskin lebih menjadi karena merasa terhina tak bisa memberi dalam nominal banyak sehingga ditolak. 

Ketersinggungan orang miskin karena rasa terhina sangat rentan berdampak menjauhi kyai dan santri dengan mencari teman pergaulan yang jauh dari praktik agama. Sebaliknya, jika kyai menerima amplop dari orang miskin maka bisa jadi tertuduh sebagai pihak yang "disetankan" karena tak peka dengan kondisi kemiskinan di depan mata. Pada posisi demikian, keunikan-keunikan akan muncul di masyarakat itu sendiri.

Harus diakui bahwa masih terlalu banyak hal yang menjadi tantangan bagi warga NU. Terlebih pasca-Muktamar 33 di Jombang pada 2015, yang menyisakan banyak identitas baru dari NU Garis Lurus, NU Garis Lucu, bahkan yang secara terang benderang menyatakan "mufarraqah" dari NU kultural. Namun apapun itu, anak-anak saat bertanya tentang apa makna gambar di ruang tamu berkaitan NU, maka kujawab dengan mudah "Nikmate Uwakih".

NU itu nikmatnya uwakih (banyak). Tahlilan ada makan-makan. Manaqiban ada makan-makan. Selametan ada makan-makan. Syukuran ada makan-makan. Termasuk hari ini, 31 Januari 2021, bertepatan 16 minggu jalan ke 17 minggu janin di perut istri, anak-anak tersuguhi dengan hidangan untuk makan-makan. 

Selamat Harlah NU ke-95.

Selametan untuk janin di usia empat bulan..

Ighfirlana dzunubana, wa liwalidina, wa dzurriyyatina..

Ilalkhoiri qoribna, 'anissyarri ba'idna..

Balligh maqoshidana, waqdhi hawaijana..

Bogor, 31 Januari 2021

Muh Khamdan


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »