Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Temuan Bangunan di Dukuh Cacah Bukan Makam Mbah Gamirah, Balai Arkeologi : Itu Bangunan Belanda

Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta sedang mengamati beberapa temuan di lokasi punden Dukuh Cacah Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati


PATI – Setelah melakukan observasi selama dua hari, Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan, temuan warga berupa struktur bangunan di Dukuh Cacah Desa Sukoharjo merupakan sebuah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Bukan makam seperti yang diduga banyak pihak.
Sebelumnya penemuan struktur bangunan tersebut, diduga warga setempat sebagai makam kuno dari seorang tokoh setempat bernama Mbah Gamirah. Ketua Tim Observasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Masyhudi mengungkapkan beberapa fakta yang menguatkan bahwa bangunan tersebut adalah peninggalan Belanda.
Pertama, kata Masyhudi, pihaknya berpedoman dengan susunan batu bata tersebut ada plester dengan spesi. ”Adanya plester spesi itu identik dengan bangunan-bangunan masa Belanda. Ukurannya juga relatif bangunan baru. Kalau makam kuno memang tidak,” papar Masyhudi. 
Kedua, adanya temuan-temuan pecahan keramik di sekitar lokasi temuan struktur bangunan tersebut. Pecahan keramik itu dilihat sepintas juga identik dengan masa kolonialisme dulu.
Mengenai bangunan apa, pihak dari Balai Arkeologi belum mengetahui secara pasti. Sebab data-data pendukung lainnya semisal literatur berupa buku-buku kuno tidak ada. Selain itu struktur bangunannya juga sudah tidak berbentuk secara pasti.
”Kalau dari kami hasil observasinya memang begitu. Mungkin untuk lebih jelas melihat itu sebagai bangunan apa bisa meminta bantuan ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk direkonstruksi,” imbuhnya.
Berbincang Bersama Sesepuh
Selain meneliti bangunan tersebut, tim dari Balai Arkeolgi juga menyempatkan berdialog dengan warga setempat untuk mengetahui cerita tutur mengenai tempat tersebut.
Lebih lanjut, tim dari Balai Arkeologi menilai bangunan tersebut ada kaitannya dengan adanya sendang yang berada di sebelahnya. ”Mata air dahulu menjadi sangat penting. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda mungkin saja membuat sebuah bangunan untuk menunjang keberadaan mata air tersebut. Apalagi di zaman Belanda dulu Pati menjadi salah satu kota penting karena sebagai karesidenan. Mungkin nilai sejarahnya di sana yang penting,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukoharjo mengaku akan menyampaikan hasil observasi dari tim ahli ini secepatnya kepada warga. Hasil observasi itu direncanakan akan disampaikan tidak hanya lisan akan tetapi tertulis.
Mengingat sebelumnya warga sekitar sudah sangat meyakini temuan bangunan itu sebagai makam kuno. ”Supaya masyarakat tidak simpang siur. Kami nanti akan mengumpulkan tokoh-tokoh desa dan menyampaikan hasil dari tim ahli ini,” paparnya.
Selain itu, kepala desa menyampaikan, meskipun hasil observasinya tidak sesuai dengan dugaan masyarakat, pihaknya tetap mengharap masyarakat menghormati daerah sekitar bangunan tersebut. Sebab sudah menjadi tradisi dan kepercayaan masyarakat sejak dulu, jika tempat sesepuh desa, yang diperingati setahun sekali dalam tradisi sedekah bumi. (yan)