Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surga Kecil di Pelosok Jepara itu Bernama Tempur (1)



Sungai yang jernih airnya


Gus Muwafiq. Kiai nyentrik berambut gondrong asal Yogyakarta itu dalam suatu ceramahnya pernah mengisahkan bagaimana dakwah di Jawa itu tidak mudah. Mau bercerita tentang surga kepada orang Jawa tidak laku.

Surga, itu dalam penggambaran Alquran sebagai tajri min tahtihal anhaar. Air mengalir seperti sungai. Orang Jawa ngomong, kata Gus Muwafik. Mencari air kok sampai surga segala? Di sini itu, sawah semua airnya mengalir.

Artinya, pasti bukan itu yang dikisahkan ulama penyebar Islam waktu itu. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak. Karena di sini juga banyak buah-buahan.

Mengingat kisah Gus Muwafiq itu, saya jadi teringat Desa Tempur. Sebuah desa yang berada di lereng Pegunungan Muria di sisi utara. Termasuk dalam Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Dari pusat Kota Jepara, desa ini berjarak sekitar 52 kilometer. Memakan waktu 1 jam 30 menit lebih.

Desa dengan mayoritas petani kopi itu sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Di desa tersebut, kini sedang bergeliat pariwisatanya. Desa wisata menjadi konsep. Tempur juga sudah menjadi bagian dari 9 desa wisata yang ada di Kabupaten Jepara.

Menuju desa ini sangat mudah. Hanya medan jalannya saja yang bisa membuat orang was-was dan merinding. Jika baru pertama datang. Ke Desa Tempur, seperti ke Roma. Ada banyak jalan menuju sana.

Pemandangan sawah

Bisa melalui Jepara. Bisa melalui Pati. Dari Pati perjalanan ke Tempur bisa melalui jalan Desa Sirahan yang masuk Kecamatan Cluwak. Menyeberang Sungai Kaligelis yang masih jernih dengan bebatuan alamnya. Kemudian melewati Desa Damarwulan yang sudah masuk Kecamatan Keling. Karena sudah menjadi desa wisata, petunjuk lokasi menuju Desa Tempur sangat mudah dijumpai. Di tiap persimpangan akan ada papan hijau yang memberi tahu kita. Masih berapa kilometer lagi jalan naik-turun yang akan ditempuh. Dari Desa Sirahan jaraknya sekitar 13,1 kilometer. Kira-kira 35 menit perjalanan.

Sementara dari Jepara, perjalanan ditempuh dari Desa Jlegong. Ada gapura selamat datangnya di sisi selatan jalan. Depan Pasar Hewan Keling. Jaraknya sekitar 19 kilometer. Sekitar 45 menit perjalanan. Jalannya mulus. Aspal hotmix. Medannya tak terlalu naik-turun. Standar wilayah pegunungan.

Disambut Bukit-bukit dan Sungai Jernih
Sebelum sampai di desanya. Kita sudah dibuat geleng-geleng. Jalan selebar kurang lebih kurang meter menjadi akses menuju desa paling tinggi di Kota Ukir tersebut. Jalannya pun di dinding-dinding bukit. Sebelahnya jurang.

Namun ada pemandangan menarik. Sepanjang perjalanan, kita akan dipaksa melihat bukit-bukit yang menghijau. Rimbun dengan beragam tanaman. Saat musim hujan bukit-bukit itu keluar mata airnya. Tak jarang sering membuat tanah longsor.

Salah satu puncak Pegunungan Muria

Selain bukit-bukit dan Pegunungan Muria yang panjang membentang di 3 kabupaten, sepanjang jalan sungai-sungai mengalirkan air jernih dari mata air pegunungan. Sungai-sungai tersebut mengalir ke desa-desa di bawahnya.

Sama seperti sungai di Kudus. Namanya juga Sungai Kaligelis. Orang-orang tua menyebut karena sungai itu gelis banjir. Gelis dalam bahasa Jawa artinya cepat.

Di desa ini memang alamnya yang dijual. Bukit-bukit menjulang tinggi. Dari desa ini Puncak 29 atau saptorenggo sangat jelas terlihat. Bentuknya meruncing. Seperti sebuah pensil besar.

Ada air yang mengalir jernih dari mata air pegunungan. Tebing-tebing yang menghijau. Hamparan kebun kopi rakyat. Kedai-kedai kopi yang memanjakan lidah. Hingga situs-situs sejarah seperti candi angin, membuat desa ini semakin menarik. Ditambah lagi dengan orang-orangnya yang ramah. Orang akan betah berlama-lama memandangi pegunungan, air sungai, dan hamparan sawah. Ya, surga kecil di pelosok Jepara itu bernama Tempur. (alb/bersambung) 

FOTO : diolah dari Desa Wisata Tempur