Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Jadi ke Puncak Pangrango, Bonusnya Dapat Sahabat (3)





Setelah berpisah dengan teman dari Lampung. Saya bersama Ci’lo turun berdua saja. Jalur turunnya cukup curam. Tak banyak pendaki lain kami jumpai. Sepi. Jalur yang kami lewati namanya Cibodas. Dibanding dengan jalur putri yang kami lewati sebelumnya, treknya lebih curam jalur cibodas.

Sampai di pertigaan ke arah Puncak Pangrango, kami berjumpa dengan pendaki lain. Akhirnya. Para pendaki itu dari Jakarta. Sebelumnya kami sudah pernah ngobrol dan bercanda di Pos 3. Serasa bertemu keluarga, kami kemudian dijamu dengan makanan yang baru saja mereka masak.

Di tempat itulah, kami akhirnya mengurungkan untuk mendaki ke Pangrango. Situasi dan kondisinya kurang pas saja. Saya, Ci’lo dan beberapa pendaki dari Jakarta akhirnya turun bersama.

Selain curam, di jalur Cibodas ini, banyak sekali bebatuan. Membuat kaki kami agak sedikit nyut-nyutan. Meski sedikit kerepotan, di jalur ini rasa lelah kami cukup terobati. Ada air terjun yang berair panas di tengah-tengah jalur pendakian. Kami pun menyicipi sensasi kehangatan air ini. Segar dan enak sekali di badan.

Setelah jalan lumayan lama, akhirnya sampai juga di gerbang Taman Nasional Gede Pangrango. Tak selang lama, sampailah di basecamp dengan kondisi tubuh kelelahan. Saya langsung merebahkan badan dan beristirahat.

Begitulah alam bercerita. Tak pernah bisa diprediksi manusia. Tak pernah ada yang pasti. Selalu memberi hal yang tak kita ketahui. Seperti perihal waktu dan sahabat, saya tak pernah terpikir akan ketemu mereka berempat, hingga menjadi akrab.

Yang saya tahu, di gunung semuanya sama. Semua saudara tak pernah membedakan kasta. Kejujuran, ketulusan, tak pernah ada dusta. Semua berjalan apa adanya.

Gengsi tak makan, banyak gaya pun rentan, rentna akan keselamatan. Begitulah alam, selalu menyajikan makna dan keindahan. Tapi alam pun akan bersikap garang jika engkau tak sopan. (Arif Bonvink/selesai)