Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menebas Pegunungan Sampah

Foto bersama usai diskusi soal penanganan sampah 


Malam tadi saya belajar banyak dari para petugas sampah. Mereka berpikir sangat sederhana, jika dengan gerobak kecil saja bisa mengelola sampah dan menghasilkan uang, apalagi dengan armada truk yang bisa mengangkut lebih banyak sampah, pasti lebih menguntungkan.

Bertemu mereka jangan pernah berharap akan mendengar pemikiran-pemikiran muluk. Kepada wakil Dinas LH yang hadir malam itu, mereka mengajukan usulan kecil, meminta difasilitasi kredit motor roda tiga ke bank milik Pemda dengan bunga rendah. Mereka ingin meningkatkan daya angkut agar bisa menjangkau luasan wilayah dan besaran kapasitas sampah yang masih belum terjamah petugas Pemda. Bukan armada truk yang tak bisa masuk ke gang-gang tikus.

Dengan tambahan itu, mereka akan mengajak kerabatnya memanfaat peluang sampah yang belum terkelola itu. Mereka meminta Pemda mengawasi rakyat yang masih bandel membuang sampah, kalau perlu diberikan sanksi tegas. Juga membangun tempat pembuangan sementara di beberapa tempat. Kesadaran dan ketakutan itu akan memberi mereka peluang usaha. Jasa untuk pengelolaan itu bisa dari masyarakat, bisa juga dari anggaran Pemda. Titik.

Ini ide yang sangat cerdas. Mereka bukan lulusan sekolah tinggi yang biasanya cita-citanya digantungkan setinggi langit. Mereka juga bukan keluarga kaya yang kalau kerja maunya pilih yang bersih-bersih. Cita-cita mereka setinggi tanah, bahkan lebih bawah lagi, di kubangan sampah. Sebagian besar hanya lulus SMP. Tetapi, cara melihat peluang usaha dan serapan tenaga kerja, pemikiran mereka setara pengusaha.

Mari kita cek kepintaran mereka. Tahun 2019, jumlah timbunan sampah di Kudus, seperti dikatakan Plt Bupati Hartopo, mencapai 159.083 ton. Dari jumlah tersebut, hanya 60,54 persen yang dapat dikelola, dan 39,46 persen sisanya masih belum terkelola (Tribunjateng, 11 Agustus 2020).

Oke, kita konsentrasi pada 39,46 persen yang belum dikelola. Ia setara dengan 58 ton sampah setiap tahun. Jika armada motor roda tiga bisa memuat 250 kg, dibutuhkan 232 armada baru. Apabila setiap armada bisa mengangkut dua rit setiap hari, setidaknya butuh 116 armada pengangkut sisa sampah yang belum terkelola. Jelas, mereka cerdas melihat peluang usaha.

Dikelola atau tidak, 159.083 ton sampah tiap tahun adalah jumlah yang sangat besar. Mari kita hitung dimensinya. Setiap bak truk bisa mengangkut rata-rata 1,5 ton sampah. Maka, produksi sampah 159.083 ton setara dengan 106,05 bak truk. Dengan ketinggian bak 1,5 meter, dalam setahun jumlah sampah akan setara setinggi 106,05 meter. Dalam 10 tahun, ketinggiannya sudah menyaingi pegunungan Muria yang puncak tertingginya 1.594 meter.

Dengan luas TPA Pemda yang hanya 5,25 Ha, produksi sampah sejumlah itu pasti tidak akan tertampung. Ia harus dikelola secara renewable terutama sampah organik atau non logam/plastik dengan memfermentasinya, bisa melalui proses composting (pengomposan) dengan bantuan bakteri pengurai maupun melalui reaktor biogas yang bisa menampung gas buang metan. Sampah-sampah jenis organik dengan cara itu akan menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman.

Bagaimana kompos tersebut dimanfaatkan? Dalam skema yang saya buat atas permintaan Pemda setahun lalu, tepatnya beberapa bulan setelah Kudus meraih Piala Adipura, saya mengusulkan program desentralisasi pengelolaan sampah. Kewenangan mengelola didelegasikan ke RT/RW atau komunitas pengelola bank sampah yang diinisiasi oleh Pemda dengan program audisi dan stimulasi seperti dalam flowchart.

Untuk memastikan keseriusannya, saya ajak Bupati dan teamnya memaparkan pengembangan desa termasuk pengelolaan sampah di Bentara Budaya, Kompas, usai menerima piala Adipura. Panel dengan Kementerian Desa, anggota DPR RI dan Stafsus Presiden. Acara yang dihadiri oleh puluhan wartawan dan para aktivis desa.

Secara informal, saya sudah presentasikan skema ini ke perusahaan besar yang concern di bidang lingkungan dan ke pejabat di Kementerian Desa. Mereka mendukung dan menunggu Pemda yang punya wilayah dan kewenangan memutuskan. Tetapi, waktu terus berganti, Pemda masih belum merespon dan tak juga punya program lain yang spektakuler. Padahal semua kepala daerah penerima Piala Adipura sudah meneken kontrak untuk mengurangi sampah 30 persen dalam kurun lima tahun.

Rupanya untuk menebas gunung sampah, kita perlu belajar dari para tukang sampah ini. Dengan tagline: "mengubah masalah menjadi berkah", mereka terbukti tak hanya lebih pintar dari bahkan pejabat dan ahli, juga lebih bijak dari kita semua. Salam dongeng! 

Tulisan ini ditayangkan secara utuh dari status facebook Hasan Aoni

Post a Comment for "Menebas Pegunungan Sampah "