Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Gambiran Pusat Penyebaran Islam di Pati Masa Lalu

Potret Masjid Gambiran, Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati

Gambiran disebut pusat penyebaran Islam di tanah Pati pada masa lampau. Berbicara tentang syiar Islam tidak terlepas dari nama Mbah Cungkrung. Beliau murid Sunan Muria, yang berdakwah dengan corak tasawuf. Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, adalah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.

PATI – Dukuh Gambiran di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo disebut sebagai pusat keagamaan Islam di Kabupaten Pati. Hal itu diyakini Amal Hamzah, seorang sejarawan lokal. Dia menyebut bahwa Masjid Baiturrohim Gambiran dahulu merupakan masjid utama di Kota Mina Tani ini, sebelum berpindah ke Masjid Agung Baitunnur di Alun-Alun Pati.

Berbicara tentang syiar Islam di Pati yang berpusat dari Gambiran, kata Amal Hamzah, tidak terlepas dari sosok Mbah Cungkrung, yang makamnya terletak sekitar 30 meter di sebelah selatan masjid tersebut. Tokoh yang diyakini sebagai waliyullah ini oleh masyarakat setempat diperingati haul-nya setiap 1 Syuro.

“Nama aslinya tidak diketahui. Adapun cungkrung kalau menurut orang Jawa diambil dari kata ‘jungkrung’ yang artinya ‘sujud’. Nama Mbah Cungkrung diambil dari kebiasaan beliau sujud dalam salat,” terang Ketua Yayasan Baiturrohim ini seperti dilansir dari Tribun Jateng.

Amal mengungkapkan, Mbah Cungkrung diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Disebutkannya, Mbah Cungkrung berdakwah dengan corak tasawuf.

“Karena Sunan Muria wafat pada pertengahan abad 16, Mbah Cungkrung juga berdakwah pada kisaran masa itu. Masjid Baiturrohim Gambiran dibangun oleh Mbah Cungkrung sebagai pusat syiar agama. Oleh warga setempat masjid ini juga disebut sebagai Masjid Wali,” kata Guru SMAN 1 Pati ini.

Makam Mbah Cungkrung

Masjid Gambiran memiliki arsitektur kuno dengan atap limas bersusun seperti Masjid Agung Demak. Struktur atap disangga oleh empat saka dari kayu. Memang bangunan asli masjid ini terbuat dari kayu, sebelum kemudian direnovasi menjadi tembok.

Penanda renovasi adalah sebuah prasasti bertuliskan aksara Arab Pegon yang terletak di atas pintu utama masjid. Dalam prasasti tersebut, dikatakan bahwa Masjid Gambiran direnovasi pada 1885 oleh Bupati Pati pada waktu itu, yakni Kanjeng Raden Aryo Candrahadinegoro.

“Dalam renovasi ini, mustoko atau kubah masjid berbentuk ngaron (tempat memasak dari tanah liat) diganti mustoko baru. Sedangkan yang lama dibawa ke daerah Tawung (Tawangrejo, Kecamatan Winong) oleh murid Mbah Cungkrung,” papar dia.

Amal menambahkan, berdasarkan keterangan yang dia dapatkan dari KH Hishom, ulama asal Desa Tawangrejo, agama Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari murid Mbah Cungkrung.

Penanda “kekunoan” lainnya dari masjid ini, menurut Amal, ialah keberadaan kompleks makam keluarga penghulu, persis di sebelah utara masjid. Dilihat dari bentuk patoknya, sambung dia, diperkirakan makam tersebut ada sejak abad ke-16.

Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, kata Amal, ialah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.

“Makam yang cukup padat, seluas hampir 2 hektare ini, menunjukkan bahwa Gambiran dulu kota dengan banyak penduduk, atau kalau sekarang disebut metropolitan. Ada keyakinan, penduduk berbondong-bondong meninggalkan, sehingga makam luas ini tidak digunakan lagi. Hanya penduduk lokal yang memanfaatkan sebagian kecil area makam,” kata Amal sembari menunjukkan kompleks makam tersebut.

Menurut Amal, dilihat dari patok-patok kuburan yang berukuran besar dan terbuat dari batuan andesit, pemakaman kuno ini diperkirakan dimanfaatkan warga pada abad 16 sampai 17.

“Kita tidak tahu pada waktu itu berasal dari mana batunya. Namun, yang jelas bisa dipastikan ini pemakaman Islam. Tandanya, ada dua batu nisan, satu di utara satu di selatan, karena mayatnya dihadapkan ke arah kiblat,” jelas dia.

Amal menerangkan, pusat Islam di Pati mulai berpindah sejak Masjid Agung Baitunnur berdiri pada 1845. Letaknya yang berada di barat pendopo menjadikan masjid ini sebagai masjid besar kabupaten.

“Pendirian masjid ini membawa dampak besar. Para ulama Gambiran diboyong ke sana. Ada yang ditempatkan di Kauman, Saliyan, dan Kampung Mertokusuman. Ketika ulama-ulama Gambiran pindah ke Pati, masjid ini mulai agak sepi. Namun, atas kebaikan bupati pada waktu itu, 1885 masjid ini direnovasi,” jelas dia.

Meski kini Masjid Baiturrohim Gambiran bukan lagi masjid utama di Pati, jejak-jejak syiar Islam Mbah Cungkrung masih bisa ditemukan.

Satu di antaranya, menurut Amal, warga Muslim Tawangrejo Kecamatan Winong mengakui Mbah Cungkrung sebagai leluhurnya. Setiap ada tahlil, nama Mbah Cungkrung disebut. Kemudian, saat peringatan haul Mbah Cungkrung di Gambiran, sejumlah penduduk dan perangkat Desa Tawangrejo ikut hadir.

Kemudian, meski semarak keagamaan sempat meredup saat ulama Gambiran hijrah ke Masjid Agung Baitunnur Pati, kini gairah keagamaan kembali bangkit.

Di bahwa naungan Yayasan Baiturrohim, di Gambiran berlangsung aktif pendidikan agama mulai dari TPQ,TK, Jamaah Yasin-Tahlil, sampai Pondok Pesantren. (yan)

Post a Comment for " Sejarah Gambiran Pusat Penyebaran Islam di Pati Masa Lalu"