Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seniman Teater Pati Angkat Cerita Roro Mendut ke Film

 

Proses pengambilan adegan untuk film Roro Mendut yang dilakukan oleh seniman teater di hutan jati Regaloh.

Film “Bara” digarap dengan apik oleh sekelompok seniman teater di Kota Pati. Film ini diangkat dari cerita rakyat. Yaitu kisah Roro Mendut. Seorang perempuan jelita yang tidak mau tunduk terhadap Tumenggung Wiraguna untuk dinikahi.

PATI – Sosok perempuan jelita terlihat memegang udud dengan bara yang membara di ujungnya. Tatapan matanya tajam. Kepulan asap terlihat dari pantulan bayangan di dinding kayu. Sesekali dia berhenti, dilihatnya udud itu, kegelisahan begitu terasa meski dalam siluet.

Bayangan itu, kemudian diabadikan lewat video. Sejumlah kameramen tampak tak ingin melewatkan detik demi detik pengadeganan yang dimainkan. Rupanya para anak muda itu tengah menggarap film “Bara” yang menceritakan tentang Roro Mendut.

Film itu mengisahkan bagaimana perjuangan Roro Mendut sebagai boyongan perang Mataram untuk menghindar dari pernikahan dengan Tumenggung Wiraguna. Baginya, pernikahan dengan Wiraguna merupakan penghianatan bagi dirinya, maupun kadipaten tempatnya berasal.

Diapun memilih melawan meski bersiap dijerat dengan pajak yang tinggi. Syarat itu diberikan ke Wiraguna agar Mendut terdesak. Namun jalan cerita tak seperti itu, sebagai seorang perempuan yang memiliki aliran darah leluhur yang tak gampang menyerah, Mendut memilih berjualan rokok. Syarat itupun mampu ditaklukkannya.

Hal itu tentu membuat Wiraguna geram. Apalagi mengetahui jika Mendut memilih untuk menambatkan hatinya pada Pronocitro, penjaga kuda dari Tumenggung Wiraguna itu sendiri.Konflik pun memuncak.

Kisah Roro Mendut, bagi warga Pati tentu tidak asing. Cerita rakyat Pati itu mengulik kegelisahan tersendiri bagi anggota Teater Minatani. Bagi mereka persoalan Mendut bukanlah sebatas percintaan belaka, namun ada tekad yang kuat dari Mendut untuk mempertahankan kehormatannya.

Kegelisahan itu dimunculkan dalam penggarapan karya. Sebelumnya cerita itu diangkat dalam sebuah panggung virtual dengan kemasan teater. Kali ini kisah Mendut itu ganti coba diangkat dengan konsep film.

Film

Pemilahan film memang dilakukan lantaran masih dalam situasi pandemi. Proses penggarapan bisa dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Seperti crew dan pemain yang melalui vaksinasi maupun tes swab serta menjaga aturan prokes lainnya. Bagi mereka situasi pandemi diharapkan tidak lantas menghentikan semangat berkarya.

Ketua Teater Minatani Pati, Siwi Agustina mengungkapkan, penggarapan film ini merupakan satu tantangan baru dalam proses kreatif anggotanya. Sebab selama ini lebih banyak di panggung. Kali ini beralih mementaskan cerita dalam layar film.

Proses penggarapan cerita rakyat Pati itu memang terbilang cukup jarang dilakukan. Terlebih yang dilakukan oleh warga Pati sendiri. Siwi berharap dengan diangkatnya cerita Mendut dengan konsep film dapat memperkenalkan cerita rakyat Pati tersebut kepada anak muda.

“Skenario ini ditulis oleh Beni Dewa dan Lacahya yang berasal dari naskah teater kemudian diadaptasi ke film. Untuk sutradaranya juga Beni Dewa dengan dibantu pengarah sinematografy Pendi Subarong serta Kameraman Yovie Young. Kami juga berterimakasih kepada pak Mogol yang merupakan pemain senior sekaligus pengampu kelompok ketoprak di Pati bersedia menjadi pengarah produksi serta sejumlah pihak lain yang telah membantu,”terangnya kepada Lingkar Muria.

Dalam penggarapannya kali ini, mereka memang memadukan antara konsep tradisi, dan teater yang dituangkan dengan sentuhan sinematografi. Seperti memunculkan seni tari maupun bela diri.

“Memang cukup banyak tantangan dalam penggarapan film dengan latar kerajaan. Namun bagaimanapun kami tumbuh di Kabupaten Pati. Kota dengan seni peran ketoprak menjadi ikonnya. Kami ingin belajar dari sana,”imbuhnya.

Pengambilan gambar film tersebut dipusatkan seluruhnya di Kabupaten Pati. Hal itu lantaran lewat film tersebut ingin turut mengangkat potensi yang ada khususnya tempat wisata. Seperti halnya di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal yang terkenal akan keindahan alamnya.

Terpisah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati memberikan apresiasi dalam proses kreatif tersebut. Bahkan karya film ini dipercaya untuk diikutkan ke dalam Duta Seni yang diinisiasi oleh Badan Penghubung Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Kami cukup bangga akan kepedulian anak-anak muda dalam menggarap seni budaya yang berasal dari daerahnya. Terlebih Pati memang dikenal kuat dari seni peran ketopraknya,” jelas Kabid Kebudayaan Paryanto pada Disdikbud Pati. (Miftahul Munir)